Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Menjadi murid Kamandaka.


__ADS_3

Wajah tengil Kamandaka ia perlihatkan sedemikian rupa kearah Lasmana Pandya.


"Apa kau ingin mencoba membodohi diriku Sena!" Kamandaka berteriak lantang lalu menghapus hewan iblis ciptaannya menggunakan tangannya.


Setelah itu, ia mengibaskan tangannya kearah Lasmana Pandya.


Swuuuush!


Muncul telapak tangan yang sangat besar dari atas langit, menyapu angin lalu melesat kearah keberadaan Lasmana Pandya dengan sangat cepat.


***


"Tuan muda awas!" Sena berteriak lantang memperingati Lasmana Pandya akan datangnya sebuah serangan kejutan yang cukup bahaya.


Namun sayangnya, serangan tapak tangan itu telah meluncur deras kearah tubuh Lasmana Pandya. Ukurannya yang besar, serta kecepatannya meluncur yang diluar nalar, membuat Lasmana Pandya tak mampu menghindari serangan itu.


Dhuuuaar!


Ledakan mengguncang area hutan dunia milik Kamandaka. Terlihat Lasmana Pandya yang tak sadarkan diri akibat serangan Kamandaka yang padahal ia hanya mengerahkan secuil kekuatannya saja.


Wajah panik diperlihatkan Kamandaka melihat tubuh pemuda bertopeng terbaring tanpa menggerakan nyawanya.


Swuuush!


Kamandaka menghilang dari kehampaan, lalu tiba tepat didepan tubuh Lasmana Pandya yang tak sadarkan diri dengan merubah wajahnya menjadi keheranan.


"Dia bukan Sena, mana mungkin Sena tak sadarkan diri terkena serangan kecilku," ucap Kamandaka kemudian membawa tubuh Lasmana Pandya kearah kediamannya.


Sesampainya didalam goa besar.


"Ehh." Sena terkejut saat melihat sebuah armor yang ia lihat kembali bersinar, namun armor Geni Danyang terlihat lebih nyata.


"Kau sungguh keterlaluan Daka!" Lasmana Pandya terbangun sambil menunjuk wajah Kamandaka tanpa sopan santun.


Kamandaka yang masih terkejut kemudian menatap lekat wajah dibalik topeng itu.


"Sena?"

__ADS_1


"Iya ini aku kenapa? Sejak kapan kau berani menindas seorang bocah yang baru menginjak dunia persilatan dengan kekuatanmu itu, apakah kau tidak ingin disebut kentut!" Roh Sena yang memasuki tubuh Lasmana Pandya terus merutuki Kamandaka yang kini salah tingkah.


"Jika aku tidak ada didalam tubuhnya, mungkin kau akan membunuhnya, dan kamu akan menjadi bahan lelucon seratus Kultivator kuat di Benua Langit ini!" Bentak Sena yang tak habis pikir dengan pikiran Kamandaka.


"Sena a-aku..." Kamandaka semakin gelisah mendengar gerutuaan rekan lama yang telah ia kira mati.


"Ta-tapi bagaimana bisa kamu berubah menjadi roh dan bersemayam didalam tubuhnya?" Tanya Kamandaka yang sangat penasaran.


Sena yang memasuki tubuh Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia menjelaskan semua peristiwa jutaan tahun lalu disaat ia berhasil mengetahui rencana busuk Dewa Iblis yang ingin menguasai Benua Langit. Kamandaka yang mendengar cerita itupun membuatnya marah setengah mati.


"Dewa Iblis dasar kentut tak memiliki otak ... Aku pastikan hari ini adalah kematianmu!" Kamandaka yang lepas kendali melepaskan kekuatannya, sehingga dunia itu berguncang sangat hebat. Tak hanya itu saja angin didepan goa bergulung gulung seperti tornado, bukan seperti lagi, tapi kini benar benar menjadi tornado yang siap meruntuhkan sebuah kota besar.


"Daka kamu harus tahu, jika aku dan Ying Lian yang berdua saja kalah, bagaimana kamu yang sendiri bisa mengalahkannya?" Sena tersenyum dibalik topengnya kearah Kamandaka.


"I-itu ..." Kamandaka kebingungan menjawab pertanyaan Sena.


"Sudahlah Daka, dari cerita, dan apa yang kamu lihat seperti ini sepertinya kamu telah mengetahui alasanku menjadi pusaka, dan bersemayam didalam tubuh bocah ini," ucap Sena.


Kamandaka mengangguk mengetahui maksud Sena.


"Tapi bagaimana cara kita bisa menjatuhkan Dewa Iblis kep*rat itu?" Kamandaka bertanya heran.


"Jadi aku harap kamu mau melatihnya, dan menempa seluruh tulang, darahnya agar aku sendiri tidak kerepotan mencari orang lain."


Kamandaka mengangguk, setelah perbincangan itu Kamandaka yang juga belum menurunkan ilmu alkemisnnya kepada muridnya, karena ia sendiri tak memiliki murid sehingga ia mengikuti rencana Sena.


Tak berselang lama, setelah itu Lasmana Pandya yang telah tersadar disambut tatapan ramah Kamandaka.


"Se-senior..." Lasmana Pandya gelagapan karena ketakutan.


"Hahaha bocah! Tenang saja aku tidak akan melukaimu," ucap Kamandaka tersenyum lembut.


Mendengar ucapan itu, Lasmana Pandya menurunkan rasa takutnya dan tak lama Kamandaka berterus terang akan tujuannya.


"Bagaimana apakah kamu ingin menjadi muridku?" Tanya Kamandaka.


"Tuan muda terima saja tawarannya." Sena menimpal dipikiran Lasmana Pandya.

__ADS_1


Tanpa ragu, dan Lasmana Pandya yang telah mempercayai Sena akhirnya berlutut didepan Kamandaka.


"Hahahaha baiklah, karena sekarang aku adalah gurumu, dan guru kini ingin memberitahu dasar cara menjadi alkhemis, jadi aku harap kamu mau belajar sepenuh hati," ucap Kamandaka.


"Alkhemis...," ucap lirih Lasmana Pandya yang tiba tiba wajahnya bersinar.


"Hahaha aku tahu muridku ini mungkin mengetahuinya, namun pada dasarnya di pulau ini Alkhemist sudah punah, dan hanya aku saja yang bisa menggunakan nama gelar itu, dan karena itu seharusnya kamu bersyukur aku mau menerimamu menjadi muridku," ucap Kamandaka.


Tanpa berbasa basi, Kamandaka menjelaskan apa itu alkhemist dan fungsinya, banyak sekali pengetahuan yang belum dimiliki oleh Lasmana Pandya kini memasuki otaknya, pengetahuan itu tidaklah memiliki harga sama sekali, namun tentunya tidak semua orang dapat membelinya. Dengan penuh keseriusan dalam memahaminya, akhirnya ia mengetahui pengetahuan kecil pemberian Kamandaka.


"Sekarang kamu keluarkan elemen api dari tanganmu, setiap alkhemist pastinya memiliki api yang mereka kuasai."


Lasmana Pandya melepaskan Geni Danyang kearah telapak tangannya.


Swoooosh!


Api merah kebiruan menari nari diatas telapak tangannya, setelah itu Kamandaka mengangguk.


"Sepertinya Sena belum memberinya pengetahuan bahwa api merah kebiruan adalah api terendah dari tingkatan jenis api...," Kamandaka mengatakannya dengan sangat lirih.


Lasmana Pandya yang masih dapat mendengarkannya terkejut, namun dengan cepat ia menutupi rasa keterkejutannya dibalik topengnya.


"Guru jika seperti yang dikatakan guru, bagaimana cara meningkatkan elemen api milikku?" Tanya Lasmana Pandya.


Kamandaka mengangguk, kemudian ia menatap serius Lasmana Pandya dengan serius.


"Iya tinggal meningkatkannya saja apa susahnya."


Sontak Lasmana Pandya menggerutu didalam hatinya.


"Jika aku mengetahuinya, pasti aku sudah meningkatkan sejak awal." Lasmana Pandya menggerutu.


"Hahaha tenanglah muridku yang pintar, kamu pasti sudah menyatu dengan armor Geni Danyang, tapi kamu belum mengerti pusat utama armor yang dimilikimu adalah sebuah api, dan api itu yang membentuk pusaka yang ada didalam tubuhmu, jadi jika ingin meningkatkan kualitas armormu, maka kamu harus meningkatkan apimu dengan cara menyerap api yang berada dibawah tingkat api Geni Danyang."


Penjelasan panjang lebar Kamandaka akhirnya membuat Lasmana Pandya memahami cara meningkatkan kualitas apinya.


"Tapi tenang saja, dengan kualitas apimu saat ini mungkin hanya bisa menciptakan Pill tingkat tinggi, dan itu merupakan pencapaian yang sangat besar bagi seorang pemuda sepertimu ini," ucap Kamandaka lagi.

__ADS_1


"Kamandaka sebenarnya menyanjungmu, karena pencipta Pill tingkat tinggi hanya bisa diciptakan oleh para tetua klan di negeri asing. Ingatlah tuan muda jangan pernah putus asa."


__ADS_2