Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Kamandaka VS Dewa Siluman.


__ADS_3

Meskipun Kamandaka hanya diam, namun ia tahu ada sedikit kesedihan diraut wajah gurunya itu.


"Guru apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Lasmana Pandya menghampiri Kamandaka.


Namun mata Kamandaka hanya menatap bola merah yang bercampur kebiruan.


"Dia Sena, dan Ying Lian yang mengorbankan diri demi membuatmu menjadi kuat."


Ucapan singkat Kamandaka bagaikan sebuah petir menyambar dilubuk hatinya. Namun sesaat setelahnya ia mencoba menatap Yue Xong, dan hal itu membuat Kamandaka hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Apakah kamu tidak mempercayai ucapan gurumu ini," ucap Kamandaka kemudian menceritakan semuanya.


Rahang Lasmana Pandya menguat mendengarkan cerita Kamandaka, namun tiba tiba tubuhnya terasa lemah, seperti adanya kekuatan lain yang ada didalam jiwanya menyedot hawa murni kehidupannya.


"Tuan muda!"


"Muridku!"


Keduanya panik melihat Lasmana Pandya kini jatuh berlutut. Namun dengan segera Kamandaka menggunakan kekuatannya untuk membantu Lasmana Pandya menyerap energi roh milik Ying Lian dan Sena.


"Muridku kau harus menyerap energi murni Saint Glory menggunakan teknik kultivasimu!" Ucap Kamandaka yang merasa tubuhnya ingin meledak merasakan penolakan energi yang sangat besar dari gabungan roh Sena dan Ying Lian.


Lasmana Pandya kini mengikuti ucapan gurunya, swoooooosh!


Bagaikan lautan yang kini mulai diisi, lautan Dantiannya bergejolak hebat. Bahkan mampu membuat tubuh nyatanya bergetar hebat. Dibarengi hal itu, Lasmana Pandya yang mengaktifkan Kultivasi Dewa Pembunuhnya mengeluarkan aura yang sangat mencekam keluar dari tubuhnya, lalu menyebar kesegala penjuru pemakaman kerajaan.


Tak hanya itu saja, matanya berubah menjadi merah darah. Jutaan ilmu pengetahuan, dan tata letak semua dunia yang pernah dilewati oleh Ying Lian, dan Sena pun terserap oleh pikirannya.


Esensi tulangnya pun mulai diperkuat saat energi besar terus memasuki seluruh peredaran sela sela tubuhnya. Hembusan energi besar sedikit terasa membuat Yue Xong bergidik ngeri merasakannya. Tubuh Keabadiannya pun ikut membantu menyerap energi roh milik Ying Lian dan Sena.


Satu hari berlalu, Lasmana Pandya telah berhasil naik tingkat Langit Tiga. Dan hal itu masih belum berhenti disitu saja, karena energi yang sangat besar terus memasuki Dantiannya.


Swoooosh! Baaaaams!


Dua jam berlalu, kecepatan kultivasi Lasmana Pandya sungguh menggila akibat bantuan tubuh Keabadiannya. Ledakan terobosan terus terdengar.

__ADS_1


Tujuh hari berlalu, akhirnya Lasmana Pandya berhasil naik tingkat Surgawi tingkat satu. Dan hal itu hanya pemilik tipe tubuh Keabadian yang memilikinya.


Yue Xong, dan Kamandaka yang berjaga pun hanya bisa bergidik ngeri melihatnya, bahkan tanpa sadar mereka seperti melihat sosok monster kecil yang sedang berevolusi. Namun pada hari kedelapan, tiba tiba langit menjadi hitam, dibarengi dengan suara lolongan hewan aneh dari atas langit.


"Si-siluman Sambar Nyawa!" Ucap terkejut Kamandaka, meskipun ia merasakan Kultivasi mereka ditingkat Surgawi Lima, Kamandaka terkejut bukan karena kekuatannya, melainkan sosok siluman tersebut kembali muncul setelah jutaan tahun lalu.


Swuuuuush! Swuuuuush!


Dibarengi munculnya lima Siluman Samber Nyawa lainnya. Tak hanya itu saja, satu pria paruh baya muncul dibelakang enam siluman Sambar Nyawa.


"Ternyata kamu," ucap Kamandaka sambil menatap tajam pria paruh baya didepannya.


"Hahahahaha! Jika bukan karena perintah Kaisar Yang Lin, aku tidak bersusah payah ke negeri Jawa yang miskin ini, tapi melihat adanya teman lama, mungkin membuat gairah bertarung ku kembali menjadi jadi." Ucap sosok tersebut sambil tertawa.


"Dewa Siluman bodoh tak punya otak! Kau dapat siluman Sambar Nyawa dimana?" Bukannya serius, Kamandaka yang masih penasaran mengenai keberadaan enam siluman melupakan keseriusannya.


"Oooh ini Kamandaka yang katanya mirip dengan bocah tua nakal Zhou Botong?" Ejek Dewa Siluman.


"Hhhhmppp!" Dengusan dingin Kamandaka mendengarnya, namun dengan cepat ia meminta Yue Xong untuk melindungi Lasmana Pandya.


Swuuuuush!


Sekali hentakan, Kamandaka muncul tepat di depan enam Siluman Samber Nyawa. Siluman tersebut seluruh tubuhnya memiliki mata, dan tanduk disetiap pori porinya, sehingga siluman tersebut dikatakan Samber Nyawa karena sangat berbahaya. Bahkan siluman tersebut mampu mengalahkan ranah kultivasi tiga tingkat diatasnya, karena dapat melihat tiga ratus enam puluh derajat area sekitarnya, serta gerakan dan racunnya yang mematikan.


"Kamandaka, serahkan bocah itu padaku, aku pasti akan melepaskanmu hidup hidup." Ucap Dewa Siluman.


"Ciiih! Dewa Siluman bodoh tak punya otak! Kau mengatakan aku harus menyerahkannya? Kau sungguh naif!" Balas Kamandaka sambil mewaspadai siluman Samber Nyawa yang masih menatapnya.


Dewa Siluman hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Bukankah kau yang naif? Meskipun kekuatanmu seimbang denganku, tapi ingatlah aku memiliki enam siluman asli pulau Jawa. Jadi lebih baik kau pergi dari sini atau menerima kematianmu," ucap penuh peringatan Dewa Siluman.


"Ciiih! Walaupun aku segan melawan enam siluman mengerikan ini, tapi jika harus menyerahkan muridku padamu, lebih baik kau langkahi mayatku dulu!" Balas Kamandaka sengit kemudian melepaskan tapak tangan dari kehampaan kearah siluman Samber Nyawa agar tidak ikut campur urusannya.


Swuuuush! Baaaaamss! Dhuuuuaar!

__ADS_1


Dewa Siluman tak ingin kalah, ia juga melepaskan serangan tapak tangan dari kehampaan, sedangkan enam siluman Samber Nyawa telah menghilang dari pandangan muncul diatas langit lebih tinggi. Daya kejut benturan dua energi Qi ranah tertinggi akhirnya pecah. Gelombang dahsyat membuat area pemakaman serta langit bertambah kacau terjadi.


"Hehehe, sayang sekali jika pertempuran ini dilanjutkan salah satu diantara kita pasti ada yang mati," ucap Dewa Siluman menatap Kamandaka.


"Berhenti mengancamku!" Balas sengit Kamandaka kemudian tak segan melepaskan seluruh Kultivasinya.


Udara bagaikan membeku saat Kamandaka melepaskan kekuatannya, energi langit dan bumi yang lumayan pada disekitar mereka juga menghilang karena terkena hempasan kekuatan Kamandaka. Dewa Siluman pun tak tinggal diam, dengan segenap kekuatannya, ia melepaskan ranah kultivasi puncaknya.


Luapan energi keduanya sangat mengerikan, hingga keduanya pun melesat secara bersamaan dan melepaskan serangan tapak tangan keduanya.


Dhuuuuuuaaar!


Serangan puncak tersebut alhasil mampu membuat seluruh tanah Jawa merasakan gempa bumi yang cukup besar. Tak hanya itu saja, beberapa gunung kecil meletus akibat luapan energi mereka yang tersebar.


"Siluman pemikat lawan!"


"Diagram kuno, Langit membelah awan!"


Keduanya membuat pola segel yang aneh. Dewa Siluman mengeluarkan seuliet asap kehitaman melesat dan menyebar keatas langit.


Sedangkan Kamandaka pun memanggil awan yang bergumpal menjadi satu membentuk pedang raksasa diatas langit. Keduanya menyunggingkan senyum yang sangat mengerikan.


"Mati!" Teriak keduanya melepaskan serangan mereka.


Swuuuuuung!


Udara bergetar sangat hebat saat asap hitam berubah menjadi tangan akan menampar ayunan pedang awan milik Kamandaka.


Dhuuuuuuaaar!


Gempa besar kembali mengguncang tanah Jawa akibat serangan mematikan keduanya. Keduanya kini terhuyung kebelakang sejauh lima meter karena kekuatan mereka sama kuatnya.


"Kamandaka bodoh! Tak kusangka kau melindungi bocah lemah dan berani mempertaruhkan nyawa mahalmu itu!"


Swoooooosh!

__ADS_1


Asap hitam keluar dari tubuhnya membentuk seribu tangan dibalik punggungnya.


__ADS_2