Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Raja She Pian penguasa Hutan Gelap.


__ADS_3

Namun Lasmana Pandya melihat kesekitarnya sejenak, sehingga Zhou Botong dan Zhi Tao heran melihat tingkahnya.


"Bocah kau cari siapa?" Tanya Zhou Botong.


"Senior kemana Yang Lie? Bukankah seharusnya bersama Senior?" Tanya Lasmana Pandya.


Zhou Botong terdiam, namun wajahnya nampak terlihat kecewa.


"Dia sudah tidak bersamaku, melainkan bersama ayahnya," ucap Zhou Botong.


Lasmana Pandya mengangguk. Tak lama setelah itu, Zhou Botong dan Zhi Tao berpamitan untuk undur diri. Melihat kepergian keduanya, Lasmana Pandya kemudian mengeluarkan pedang tingkat Dewa dari dalam cincin ruangnya.


Swooooosh!


Api merah darah keluar dari telapak tangannya, setelah itu Lasmana Pandya memasang segel jiwa yang sangat rumit pada pedang tingkat Dewa, dan diberi Geni Danyang yang telah naik tingkat itu.


Swuuuuung!


Pedang tingkat Dewa berdengung setelah itu, tak lama, sebuah simbol api yang memancarkan rasa panas sangat kentara.


"Saatnya menjalankan rencana," ucap Lasmana Pandya.


Swuuuush!


Sekedipan mata ia muncul didepan gerbang markas milik Kekaisaran Hong yang disambut oleh Bai, Lie, dan Ao.


"Jendral," ucap mereka dengan hormat.


Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia mengeluarkan pedang tingkat Dewa yang telah ia pasangkan segel Jiwa dan Geni Danyang didalamnya.


Seketika mata Komandan Ao, dan Lie membelalakan mata mereka. Mereka tak sadar maju kearah Lasmana Pandya dan mencoba menganalisis pedang tersebut.


"Pedang tingkat Dewa...." Ucap mereka keduanya sangat senang.


Lasmana Pandya hanya mengangguk, dan kemudian menatap Yue Xong yang menyamar.


"Bei, sekarang bereskan semua tempat dan kumpulkan seluruh pasukan untuk segera kembali ke Kekaisaran," ucap Lasmana Pandya.


"Baik Jendral," ucap Yue Xong segera menjalankan perintah.

__ADS_1


Lasmana Pandya kemudian menatap kedua Komandan tersebut dengan tatapan hangat.


"Kalian berdua simpan pedang ini, dan setelah kembali kalian berikanlah pada Kaisar Hong," ucap Lasmana Pandya.


"Baik Jendral!" Ucap keduanya kompak segera menyimpannya.


Lasmana Pandya menyiapkan senjata tersebut memang disengaja, karena dalam ingatan Xiao jika tidak menemukan barang berharga selama melakukan penyelidikan di gunung Hong, maka Xiao dan seluruh pasukannya akan dihukum oleh Kaisar Hong.


"Sudah saatnya bersandiwara dan mulai mengadu domba," gumam Lasmana Pandya melihat kepergian mereka yang sedang menyiapkan pasukan.


Setelah lima belas menit, prajurit Kekaisaran Hong yang dimiliki oleh Hong Xiao Jendral utama Kekaisaran akhirnya telah berkumpul.


"Sekarang kita akan segera kembali," ucap Lasmana Pandya.


"Baik Jendral!" Ucap mereka dengan kompak sambil memberikan hormat.


Swuuuuush! Swuuuuush!


Puluhan prajurit, dan tiga Komandan bersama Lasmana Pandya akhirnya pergi meninggalkan gunung Yin menuju keutara. Lasmana Pandya terbang, diiikuti oleh Bei, Ao serta Lie. Sedangkan para prajurit ada beberapa yang ikut terbang, namun kebanyakan menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka karena ranah Kultivasi mereka yang rendah.


"Hutan gelap," gumam Lasmana Pandya mengetahui tempat yang ia lewati kali ini.


"Aura ini sama persis dengan aura milik Rontek Ireng," ucapnya dalam hati. Dan karena itu ia tahu bahwa Rontek Ireng yang telah ia bunuh salah satu pembudidaya gelap atau yang dikatakan ras Iblis.


Tak sadar ia bergidik ngeri, melihat saja Rontek Ireng di tanah Jawa bisa dikatakan Kultivator yang cukup menakutkan, apalagi dengan Negeri yang akan ia porak porandakan kali ini. Mungkin kekuatannya sepuluh kali lipat di banding Rontek Ireng.


"Tuan, aku merasakan puluhan sosok sedang mengawasi kita," ucap telepati Yue Xong.


"Tetap tenang, lagian kita tidak tahu seberapa kuat penguasa Hutan Gelap ini," ucap telepati Lasmana Pandya.


Swuuuuush! Swuuuuush! Dhuuaaar! Dhuuuuaar!


Namun berbeda dengan komandan Ao dan Lie yang melepaskan serangan jarak jauh mereka disetiap sudut hutan. Sehingga membuat suara ledakan dan gemuruh yang cukup membuat siapapun yang berada didalam hutan gelap mendekat.


Swuuuuush! Swuuuush!


Benar saja, puluhan sosok manusia bermata merah dengan kening yang terdapat satu tanduk muncul disekitar mereka.


"Manusia keparat!" Ucapnya murka.

__ADS_1


Lasmana Pandya yang mengikuti sifat Jendral Hong Xiao hanya terdiam. Sedangkan Komandan Ao, serta Lie menunjukan sikap dominasi mereka.


"Kalian yang keparat! Seharusnya kalian tidak berani mengawasi kami!" Ucapnya.


"Ciiih! Sombong sekali, jangan kalian mengira kami takut dengan Kekaisaran Hong karena ia menguasai seluruh wilayah termasuk wilayah yang kami diami ini," sosok bermata merah dengan tanduk satu berdecak kesal.


"Dan untukmu Jendral bodoh yang sebenarnya hanya budak oleh para Kaisar, lebih baik sekarang kau bawa pergi pasukanmu ini atau semua mati ditangan kami...," Ucapnya dengan nada dingin.


Lasmana Pandya yang menggunakan tampilan Hong Xiao menunjukan sikap tenangnya dan bersikap acuh tak acuh.


"Bahkan untuk rajamu tiba disini aku tidak merasa gentar sedikitpun," ucap Lasmana Pandya sambil mengibaskan tangannya sehingga sosok tersebut termundur lima belas langkah dari tempatnya.


"Kuat sekali!" Ucap terkejut puluhan sosok tersebut.


Namun pada dasarnya mereka pembudidaya energi gelap, yang didasari oleh kekejaman, kebrutalan dan kebencian atau 3K karena itu mereka masih menunjukan keberanian mereka.


"Jangan kira kau lebih kuat dariku, kau dapat..."


Swuuuuuung!


Tiba tiba hutan bergetar hebat, Qi iblis menyebar kesegala arah yang membuat siapapun ketakutan karena merasakannya.


" Ternyata Jendral Xiao, seorang kacung Kekaisaran Hong yang ingin mati...," Ucap nada dingin yang berat menggetarkan area hutan gelap.


Lasmana Pandya masih bersikap tenang, sedangkan Ao dan Lie tubuhnya gemetar, karena yang mereka tahu sosok tersebut sedang melakukan pengasingan selama seratus tahun. Sehingga mereka memberanikan diri menunjukan dominasi mereka.


Swuuuuush! Swuuuuush!


Ratusan sosok prajurit hutan iblis muncul mengepung prajurit yang tersisa, sedangkan puluhan sosok yang sepertinya sejajar posisi dengan puluhan sosok iblis yang telah mengepung mereka kembali muncul dibarengi dengan pemuda tampan yang mengenakan jubah mewah, dan memiliki dua tanduk yang berbeda.


"Raja Iblis She Pian!" Ucap terkejut Ao dan Lie yang telah menebak.


"Heemm, tau diri juga kau bocah... Tapi sayangnya kau telah menyinggung rasku, dan karena itu kalian tidak akan pernah lepas dari genggamanku kali ini," ucapnya dengan nada kesal.


"Jendral lebih baik kita pergi, dan melupakan masalah ini," ucap telepati Ao.


"Lagian kalian yang berbuat masalah terlebih dahulu, dan sepertinya Raja She Pian benar benar marah karena tingkah kalian, karena itu kita hanya bisa melakukan satu jalan. Yaitu pertempuran," ucap kesal telepati Lasmana Pandya yang membuat kedua hati Ao dan Lie ketakutan setengah mati.


Namun yang sebenarnya Lasmana Pandya tidak merasa kesal, karena kali ini ia menemukan satu mangsa yang cocok untuk memulainya pertikaian antar ras di Negeri Tirai Bambu.

__ADS_1


__ADS_2