
Lasmana Pandya yang telah bertukar puluhan serangan pedang kini terus mendesak pergerakan delapan lawan yang mengepungnya. Masih dengan pendirian teguhnya, Lasmana Pandya tidak mengeluarkan kekuatan yang sebenarnya, sehingga pertempuran masih terlihat sengit.
Wajah delapan pria paruh baya serta pemuda yang mengeroyok Lasmana Pandya berubah menjadi muram, karena hingga saat ini belum ada sama sekali serangan yang mampu menyentuh tubuh Lasmana Pandya, bahkan bajunya.
"Pendekar bertopeng mati kau!"
Teriakan yang dibarengi ayunan pedang kearah punggung Lasmana Pandya dilakukan oleh seorang pria paruh baya.
Swuuuuush! Tiiiiing! Slaaaaash!
Lasmana Pandya memblokir serangan pedang itu menggunakan pedang hitamnya, melihat serangan susulan dari lawan lainnya, Lasmana Pandya kini mulai serius terhadap pertempurannya, hingga tiba tiba ia memutuskan untuk melukai lengan pria disamping kanannya, sehingga lengan pria itu terlepas dari tubuhnya.
"Arrrrghh! Tanganku..." Pekik pria itu mundur dari pertempuran.
"Sepertinya sudah cukup main mainnya...," ucap dingin Lasmana Pandya yang dapat didengar oleh tujuh orang lainnya.
Swuuuuuush!
Lasmana Pandya menghentakan kakinya, setelah ia melompat lebih tinggi, telapak tangan kirinya membuka lebar, dan tiba tiba seuliet energi Qi yang cukup besar melesat dari telapak tangannya.
Dhuuuaar!
Tujuh lawan lainnya yang hanya terkena hempasan angin dari tabrakannya energi Qi dengan tanah membuat mereka terluka cukup serius, tak hanya itu saja mereka yang lebih lemah memuntahkan seteguk darah merah dari bibirnya.
"Kalian sekarang pergi dari tempat ini sebelum aku bertindak lebih kejam lagi," ucap Lasmana Pandya menatap mereka satu persatu.
Sontak tubuh mereka bergetar dan segera meninggalkan Lasmana Pandya dengan melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Yang Lie kini kemudian mendekat kearah Lasmana Pandya.
"Gege, kenapa kamu tidak membunuh mereka?" Yang Lie terheran heran.
"Menurutku mungkin mereka mau kembali kejalan yang benar, karena kekalahan yang mereka terima saat ini."
"Gege tapi aku takutnya mereka akan kembali mencari kita membawa persiapan yang lebih matang untuk menangkap kita, " ucap penjelasan Yang Lie.
__ADS_1
"Jika seperti ucqpanmu benar, maka aku tak segan untuk membunuh mereka semua."
Yang Lie yang ingin memberikan nasehat kembali akhirnya mengurungkan niatnya, karena ia tak ingin berdebat dengan pemuda yang belum pernah ia lihat wajahnya sama sekali.
"Gege, bisakah aku melihat wajahmu sekali?" Yang Lie bertanya.
"Benarkah kau ingin mengetahuinya," ucap Lasmana Pandya kemudian memasukan pedang hitamnya kesarung dibelakang punggungnya.
Yang Lie mengangguk, dan berharap Lasmana Pandya mau menuruti permintaannya. Lasmana Pandya kemudian melepas topeng hitamnya perlahan, hingga saat wajahnya tanpa tertutupi apapun, Yang Lie mematung melihat wajah Lasmana Pandya yang sangat tampan. Kulitnya yang kuning langsat, serta rambut hitamnya yang panjang terurai diperlihatkan Lasmana Pandya.
"Yang Lie?" Panggil Lasmana Pandya membuat wajah Yang Lie memerah menahan malu.
Lasmana Pandya yang telah memperlihatkan wajahnya kemudian memakai topeng hitamnya lagi, sesaat ia menatap wajah yang tertutup oleh cadar.
"Yang Lie, apakah kau benar benar akan ikut berpetualang denganku? Karena setiap langkah yang aku temui pasti berbahaya," ucap Lasmana Pandya.
Yang Lie menganggukan kepalanya.
"Gege aku sebenarnya menyukai petualangan seperti ini, karena di negeriku aku selalu berada dirumah dan tak pernah sebebas ini," penjelasan Yang Lie.
"Baiklah."
Mereka berdua akhirnya melanjutkan perjalanan mereka keselatan untuk mencari sumber daya yang dapat menaikan tingkat Lasmana Pandya, namun tanpa disadari oleh Yang Lie, Lasmana Pandya kini sedang memikirkan ucapan sosok pria bertopeng yang pernah membantunya sekaligus bertemu dikota Sikapat lalu.
"Kenapa senior memintaku untuk berhati hati," gumaman Lasmana Pandya.
Hingga tak terasa perjalanan mereka terhenti setelah dihentikan oleh dua puluh sosok pria paruh baya, setengah pria serta pemuda yang tiba itu dengan jelas wajah mereka, serta luka yang sama dilukai oleh Lasmana Pandya.
"Tu-tuan pemuda ini yang membuat kami cacat seperti ini," ucap salah satu diantaranya.
"Grand Master tingkat lima," ucap seorang pria paruh baya terkejut.
Lasmana Pandya menaikan alisnya sambil mengukur ranah kultivasi pria didepannya itu.
__ADS_1
"Hei pemuda bertopeng, karena kamu telah menyinggung dan melukai anak buahku, apakah kamu sudah siap menerima konsekuensi nya?"
"Mereka yang terlebih dahulu menghentikan perjalananku seperti saat ini, apalagi berniat jahat padaku, lalu apakah aku salah?" ucap Lasmana Pandya mencoba menenangkan dirinya, karena keberadaan Yang Lie akan membuatnya kesusahan dalam fokus bertarung.
"Hahaha bagi kami aturan hanya milik bandit Gunung, mau membunuh lawan, ya lawan harus menerimanya," balas pria tersebut menatap tajam Lasmana Pandya.
"Hahaha lalu apa maumu," tawa Lasmana Pandya terdengar, namun disaat melanjutkan ucapannya nadanya menjadi sangat dingin.
"Membunuhmu, dan merapok serta..." Pria itu menghentikan ucapannya sambil menatap tubuh Yang Lie dengan tatapan nafsu yang membara.
"Oiyaa pak tua sialan, tadi anak buahmu mengatakan hal yang sama padaku, namun pada akhirnya merekalah yang terluka, apakah kamu tidak takut akan hal yang sama terjadi padamu?" Lasmana Pandya bertanya sambil memprovokasi ketua bandit Gunung itu.
Benar saja mendengar ucapan yang dilontarkan Lasmana Pandya, wajah mereka memerah dan hidung mereka berkembang kempis.
"Kau."
"Hei pak tua sialan, ini kenyataan bukannya menerima tapi malah marah," Lasmana Pandya terus memprovokasi.
Yang Lie yang merasa cemas mengeratkan pegangan pada lengan Lasmana Pandya. Lasmana Pandya yang mengerti kekhawatiran Yang Lie kemudian menatapnya dengan santai.
"Yang Lie jangan marah ya...," ucap Lasmana Pandya lirih.
Yang Lie terdiam dan mencoba mencerna perkataan Lasmana Pandya. Ucapan yang lirih juga terdengar oleh kumpulan bandit tersebut.
"Hahaha ... Apakah kau ingin menyerahkan wanita itu, dan kamu meminta kami untuk melepaskanmu hidup hidup?" Pak tua itu tertawa.
Lasmana Pandya menatap mereka dengan serius, namun senyum kecil ia perlihatkan dibibirnya.
"Bagaimana jika kita melakukan taruhan," ucap Lasmana Pandya.
"Hahaha ... Memang apa taruhan yang ingin kau keluarkan?" Tanya pria tua.
"Yang Lie."
__ADS_1
Ucapan Lasmana Pandya bagaikan sebuah petir yang menggelegar ditelinga Yang Lie, seketika hatinya merasa sakit yang teramat sakit, karena kini ia dipertaruhkan seperti sama halnya sebuah barang.