Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Petualangan pertama


__ADS_3

Karena tidak ada satupun kegiatan yang dilakukan, Lasmana Pandya yang telah memutuskan untuk pergi secara diam diam mulai memasukan barang yang ia butuhkan kedalam cincin ruangnya.


Setelah itu, Lasmana Pandya menulis permohonan maaf terhadap keegoisannya meninggalkan ayahnya memimpin kerajaan Sangsakerta diselembar kertas yang ia selipkan diatas meja.


"Ayah maafkan anakmu yang tak berbakti ini...," ucap pelan Lasmana Pandya yang kemudian mengenakan topeng dan baju serba hitam keluar dari jendela kamarnya.


Malam itu, Lasmana Pandya terus mengendap endap, terkadang ia harus bersembunyi ketika beberapa prajurit dan pelayan yang akan berpapasan dengannya.


Swuuuush! Swuuuush! Lasmana Pandya melesat keatap satu keatap lainnya dengan gesit, perlahan tapi pasti Lasmana Pandya telah menjauh dari istana utama Kerajaan Sangsakerta. Namun tanpa ia ketahui, Banyu yang merasakan aura Lasmana Pandya melewatinya segera menatapnya dari jauh.


"Sepertinya Pandya benar benar telah memutuskannya dengan matang," ucap pelan Banyu kemudian membuat segel penanda yang sangat kecil.


Swuuuush! Seuliet segel buatan Banyu melesat kearah tubuh Lasmana Pandya tanpa diketahui oleh Lasmana Pandya.


Banyu yang membiarkan Lasmana Pandya pergi dari Kerajaan kemudian menghilang lalu muncul tepat didepan kediaman Prabu Panca Driya.


****


Lasmana Pandya yang kini terus melesat dan hampir mencapai depan gerbang kerajaan tiba tiba menghentikan lesatannya.


"Sangat ketat...," ucap lirih Lasmana Pandya yang tidak melihat satupun celah untuknya keluar dari Kerajaan.


Disela sela berpikir, Lasmana Pandya mengeratkan kepalan tangannya.


Swuuuush! Baaaaamss! Dhuuuaar! Ia segera melesat sambil menyiapkan tinjunya kearah bangunan kosong, hal itu membuat para prajurit Kerajaan Sangsakerta melesat kearah bangunan tersebut.


Lasmana Pandya yang ternyata telah menyiapkan rencananya segera melesat kearah atap bangunan lainnya, dan kembali menerobos pintu utama Kerajaan Sangsakerta.


"Penyusup!" ucap para prajurit lainnya yang melihat Lasmana Pandya melesat keluar dari gerbang.


Lasmana Pandya yang kini berhasil keluar dari Kerajaan Sangsakerta terus melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya ditingkat emas tingkat satu.


****

__ADS_1


Banyu yang menjelaskan kepergian Lasmana Pandya kepada Prabu Panca Driya membuat mereka berdua bertengkar, namun Banyu yang memiliki pemikiran berbeda mencoba memberikan penjelasannya, hingga akhirnya Prabu Panca Driya meminta Banyu untuk memantau anaknya dari jauh. Tentunya Banyu tidak menolaknya, namun tiba tiba.


"Yang Mulia! Seorang penyusup berhasil keluar dari Kerajaan, dan para prajurit sedang mengejarnya!" ucap salah satu Jendral menghadap pada Prabu Panca Driya.


Sontak hal tersebut hanya dibalas anggukan oleh Prabu Panca Driya.


"Lepaskan saja," ucap tiba tiba Prabu Panca Driya mengejutkan Jendralnya.


"Ta-tapi..."


"Tenanglah, dia bukan penyusup, " ucap lagi Prabu Panca Driya kemudian menyesap minumannya.


*****


Lasmana Pandya yang berhasil kabur dari kejaran prajurit Kerajaan akhirnya bisa bernafas lega, meskipun baru pertama kali keluar dan tentunya berpetualang, wajahnya yang tampan menggunakan baju serba hitam dan topeng hitam terlihat tenang. Lasmana Pandya berjalan ditengah hutan belantara yang samar samar ia merasakan aura aura aneh yang baru ia rasakan.


"Aura apa ini...," ucap pelan Lasmana Pandya mencoba melihat sekelilingnya.


Sambil berjalan dan terus melangkahkan kakinya, tiba tiba sosok siluman ular tingkat rendah yang memiliki ranah Kultivasi Baja tingkat lima menghadang perjalanan Lasmana Pandya.


Swooooosh! Siluman ular itu tiba tiba membuka mulutnya dan menyemburkan cairan hijau kearah Lasmana Pandya, ranah Kultivasinya yang lebih tinggi satu tingkat, membuat serangan siluman itu terlihat sangat lambat, sehingga Lasmana Pandya berhasil mengindari semburan racun ular tersebut.


Sreeeeekkk! Tiba tiba matanya melotot melihat cairan hijau yang menyembur dari mulut siluman ular membuat tanaman yang terkena cairan hijau tersebut seketika mati.


"Untung saja...," gumam Lasmana Pandya kemudian mengeluarkan pedang dari dalam cincin ruangnya.


Swuuuush! Lasmana Pandya tiba tiba melesat dengan cepat kearah siluman tersebut dan mengayunkan pedangnya.


Dhuuuuuaaar! Namun tanpa diduga, kulit siluman ular sangatlah keras, sehingga pedangnya tidak mampu memotong ekor siluman ular yang memblokir serangan pedangnya.


"Sangat kuat...," decak kagum Lasmana Pandya.


Siluman ular tak tinggal diam, kini giliran ia yang menyerang menggunakan ekor panjangnya kearah tubuh Lasmana Pandya, tak hanya itu saja mulutnya terbuka dan menyemburkan racun dari mulutnya kearah Lasmana Pandya.

__ADS_1


Swuuuush! Swuuuush! Lasmana Pandya menghindari serangan ular tersebut dengan cara bersalto kebelakang. Melihat pemuda yang tak lain mangsanya mampu menghindari serangannya, membuat siluman ular kembali menyerang menggunakan ekornya.


"Hyyaaaaaat!" teriak Lasmana Pandya tiba tiba memutar tubuhnya untuk menghindari serangan ekor ular itu, dan mencoba kembali memotong ekor siluman ular tersebut.


Dhuuuuaaar! Lasmana Pandya terpental lima langkah kebelakang setwlah daya kejut terjadi, namun sama halnya dengan siluman ular tersebut, hanya terlihat luka goresan pedang diekor ular tersebut.


Sssshhhh! Desisan siluman ular tak membuat Lasmana Pandya takut, dengan mengerahkan segala kekuatannya, Lasmana Pandya kemudian memutarkan tubuhnya dan menghentakan kakinya ketanah, setelah itu Lasmana Pandya mengerahkan jurus yang ia pelajari dari jurus yang diberikan oleh ayahnya.


"Pedang Bulan!" teriak Lasmana Pandya tiba tiba tubuhnya terus berputar dan terus melesat kearah siluman ular.


Melihat serangan yang sangat berbahaya, insting kehidupan siluman yang tinggi, membuat siluman ular mencoba menghindari serangan Lasmana Pandya yang melesat kearah kepalanya.


Slaaaaash! Slaaaash! Lasmana Pandya akhirnya berhasil membunuh siluman ular saat pedangnya menebas secara beruntun kearah leher sang siluman.


Swuuuuuung! Setelah membunuh siluman tersebut, tiba tiba mutiara jiwa milik siluman mengambang tepat dihadapan Lasmana Pandya.


"Hemm," gumaman Lasmana Pandya sambil memasukan peda dan mengambil mutiara jiwa milik siluman tersebut.


Setelah itu, ia menatap mayat siluman ular dengan tatapan ngeri.


"Seandainya ranah Kultivasinya sama denganku, bisa bisa...," ucap pelan Lasmana Pandya sambil menggelengkan kepalanya.


Karena hari telah menunjukan tengah malam, Lasmana Pandya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalannya mencari tempat peristirahatan.


Melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya selama lima belas menit, akhirnya Lasmana Pandya menemukan sebuah goa yang terlihat rimbun akan tanaman kecil dan akar yang merambat di dinding goa.


Karena tak memiliki pilihan lain, akhirnya Lasmana Pandya mengeluarkan pedangnya dan mulai membersihkan tanaman serta akar yang menempel didinding goa. Setelah selesai, Lasmana Pandya memasuki goa yang sangat gelap itu dengan berhati hati.


Grooooaaaaarh! Tiba tiba suara auman harimau


menggelegar dari dalam goa yang membuat bulu kuduk Lasmana Pandya merinding tak karuan.


"Ooh tidak ternyata ini sarang harimau...," ucap pelan Lasmana Pandya yang kini kembali mengeluarkan pedangnya.

__ADS_1


Dengan berhati hati, ia berjalan mundur untuk menjaga jarak dari harimau yang ada didalam goa, suara langkah kaki harimaupun terdengar ditelinganya. Aura membunuh dari harimau juga mulai dirasakan oleh Lasmana Pandya.


"Gawat siluman...," ucap pelan Lasmana Pandya terus menjaga jarak.


__ADS_2