
Lasmana Pandya yang telah mengeluarkan pedang hitamnya segera memblokir serangan pedang komandan prajurit Kerajaan Bai itu. Ranah Kultivasi yang sama tingginya membuat keduanya bertempur sama cepatnya, namun tanpa diduga oleh Komandan Kerajaan Bai itu, sebenarnya Lasmana Pandya belum menggunakan seluruh kecepatannya, sehingga raut wajahnya berubah menjadi jelek saat Lasmana Pandya masih bersikap tenang. Dan tidak terpojok sama sekali.
"Siapa sebenarnya kamu," ucap Komandan prajurit yang mulai tertekan.
"..."
Lasmana Pandya hanya diam tanpa membalasnya, namun serangannya kini bertambah cepat sehingga tadinya Komandan prajurit yang merasa imbang mulai kewalahan, dan termundur dari pijakannya.
Dentingan senjata terus terdengar, hingga tiba tiba sebuah pedang hitam menempel tepat dileher komandan prajurit yang membuat komandan tersebut terdiam, dan matanya menatap pemuda bertopeng dengan rasa tak percaya akan kekalahannya.
"Dimana Komandan Ao Tian saat ini?" Lasmana Pandya menatap tajam komandan tersebut.
"Di-dia saat ini sedang ada ditempat terlarang kota ini," balas Komandan tersebut terbata bata.
Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu ia kembali menatap tajam Komandan didepannya.
"Tu-tuan lepaskan aku," ucap Komandan itu.
"Naif sekali."
Slaaaaash!
Leher Komandan tersebut terlepas dari tubuhnya saat Lasmana Pandya menarik pedangnya. Dengan cepat, Lasmana Pandya menyembunyikan mayat Komandan tersebut dan memulai melakukan aksi yang sama. Yaitu meracuni seluruh kedai yang ada, sehingga setelah tiga jam melakukan aksinya, Lasmana Pandya menunggu racun yang telah ia sebarkan dan bereaksi diseluruh kedai dengan tenang.
Benar saja setelah satu jam berlalu, dua puluh kedai didalam kota Larangan tiba tiba gaduh, dan para penduduk yang tak lain prajurit kerajaan Bai itu keluar dari kedai, lalu berlari kesana kemari. Banyak dari mereka mulai berjatuhan satu persatu, teriakan meminta bantuan mereka lakukan. Sehingga malam yang tenang itu kini menjadi sangat tegang.
"Saatnya."
Swuuuuush! Baaaaams! Dhuuaar!
Lasmana Pandya segera melepaskan serangan tebasan pedang kearah kedai didepannya, sehingga kedai tersebut roboh dan menyebabkan suara keras.
Swuuuush! Swuuush!
Tak lama setelah kejadian itu, puluhan prajurit tiba dan langsung menyerang Lasmana Pandya. Ranah Kultivasinya yang tinggi saat ini, dan prajurit yang tiba berada di ranah emas dua hingga tiga, membuat puluhan prajurit itu tewas dengan luka pedang disekujur tubuh mereka.
__ADS_1
Slaaaaash! Slaaaash!
Tiap detik demi detik Lasmana Pandya berhasil membunuh prajurit kerajaan Bai dengan mudah. Namun seperti tidak ada habisnya, para prajurit kerajaan Bai yang menguasai kota Larangan mulai bermunculan, ada beberapa dari mereka yang juga terkena racun akibat meminum arak disetiap kedai.
Swuuuush!
Lasmana Pandya bergerak kesana kemari menyambut kedatangan puluhan prajurit yang kembali menghampirinya.
Dentingan senjata terus terdengar, hingga tiba tiba Lasmana Pandya mengumpulkan banyak energi Qi kearah pedangnya.
Swuuuuush! Baaaams! Dhuuuaar!
Ledakan dahsyat ketika pedang Lasmana Pandya melepaskan energi Qi yang cukup besar. Sehingga Kultivator asli kota Larangan yang berada di dalam penjara mulai bermunculan dan menyerang para prajurit kerajaan Bai.
Lasmana Pandya terus melakukan aksinya, namun sampai saat ini yang menyerang mereka hanyalah para prajurit, dan bukan seorang Komandan yang memiliki jubah berbeda.
"Sepertinya Komandan mereka ada ditempat Larangan dikota ini," ucap Lasmana Pandya kemudian bergerak cepat sambil membunuh prajurit yang semakin lama semakin banyak.
"Cepat laporkan kepada Komandan Tian, di kota ada pemberontak!" Teriak salah satu diantara ratusan prajurit yang mulai tiba.
Lasmana Pandya tersenyum mendengar teriakan itu.
Swuuuush!
Slaaaaash! Slaaaash!
Apa yang dilakukan Lasmana Pandya sebenarnya adalah pembantaian, meskipun ia enggan melakukannya, tapi melihat keserakahaan Kultivator negeri asing itu berbuat seenak jidat membuatnya memilih untuk membunuh mereka.
Setiap nyawa yang hilang ditangan Lasmana Pandya tak ia sadari, bahwa aura Dewa Pembunuhnya semakin kental dan menguat. Matanya juga mulai memerah seiring nyawa yang berjatuhan ditangannya.
Rasa kemanusiaannya perlahan menghilang disetiap detik saat ia membunuh, sehingga aksinya yang tak kenal ampun kini bagaikan seorang Dewa Pembunuh yang turun untuk melakukan pembantaian.
Sedangkan kini Yang Lie yang juga telah membunuh satu orang dengan susah payah melihat apa yang dilakukan oleh Lasmana Pandya dengan mengekspresikan raut wajah yang diperlihatkan kengerian, berbeda dengan para penduduk asli atau Kultivator asli kota Larangan, mereka sangat bersemangat dan ikut membantai para prajurit didepan mereka.
Hingga tiba tiba sebuah aura Langit tingkat satu menyebar kesegala penjuru, aura yang keluar dari tubuh seseorang itu menimbulkan rasa kebencian yang sangat dalam dan amarah yang sangat besar.
__ADS_1
Sekilas Lasmana Pandya mengalihkan perhatiannya kearah pria yang menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Pemuda laknat! Beraninya kau menyinggung Kerajaan Bai!"
Swuuuush!
Pria tersebut yang tak lain Komandan Wu Ling, murid dari Jendral Tapak Dewa melepaskan serangan Tapak Besi dari kehampaan melesat kearah tubuh Lasmana Pandya.
Dhuuuuaar!
Ledakan menggema dibarengi dengan tubuh Lasmana Pandya yang terpental kearah belakang. Senyum kecut ia perlihatkan saat kelalaian yang telah ia lakukan.
Swuuuush!
Wu Ling yang mengabaikan senyum kecut pemuda bertopeng melesat sambil melepaskan tinju besinya.
Lasmana Pandya yang telah bersiap pun mengalirkan sejumlah besar energi Qi kearah tangan kanannya. Sehingga benturan kedua tinju terjadi membuat gelombang kejut yang mengerikan.
Dhuuuaar!
Gelombang kejut itu mampu merobohkan rumah pohon disekitar mereka. Terlihat Lasmana Pandya terhuyung kebelakang sejauh sepuluh meter dan merasakan area tangannya terasa kebas.
Namun ekspresi berbeda diperlihatkan oleh Wu Ling, dia tak percaya apa yang ia lihat sekarang karena ranah Kultivasinya ditingkat Langit satu, dibandingkan dengan Grand Master tingkat lima. Perbedaan ditingkat tersebut sebenarnya sangat jauh disegi kekuatan maupun kecepatan, apalagi kini melihat pemuda bertopeng yang hanya terpental sepuluh langkah, sedangkan harapannya membuat pemuda tersebut meledak menjadi kabut darah.
Lasmana Pandya yang ingin segera membunuh Wu Ling dengan menggunakan dua pusaka legendaris segera dihentikan oleh roh Sena.
"Tuan muda, lebih baik anda melatih batasan kekuatan anda, sehingga anda menjadi lebih kuat dari ranah kultivasi anda yang sebenarnya."
Penjelasan Sena tentu sangat masuk akal, disela sela berlatih, Lasmana Pandya yang bertempur dengan ranah tingkat diatasnya akan membuat daya tubuhnya lebih kuat. Apalagi mengenai tingkat tulangnya yang tergolong masih rendah.
Swuuuush!
Akhirnya Lasmana Pandya melesat kearah Wu Ling sambil melepaskan serangannya dengan menggunakan tangan kosong. Wu Ling yang terkejut pun menyambut serangan Lasmana Pandya dengan wajah yang terheran heran.
Tapak besinya yang sangat ia banggakan ternyata tidaklah membuat luka pada ranah kultivasi dibawahnya, sedangkan ia yang mengerti sendiri kehebatan tapak besinya terus saja tak menyangka hal itu tidak terpengaruh oleh pemuda didepannya.
__ADS_1
Dhuuuuaar! Dhuuuaar!
Kedua tinju serta telapak tangan terus bertemu yang mengakibatkan ledakan demi ledakan yang bersahutan.