
Pertiwi kemudian menghilangkan cermin pengintai dunia buatannya dengan wajah yang cemberut.
"Senior?" Lasmana Pandya menatap anggota Klan Shu dan Shu Yin.
"Hehehe, bocah kau tidak perlu takut. Mereka tidak akan pernah bangun jika aku tidak meminta mereka untuk sadar," balas Pertiwi yang mengerti kerisauan Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya mengangguk ia tiba tiba teringat dengan gurunya.
"Senior apa kamu tahu keberadaan Dewa Racun?" Tanya Lasmana Pandya.
Kedua alis Pertiwi menyatu.
"Bocah apa kau bermasalah dengannya?" Tanya Pertiwi.
"Benar senior," balas Lasmana Pandya.
"Dia selalu berada di Lembah Racun, tepatnya di Kekaisaran Yun."
"Ini terlalu jauh," gumam Lasmana Pandya.
"Memang apa masalahmu terhadapnya?" Tanya Pertiwi heran. Karena tidak mungkin jika Lasmana Pandya akan membunuhnya.
"Tidak apa apa senior, ini hanya masalah kecil. Dan sepertinya kami tidak bisa berlama lama karena waktuku terbatas Senior," ucap Lasmana Pandya serius.
Pertiwi mengangguk, setelah itu ia memberikan giok hijau kepada Lasmana Pandya.
"Jika kau menemui masalah besar yang tidak bisa kau atasi sendiri, kau bisa memecahkan giok hijau ini," ucap Pertiwi.
"Senior terimakasih," Lasmana Pandya menerimanya dengan hormat.
Swuuuuuush!
Pertiwi hanya mengangguk, setelah itu ia mengibaskan tangannya membuat anggota Klan Shu dan Shu Yin bersama Lasmana Pandya kembali ditempat awal mereka melihat kabut hijau.
"Akkkh!" Shu Yin bersama anggota Klan Shu memekik karena merasa pusing.
Lasmana Pandya sontak merubah kembali wujudnya menjadi Hong Xiao dan menghampiri Shu Yin membantunya untuk berdiri.
"Sayang," ucap Lasmana Pandya.
"Ada apa ini," ucap Shu Yin kebingungan.
Lasmana Pandya hanya menaikan kedua bahu dan menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kondisimu? Apakah kita akan beristirahat?" Tanya Lasmana Pandya.
"Sayang kita akan tetap melanjutkan perjalanan," ucap Shu Yin serius.
Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu Lasmana Pandya melesat keatas langit dan diikuti oleh Shu Yin beserta anggota Klan Shu yang tersisa.
Swuuuuuush!
Mereka melesat kearah Kekaisaran Yang dengan kecepatan puncak mereka. Lima belas menit melewati lembah yang dikuasai oleh Pertiwi, Lasmana Pandya menatap santai Shu Yin dan anggota Klan Shu yang sejak tadi terlihat khawatir.
__ADS_1
"Tenanglah tidak perlu khawatir, aku akan melindungi kalian," ucap santai Lasmana Pandya kemudian melanjutkan perjalanannya.
Swuuuuush! Swuuuuush!
Mereka mengikuti lesatan Lasmana Pandya, hingga lima menit berlalu Lasmana Pandya merasakan adanya banyak sosok dibalik awan, ia segera menghentikan terbangnya.
"Sayang ada apa?" Tanya Shu Yin.
"Sayang lanjutkan perjalanan kalian, aku ingin buang air kecil sebentar," ucap Lasmana Pandya sambil tersenyum.
Swuuuuush!
Shu Yin dan anggota Klan Shu mengangguk, melihat mereka melanjutkan perjalanan. Lasmana Pandya menyunggingkan senyum misteriusnya.
"Ingin bermain denganku," gumam Lasmana Pandya.
Swuuuuush!
Tubuhnya menghilang ditelan kehampaan, setelah itu ia muncul diatas langit lebih tinggi dari keberadaan lima sosok Saint Glory satu yang mengawasinya.
Swuuuuung!
Perisai transparan menutupi area itu. Kelima sosok bercadar hitam yang mengawasi Lasmana Pandya menaikan alisnya.
"Kau tau dimana keberadaan Hong Xiao?" Tanya rekannya.
"Tidak," balas lainnya heran.
Lasmana Pandya kemudian muncul disamping mereka.
"Ka-kau..." Ucap mereka panik.
Kelimanya mundur sejenak, setelah itu salah satu diantara mereka mencoba mengelak.
"Jendral Xiao, maafkan kami yang mengawasi anda, karena kami memang mengawasi wilayah ini," ucap salah satunya.
"Hahahaha, kalian ingin membodohi ku...," Ucap Lasmana Pandya dingin.
Kelima sosok itu saling berpandangan, namun setelah itu mereka saling memberikan kode.
"Bunuh saja baj*ngan ini, lagian dia hanya berada ditingkat Glory lima," telepati rekannya.
Swuuuuush!
Lima tapak hitam melesat kearah Lasmana Pandya setelah kelimanya mengibaskan tangan mereka. Sunggingan kecil, dan tawa kecil ia perlihatkan di sudut bibirnya.
Dhuuuuuuaaar! Dhuuuuuaar!
Lasmana Pandya membalas tapak hitam mereka dengan kedua tinjunya. Sehingga tapak hitam itu meledak ditengah perjalanan. Wajah kelimanya menegang.
Swuuuuuush!
Daya hisap dari tangan Lasmana Pandya menyeret tubuh salah satu diantara mereka. Setelah tiba dicengkeraman Lasmana Pandya, ia menamparnya sekali.
__ADS_1
Plaaaaak!
Sosok itu terhuyung kebelakang sambil menahan amarahnya.
"Jendral Xiao kau keterlaluan!" Ucapnya marah.
"Oooh begitukah?" Tanya Lasmana Pandya.
Swuuuush! Dhuuuuuaar!
Seuliet cahaya emas melesat dari ujung jari Lasmana Pandya sehingga pria bercadar yang ditampar Lasmana Pandya meledak menjadi kabut darah.
"Jendral Xiao kau sungguh kelewatan!" Teriak keempat rekannya murka mengeluarkan pedang tingkat Dewa mereka mengepung pergerakan Lasmana Pandya.
"Ciiih! Sampah seperti kalian ingin membunuhku?" Tanya sinis Lasmana Pandya kemudian menghilang dan muncul dibelakang salah satunya.
Dhuuuuuaar!
Sosok itu meledak menjadi kabut darah setelah satu tinju yang secara tiba tiba itu mampir ditubuhnya. Ketiga rekannya berubah menjadi waspada, namun mereka kini berkumpul menjadi satu karena takut hal yang sama terjadi pada mereka.
"Jendral Xiao, apakah kamu benar benar ingin menyinggung mata mata Kaisar Yang Lin!" Ucap mereka menggertak.
"Bahkan itu kemauanku!" Ucap Lasmana Pandya tiba tiba muncul dibelakang mereka dan menggunakan pedang Sangka Geni untuk membunuh ke tiganya.
Slaaaaash! Slaaaaash! Slaaaaash!
Ketiganya mati tanpa perlawanan ditangan Lasmana Pandya yang langsung membakar tubuh mereka. Setelah membakarnya, Lasmana Pandya memasukan cincin ruang milik mereka kedalam cincin ruangnya. Setelah itu, sekedipan mata Lasmana Pandya melesat mengejar rombongan Shu Yin. Dengan kecepatan puncaknya, Lasmana Pandya hanya membutuhkan waktu lima menit tiba dirombongan mereka.
"Sayang," sapa Shu Yin menaikan alisnya melihat dijubah suaminya terdapat bercak darah.
"Ahh aku tadi tidak sengaja membunuh hewan buas yang menggangguku ketika buang air kecil, jadi kau tidak perlu khawatir." Ucap Lasmana Pandya yang berdecak kesal atas kelalaiannya sendiri.
"Sejak kapan dia pandai berbohong," gumam Shu Yin yang merasakan darah itu bukanlah darah Hewan Buas, karena darah merah yang menempel ditubuh suaminya terdapat aura kehidupan seorang Kultivator.
Shu Yin hanya mengangguk, saja. Dan setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Kekaisaran Yang dengan menggunakan terbang mereka.
Tiga jam berlalu, akhirnya mereka tiba diperbatasan Kekaisaran Hong dengan Kekaisaran Song.
Swuuuuuush! Swuuuush!
Penjaga berbatasan antar Kekaisaran menghentikan terbang mereka.
"Jendral Xiao dan Nyonya Yin," sapa mereka mengenal.
Lasmana Pandya dan Shu Yin mengangguk bersama.
"Kami hanya ingin melanjutkan perjalanan kami tuan," ucap ramah Lasmana Pandya..
"Baiklah tuan, aku harap kalian berhati hati, karena saat ini kami sedang mengalami masalah," ucap ramah penjaga perbatasan itu.
Lasmana Pandya dan Shu Yin mengangguk, kemudian mereka melanjutkan perjalanan membawa rombongan melewati hutan belantara didepan mereka. Selama perjalanan, Lasmana Pandya sedang memikirkan Lembah Racun yang disebutkan oleh Pertiwi.
"Sayang apa yang kau pikirkan?" Tanya Shu Yin heran.
__ADS_1
"Apakah kamu mengetahui keberadaan Lembah Racun?" Tanya Lasmana Pandya. Karena ia tidak dapat mengetahui letak tempa ifu, karena Hong Xiao sendiri tidak pernah ke tempat tersebut.
"Lembah Racun...," Ucap datar Shu Yin menatap tajam suaminya.