Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Gunung Lijin


__ADS_3

Perisai itu tak lain milik Zhou Botong dan juga Zhi Tao yang tidak ingin daya ledak sangat mengerikan dari kedua jurus bertemu, yang dapat menyebabkan kemunculannya para puncak bahkan Yang Lin sendiri. Karena itu mereka segera mengantisipasinya.


Dhuuuuaar! Dhuuuuuaar!


Ledakan yang teramat dahsyat, bahkan ledakan itu mampu meretakan dua perisai yang digabungkan oleh dua kekuatan puncak. Pertiwi yang juga tahu daya ledak kedua serangan yang dapat melukainya terkejut dengan kemunculan perisai. Karena disisi lain daya ledak membuat asap dan aura kekacauan menyebar, Pertiwi menatap kearah Zhi Tao dan Zhou Botong dengan tatapan tajam.


Swuuuuuush!


Menjentikan jarinya, Pertiwi muncul tepat didepan Zhou Botong dengan wajah kesal.


"Kau antek antek Yang Lin apa yang ingin kalian lakukan...," Ucap Pertiwi mengenal keduanya.


"Nona aku bisa jelaskan..." Ucap Zhou Botong terhenti setelah tiba tiba suara renyah dari pedang menembus tubuh terdengar ditelinga mereka bertiga.


Slaaaaaash!


Lasmana Pandya menggunakan kesempatan emas dalam memanfaatkan daya ledak yang menimbulkan asap ternyata menggunakan dua jurus yang ia gabungkan. Jurus itu tidak lain Pedang Bayangan Darah, dan juga Pedang Pembunuh. Disisi lain pedang bayangan darah menggunakan kecepatan yang melibihi kecepatan pemilik jurus itu, sehingga lawan tidak bisa menduga pergerakan Lasmana Pandya. Sedangkan pedang pembunuh itu menggunakan ketepatan dan tebasan yang kuat. Sehingga dua jurus yang digabungkan cukup untuk membunuh Jendral Cheng.


Swuuuuuush!


Setelah membunuh Jendral Cheng, api yang berkobar ditubuhnya menghilang dibarengi armor, pedang, rambut kembali menghitam dan juga lingkaran kekuatan alam. Tak lama Lasmana Pandya menghilang lalu muncul tepat dimana keberadaannya Zhou Botong, Pertiwi dan Zhi Tao.


"Senior," sapa Lasmana Pandya.


"Bocah kau mengenal dua kekuatan puncak ini?" Tanya Pertiwi telepati.


Melihat kecurigaan Pertiwi, Lasmana Pandya mencoba menjelaskannya tentang sosok keduanya.


"Senior mungkin mereka dahulu berada dipihak Yang Lin, tapi tidak dengan sekarang. Jika mereka benar memihak Yang Lin, mungkin sejak awal aku tidak akan pernah bertemu dengan senior," ucap santai Lasmana Pandya tanpa menggunakan telepati.


Pertiwi mengangguk, tapi perasaannya tetap tidak nyaman sama sekali.


"Nona aku tau kamu tidak mempercayainya, tapi tenang saja kau tidak perlu khawatir. Bagaimana aku bisa membiarkan dia hidup sedangkan aku sendiri tau bahwa hanya dialah yang mampu membunuh Yang Lin?"

__ADS_1


"Baiklah kali ini aku akan mempercayaimu," ucap Pertiwi sambil menghela napas.


Setelah itu, mereka menatap para tahanan yang kini meneteskan air mata mereka. Karena mereka menduga hal yang seperti ini akan terjadi. Padahal mereka sendiri sudah berpikir untuk bunuh diri ketika Jendral Cheng memenangkan pertempuran.


"Senior senior semua, karena mungkin tempat ini tidak aman setelah kematian Jendral Cheng. Maka lebih baik kita akan mencari tempat persembunyian untuk membangun kekuatan besar, karena itu apakah kalian masih ingin mengikuti arahku bersembunyi?" Tanya Lasmana Pandya.


"Tuan muda, kami siap!" Ucap mereka ikhlas dan menguatkan tekad.


"Baik, jika begitu kalian semua pulihkan diri, biarkan aku memikirkan tempat persembunyian."


Lasmana Pandya kemudian menatap Zhou Botong dan Zhi Tao secara bergantian.


"Senior aku harap kalian bisa membantuku," ucap serius Lasmana Pandya.


Zhou Botong dan Zhi Tao saling bertatap tatapan sejenak.


"Bocah, dimana mana terdapat mata mata milik Kekaisaran, karena itu aku menyarankan para tahanan ini tinggal di sekte milik kakakku saja," ucap Zhou Botong.


Lasmana Pandya diam termenung memikirkan kekuatan yang akan ia bangun.


"Haiiish bocah monster ini sepertinya kau meragukan sekte milik kakaku! Asal kau tahu didalam sekte, dari segi anggota tidak ada yang berasal dari Kekaisaran ini, bahkan beberapa dari tanah Jawa. Dan asal kau tahu bahwa semua anggota memiliki dendam pada Yang Lin!" Ucap Zhou Botong menunjukan sikap aslinya.


Lasmana Pandya hanya tersenyum, namun sesaat setelah mereka berbincang bincang mengenai sekte milik kakak Zhou Botong. Lasmana Pandya memiliki kecurigaan terhadap Zhi Tao yang seperti terkejut.


"Senior sepertinya kau belum memberitahu senior Zhi Tao bahwa kakak senior memiliki sekte," ucap Lasmana Pandya tenang.


"Ehhh..." Zhi Tao terkejut kembali saat Lasmana Pandya memahami situasinya.


"Bocah benar apa yang kau katakan, hingga aku yang telah lama bersama Zhou Botong tidak mengetahui hal besar ini," ucap Zhi Tao sambil tersenyum.


"Sepandai pandainya kau bersandiwara, kau juga akan kena batunya senior," gumam Lasmana Pandya kemudian dikejutkan dengan ribuan Kultivator yang dipimpin oleh dua kekuatan puncak menuju ke arah mereka.


"Gawat bocah bantuan dari Kekaisaran tiba, sekarang saatnya kita pergi," ucap Zhou Botong kemudian membuat segel tangan lalu muncul gerbang teleportasi didepan mereka.

__ADS_1


"Senior senior sekalian, sekarang keadaan genting lebih baik kalian masuk kedalam segel teleportasi!" Ucap Lasmana Pandya.


"Baik!"


Swuuuuuush! Swuuuush!


Seratus dua puluh tahanan yang dibebaskan oleh Lasmana Pandya terbang memasuki segel teleportasi yang dibuat oleh Zhou Botong. Setelah tidak ada yang ketinggalan, Lasmana Pandya, Pertiwi, Zhou Botong, dan Zhi Tao menyusul mereka. Dibarengi dengan hilangnya segel teleportasi mereka, benar saja tak lama muncul ribuan prajurit yang dipimpin oleh dua Kultivator puncak.


"Pertarungan ini baru terjadi, sepertinya mereka baru saja pergi karena menyadari keberadaan kita, komandan Bai Zhong cepat pimpin pasukan dan pergi berpencar!" Teriak Pemimpin pasukan murka yang melihat ratusan cincin tergeletak yang ditandakan sang pemberontak belum lama meninggalkan tempat.


"Baik!"


Swuuuuuush! Swuuuuush!


Kepergian para pasukan membuat kedua pimpinan pasukan puncak itu saling bertatap tatapan.


"Saudara bagaimana bisa Jendral Cheng mati dengan waktu yang sangat cepat, meskipun lawannya sama puncak setidaknya pertempuran mereka minimal mencapai tiga puluh menit," ucap salah satunya.


"Saudara kau benar, sepertinya dari pihak puncak di Kekaisaran kita ada yang berkhianat," ucap lainnya.


Lasmana Pandya dan rombongan yang menggunakan gerbang teleportasi akhirnya tiba disebuah tengah gunung yang sangat rimbun akan pepohonan.


"Akhirnya tiba juga," gumam Zhou Botong menatap Lasmana Pandya yang heran dengan keberadaan yang tidak ia ketahui.


"Senior kita berada dimana?" Tanya Lasmana Pandya.


"Di tengah gunung Lijin," jawab Zhou Botong.


Setelah Lasmana Pandya mengangguk, mereka kembali melanjutkan perjalanan kearah puncak gunung Lijin. Dari tempat yang dilewati, Lasmana Pandya tahu banyaknya segel ilusi dan perangkap yang terpasang ditengah gunung tersebut.


"Segel ini sangat sempurna," ucap Lasmana Pandya kagum.


"Tentu saja kan yang membuat kakakku sendiri!" Ucap bangga Zhou Botong.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain Pertiwi seperti mengenal aura pemilik segel yang pernah menyelamatkannya dari kejaran Yang Lin.


"Sepertinya sosok pemilik segel ini yang menyelamatkanku dahulu dengan sebutan pendekar bertopeng!"


__ADS_2