Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Yang Lie


__ADS_3

Yang Lie terdiam karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sedangkan Banyu yang menyamar mengerti alasan Walikota Sikapat merubah ekspresinya.


"Pra-prajurit tunggu!" Walikota Yoko menghentikan prajuritnya yang akan menangkap Lasmana Pandya.


Brata yang melihat ayahnya seperti ketakutan menaikan kedua alisnya, namun rasa benci yang mendalam terhadap Lasmana Pandya benar benar membuatnya merutuki para prajurit utusan ayahnya.


"Bodoh tunggu apa lagi cepat tangkap!"


Prajurit yang bingung hanya diam mematung. Hingga tiba tiba.


Plaaaak! Plaaaak!


Tamparan keras mendarat diwajah Brata yang membuat wajahnya terlihat bekas telapak tangan, ekspresi bingung melihat perubahan ayahnya membuatnya sangat penasaran.


"A-ayah Ke-kenapa...," ucap lirih Brata terpotong sambil mengelus pipinya.


"Diam kamu!"


Kemudian Walikota Sikapat itu berlari dan berlutut dihadapan Lasmana Pandya dengan tubuh yang menggigil.


"Tu-tuan muda maafkan kelancangan anak saya, kedepannya saya pasti akan memberi pelajaran yang baik kepadanya."


Walikota Sikapat terus berlutut menunggu Lasmana Pandya menyuruhnya berdiri. Sedangkan Brata yang wajahnya memar hanya kebingungan.


"Brata bodoh! Cepat minta maaf, dan segera bersujud didepan tuan muda!" Teriak Walikota marah melihat wajah kebingungan anaknya.


Brata segera mengikuti ucapan ayahnya, meskipun pikirannya sedang tidak baik baik saja.


"Berdirilah," ucap Lasmana Pandya yang mengenakan topeng hitam menatap Walikota Sikapat dengan tatapan tajam.


"Ba-baik tuan muda."


"Jika suatu saat anakmu itu membuat masalah didepanku, mungkin aku akan lebih kasar lagi memberi pelajaran untuknya, bahkan ... Membunuhnya...," ucap dingin Lasmana Pandya sambil menatap tajam Walikota Sikapat.


"Ba-baik."


Setelah itu, Lasmana Pandya meminta lencana identitas warga Sikapat untuk memasuki kota lainnya agar identitasnya tidak terbongkar. Setelah semuanya terselesaikan, Lasmana Pandya, dan Yang Lie keluar dari kota Sikapat bersama Banyu yang masih belum mengungkapkan identitasnya.


"Senior ... Siapa nama senior ini? Sejak awal bertemu tak sopan jika yang muda ini tidak mengenal Senior."

__ADS_1


Senyum kecil di balik topeng diperlihatkan oleh Banyu.


"Itu tidak penting, tapi berhati hati saja dengan wanita yang saat ini bersamamu...," ucap Banyu sangat lirih ditelinga Lasmana Pandya.


Sedikit terkejut mendengar ucapan Banyu, namun akhirnya Lasmana Pandya hanya menanggapinya dengan anggukan kepala.


"Bocah, dan kau nona aku ingin melanjutkan perjalanan, jadi jaga diri kalian baik baik."


Swuuuush!


Banyu terbang keatas langit lalu menghilang dari pandangan. Lasmana Pandya yang melihat itu sangat terkejut, yang ia tahu hanyalah paman Banyu, dan Ayahnya yang bisa terbang. Sedangkan Yang Lie yang melihat keterkejutan diwajah Lasmana Pandya kemudian tersenyum hangat.


"Gege di Negeriku Kultivator seperti paman itu ada banyak. Apakah di Pulau ini hanya ada sekdikit orang yang bisa melayang diatas langit?" Yang Lie bertanya karena heran meliha ekspresi Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya terkejut mendengar Yang Lie menyebutnya dengan kata 'Gege' apalagi saat mengatakan bahwa Yang Lie bukan berasal dari Pulau Jawa.


"Gege? Apakah nona Yang bukan berasal dari Pulau Jawa?" Lasmana Pandya yang penasaran.


Yang Lie menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, identitasnya yang akan terbongkar kemudia membuatnya berbohong kepada Lasmana Pandya.


"Gege sebutan atau panggilan kakak laki laki."


"Dan aku memang bukan berasal dari Pulau Jawa, dan singkatnya aku berasal dari Negeri lain yang sangat jauh."


Yang Lie kemudian bercerita mengada ngada agar Lasmana Pandya tidak mengetahui identitas yang sebenarnya. Sedangkan diatas awan, sosok pria berpakaian putih menggunakan topeng hitam mendengarkan percakapan mereka.


"Semoga saja Pandya lebih berhati hati lagi kepada wanita itu," ucap Banyu yang merasa sedikit lega, karena ranah Kultivasi Yang Lie yang sangat rendah.


Swuuuuush!


Banyu yang mendapat panggilan dari ayah Lasmana Pandya melesat kearah Kerajaan Sangsakerta.


Lasmana Pandya dan Yang Lie terus berjalan menuju kearah selatan sambil berbincang santai. Hingga selama dua jam berjalan santai, suara pertempuran yang mengguncang hutan sekitar mereka terdengar dan bergetar sangat mengerikan.


"Pertempuran Hewan Iblis...," Yang Lie berucap lirih namun ucapannya dapat terdengar ditelinga Lasmana Pandya.


"Lebih baik kita mencari jalan lain," ucap Lasmana Pandya serius.


Yang Lie menyetujuinya dan mereka merubah arah menjauhi area pertempuran Hewan Iblis dihutan itu.

__ADS_1


Dhuuuuaar!


Namun tiba tiba langkah mereka terhenti karena sosok burung elang berbulu keemasan menabrak tanah didepan mereka, sehingga mereka tak luput terkena hempasan angin yang diakibatkan elang tetsebut.


"Nona Yang bagaimana kabar anda?" Lasmana Pandya sedikit panik.


Yang Lie menggelengkan kepalanya, seketika Lasmana Pandya menghela napas panjang dan menatap tajam sang elang berbulu emas itu.


"Ini hewan suci!" Yang Lie terkejut, ternyata yang melakukan pertempuran hewan suci bukan hewan iblis.


Lasmana Pandya memang mengerti perbedaan hewan iblis dengan hewan suci, namun ia terkejut dengan pengetahuan luas Yang Lie.


"Burung ini terluka, lebih baik kita menyelamatkannya saja," Yang Lie memutuskan untuk memberikan Pill penyembuh tingkat tinggi.


Kyaaaaat!


Namun sebelum mengeluarkan Pill penyembuh, tiba tiba pekikan seekor elang hitam yang tak lain hewan iblis terdengar diatas langit sambil menatap tajam mereka bertiga secara bergantian.


"Gawat ranah Grand Master tingkat Lima," ucap Lasmana Pandya kemudian mengeluarkan pedsng hitamnya untuk berjaga jaga.


"Yang Lie mundur, aku akan berusaha menyelamatkan elang ini," ucap lagi Lasmana Pandya.


Yang Lie mengangguk dan kemudian mundur dari tempatnya bersembunyi dibalik pohon besar, sedangkan Lasmana Pandya dengan gagahnya menatap tajam sang elang hitam.


Swuuuuush! Tiiiing!


Benar saja, elang hitam tiba tiba melesat dan menyerang menggunakan paruhnya kearah Lasmana Pandya, sehingga Lasmana Pandya memblokir serangan hewan iblis itu menggunakan pedsng hitamnya. Paruhnya yang kuat membuat seperti dentingan baja antar baja terdengar di pertempuran awal mereka.


Elang berbulu emas yang terluka sangat parah hanya terus terbaring diatas tanah sambil memperhatikan apa yang dilakukan dua manusia itu.


Setelah menyerang menggunakan paruhnya, elang hitam mengepalkan sayap besarnya membuat angin berhembus kencang kearah Lasmana Pandya. Sehingga Lasmana Pandya termundur dari pijakannya dan harus menancapkan pedang hitamnya ketanah agar tubuhnya tak terhempas dari angin yang dibuat sang elang hitam.


"Seandainya jika aku bisa terbang, aku sudah membuat dagingmu menjadi daging panggang elang bodoh!" Lasmana Pandya berteriak, dan kembali menarik pedangnya, saat tekanan angin mulai menghilang.


"Pedang Pembunuh!"


Teriak kembali Lasmana Pandya sambil memutarkan tubuhnya, setelah itu ia mengayunkan pedangnya kearah elang hitam. Kemudian setelahnya, seuliet energi Qi tebasan pedang yang berasal dari Lasmana Pandya melesat kearah elang hitam.


"Mati...,"

__ADS_1


Dhuuuuaar! Dhuuuaar!


Ledakan yang sangat dahsyat ketika energi Qi tebasan pedang milik Lasmana Pandya membentur tubuh elang hitam.


__ADS_2