Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Lembah Obat, Dewa Obat.


__ADS_3

Lasmana Pandya dan ketujuh bawahannya hanya bisa memejamkan matanya, namun sekian detiknya mereka memejamkan mata. Mereka kini tidak merasakan apapun.


"I-ini..." Ucap penuh kebingungan Lasmana Pandya saat berada disebuah lembah aneh.


Sekilasnya, ia melihat kesampingnya sosok Zhou Botong dengan wajah ramahnya tersenyum kearahnya. Begitu juga dengan ketujuh bawahannya yang kini diam mematung.


"Kalian sekarang sudah aman, pergi tinggalkan tempat ini, jadilah kuat untuk melakukan apa yang kamu rasa benar," ucap Zhou Botong tiba tiba menghilang dari pandangan.


Sedangkan mereka yang masih mematung dikejutkan dengan suara Zhou Botong yang menggerutu dikehampaan.


"Apakah kalian bodoh! Lihatlah gurumu sedang terluka!" Maki Zhou Botong.


Sontak Lasmana Pandya dan ketujuh bawahannya menatap kearah belakang, Kamandaka yang sedang duduk berlutut sambil memegangi dadanya terlihat.


"Gu-guru apa kau baik baik saja," ucap Lasmana Pandya merubah wajahnya menjadi sangat khawatir.


Kamandaka hanya diam, namun tangannya terangkat untuk membuat Lasmana Pandya diam.


"Aku tidak apa apa muridku... Uhuukk!" Saat akan melanjutkan ucapannya, Kamandaka memuntahkan darah emas yang wangi karena ia terluka sangat parah.


"Gu-guru!" Ucap panik Lasmana Pandya.


Ketujuh bawahan Lasmana Pandya saling bertatap tatapan, mereka juga belum mengetahui luka apa yang diderita Kamandaka.


"Guru katakanlah yang sebenarnya," ucap Lasmana Pandya yang ingin penjelasan.


Kamandaka dengan lemahnya menjelaskan bahwa saat melihat kepergian mereka bertujuh, ia akan meledakan tubuhnya. Namun tanpa diduga, jarum racun dari Dewa Racun telah menancap dibahunya. Dan membuatnya gagal dalam rencana yang telah ia buat.


Lasmana Pandya diam mematung. Kini rasa bersalahnya sangat tinggi melihat pengorbanan semua orang yang telah membantunya.


"Guru jika kau mengatakan dari awal, aku mungkin tidak berharap akan memasuki dunia kecil itu, dan dengan kembalinya bawahanku itu sudah cukup bagiku!" Bantah Lasmana Pandya dengan wajah sedihnya.


"Muridku maaf," hanya itu yang keluar dari mulut Kamandaka.


Setelah itu, akhirnya Kamandaka meminta Lasmana Pandya menyelusuri lembah yang ada dihadapan mereka. Meskipun ia sudah menghabiskan waktu selama ribuan tahun lebih ditanah kelahirannya, Kamandaka tidak mungkin mengetahui perubahan tanah airnya. Karena sejak itu ia selalu berada di dunia kecil buatannya saja.


"Guru, sepertinya ini aroma herbal," ucap Lasmana Pandya menaikan alisnya.

__ADS_1


Kamandaka memang mencium aroma herbal, namun ia ingin mengutamakan keselamatan muridnya, dan tentunya ia ingin memastikan tidak ada bahaya didepan lembah yang mereka pijaki saat ini. Saat Lasmana Pandya akan mengecek.


"Tuan muda biarkan kami saja, anda dan guru anda silahkan memulihkan diri," ucap Yue Xhie yang disetujui lainnya.


Lasmana Pandya mengangguk, namun saat akan memasuki lembah, tiba tiba perisai transparan muncul membuat tubuh ketujuh bawahan Lasmaana Pandya terpental dan luka parah mereka yang dialami membuat mereka kini memuntahkan darah merah.


"Bumi Arta! Xhie, Xong!" Ucap panik Lasmana Pandya.


Sedangkan Kamandaka yang melihat samar samar aura yang tersisa dari perisai yang aktif kembali menanyakan pada dirinya sendiri.


"Bagaimana mereka ada di tanah ini, meskipun dia adalah Dewa Obat, namun..."


Swuuuush!


Sosok pria tua berbaju putih muncul dihadapan mereka dengan tatapan tajamnya. Sedangkan Kamandaka berdiri dari tempatnya.


"Senior Lang!" Ucapnya memberi hormat.


Mata tua pria tua berbaju putih itu menatap Kamandaka dengan wajah penuh keterkejutannya.


"Daka!" Ucapnya kemudian mengilang dan muncul didepan Kamandaka.


"Racun ini hanya dimiliki oleh Dewa Racun," gumamnya menatap Kamandaka dengan gelengan kepala.


Sedangkan Lasmaana Pandya dan lainnya terdiam, namun mereka tahu bahwa pria tua itu adalah orang baik, sehingga mereka tidak melakukan hal yang tidak perlu dilakukan.


"Bagaimana kamu bertarung dengan Dewa Racun?" Tanya Ye Lang.


Kamandaka menghela napas panjang, kemudian ia menceritakan semua kejadiannya secara terperinci, sontak wajah Ye Lang berubah menjadi serius.


"Jika begitu, lbih baik kita masuk, aku takut mereka akan mengejar kalian hingga disini," ucapnya kemudian membawa mereka memasuki Lembah Obat miliknya sendiri.


Sesampainya dirumah sederhana didalam lembah, Ye Lang meracik obat seadanya untuk memulihkan luka Kamandaka, meskipun sampai saat ini racun yang ada ditubuhnya Kamandaka tidak ada penawar, dan tentunya pemilik penawarnya hanya Dewa Racun saja yang memilikinya. Ia berharap racun itu dapat ditekan sedemikian rupa.


Lima belas menit meracik obat.


"Kamandaka minumlah,"

__ADS_1


Dewa Obat kemudian menatap ramah kedelapan pemuda didepannya.


"Maafkan perisaiku yang melukai kalian, sekarang kalian telanlah obat ini," ucap Ye Lang kemudian memberikan mereka masing masing obat yang sama.


Setelah itu, luka luar hingga dalam mereka mulai membaik seiringnya waktu berjalan. Sedangkan Kamandaka yang juga telah meminum racikan obat Ye Lang kemudian menanyakan alasan Dewa Obat memutuskan tinggal di tanah airnya.


Sambil menghela napas panjang, Ye Lang menceritakan hal itu.


"Dewa Iblis kini telah semakin gila, secara terbuka ia menantang para Kultivator teratas dengan taruhan harga diri. Jika menang maka akan memimpin Negeri China, dan jika kalah akan menjadi budaknya," penjelasan Ye Lang.


Ye Lang terus menjelaskan hingga para Kultivator teratas yang tidak mau tunduk dibunuh di tempat persemediannya. Karena itu puluhan Kultivator teratas memilih kabur dari Negeri China dan hidup di Negeri orang lain.


Kamandaka mengangguk, dan kemudian ia menatap Lasmana Pandya dengan serius.


"Ternyata benar apa yang dipikirkan Sena dan Ying Lian. Muridku sepertinya ini hal yang sulit," ucap serius Kamandaka.


Lasmana Pandya mengangguk.


"Benar guru, meskipun kini kita selamat, siapa tahu mereka dapat menemukan kita dan parahnya membunuh kita semua, namun sebelum itu terjadi. Lasmana Pandya akan berusaha menjadi kuat, dan menentang peraturan Dewa Iblis." Ucap penuh Keyakinan Lasmana Pandya.


Kamandaka mengangguk senang mendengar ucapan Lasmana Pandya.


"Kamandaka dia muridmu?" Tanya Ye Lang terkejut.


Kamandaka mengangguk membenarkan ucapan Ye Lang. Setelah itu semuanya berkenalan dengan senang hati. Cerita demi cerita mengenai Dewa Iblis akhirnya dibocorkan oleh Ye Lang.


"Delapan puluh Kultivator teratas dipihak Dewa Iblis?" Ucap penuh keterkejutan Kamandaka.


"Benar," balas Ye Lang.


Mereka membisu, keterkejutan yang besar melanda dihati mereka. Jika begitu dengan kekuatan Dewa Iblis tentunya sangat mudah membalikan negeri negeri lainnya.


****


Disisi lain, Dewa Racun, dan Dewa Siluman yang mengejar Zhou Botong, Kamandaka, serta Lasmana Pandya kini membabi buta menampar wajah Jendral Tapak Dewa hingga wajahnya tidak terlihat seperti manusia lagi.


"Sudah kukatakan jangan sampai lepas! Kau sampah yang bodoh! Bahkan Kaisar Yang Lin akan menghukummu dengan penggalan kepala jika kau gagal lagi!"

__ADS_1


"Ta-tapi aku tidak menyangka dengan ranah Kultivasiku yang tinggi ..." Ucap terhenti Jendral Tapak Dewa.


"Tinggi katamu? Glory Lima tinggi? Bodoh sekali! Kau hanya sampah dimata kami!" Ucap penuh tekanan Dewa Siluman.


__ADS_2