
Petir tiba menggelegar yang dibarengi langgit bertambah gelap. Angin berhembus kencang disusul dengan suara pekikan amarah besar Jendral Tapak Dewa.
"Bocah keparat! Aku pastikan hari ini kematianmu!" Teriak Jendral Tapak Dewa.
Dibarengi dengan hilangnya sinar keemasan dari atas langit dan segel kematian milik Lasmana Pandya. Sosok Jendral Tapak Dewa terlihat menggunakan jubah perang yang tak lain artefak tingkat Dewa.
Sosoknya menatap tajam, disertai amarah yang menggebu gebu, bagaikan seorang elang dari atas langit yang memantau mangsanya. Bahkan para Kultivator tanah Jawa yang bukan target tatapan tajam Jendral Tapak Dewa bisa merasakan perasaan yang sulitt digambarkan.
Swuuuuush!
Sekedipan mata, Jendral Tapak Dewa muncul dihadapan Lasmana Pandya sambil mengayunkan telapak tangannya.
Dhuuuuuuaar!
Lasmana Pandya tak tinggal diam, ia juga menggunakan telapak tangan kirinya memblokir serangan Jendral Tapak Dewa. Luapan energi kembali terjadi, namun saat ini Lasmana Pandya terhuyung kebelakang sejauh sepuluh meter.
"Hahahaha! Dengan baju pemberian Yang Mulia! Kau bahkan tak mampu menghancurkannya! Bahkan menggoresnya sama sekali!" Ucap Jendral Tapak Dewa.
"Ooh ... Begitukah?" Tanya singkat Lasmana Pandya melesat dan mengayunkan pedang ditangan kanannya
Tiiiiiiing! Dhuuuuuaaar!
Benar saja, ucapan Jendral Tapak Dewa terbukti nyata, sosoknya yang hanya diam membiarkan pedang Sangka Geni menebasnya, hanya membuat suara dentingan logam keras dan dibarengi fluktuasi energi besar yang disebabkan pertemuan dua artefak Dewa tersebut.
"Sudah kukatakan! Kau tidak akan mampu menggores artefak ini," ucap penuh kesombongan Jendral Tapak Dewa.
Sedangkan Lasmana Pandya mundur, dan mencari cara agar pertempuran segera selesai dengan akhir memenangkan pertarungan. Bahkan harus mati bersama kini ia telah siap demi membela semua orang yang tidak bersalah.
Senyum kecil ia sunggingkan saat terpikirkan sebuah ide konyol yang terlintas dipikirannya. Kini hanya itu saja pilihan untuk membuat Jendral Tapak Dewa menelan ludahnya.
"Bocah apa yang kau pikirkan, apakah kau kini menyerah dan meminta pengampunan dariku?" Tanya Jendral Tapak Dewa yang semakin menjadi jadi, swmbil menyatukan kedua alisnya.
Swuuuuuush!
__ADS_1
Tanpa membalas, Lasmana Pandya kemudian melesat serta mengayunkan kembali pedang Sangka Geninya, namun Jendral Tapak Dewa yang juga ingin mengakhiri pertempuran kembali bertukar serangan mereka masing masing.
"Pedang Bayangan Darah!" Teriak Lasmana Pandya.
"Huh! Jurus ini lagi!"
Swuuuush! Tiiiing! Ctaaaaaang! Ctiiiiing!
Gerakan yang sangat cepat Lasmana Pandya lakukan, namun hanya ada suara benturan logam yang memekikan telinga. Meskipun Lasmana Pandya mengetahui hal itu tidak membuat pedangnya mampu menembus artefak ditubuh Jendral Tapak Dewa. Nyatanya, ia hanya mengecoh pergerakan Jendral Tapak Dewa.
Buuuuuugh! Paaaaaaaack!
"Uuuuugh!"
Suara nyaring dari mulut Jendral Tapak Dewa setelah kedua salaknya terkena tendangan keras Lasmana Pandya. Matanya melotot, tadinya ia yang bertukar serangan dan membiarkan pedang mengenai tubuhnya. Kini ia tak terpikirkan, bahwa Lasmana Pandya hanya ingin ia lengah dan menendang kedua salak dibalik celananya.
Senyuman tengik Lasmana Pandya perlihatkan, meskipun ia merasa ngilu yang pastinya bukan ia yang diposisi Jendral Tapak Dewa. Tapi tendangannya itu sangat keras, dan bahkan ia tidak mempu membayangkan rasa sakitnya.
Sambil jatuh berlutut dan memegang kedua salaknya, Jendral Tapak Dewa yang menyesali kelengahannnya kini tidak bisa berbuat apa lagi. Bahkan sejak ribuan tahun ia hidup, baru kali ini rasa sakit yang pernah ia alami.
"Ayah! Paman! Dan seluruh Kultivator yang telah dibunuh oleh Jendral Tapak Dewa. Aku kini telah membalaskan dendam kalian! Jadi tenanglah dialam surga sana!" Teriak Lasmana Pandya kemudian menebas leher Jendral Tapak Dewa.
Slaaaaash!
Jendral Tapak Dewa akhirnya mati ditangan Lasmana Pandya. Kematian yang menyedihkan dalam rasa sakit diarea kedua salaknya menjadi pelajaran bahwa semua orang yang kuat pasti memiliki kelemahan.
Swuuuush! Swuuuush!
Ratusan Kultivator yang menonton segera muncul disekitar Lasmana Pandya dan bersorak atas kemenangan yang dijanjikan oleh Lasmana Pandya. Namun belum sempat merayakannya, salah satu tetua dari Padepokan Macan Putih pucat pasi setelah melihat pesan Ketua Sekte agar dirinya segera kembali kesekte karena adanya serangan dari Kerajaan Bai Shi.
Semua orang yang berasal dari Kerajaan dan Padepokan pun sama. Serangan serentak itu membuat mereka segera undur diri. Namun langkah mereka segera dihentikan oleh Lasmana Pandya.
"Senior tunggu!"
__ADS_1
"Tuan muda, apa lagi yang harus kita lakukan? Sekte kami sedang dalam bahaya!" Ucap sedikit gusar salah satu tetua.
"Benarr! Itu benar!"
Swuuuuush! Swuuuuush!
Tujuh bawahan Lasmana Pandya muncul di depan Lasmana Pandya dengan wajah kebingungan mereka. Apalagi melihat mayat Jendral Tapak Dewa.
"Tuan muda," ucap mereka hormat dan hendak menanyakan hal itu.
"Aku tahu apa yang kalian pikirkan, namun sekarang keadaan sedang genting. Kalian satu persatu ikutlah mereka membantu mempertahankan tanah airku. Setelah itu, kita berkumpul disini kembali." Ucap Lasmana Pandya.
"Baik tuan," jawab mereka.
Swuuush! Swuuuush!
Mereka akhirnya pergi mengikuti masing masing para tetua tersebut. Setelah melihat kepergian mereka, Lasmana Pandya menatap puluhan orang yang tersisa.
"Kalian bagaimana?" Tanya Lasmana Pandya.
"Tuan pendekar, kami kini tidak memiliki apapun, karena..."
"Baiklah, jika begitu ikut aku membunuh para Kultivator Negeri asing yang kita lihat. Ingatlah jangan sisakan satupun yang hidup!" Ucap semangat Lasmana Pandya.
Semua orang bersorak, dan menyetujui ucapan Lasmana Pandya. Lasmana Pandya kemudian tak sengaja muncul sebuah pengetahuan bahwa didalam cincin waktu manusia dapat memasukinya. Dan tentunya hal itu membuatnya merasa sangat senang.
"Jika menggunakan kekuatan kalian, kita mungkin akan mencari mereka berhari hari. Sekarang kalian masuklah kedalam cincin waktu ini," ucap Lasmana Pandya membuka dimensi memasuki cincin waktu pemberian Kamandaka.
Tanpa ragu, mereka segera memasuki portal dimensi tersebut. Setelah sesaatnya, Lasmana Pandya memunguti seluruh harta milik Jendral Tapak Dewa, dan tentunya hal yang paling berharga adalah artefak jirah perang pemberian Kaisar Yang Lin.
Menelan beberapa pill penyembuh serta penambah energi Qi, Lasmana Pandya melesat menggunakan terbangnya kearah utaraa, tepatnya kearah Kerajaan Bali. Karena hingga saat ini ia tidak mendengar kabar Kerajaan tersebut. Dan tentunya ia ingin melihat apakah Kerajaan tersebut diserang, ataupun tidak.
Dengan menggunakan terbang, serta kecepatannya kali ini. Lasmana Pandya hanya membutuhkan waktu delapan jam saja tiba dikerajaan Bali. Namun wajahnya terkejut, karena saat ini didepan gerbang yang besar dan megah.
__ADS_1
Jutaan mayat tergeletak, firasatnya bertambah buruk saat telinganya mendengar suara jeritan yang menyedihkan dari arah dalam Kerajaan. Tak ingin tinggal diam, Lasmana Pandya turun didepan gerbang kerajaan Bali. Setelah itu, ia mengeluarkan seluruh Kultivator yang ia bawa dari kerajaannya.
"Senior, aku butuh bantuan kalian, bunuh mereka semua tanpa ampun!" Ucap mereka yang masih terkejut melihat jutaan nyawa tergeletak disekitar mereka.