Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Tantangan Kerajaan Bai Shi


__ADS_3

"Hahahaha! Aku sungguh tak menyangka bocah sejenius dirimu akan menjadi muridku, Sena, Ying Lian, aku percaya bahwa muridmu ini akan menciptakan kedamaian dialam semesta ini!" Kamandaka tertawa sangat keras hingga menggetarkan seluruh dunia kecil tersebut.


Lasmana Pandya yang terkejut mendengar ucapan Kamandaka segera menanyakan pada Sena.


Swoooosh! Swoooosh!


Geni Danyang, pedang Sangka Geni keluar dari tubuh Lasmana Pandya melayang tepat didepan Kamandaka.


"Sena aku tau kamu mengetahui bakat murid kita ini, tapi kenapa kau tidak mengatakannya sejak awal?" Kamandaka bertanya sambil menaikan alisnya.


"Kamandaka, kini bukan saatnya untuk menyanjung Pandya, sekarang aku ingin memberitahunya semua rahasia umum keberadaan kita dan siapa lawan sebenarnya Pandya kelak." Sena berucap dengan penuh wibawanya.


Sena menjelaskan banyak hal tentang Dewa Iblis yang ingin menguasai seluruh alam semesta, dan dari seratus Kultivator terkuat di seluruh Benua kini tidak ada satupun yang dapat mengalahkan Dewa Iblis, meskipun kenyataannya ranah Kultivasi mereka sama, Dewa Iblis menggunakan teknik Iblis Nirwana yang menggunakan apapun makhluk hidup untuk ia serap sebagai sumber kekuatan, sehingga kekuatannya terus naik hingga ia berhenti menyerap energinya. Setelah panjang lebar menjelaskan, kini Lasmana Pandya mulai memahami.


"Sena jadi keterkaitan perebutan dua pusaka apakah Dewa Iblis yang mengutus Kaisar Yang Lin?" Lasmana Pandya mempertanyakan masalah lalu.


"Mungkin benar, dan mungkin Kaisar Yang Lin sebenarnya adalah Dewa Iblis."


Perbincangan mereka tutup, dan kedua pusaka kembali memasuki tubuh Lasmana Pandya. Sedangkan Kamandaka kini menatap serius Lasmana Pandya.


"Muridku, aku tidak tahu bahaya apa nanti diluar sana, jadi kamu jangan berpikiran keluar dari pulau Jawa sebelum kekuatanmu sudah cukup."


"Baik murid mengerti," balas Lasmana Pandya.


Kamandaka kemudian mengeluarkan satu kolam petir penempa tulang didepan Lasmana Pandya.


"Ini petir keabadian, dulu Sena dan aku pernah memakainya untuk meningkatkan kualitas tulang, karena kini aku tidak membutuhkannya maka kamu bisa menyimpannya."


"Gu-guru bukankah ini berlebihan?"


Kamandaka hanya menggelengkan kepalanya. Setelah itu ia segera mengibaskan tangannya.


Swuuuuush!


Muncul ribuan Pill tingkat Dewa, gunungan sumber daya bahan pembuatan Pill, dan satu tungku tingkat Dewa yang berwarna keemasan.


"Gu-guru," ucap Lasmana Pandya terbata bata melihat sumber daya itu.


"Hahaha! Kau tidak perlu menolaknya muridku, semua ini sudah tidak ada yang dapat aku gunakan jadi ambillah." Kamandaka tertawa.

__ADS_1


"Tuan muda ambillah, karena semua ini adalah berkah untukmu, dan tentang ambisimu pasti akan segera tercapai," ucap Sena dipikirannya.


Lasmana Pandya akhirnya menerimanya, setelah itu Kamandaka membuat segel tangan yang cukup rumit, setelah itu ia menggigit jarinya sehingga darah wangi keluar dari luka kecil itu, dan melesat kearah kening Lasmana Pandya.


Swuuush! Swuuuung!


Seketika tubuhnya bergetar hebat, dibarengi dengan munculnya jutaan pengetahuan yang belum ia ketahui, entah cara pembuatan Pill untuk peningkat Kultivasinya, maupun segel mantra formasi, dan beberapa teknik yang sekilas ia lihat dan langsung menarik perhatiannya.


"Gu-guru ini," ucap Lasmana Pandya tidak bisa berkata kata sama sekali.


Seketika Lasmana Pandya berlutut didepan Kamandaka dan mengucapkan rasa terimakasihnya.


"Baik hari ini aku serahkan padamu, akankah melanjutkan perjalanan atau mempelajari beberapa teknik yang ku berikan," ucap Kamandaka tersenyum hangat.


"Guru, mungkin aku akan mempelajari teknik penyamaran yang diberikan guru terlebih dahulu," ucwp Lasmana Pandya serius.


"Berhati hatilah nak, karena jurus itu juga dapat menjadi bumerang bagimu, ingat kamu harus memahami sebelum kamu memulai pelatihannya." Kamandaka memperingati, dan setelah itu ia bermeditasi kembali.


Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu ia mencoba memahami teknik penyamar didalam pemikirannya, satu jam memahami dengan cepat ia mulai mengikuti tata caranya.


Segel tangan ia perlihatkan dengan cepat dan rumit, setelah segel tersebut bersinar dan membesar seukuran tubuhnya, Lasmana Pandya menghela napas panjang saat ia melupakan bahwa ia membutuhkan darah seseorang untuk menyamar.


Swuuuung!


Segel bergetar hebat, disaat itu juga Lasmana Pandya sadar bahwa gurunya kembali membantu dirinya.


Swuuuush!


Tanpa mengucapkan kata lagi, ia segera memasuki segel tersebut. Dibarengi dengan perasaan aneh timbul ditubuhnya. Mengecil, dan tak memiliki daging sebagaimana tubuh Kamandaka saat ini.


****


Di Dunia luar.


Berita menggemparkan Kerajaan Bai Shi yang mendengar bahwa rencana mereka gagal, bahkan berita itu menyebar keseluruh pulau Jawa. Nama pendekar bertopeng pun menjadi perbincangan hangat diseluruh pulau Jawa akan sepak terjangnya.


Di aula kerajaan Sangsakerta.


"Banyu siapakah kiranya pendekar bertopeng ini? Bukankah lebih baik kita membuat aliansi dengannya?" Tanya Prabu Panca Driya.

__ADS_1


Banyu tersenyum bahagia mendengarnya, saat ingin menjelaskan bahwa ia adalah anaknya sendiri, tiba tiba salah satu seorang Jendral kerajaan memasuki aula.


"Rajaku, aku mendapat laporan dari mata mata yang tersebar, bahwa Kerajaan Bai Shi menantang Kultivator Jawa untuk menghadiri acara pertemuan yang diselenggarakan oleh mereka," laporan Jendral tersebut.


"Pertemuan apa? Mereka sepertinya sedang merencanakan sesuatu," ucap Prabu Panca Driya.


"Didalam penjelasan surat, Jendral Tapak Dewa secara langsung ingin bertukar wawasan tentang ilmu bela diri milik Negerinya dengan pulau Jawa."


Kedua alis banyu, dan Prabu Panca Driya terangkat.


****


Lasmana Pandya yang telah menguasai jurus penyamar kini sudah tidak ragu untuk pergi kearah Kerajaan Bai Shi, namun ia tak terlalu terburu buru, hingga tepat tujuh hari itu ia selalu membuat Pill kultivasi yang teramat banyak dari cincin ruangnya.


Semua Pill itu ingin ia berikan pada ayahnya untuk meningkatkan kekuatan kerajaan, dengan begitu ia berharap kerajaan ayahnya dapst mengimbangi kekuatan kerajaan Bai Shi yang berlaku semena mena.


"Guru, aku pamit." Lasmana Pandya memberikan hormat terakhirnya.


Kamandaka mengangguk, setelah itu ia menatap tubuh Lasmana Pandya memasuki gerbang teleportasi.


Swuuuush!


Tubuh Lasmana Pandya lenyap dibarengi dengan hilangnya segel teleportasi. Lasmana Pandya tiba ditempat larangan milik kota Larangan. Terlihat sosok wanita bercadar yang ia kenali sedang tertidur dibawah pohon rindang.


"Yang Lie, aku rasa kamu mengkhawatirkan ku," ucap Lasmana Pandya.


Yang Lie tiba tiba terbangun, air matanya menetes ketika melihat sosok bertopeng yang ia kenali membangunkan tidur siangnya.


"Gege!" Yang Lie berlari dan langsung memeluk Lasmana Pandya.


Baru pertama kali menyentuh pelukan seorang wanita, hati Lasmana Pandya terasa tersentuh.


"Gege kenapa kau tidak mengabariku, dan selama ini kau ada dimana...," Yang Lie menangis lirih.


Lasmana Pandya kemudian menjelaskan bahwa ia hanya berlatih didalam dunia kecil itu, Yang Lie yang telah mendengar penjelasan itu segera mengangguk, dan menyeka air mata di pipinya.


"Yang Lie, sepertinya kau telah naik tingkat secara cepat." Puji Lasmana Pandya melihat ranah kultivasi Emas tingkat Lima mengedar dari tubuh Yang Lie.


Yang Lie melepas pelukannya dan tersenyum malu kearah Lasmana Pandya.

__ADS_1


"Gegee..."


__ADS_2