
Setelah segel kematian menghilang, Ao Tian kembali menatap Lasmana Pandya dengan tatapan membunuh, wajahnya terlihat muram.
"Bocah aku pastikan kematian pasukanku, serta rekanku lainnya akan terbayar setelah aku membunuhmu!"
Swuuuush!
Ao Tian melepaskan tinjunya, sebuah tinju muncul dari kehampaan melesat menuju tubuh Lasmana Pandya.
"Tuan muda tinju itu terdapat racun tingkat Api! Lebih baik jangan memblokirnya secara langsung." Suara panik Sena didalam pikiran Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya tanpa membalas ucapan Sena segera bergerak kearah kiri dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.
Dhuuuuaar!
Tinju itu meledak saat membentur rumah pohon disekitarnya, bahkan setelah ledakan rumah tersebut langsung meleleh menjadi air hitam yang keruh.
Swuuuush! Swuuuush!
Ao Tian yang kini seperti kesetanan kembali melepas tinju dari kehampaan. Tidak hanya satu, tapi lima kali berturut turut. Sehingga Lasmana Pandya harus bergerak cepat menghindarinya.
Dhuuuaar! Dhuuaar!
"Plesetan dengan caramu yang hanya bisa menghindar!" Ao Tian berteriak sangat lantang kemudian mengalirkan energi Qi kearah pedang Dewanya.
Swuuuush!
Susulan serangan pedang yang melesat setelah tinju Ao Tian tidak mengenai tubuh Lasmana Pandya yang berhasil menghindari serangannya.
Tiba tiba senyum aneh terkembang dibalik topeng Lasmana Pandya ketika melihat lesatan pedang kearahnya.
"Pedang Bayangan Darah!"
Swuuuush!
Lasmana Pandya melesat seperti bayangan kearah Ao Tian. Ao Tian yang kembali melihat serangannya meleset mengeratkan rahangnya. Namun tiba tiba matanya melotot setelah melihat kecepatan Lasmana Pandya yang telah berada disampingnya, dan tentunya sebuah pedang emas samar samar yang digenggam Lasmana Pandya berhasil menebas lehernya.
Lasmana Pandya yang telah berhasil membunuh Ao Tian kemudian memungut cincin ruang serta pedang tingkat Dewa itu, pedang tingkat Dewa, serta cincin ruang pun ia pungut, karena bagaimanapun senjata itu sangat berguna baginya.
Tak berselang lama, ratusan penduduk kota Larangan tiba dibelakang Lasmana Pandya sambil memberikan hormat mereka secara kompak.
__ADS_1
"Pendekar bertopeng! Terimakasih atas bantuan tuan!' Ucap mereka serempak.
Lasmana Pandya membalikan tubuhnya, dibarengi dengan kedua pusaka legendaris yang memudar dan hingga hilang dari tubuhnya.
"Tuan tuan, kalian tidak perlu sebegitu hormatnya padaku, karena aku hanyalah orang biasa sama seperti kalian," ucap Lasmana Pandya kemudian mengangkat tubuh Walikota Larangan dengan sopan.
Setelah itu, mereka membersihkan sisa kekacauan yang ada didalam kota Larangan dengan hati yang gembira, meskipun kota mereka telah porak poranda hal itu lebih baik dari pada harus dikuasai oleh Kultivator asing yang telah menguasai kota Larangan.
Didalam rumah walikota Larangan, Yang Lie serta Lasmana Pandya disuguhkan beberapa arak dan daging panggang yang sangat harum.
"Tuan pendekar, ini cincin ruang milik pendekar asing yang telah terbunuh," ucap Langit yang tak lain seorang walikota Larangan memberikan ratusan cincin ruang.
"Senior, lebih baik anda memberikannya pada warga, karena mereka lebih membutuhkannya, dan aku sudah mengambil bagianku sendiri." Lasmana Pandya memperlihatkan dua cincin ruang milik Ao Tian dan Hu Shao.
Setelah itu, mereka bertiga membahas tentang rencana Ao Tian serta Hu Shao yang ingin mencari kitab terlarang milik leluhur kota Larangan.
"Tuan pendekar, setau saya memang ada kitab itu, namun sampai saat ini saya sendiri tidak mengetahui keberadaannya." Langit menjelaskan semuanya tentang kitab terlarang.
Lasmana Pandya mengangguk, tapi didalam pikirnya bagaimana Ao Tian yang sebagai pendatang mengetahui keberadaan kitab terlarang tersebut.
Pada akhirnya, Langit membawa Lasmana Pandya, dan Yang Lie menuju kota tempat terlarang di kota Larangan. Sesampainya, mata Langit melebar melihat segel diagram kuno yang masih bersinar didepan goa. Dari pandangan mereka, diagram tersebut aktif karena seseorang berusaha membobol segel diagram tersebut.
****
Didalam alam mimpi Lasmana Pandya, roh Sena yang berwujud Geni Danyang, dan Pedang Sangka Geni bernama Ying Lian sedang membicarakan peningkatan pesat keterampilan bertarung tuan muda mereka. Namun seketika perhatian mereka teralihkan karena melihat sebuah diagram kuno yang mereka kenali.
"I-ini bukankah milik Kamandaka," ucap Sena dipikiran Lasmana Pandya.
***
Lasmana Pandya yang mendengar ucapan Sena dipikirannya hanya menaikan kedua alisnya.
"Tuan pendekar? Apakah anda baik baik saja?" Langit heran dengan ekspresi wajah Lasmana Pandya.
Sedangkan Yang Lie yang tak mengerti apa apa hanya diam dan memperhatikan sinar diagram kuno.
"Aku baik baik saja Senior, dan aku hanya berpikir bagaimana Ao Tian dapat menemukannya."
Langit mengangguk, kemudian wajahnya berubah menjadi gelisah melihat diagram kuno tersebut yang bersinar.
__ADS_1
"Tuan pendekar apakah segel ini adalah kitab terlarang itu?" Langit ingin memastikannya.
"Sepertinya, namun aku rasa diagram kuno ini menghubungkan kedunia kecil yang telah dibuat leluhur anda." Lasmana Pandya menjelaskan apa yang ia dengar dari penjelasan Sena yang saat ini terus berkomunikasi dengan Lasmana Pandya.
"Tuan pendekar, bisakah anda menghancurkannya saja, atau menyimpan diagram kuno ini, karena bagaimanapun ..." Langit tidak ingin hal buruk terjadi pada kotanya, sehingga ia ingin Lasmana Pandya mengungkap misteri tentang diagram kuno yang berhubungan dengan kitab terlarang milik mereka.
Lasmana Pandya hanya mengangguk, ia yang saat kini mendengarkan penjelasan Sena mengenai cara memasuki dunia kecil yang berada di dalam diagram kuno terus memperhatikan diagram tersebut.
Setelah sudah mengetahui cara memasuki dunia diagram kuno, Lasmana Pandya menatap Langit dengan harapan besar dimatanya.
"Tuan pendekar katakan saja," ucap Langit yang mengerti kode Lasmana Pandya.
"Senior, bisakah anda menjaga Yang Lie? Karena bagaimanapun didalam dunia ini pasti ada bahaya yang dapat mengancam nyawaku," ucap Lasmana Pandya menjelaskan.
Yang Lie merubah wajahnya menjadi jelek mendengar ucapan Lasmana Pandya.
"Yang Lie, aku tak ingin membuatmu terluka didalam dunia ini, mana mungkin seseorang menyimpan harta berharganya tanpa memberikan rintangan berat."
Yang Lie akhirnya mengerti apa yang dipikirkan Lasmana Pandya. Dengan berat hati ia segera menyutujui keputusan Lasmana Pandya.
"Nona, bagaimana keputusan anda?" Langit bertanya.
"Baiklah, aku akan mengikuti apa yang dikatakan Gege."
Mendengar ucapan tersebut, Lasmana Pandya memberikan sumber daya yang dibutuhkan oleh Yang Lie. Setelah semuanya selesai, Lasmana Pandya mengaktifkan pedang Sangka Geni tanpa armor Geni Danyang.
Swuuuuung!
Sejumlah Qi kecil ia alirkan kearah pedang samar samar tersebut, setelah melakukan sesuai pesan Sena, Lasmana Pandya segera melepaskan serangan pedang kearah titik kelemahan diagram kuno.
Swuuuuush!
"Yang Lie, Senior mundur!" Ucap Lasmana Pandya memperingati bahaya ledakan yang akan terjadi.
Mereka berdua segera mundur dari tempat mereka, hingga apa yang dipikirkan Lasmana Pandya benar benar terjadi.
Dhuuuuaar!
Saat pedang Sangka Geni menancap pada titik lemah diagram kuno, tiba tiba muncul ledakan yang dahsyat, tak berselang lama setelah ledakan, munculah portal dimensi yang menghubungkan kesuatu tempat.
__ADS_1