
Aura itu terasa mematikan, namun tidak terlalu berpengaruh pada Lasmana Pandya. Berbeda dengan Shu Yin yang tubuhnya gemetar tak karuan. Sekilas Lasmana Pandya menajamkan penglihatannya, tiba tiba saja asap merah kehijauan menyebar kearah mereka.
Swuuuush!
Asap merah kehijauan itu terus menyebar dengan kecepatan tak kasat mata. Shu Yin dan anggota Klan Shu yang dibawa oleh Shu Yin akhirnya pingsan, namun tidak dengan Lasmana Pandya yang menahan nafasnya.
"Siapa kamu, tunjukan wujudmu," ucap Lasmana Pandya tidak merasakan keberadaan suara tersebut.
Swoooooosh!
Daya hisap yang sangat kuat tiba tiba menyerap semuanya, bahkan Lasmana Pandya yang mencoba melawan tubuhnya tidak bisa ia gerakan sama sekali.
"Kekuatan apa ini..." Gumam Lasmana Pandya.
"Akkkkkhh! Semakin melawan tubuhku terasa sangat lemas!" Pekik Lasmana Pandya yang pada akhirnya membiarkan tubuhnya mengikuti arah daya hisap itu.
Swoooooosh!
Lasmana Pandya, Shu Yin dan anggota Klan Shu lainnya yang pingsan tiba disebuah goa memancarkan aura siluman sangat kuat. Lasmana Pandya kini juga bisa menggerakkan tubuhnya, setelah itu ia meningkatkan kewaspadaannya.
"Hahahahaha!" Tawa wanita menggema didalam goa itu.
Lasmana Pandya mencari keberadaan sosok wanita yang tertawa itu, namun ia tidak berhasil melihatnya.
"Bocah," ucap sosok wanita mengenakan gaun berwarna hijau, rambut panjangnya berwarna putih menepuk bahu Lasmana Pandya.
"Ka-kamu..." Ucap Lasmana Pandya ingin melepaskan tinjunya, namun ia sendiri seperti tidak memiliki kekuatan sama sekali.
Wanita berambut putih itu tersenyum manis kearah Lasmana Pandya. Setelah itu segel tangan ia peragakan.
Swuuuuush!
Segel tangan itu seketika melesat kearah Lasmana Pandya. Dan setelah itu, penyamarannya telah terbongkar dengan mudahnya.
"Tampan juga," ucap wanita itu kemudian mengangkat janggut Lasmana Pandya.
"Senior kau mau apa..." Ucap Lasmana Pandya waspada.
"Menurutmu?" Ucapnya tenang.
__ADS_1
Lasmana Pandya ingin memberontak, namun yang membuatnya heran seluruh kekuatannya seperti hilang tak tersisa sama sekali.
Swuuuuuush!
Melihat Lasmana Pandya tidak menjawab, wanita itu menyentuh kening Lasmana Pandya dengan jarinya. Sekilas ia memejamkan matanya, dua menit kemudian. Tiba tiba air matanya menetes saat melihat ingatan milik Lasmana Pandya.
"Kau berasal dari tanah Jawa?" Tanya sosok itu.
Lasmana Pandya yang tidak bisa berbuat apapun hanya bisa mengangguk. Tidak lama kemudian, sosok wanita berambut putih itu duduk termenung menatap langit langit goa.
"Ternyata generasi muda tanah kelahiranku," ucap Wanita itu kemudian menatap Lasmana Panya.
Ia sendiri masih belum percaya ditanah Jawa melahirkan sosok monster yang tentunya ia sendiri tidak pernah bisa memimpikannya.
"Duduklah," ucap wanita itu lembut.
Lasmana Pandya tidak bisa berbuat apapun kecuali menurut. Setelah itu.
"Kau tiba di Negeri ini hanya untuk balas dendam?" Tanya wanita itu.
"Benar senior," jawab Lasmana Pandya.
"Menurutku itu hal yang sangat sulit," ucapnya sambil menggelengkan kepala.
"Hahahaha bocah aku lupa mengenalkan namaku, aku Pertiwi aku sama sepertimu lahir di Negeri Jawa." Ucapnya santai.
Lasmana Pandya terkejut mendengar nama, dan tentunya pengakuan Pertiwi itu.
"Senior apa anda tidak bercanda?" Tanya Lasmana Pandya.
"Tidak, ini memang kebenarannya. Dan aku telah lama bersembunyi di lembah ini pun memiliki niat yang sama denganmu, namun sayangnya berkali kali aku mencoba melawannya. Aku selalu kalah, dan harus bersembunyi ditempat sunyi ini...," Ucapnya dengan nada dingin.
Lasmana Pandya tahu arah pembicaraan wanita itu kemudian menganggukan kepala.
"Jadi kita memiliki misi yang sama," ucap Lasmana Pandya kemudian menatap sosok wanita itu yang berusaha tegar.
"Senior jika boleh tau apa yang membuat anda ingin balas dendam?" Tanya Lasmana Pandya serius.
"Ceritanya panjang, siapa namamu?" Tanya Pertiwi.
__ADS_1
"Hehehe, senior maaf aku belum mengenalkan namaku. Aku Lasmana Pandya senior," ucap Lasmana Pandya menangkupkan tinjunya.
"Pandya, Pandya... Nama yang bagus," ucapnya tenang.
"Pandya, apa rencanamu saat ini, jika menurutku bagus, aku siap membantumu demi melenyapkan Kaisar baj*ngan itu."
Lasmana Pandya terdiam, ia sedikit ragu ingin membagikan rencananya yang telah ia rencanakan. Namun dilihat dari raut wajah Pertiwi, wanita itu terlihat sangat dendam ketika menyebut nama Yang Lin.
"Kau tidak perlu curiga padaku," ucap Pertiwi kemudian membuat segel tangan.
Swuuuung!
Cermin muncul diatas mereka, setelah itu muncul kejadian ditanah Jawa disaat pembantaian oleh Yang Lin terjadi. Peristiwa itu singkat, namun tidak hanya satu. Dan Lasmana Pandya yang juga melihat itu mengeratkan rahangnya.
"Senior, maafkan aku yang telah mencurigai anda," ucap Lasmana Pandya hormat.
"Hahaha bocah kau tidak perlu sungkan, lagian kita juga baru pertama kali bertemu," Pertiwi tidak ingin memperpanjang masalah.
"Senior sebenarnya aku ingin membuat kekacauan diseluruh Kekaisaran, Sekte, dan kekuatan besar disetiap wilayah Negeri ini. Dan tentunya kambing hitamnya adalah Kekaisaran Yang." Ucap Lasmana Pandya hormat.
Pertiwi mengangguk, namun ia sedikit tidak percaya rencana yang dilaksanakan oleh Lasmana Pandya akan berjalan mulus.
"Itu sangat sulit Pandya, karena saat ini Kekuatan puncak bisa dihitung dengan jari, dan mereka pun tunduk dibawah perintah Yang Lin," ucap Pertiwi lembut.
"Senior, rencana ini adalah rencana awal, meskipun Yang Lin dapat mengatasinya, namun pihaknya dipastikan akan mengalami kerugian besar, dan aku akan mengambil kesempatan itu untuk meratakan Kekaisaran miliknya," ucap Lasmana Pandya.
Mata Pertiwi terbelalak mendengar rencana matang itu.
"Kau sangat pintar, mencari keuntungan ditengah kesempitan. Hahahahaha! Bocah maafkan aku yang salah menilaimu," ucap Pertiwi lembut.
"Senior tapi aku memerlukan banyak kekuatan untuk melakukan hal itu, apakah senior ada ide?" Tanya Lasmana Pandya.
Swuuuuuung!
Pertiwi tidak menjawab, ia seketika membuat segel tangan dan memunculkan sebuah tempat yang terlihat seperti hutan rimbun. Namun terdapat banyak hewan iblis, siluman, dan hewan suci yang hidup ditempat itu.
"Aku akan menyerahkan semua hewan dan siluman di dunia kecil itu. Jadi kau tenang saja," ucap Pertiwi.
Lasmana Pandya terdiam membisu melihat banyaknya hewan iblis, suci dan siluman di dalam dunia itu. Bahkan ranah Kultivasi mereka tergolong sangat tinggi.
__ADS_1
"Senior anda mengumpulkan semua ini sendiri?" Tanya Lasmana Pandya.
"Benar," jawab Pertiwi.