Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Bao Yun yang arogan.


__ADS_3

"Tuan bertopeng, dan nona bercadar, kini hanya tersisa satu meja makan, apakah anda ingin singgah dikedai kami?" Pelayan berwajah garang menyapa mereka.


"Aah iya tuan, baiklah kami segera datang."


Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, tatapan para pelanggan menatap mereka berdua dengan penuh selidik.


"Gege tatapan mereka...," Ucap lirih Yang Lie yang risih.


Lasmana Pandya mengerti dan ia mencoba bersikap tenang. Hingga tiba tiba suara seorang pemuda mengalihkan pandangan semua orang.


"Apa kalian sudah tau Kerajaan Bai Shi ingin menunjukan bakat muda mereka melewati pertemuan para pendekar?"


" Tentu saja, dan sekilas desas desus yang beredar katanya Raja Tapak Dewa membuat pertemuan itu hanya ingin membalas kematian komandan mereka yang sedang menjalankan misi di kota Larangan...," ucap lirih salah satunya.


"Tapi bukankah ini tontonan yang menarik?" Timpal lainnya.


Seketika semua pelanggan membahas undangan tantangan terbuka untuk memperlihatkan bakat para pemuda dimasing masing negeri yang berbeda.


"Aku juga sangat ingin mengetahui sosok pendekar muda yang telah membunuh komandan kerajaan Bai Shi itu, apakah hanya cerita yang di lebih lebihkan. Atau pendekar bertopeng memiliki salah satu pengawal kuat untuk membantunya menghadapi komandan kerajaan Bai Shi itu."


"Benar pastinya pemuda bertopeng itu dibantu oleh pendekar kuat untuk membunuh komandan tak berguna dikerajaanku," ucap salah satu pemuda turun dari lantai atas.


Berjalan menuruni anak tangga dengan wajah sombong, dan di belakangnya diikuti lima pria paruh baya, pemuda tersebut melepaskan samar samar aura Langit tingkat tiganya.


Seketika pandangan Lasmana Pandya, serta Yang Lie menatap kearah pemuda dan lima pria paruh baya dibelakangnya dengan santai.


"Waaoowww! Kekuatannya sangat tinggi!" Ucap terkejut semua orang yang dapat merasakan samar samar aura Kultivasi pemuda itu.


"Dan ingatlah, bakat Kultivator muda dipulau Jawa ini hanyalah sampah dimataku, aku akan menunggu kehadiran kalian dipertemuan itu," ucap penuh sombong pemuda tersebut melewati tanpa memperhatikan wajah para pelanggan yang kini berubah menjadi muram.


Lasmana Pandya memejamkan matanya sejenak, amarahnya sedikit naik. Yang Lie yang melihat itupun segera menggenggam kepalan tangan Lasmana Pandya.


"Gege kau bisa membuktikannya di pertemuan itu...," Ucap lirih Yang Lie sambil meremas kepalan tangan Lasmana Pandya.


Meskipun lirih, karena tidak ada suara satupun didalam kedai, pemuda yang tak lain Bao Yun, anak dari Jendral Tapak Dewa menatap kearah Lasmana Pandya dengan Yang Lie secara tajam.


"Oooh kalian ingin mengikuti pertemuan penentu bakat yang diselenggarakan ayahku? Hahahaha namun aku rasa kalian tidak akan mampu mengikutinya," ucap Bao Yun memperlihatkan tatapan mengejeknya.


"Yang pantas menjadi lawanku adalah pendekar bertopeng yang telah membunuh komandanku, jadi untukmu pemuda bertopeng yang bodoh! Mana mungkin kamu dapat membunuh komandanku yang bodoh itu," ucap Bao Yun yang hanya merasakan ranah Emas tingkat lima beredar dari tubuh Lasmana Pandya.

__ADS_1


Suasana seketika menjadi tegang, namun Lasmana Pandya yang telah mengontrol emosinya membuka matanya perlahan menatap santai Bao Yun.


"Ooh kita lihat saja nanti," ucap Lasmana Pandya kemudian menyesap araknya santai.


Melihat itu, Bao Yun yang memiliki temperamental buruk segera naik pitam.


"Kau menyepelekan omonganku!" Dengan suara tegasnya, Bao Yun menunjuk wajah Lasmana Pandya.


Melihat temperamental Bao Yun yang buruk, Lasmana Pandya yang pintar akhirnya mencoba memprovokasinya.


"Memang kenapa? Terus terang saja, aku tidak menyukai tingkahmu yang sok berkuasa itu, ingatlah kau kini berada di wilayah mana."


"Benar kata pemuda bertopeng! Seharusnya kamu sadar berada di wilayah mana!"


"Benar!"


"Benar!" Semua pelanggan yang naik darah akibat ucapan sombong Bao Yun ikut membenarkan ucapan Lasmana Pandya.


"Kauuu! Hahahahaha! Bahkan kau berani mengatakan aku berada di wilayah mana? Dengan keberadaanku saja sudah cukup untuk meratakan kota Sumbang ini," ucap penuh arogansi Bao Yun.


"Tuan muda, bukankah kita tidak diperbolehkan menyinggung wilayah Kerajaan Sangsakerta...," Pria paruh baya membisiki telinga Bao Yun.


"Tuan muda, lebih baik anda pergi dari sini," ucap serius Yang Lie yang tak ingin melihat Lasmana Pandya bertarung. Karena ia jelas tahu siapa Bao Yun.


Menaikan kedua alisnya, Lasmana Pandya sedikit heran dengan tingkah laku Yang Lie, namun sayangnya ia memakai topeng sehingga reaksinya itu tidak bisa dilihat oleh orang lain kecuali dirinya sendiri.


"Hahahaha! Kau lagi, ehhh ... Tapi tubuhmu dan parasmu boleh juga," ucap Bao Yun penuh dengan nafsu, apalagi ia tahu Yang Lie mungkin kekasih pemuda bertopeng itu.


Saat tangan Bao Yun akan membelai wajah mulus dibalik cadar Yang Lie, tiba tiba sebuah tamparan keras mendarat dipipi Bao Yun.


Plaaaaak!


"Siapa yang memperbolehkanmu menyentuh rekanku...," Ucap dingin Lasmana Pandya.


Lima pria paruh baya yang tak lain pengawal Bao Yun segera berjalan tepat didepan Bao Yun.


"Anak muda berlutut atau mati!"


Bao Yun yang merasakan tamparan kecil itu terdiam, tapi ia sungguh merasa aneh dengan kecepatan pemuda yang menamparnya.

__ADS_1


"Berlutut? Kau kira aku budakmu? Pergilah sebelum aku bertindak lebih...," ucap dingin Lasmana Pandya.


"Baj*ngan!"


Mendengar ucapan Lasmana Pandya, Bao Yun berteriak dan langsung melepaskan tinjunya kearah Lasmana Pandya.


Kraaaark! Kraaaaack!


Namun tiba tiba wajah Bao Yun menegang, ketika rasa sakit ia rasakan di area pergelangan tangannya. Tak hanya itu saja, wajah keterkejutannya terlihat dimatanya seakan akan ia tidak mempercayainya.


"Aaakkh!" Setelah itu pekikan keras Bao Yun terdengar saat melihat lengaannya tak bisa digerakan.


"Kalian tunggu apa lagi! Bunuh pemuda itu ditempat!" Teriak Bao Yun murka, yang melihat anak buahnya ling lung.


"Naiif...," Ucap datar Lasmana Pandya kemudian bergerak sangat cepat kearah lima pria paruh baya pengawal Bao Yun.


Plaaaak! Plaaaak!


Suara tamparan keras terdengar didalam kedai, dengan gerakan cepatnya Lasmana Pandya menampar mereka berlima secara bergantian. Dan setelah itu wajah dibalik topengnya menatap tajam Bao Yun.


"Sudah kukatakan pergi sebelum aku bertindak lebih jauh...," Ucap dingin Lasmana Pandya.


"Ba-baik," ucap Bao Yun yang seperti hilang nyalinya keluar dari kedai dengan tergesa gesa.


Wajahnya terlihat muram, namun lengan kanannya yang telah patah benar benar membuatnya berpikir bagaimana cara pemuda yang memiliki ranah Emas Lima mampu mematahkan lengannya tanpa ia mengetahui kecepatan gerakannya. Dan twntunya jika hal itu tersebar di negerinya, ia bahkan tidak berani untuk kembali hidup karena menelan rasa malunya.


Setelah sosok itu pergi, wajah kekhawatiran diperlihatkan Yang Lie dibalik cadarnya menatap Lasmana Pandya.


"Gege dia..."


"Tenanglah," ucap santai Lasmana Pandya menyesap araknya sambil memikirkan perilaku Yang Lie yang aneh.


Setelah makan dan minum, keduanya pun mencari tempat penginapan terdekat hendak beristirahat.


***


Bao Yun, dan lima pengawalnya yang telah keluar dari kota Sumbang pun terlihat kesetanan menghancurkan pohon yang ada disekitar mereka.


"Arrrrghh! Lihat saja kau pemuda bertopeng! Pasti aku akan membuatmu pelajaran di pertemuan pendekar nanti!" Wajahnya memerah sambil tangan kirinya memukul batang pohon disekitarnya.

__ADS_1


"Tuan muda, aku rasa dialah yang membunuh komandan kita, karena bagaimanapun kami yang berada diranah Grand Master tiga tidak dapat membaca pergerakannya sama sekali."


__ADS_2