Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Perang 4. Katak terjebak didalam sumur.


__ADS_3

"Akan kucabik cabik kau bocah keparat!" Murka Rontek Ireng kini mulai menyerang maju secara membabi buta kearah Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya kini hanya bisa memblokir dan menghindar, namun beberapa pertukaran serangan ini. Ia merasakan kekuatan Rontek Ireng sama pada tingkat Glory Lima meskipun ranah Kultivasinya kini Saints Glory satu.


"Ternyata begitu," ucap dalam hati Lasmana Pandya kemudian tekadnya memiliki harapan besar untuk memenangkan pertempuran.


Meskipun tubuhnya merasa kebas saat pertempuran senjata yang dikeluarkan oleh Rontek Ireng. Ia masih bersikap tenang, seolah olah kekuatannya sama dengan Rontek Ireng. Dan hal itu akan membuat lawan berpikir sempit.


Memutar tubuhnya, Lasmana Pandya melesat seperti kabur, dan Rontek Ireng yang melihat itupun tertawa kesetanan sambil mengejar Lasmana Pandya.


"Hahahaa! Ingin kabur? Maaf aku tidak bisa melepaskanmu!"


"Heeee ... Tapi boong!"


Lasmana Pandya berkata lalu membalikan tubuhnya, setelah itu ia menebaskan pedang Sangka Geninya yang membuat seuliet energi besar pedang mengarah kearah Rontek Ireng.


Dhuuuuuaar! Dhuuuaar!


Bagaikan suara petir besar yang menggelegar, Rontek Ireng kini terpental sejauh sepuluh meter saat seuliet energi tebasan pedang menghantam tubuhnya. Wajah ketua padepokan Rontek Ireng menegang, saaat ini ia tahu lawannya benar benar kuat. Bahkan setelah menggabungkan kekuatan semua tetua Padepokannya, harapan untuk membunuh Lasmana Pandya kini sirna.


"Sepertinya teknik yang kau gunakan memiliki batas waktu dan harga mahal yang harus dibayar!" Ucap Lasmana Pandya.


"Yang penting kekuatan ini cukup untuk membunuhmu bocah!" Tanpa terdiam kembali, Rontek Ireng melesat kearah Lasmana Pandya.


Tiiiing! Dhuuuuaar!


Ledakan menggema saat dua benturan senjata tingkat Dewa terjadi. Kini mereka mulai bertukar serangan pedang kembali, namun yang pasti Rontek Ireng masih belum bisa mengendalikan energi besar yang meluap luap dari dalam tubuhnya.


Keringat deras mengucur dari keningnya, karena memang benar perkataan Lasmana Pandya, jurus ini memiliki kelemahan fatal jika tidak tepat waktu menghilangkannya.


"Seandainya kamu tidak mencoba memprovokasi ku, maka mungkin aku akan melepaskanmu. Tapi melihat ranah Kultivasimu yang tinggi dan sikapmu yang buruk, maka kau harus menerima kematianmu!" Ucap Lasmana Pandya disela sela pertempuran.


"Plesetan dengan omonganmu bocah!"


"Satu kitab sembilan iblis! Sepuluh gerakan Iblis!" Teriak Rontek Ireng mengeluarkan jurusnya.

__ADS_1


Lasmana Pandya juga tak kalah sengitnya.


"Pedang Bayangan darah!"


Swuuuush!


Dua cahaya emas dan hitam terlihat saling benturan jika dilihat dari mata telanjang. Ledakan disekitar mereka juga terus terjadi disaat kedua pedang bertemu. Keduanya terlihat sama sama cepat dalam kecepatan, namun sedikit lebih tinggi Rontek Ireng akibat gabungan kekuatannya.


Lasmana Pandya kemudian kembali mundur dan mencari ruang untuk mengeluarkan jurus lainnya.


"Diagram Jiwa! Cincin Seribu Roh!" Teriak Lasmana Pandya.


Swuuuung!


Membuat segel diagram kuno menggunakan pedangnya, sebuah lingkaran cermin jiwa muncul tepat dihadapannya. Tanpa menunggu lagi, Lasmana Pandya memasukinya, dan setelah keluar ribuan sosok Lasmana Pandya yang memiliki kekuatan lebih rendah dari sosok asli menyebar mengepung pergerakan Rontek Ireng dan mulai menyerangnya.


"Baj*ngan cilik ini punya banyak kartu truf bren*sek!" Teriaknya murka membabi buta meledakan sosok tiruan Lasmana Pandya.


Sedangkan sosok Lasmana Pandya yang asli menghela napas panjang. Karena apa yang ia pikirkan tidak seburuk kenyataannya.


Lasmana Pandya yang kini berada diatas langit duduk dengan santai sambil menyerap energi langit dan bumi. Sedangkan Rontek Ireng yang merasa kesal dengan jurus aneh tersebut terus mengamuk. Dan tersadar yang asli berada diatas langit menonton pertempurannya.


"Arrrgghh! Keparat!"


Swuuuush!


Sosoknya melesat keatas langit menuju kearah Lasmana Pandya. Namun sayangnya, ribuan sosok tiruan Lasmana Pandya tak tinggal diam dan mengejarnya. Sehingga Rontek Ireng terus menggerutu dan berteriak sekeras yang ia bisa sambil membunuh tiruan sosok Lasmana Pandya.


"Jika kau lelaki turun dan hadapi aku! Jangan hanya bisa mengandalkan boneka sampah seperti ini!" Teriaknya.


Tak memperdulikan ocehan Rontek Ireng, Lasmana Pandya terus menyerap energi langit dan bumi mengolah menjadi energi Qi. Karena tidak baik jika ia terus menerus menggunakan pill secara terus menerus.


" Lembar Dua! Kitab Sembilan Iblis Pencabut Nyawa!" Teriaknya kemudian membuat segel tangan.


Setelah itu muncul pusaran hitam bagaikan sebuah kipas angin yang sangat tajam menyerap kuat ribuan bayangan sosok Lasmana Pandya.

__ADS_1


Dhuuuuaar! Dhuuuuaar! Dhuuuaar!


Ledakan beruntun saat kipas hitam yang berputar terus menyerap sosok tiruan Lasmana Pandya dan membunuh dengan suara ledakan yang terus beruntun. Lima menit kemudian, nafas Rontek Ireng terengah engah saat berhasil memusnahkan tiruan sosok Lasmana Pandya.


"Masih tersisa lima menit," ucapnya Rontek Ireng.


Sedangkan Lasmana Pandya tersenyum mendengarnya, senyum tengil terus ia perlihatkan.


"Masih lima menit ya? Baiklah aku akan..."


Swuuuush! Baaaaaamsss! Dhuuuuaar!


Amarah yang besar membuat Rontek Ireng tak ingin terus berdebat dan melesat keatas langit sambil melepaskan serangan tinju terkuatnya. Namun Lasmana Pandya juga tak tinggal diam, kepalan tangan kecilnya juga ikut ia ayunkan sehingga fluktuasi energi besar meluap luap.


"Lembar Tiga! Kitab Sembilan Iblis Pelahap Sukma!" Teriak Rontek Ireng.


Aura gelap kembali menyebar dan mencoba menekan pergerakan Lasmana Pandya. Namun sayangnya aura pembunuh yang sangat kental menyelimuti dan melindungi aura gelap milik Rontek Ireng.


Gerakan Rontek Ireng melambat bertukar serangan kearah Lasmana Pandya. Namun disetiap tabrakan tinju, serangan Rontek Ireng mampu membuat tubuh Lasmana Pandya merasa kebas seutuhnya.


"Sangat kuat..." Gumamnya kemudian semakin serius.


Pedang Sangka Geni kembali muncul ditangannya, setelah itu Lasmana Pandya memblokir serangan tinju Rontek Ireng dengan pedang Dewanya.


Tiiiiing! Dhuuuaar! Dhuuuaar!


Ledakan terus beruntun diatas langit pertempuran keduanya. Masih terlihat sengit, namun Lasmana Pandya masih tetap tenang tidak ingin menunjukan kelengahan disetiap gerakannya. Gerakan pedangnya semakin sempurna. Dan tak sadar ia sebentar lagi menyatu dengan pedangnya. Yang diartikan segala sesuatu menggunakan pedang, ialah master pedang dari seluruh master pedang yang ada.


Karena menyatu dengan pedang harus penuh dengan ke Ikhlasan Jiwa, serta mengerti arti pedang. Dan juga tau arti pedang yang sebenarnya.


Tiga menit telah berlalu, tersisa dua menit yang dimiliki oleh Rontek Ireng. Wajahnya memucat, karena sampai saat ini ia masih belum bisa membunuh lawan didepannya. Saat ini pikirannya sedang melanda kepilihan terakhirnya. Namun sebelum itu, ia ingin berusaha sekuat tenaganya membunuh lawan yang ia pikir hanya ialah yang terkuat ditanah Jawa selain Joko Dwi Permana yang telah tewas puluhan tahun lalu.


"Kekuatanmu setinggi ini! Mari kita bersekutu dan kuasai seluruh dunia!" Ucap Rontek Ireng menyerang sambil memberikan negosiasi kepada Lasmana Pandya.


"Hahahaha! Pak tua bau tanah tak tahu malu! Kau seperti katak yang terjebak didalam sumur yang tidak tahu betapa luasnya dunia ini mengatakan ingin menguasai Dunia?" Tanya Lasmana Pandya sambil bertukar serangan.

__ADS_1


__ADS_2