Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Membunuh


__ADS_3

"Dari pada kita berbicara terus, lebih baik kita segera berpencar dan menangkapnya hidup hidup, ingatlah hadiah yang diberikan Jendral Tapak Dewa."


"Baik."


Swuuuush! Swuuuush! Mereka berlima melesat kearah yang berbeda, sedangkan Lasmana Pandya akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya.


"Sepertinya ini tidak baik, lebih baik aku membunuhnya atau menghindarinya saja ya?" tanya Lasmana Pandya kedirinya sendiri.


"Membiarkan mereka hidup sama artinya dengan mengundang bencana dimasa depan," gumam Lasmana Pandya kemudian memutuskan untuk membunuh mereka satu persatu.


Swuuuush! Tubuhnya melesat dengan kekuatan puncak Emas tingkat dua kearah timur menyusul satu dua pria dari rombongan itu.


Saat lima menit berlalu, akhirnya Lasmana Pandya berhasil menemukan dua pria yang sedang mencarinya, tanpa basa basi Lasmana Pandya segera melesat dan menyerang kedua pria itu.


Swuuuush! Swuuuush! Slaaaaash! Serangan kejutan Lasmana Pandya berhasil dihindari oleh kedua pria tersebut.


"Ternyata nyalimu berani juga bocah, dengan membawamu hidup kepada Jendral, maka posisiku akan diangkat olehnya...," ucap lirih salah satu pria.


"Naif!"


Swuuuush! Lasmana Pandya melesat kembali sambil mengayunkan pedang hitam kearah salah satu pria paruh baya.


Tiiiing! Tiiiing! Dentingan tiga pedang yang beradu mulai meramaikan suasana siang hari dihutan itu, Lasmana Pandya yang ranah kultivasinya lebih tinggi satu tingkat mampu membaca serangan kompak keduanya.


"Pedan Bulan!" Teriak Lasmana Pandya kemudian memutarkan tubuhnya dan melesat kearah salah satu pria yang juga siap melepaskan serangannya.


"Dewa Nirwana Pengguncang Langit!"


Swuuuush! Seuliet energi tebasan pedang berbentuk silang melesat kearah Lasmana Pandya, sedangkan Lasmana Pandya yang sudah terlanjur melesat terus memutarkan tubuhnya dan menabrakan pedang hitamnya kearah seuliet energi silang pedang itu.


Baaaaamss! Dhuuuuaar! Debu berterbangan, kedua pria itu tersenyum penuh kemenangan mengira Lasmana Pandya telah tewas ataupun terluka parah, namun disekian detiknya mata mereka melotot melihat Lasmana Pandya ternyata masih melesat dan masih memutarkan tubuhnya kearah keduanya.


Slaaaaash! Slaaaaash! Keduanya akhirnya tewas ditangan Lasmana Pandya, setelah membunuh mereka, Lasmana Pandya menatap pedang hitamnya yang berlumuran darah. Sedikit rasa mual ia rasakan.


Melihat dua cincin ruang tergeletak, membuat Lasmana Pandya mengambil dan sekaligus menyimpannya kedalam cincin ruangnya.


"Masih ada tiga lagi," gumam Lasmana Pandya kemudian menghentakan kakinya menuju kearah selatan.

__ADS_1


Swuuuuush! Ditengah melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Lasmana Pandya menghentikan lesatannya ketika berpapasan dengan dua pria yang ia cari.


"Hahaha akhirnya kami menemukanmu," tawa kemenangan salah satu pria.


"Dua teman kalian juga tadi seperti itu, namun sayangnya...," Lasmana Pandya menghentikan ucapan dinginnya sambil mengeluarkan kedua cincin ruang milik dua teman pria itu.


"Kamu...,"


Swuuuush! Keduanya tak ingin bertanya lagi, tapi keduanya mulai melesat kearah Lasmana Pandya. Dengan lihainya, Lasmana Pandya menghindari serangan keduanya dengan gerakan yang sangat cepat.


"Cepat sekali...," ucap lirih salah satu pria.


"Saudara awas!"


Slaaaaash! Lasmana Pandya yang bergerak zig zag membuat serangan kejutan yang berhasil memotong lengan kiri salah satu pria paruh baya. Tak berhenti disitu saja, Lasmana Pandya tiba tiba melesat kearah salah satu pria lainnya sambil mengayunkan pedang hitamnya kearahnya.


Tiiiing! Benturan dua pedang tingkat sedang akhirnya terdengar, keduanya mulai bertukar serangan terbaik mereka, namun sang Pria paruh baya yang sebenarnya seorang prajurit kerajaan negeri sebelah tersadar akan sesuatu.


"Gawat ternyata pemuda ini lebih kuat dari kami berdua, pantas saja kedua rekanku tewas ditangannya."


"Kata siapa?" tanya heran Lasmana Pandya.


Slaaaaash! Jleeeb! Sebelum membalas pertanyaan Lasmana Pandya, tiba tiba Lasmana Pandya merubah ubah serangan pedangnya, shingga tetua tersebut tewas dengan luka pedang menancap didadanya.


Sedangkan pria satunya yang lengan kirinya telah terpotong akan segera kabur, namun Lasmana Pandya yang melihat pergerakannya langsung melemparkan pedangnya kearah punggung pria itu.


Jleeeeb! Kedua pria akhirnya tewas ditangan Lasmana Pandya, setelah membunuh keduanya Lasmana Pandya kembali mengambil cincin ruang mereka.


Namun saat akan melesat kearah utara, tiba tiba sebuah serangan pedang mengarah ketubuh Lasmana Pandya.


Swuuuush! Jleeeb! Dengan lihainya, Lasmana Pandya yang merasakan bahaya segera menghindari serangan pedang itu, matanya kini terarah pada sosok pria paruh baya yang menatapnya dengan kemarahan yang besar.


"Pemuda keparat! Aku benar benar akan membunuhmu kali ini!" ucap penuh penekanan pria itu yang langsung melesat kearah Lasmana Pandya.


Swuuuush! Pedang yang telah menancap tiba tiba melesat kembali kearah tangan pria itu yang juga melesat kearah Lasmana Pandya.


Tiiiing! Dhuuuuaar! Lasmana Pandya memblokir serangan pria itu dengan pedang hitamnya, sehingga terjadi daya kejut yang cukup membuat hembusan angin disekitar mereka.

__ADS_1


Aura pembunuh yang bercampur dengan aura Kultivasi milik pria itu mampu menekan gerakan Lasmana Pandya.


"A-aura apa ini...," ucap pelan Lasmana Pandya yang berhasil menghindari serangan pedang pria itu.


"Nirwana Penghancur Langit!"


"Mati!"


Namun tiba tiba Lasmana Pandya harus menghindari serangan susulan yang dilancarkan oleh pria tersebut.


Dhuuuaar! Seuliet energi tebasan pedang mengarah pada tubuh Lasmana Pandya, Lasmana Pandya yang tak siap menghindar akhirnya terpental sejauh dua puluh meter kebelakang dengan memuntahkan seteguk darah merah dari bibirnya.


"Hahahaha ... Karena kamu telah membunuh temanku, maka aku akan membalaskan dendam mereka dan membawa kepalamu kehadapan Jendral Tapak Dewa, karena itu terimalah kematianmu!" teriak pria itu sambil melesat dan mengayunkan pedangnya.


Lasmana Pandya yang terluka cukup parah hanya bisa memejamkan matanya.


Jleeeeeb! Namun disekian detiknya, ia tak merasakan apapun yang menusuk dibagian tubuhnya, matanya terbuka dan terlihat tetua tersebut mati dengan pedang yang tertancap didadanya.


Swuuuush! Sosok pria paruh baya bertopeng dengan pakaian putih tiba didepan Lasmana Pandya.


"Bagaimana kabarmu anak muda?" tanya sosok tersebut terlihat tersenyum ramah.


"A-aku baik baik saja paman, terimakasih telah membantuku...," ucap pelan Lasmana Pandya sambil memberikan hormatnya.


Sosok tersebut mengangguk dan kemudian mencabut pedang yang menancap didada pria prajurit Kekaisaran Yang.


"Ambil cincin ruangnya, ingatlah untuk tetap berhati hati."


Swuuush! Pria misterius melesat dan meninggalkan Lasmana Pandya yang hanya bisa terdiam dan memberikan hormatnya.


"Siapa paman itu, kenapa ia mau membantuku...," gumam Lasmana Pandya bingung.


Namun dengan segera ia mengambil cincin ruang pria itu dan memeriksa semua cincin yang ia dapatkan.


Senyum dibibirnya seketika terkembang melihat ratusan ribu kristal jiwa dan beberapa sumber daya disetiap cincin yang ia periksa.


"Sepertinya luka yang aku terima ini sepadan dengan harta yang aku terima," ucap Lasmana Pandya kemudian menaburkan beberapa kristal jiwa disekitarnya sambil menyembuhkan luka dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2