
Debu disekitarnya berterbangan, namun hal yang tak diinginkan terlihat dimata Lasmana Pandya.
"Ku-kuat sekali...," ucap lirih Lasmana Pandya saat melihat elang hitam terlihat baik baik saja.
Lasmana Pandya yang merasa serangannya gagal tak berkecil hati, dengan segera ia melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya kearah dahan pohon didekat elang hitam berada.
Swuuuush! Swuuuush!
Sesampainya, ia kembali melesat kearah punggung elang hitam dengan wajah yang sedikit tegang.
Kyaaaaat! Kyaaaaat!
Pekikan elang hitam terdengar, dibarengi dengan sang elang hitam yang terbang keatas langit sambil memutarkan tubuhnya, berharap Lasmana Pandya turun dari pungggungnya.
"Gege...," ucap lirih Yang Lie.
Semakin lama elang hitam terbang kini terus menambah kecepatannya, membuat Lasmana Pandya merasa pusing.
"Elang bedebah! Kau benar benar membuat kepalaku pusing tujuh keliling!"
Lasmana Pandya terus memegangi bulu hitam elang tersebut dengan erat, sedangkan sang elang yang merasa bulunya akan tercopot dari kulitnya secara paksa, ia semakin gila memutarkan tubuhnya dan melesat kesana kemari diatas langit.
Elang berbulu emas yang melihat lawannya gila karena bulu ditubuhnya ditarik erat oleh Lasmana Pandya membuatnya memaksakan tubuhnya untuk berdiri. Sekilas ia menatap wajah Yang Lie yang sangat cantik.
Swuuuuush!
Sekali kepakan, elang berbulu emas melesat sekuat tenaganya disisa energinya yang telah terkuras kearah elang hitam.
Kyaaaaat! Slaaaaaash!
Swuuuush! Slaaaaash!
Elang berbulu emas menyerang menggunakan paruhnya kearah tubuh elang hitam, sehingga darah hitam mengucur deras ditubuh elang hitam. Tak berhenti disitu saja, elang berbulu emas kembali melesat dan cakarnya yang tajam menggores dileher elang hitam yang kini mulai kehilangan keseimbangan.
"Tiiidaaaaak!"
Teriakan Lasmana Pandya menggema karena tubuhnya terlepas dari punggung elang hitam yang meluncur deras kearah tanah. Sedangkan elang berbulu emas kembali melesat kearah Lasmana Pandya dan memberikan tunggangan agar pemuda itu tidak terjatuh kearah tanah seperti elang hitam.
__ADS_1
Dhuuuaaar!
Tubuh elang hitam akhirnya menabrak tanah dan nyawanya tak tertolong, sedangkan elang berbulu emas yang membawa Lasmana Pandya turun dari langit menggunakan akhir energinya berhasil mendarat dengan baik.
"Te-terimakasih elang baik," ucap Lasmana Pandya mengelus leher elang berbulu emas yang meneteskan air matanya.
Lasmana Pandya kebingungan, namun Yang Lie tiba tiba menghampiri Lasmana Pandya.
"Gege bagaimana keadanmu?" Yang Lie menatap tubuh Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya hanya menanggapinya dengan gelengan kepala, dan melirik bingung kearah elang berbulu emas yang sepertinya akan menghembuskan nafas terakhirnya. Kemudian Yang Lie menatap elang berbulu emas dengan penuh kasih.
Kyaaaaat! Kyaaat!
Elang berbulu emas itu menatap kearah puncak bukit sambil memekikan suaranya. Yang Lie yang sedikit peka menatap kearah bukit dan mengelus kepala elang emas itu.
"Apakah kamu menginginkan kami pergi keatas bukit sana?" Yang Lie bertanya pada sang elang.
Elang berbulu emas yang seakan mengerti bahasa manusia hanya menganggukkan krpalanya, hingga akhirnya ia juga harus meregang nyawa.
"Nona Yang, memang apa yang ada di atas bukit itu?" Lasmana Pandya bertanya sekaligus menunjuk kearah puncak bukit.
Swuuuuung!
Mutiara jiwa hewan suci tingkat Grand Master Lima milik elang emas muncul diatas mayatnya. Lasmana Pandya kemudian menyimpan mutiara itu, dan melesat kearah elang hitam dan juga kembali mengambil mutiara iblisnya.
Setelah itu, Lasmana Pandya melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya mengikuti Yang Lie kearah puncak bukit dengan menyamakan kecepatan Yang Lie.
Satu jam melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Lasmana Pandya bersama Yang Lie akhirnya tiba dipuncak bukit.
"Gege lihatlah," ucap Yang Lie sambil menunjuk dua telur besar di sebuah sarang yang cukup besar.
Keduanya mendekati kedua telur yang masih diatas sarang dengan berhati hati, setelah itu Yang Lie menatao Lasmana Pandya dengan tatapan yang serius.
"Gege, sepertinya elang emas meminta kita menjaga telur ini," ucap Yang Lie.
Lasmana Pandya mengangguk, namun tiba tiba ia melotot setelah mencerna ucapan Yang Lie.
__ADS_1
"Apaaa! Tidak tidak, jika begitu bisa bisa aku harus terjebak di puncak bukit ini, dan tidak membantu ayahku mengusir Kultivator asing," ucap Lasmana Pandya.
Yang Lie tersenyum manis kearah Lasmana Pandya sambil menggelengkan kepalanya.
"Gege apakah kamu tau fungsi cincin waktu ini?" Yang Lie mengambil sebuah cincin.
Cincin yang sama bentuknya dengan cincin ruang membuat Lasmana Pandya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mengerti," ucap jujur Lasmana Pandya.
Yang Lie menjelaskan, di Negerinya cincin tersebut bukanlah hal aneh bagi para Kultivator, kebanyakan para Kultivator menyimpan hewan iblis atau hewan suci yang mereka taklukan kedalam cincin itu, dan disaat mereka membutuhkan hewan iblis atau suci melakukan sesuatu mereka hanya perlu mengeluarkannya saja.
Dengan pemahaman cepatnya, Lasmana Pandya akhirnya mengerti.
"Gege ini kuberikan padamu," ucap Yang Lie.
"Ta-tapi bukankah itu milikmu?" Tolak ramah Lasmana Pandya.
Yang Lie menggelengkan kepalanya, ia kemudian mengeluarkan satu cincin waktu yang sama, sehingga Lasmana Pandya berterimakasih atas pemberian Yang Lie.
Mereka berdua kemudian memilih salah satu telur itu secara adil dan berjanji akan merawat telur itu jika menetes dengan baik. Setelah itu mereka berdua kembali turun dari puncak bukit menuju kearah selatan.
Perjalanan selama dua jam, akhirnya keduanya tiba di kota Sumbang, karena hari mulai menunjukan malam hari, keduanya memutuskan untuk singgah semalam dikota itu. Memasuki kota tanpa hambatan, keduanya akhirnya menemukan penginapan mewah dan keduanya menyewa dua kamar untuk peristirahatan mereka. Sbelum beristirahat, mereka kelantai pertama untuk mengisi perut mereka.
"Gege, aku rasa aku perlu memakai cadar," ucap Yang Lie yang merasa risih, disetiap kota yang ia singgahi, ia terus ditatap dengan tatapan aneh oleh para warga karena perbedaan warna kulitnya.
Lasmana Pandya menyetujuinya, hingga keduanya kembali berbincang sambil menunggu pesanan masing masing.
"Tunggu, memang tujuan nona Yang akan kemana?" Lasmana Pandya terkejut perihal ini.
"Emmm," gumaman Yang Lie kemudian menatap Lasmana Pandya dengan serius.
Ia kemudian memberikan jawaban yang cukup aneh pada Lasmana Pandya, namun Lasmana Pandya yang tak ingin mendebatkan hal sepele itu, akhirnya mereka melanjutkan perbincangan mereka hingga akhirnya pesanan tiba dan mereka menyantap semua pesanan mereka.
Disela sela menyantap makanan, Lasmana Pandya tak sengaja melirik segerombolan orang yang terus memperhatikannya dengan Yang Lie dengan tatapan nafsu serta serakah.
"Sepertinya pembunuhan akan kembali aku lakukan," ucap dalam hati Lasmana Pandya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Yang Lie yang merasa paling risih sselalu diperhatikan tubuhnya dari atas hingga bawah oleh gerombolan orang itu.