Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Masalah dikota Sikapat.


__ADS_3

Banyu melihat wanita berkulit putih itu seketika mengeraskan rahangnya.


"Kultivator negeri sebrang." Ucap dalam hati Banyu menatap wanita itu dengan tajam.


Sedangkan Lasmana Pandya langsung meletakan gelasnya dan membantu wanita putih itu dengan perasaan bingung.


"Nona bagaimana kondisi anda?" Tanya Lasmana Pandya.


"A-aku baik baik saja tuan," balas wanita itu sambil menatap takut kearah anak tangga.


"Tu-tuan aku harus segera pergi," ucap lagi wanita itu akan berlari keluar kedai.


Namun tiba tiba langkah wanita itu terhenti setelah lima pria paruh baya dan seorang pemuda turun dari anak tangga.


"Wanita ******! Siapa yang menyuruhmu pergi dari kedai ini!" bentak seorang Pria paruh baya.


Wanita yang tak lain bernama Yang Lie menghentikan langkahnya. Sedangkan Lasmana Pandya yang ingin membantu Yang Lie dihentikan oleh Banyu.


Kelima paruh baya itu kemudian menyeret tubuh Yang Lie secara paksa, namun saat tepat didepan Lasmana Pandya, Yang Lie menarik pakaian Lasmana Pandya.


"Tu-tuan selamatkan saya," ucap Yang Lie dengan mata berkaca kaca menatap Lasmana Pandya.


"Hahaha kau ingin meminta tolong pada kedua sampah itu? Apakah kamu ingin mereka berdua mati ditangan kelima bawahanku?" Tanya Brata seorang tuan muda dari kota Sikapat itu dengan sombong.


Lasmana Pandya mengeratkan kepalannya, namun Banyu kembali menggelengkan kepalanya kearah Lasmana Pandya agar tidak ikut campur.


Sraaaaaak!


Tiba tiba pakaian Lasmana Pandya sobek dan membuat pegangan tangan Yang Lie terlepas.


"Hahaha lihatlah pemuda itu, dia juga hanya diam saja seperti patung, lebih baik kau temani aku bermalam di kedai ini wanita seksi...," ucap dingin Brata sambil menjilati bibirnya, dan membawa tubuh Yang Lie bersama kelima bawahannya.


Lasmana Pandya kini tak menghiraukan nasehat Banyu, kini ia menggebrak meja didepannya.


Braaaak!


"Siapa yang kau katakan sampah? Dan karena bawahanmu telah merobek pakaianku, apakah kamu tau konsekuensinya?" Tanya Lasmana Pandya.


Kelima bawahan Brata menghentikan langkahnya dan saling bertatap tatapan.


"Hahahaha ... Tuan muda, aku rasa pemuda ini ingin cari muka," ucap salah satu bawahannya.


Banyu yang masih bersikap tenang kini masih asik menyesap araknya dengan santai, dan ia juga ingin melihat Lasmana Pandya melakukan apa yang ia rasa benar. Meskipun ia juga malas membantu wanita berkulit putih itu, tapi ia ingin melihat cara Lasmana Pandya menyelesaikan masalah.

__ADS_1


"Hei sampah bertopeng! Lihatlah dirimu yang tak memiliki ranah Kultivasi itu, apakah kau yakin ingin membantu wanita ini?" Tanya Brata.


"Pemuda bertopeng yang malang."


"Sayang sekali ingin merebut wanita malam milik tuan muda Brata, apakah ia ingin mengantar nyawanya."


Ocehan demi ocehan dari para pelanggan kedai mulai terdengar, tapi ocehan demi ocehan itu tak membuat gentar sama sekali dengan pemuda yang bernama Brata.


"Bukankah aku yang seharusnya mengatakan demikian sampah!" Balas sengit Lasmana Pandya.


Sontak ucapannya membuat para pelanggan gemetaran, bagaimanapun Brata salah satu jenius muda di kota Sikapat, dan hal itu akan membuat Lasmana Pandya menelan ludahnya sendiri.


"Ciiih kamu memiliki kesombongan dari mana? Kalian lepaskan wanita ini, dan setelah itu tampar wajah pemuda itu hingga menjadi babi yang tak dikenali!" Ucap tegas Brata.


Lima pria akhirnya melangkahkan kakinya tepat dihadapan Lasmana Pandya, sesampainya.


"Tunggu apa lagi, cepat tampar!" teriak Brata.


Kraaaaaack!


Sebuah tangan melesat kearah pipi Lasmana Pandya, namun bukannya suara tamparan itu terdengar nyaring, malah suara renyah dari tulang tangan pria yang dipatahkan oleh Lasmana Pandya lah yang terdengar.


"Aaarggh ... Tanganku!" teriak pria itu sambil memegangi tangannya yang tulangnya patah.


"Kalian berempat kenapa diam saja, sekarang cepat bunuh dia!" Ucap murka Brata.


"Membunuhku ... Naif sekali...," ucap dingin Lasmana Pandya kemudian menampar keempat pria bawahan Brata dengan cepat.


Plaaaak! Plaaaak! Plaaaak! Plaaaak!


Suara tamparan beruntun terdengar didalam resto, Lasmana Pandya yang tak ingin membunuh terus menampar wajah keempat bawahan Brata dengan cepat, hingga wajah keempat pria itu tak bisa dikenali sama sekali, akhirnya Lasmana Pandya menghentikan aksinya.


Mata para pelanggan, serta Brata kembali melotot melihat bawahannya sangat mudah dikalahkan. Sedangkan Brata yang marahnya kini semakin menjadi jadi melesat sambil melepaskan serangan tinjunya kearah Lasmana Pandya.


"Mati kau keparat!" Teriak Brata.


Kraaaaaack!


Suara tulang renyah yang patah kembali terdengar, dan terlihat kini Brata yang melototkan matanya merasakan perasaan yang sama dirasakan oleh bawahannya.


"Tanganku oh tidak!" Teriakan yang disertai tangisan mulai terdengar dari mulut Brata.


Lasmana Pandya tak menghiraukannya, dengan segera ia membawa Yang Lie kearah tempat duduknya bersama Banyu.

__ADS_1


"Senior tolong jaga sebentar," ucap Lasamana Pandya.


Banyu hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Setelah itu Lasmana Pandya kembali menghampiri Brata dan anak buahnya yang masih terbaring dan terguling guling karena luka yang mereka alami.


"Pergilah dari tempat ini sebelum aku bertindak lebih jauh lagi," ucap dingin Lasmana Pandya.


"Ba-baik," dengan rasa malu dan dongkol yang tinggi, Brata melupakan rasa sakitnya keluar dari kedai menuju kearah kediamannya.


Sedangkan para pelanggan lainnya hanya diam mematung melihat apa yang dilakukan oleh Lasmana Pandya. Melihat itu, Lasmana Panda memutuskan untuk menanyakan masalah itu pada Yang Lie. Setelah duduk disamping Yang Lie.


"Nona siapa nama anda? Dan kenapa mereka mengganggu anda?"


"Tuan sebelumnya terimakasih telah membantuku, namaku Yang Lie," ucap Yang Lie terus melanjutkan ceritanya.


Banyu yang diam diam mendengarkan nama Yang, hatinya sedikit dongkol dan teringat kematian guru serta adik seperguruannya, namun melihat Pandya seperti akrab dengan wanita bermarga Yang itu, akhirnya Banyu hanya bisa diam dan terus meneguk arak yang ada didepannya.


Dari cerita yang diceritakan oleh Yang Lie, Lasmana Pandya yang mendengarkannya terus merubah ubah wajahnya.


"Tuan sepertinya kita harus pergi, karena aku takut mereka akan kemari lagi," ucap Yang Lie.


Lasmana Pandya menatap Banyu, seakan akan ia meminta persetujuan banyu.


"Apa yang telah kita lakukan, seharusnya kita berani bertanggung jawab, ingatlah kau ini lelaki," ucap Banyu.


Lasmana Pandya mengangguk, dan menatap lembut Yang Lie yang memiliki paras cantik.


"Nona Yang tenang saja."


Hingga tiba tiba suara puluhan prajurit memasuki kedai terdengar, dibarengi dengan munculnya Brata dan Walikota Yoko. Para pelanggan yang melihat itu segera keluar dari kedai.


"Ayah dia yang telah melukaiku hingga menjadi seperti ini." Ucap Brata sambil menunjuk Lasmana Pandya.


Yoko yang merasa anaknya tidak pernah merugikan orang lain, serta berbuat salah seketika langsung menunjuk Lasmana Pandya dengan amarah yang besar.


"Prajurit tangkap pemuda bertopeng itu! Setelah itu hukum dia dengan seratus cambukan," ucap Walikota Yoko.


"Baik."


Puluhan prajurit mengepung Lasmana Pandya dan mengacungkan pedangnya agar Lasmana Pandya tidak memberontak, senyum kemenangan terlihat diwajah Brata.


"Mati kau," ucap Brata.


"Wa-walikota...," ucap lirih seorang penjaga gerbang yang tiba, dan dikenali oleh Lasmana Pandya tiba tiba membisiki telinga walikota Yoko.

__ADS_1


"A-apa...," ucap Walikota Yao terkejut setengah mati.


__ADS_2