
Serangan milik Wu Ling semakin cepat seiring berjalannya waktu, sehingga Lasmana Pandya mulai merasa kewalahan.
Paaaack! Dhuuuaar!
Sebuah tamparan keras mampir diwajah Lasmana Pandya, disusul dengan tinju mengarah tepat diperutnya.
"Itu untukmu yang berani membunuh pasukanku," ucap Wu Ling menampilkan senyum mengerikannya.
Lasmana Pandya yang terhuyung kebelakang sejauh sepuluh meter pun ikut menyunggingkan senyumnya.
"Lumayan," ucap Lasmana Pandya kemudian mengelap darah dibibirnya.
Meskipun bangga dengan serangan yang mampu membuat Lasmana Pandya trrluka, wajah keterkejutan yang ia sembunyikan cukup untuk membuktikan bahwa serangannya hanya sebuah hantaman kecil bagi Lasmana Pandya.
****
Disisi lain, dua lelaki pria paruh baya yang mengenakan jubah komandan prajurit menatap tajam pertempuran Lasmana Pandya dengan Wu Ling.
"Pemuda itu menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya," ucap Ao Tian terus menganalisa pertempuran yang kacau itu.
****
Lasmana Pandya tanpa banyak kata kembali melesat dengan menggenggam pedang sebagai perlawanan yang ia lakukan. Wu Ling pun kembali mengeluarkan pedangnya, hingga dentingan suara baja yang saling berbenturan menghiasi pada malam itu.
Tiiiing! Tiiiing!
Gerakan Wu Ling yang lebih cepat dari Lasmana Pandya mulai menunjukan serangan mematikannya. Disetiap tebasan yang mengerikan, selalu membuat Lasmana Pandya harus sikap dan waspada.
"Hebat juga kau bocah," ucap Wu Ling yang tiba tiba mengagumi Lasmana Pandya karena mampu mengimbangi serangannya terus menerus.
"Kamu pun sama, tapi sayangnya aku belum mengeluarkan seluruh kekuatanku...," Lasmana Pandya membalas ucapan Wu Ling menggunakan nada dinginnya.
Swuuuush! Swuuuush!
Keduanya mulai melesat kesana kemari, bagaikan dua singa yang saling merebutkan wilayah mereka. Lasmana Pandya yang melihat sebuah celah pada gerakan Wu Ling segera memutar tubuhnya.
Senyum kecil ia tampilkan saat melihat Wu Ling kelabakan karena terus mengejar Lasmana Pandya, dan tiba tiba pemuda bertopeng itu ber balik lalu memutarkan tubuh beserta pedangnya seperti angin topan kearahnya.
__ADS_1
"Pedang Bulan!" Lasmana Pandya mengeluarkan jurusnya.
Putara tubuhnya yang mengarah ketubuh Wu Ling sangat cepat, sehingga Wu Ling mengerahkan seluruh kekuatannya untuk melepaskan tapak besinya.
"Tapak besi penghancur surga!" Wu Ling berteriak lalu melepas pedangnya dan melepaskan tapak besinya dari kehampaan.
Lasmana Pandya terus berputar hingga sebuah tapak tangan menyambut gerakannya.
Baaaaamss! Dhuuuuaar! Slaaaaash!
Ledakan yang cukup mengerikan terdengar, terlihat wajah Wu Ling yang sangat terkejut tak menyangka bahwa jurusnya dipatahkan oleh seorang pemuda bertopeng. Bahkan kini ia harus meregang nyawa saat lehernya terlepas dari tubuhnya. Kematian didalam keterkejutan itu juga membuat kedua Komandan yang tak lain Ao Tian, serta Hu Shao membelakan matanya.
"Ba-bagaimana bisa...," ucap pelan mereka, meskipun Ao Tian sudah mengetahui Lasmana Pandya memiliki kartu truf atau jurus, tapi ia tak menyangka tapak besi Wu Ling tak menimbulkan sedikit luka pada tubuh pemuda bertopeng itu.
"Hu Shao tunggu apa lagi! Cepat bunuh dia!" Ao Tian tersadar dari keterkejutannya.
Hu Shao mengangguk, srtelah itu ia melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya kearah Lasmana Pandya sambil melepaskan tebasan energi pedang.
"Tuan muda serangan kejutan!" Sena memeringati Lasmana Pandya yang terdiam.
Dhuuuuaar!
"Tuan muda, pria itu Langit tingkat dua, segera aktifkan armor Geni Danyang dan pedang Sangka Geni!" Sena memperingati kembali.
"Hehehehe ternyata hanya pemuda bodoh yang datang dan ingin mengantarkan nyawanya." Hu Shao kembali melepaskan kekuatan terkuatnya.
Seuliet energi tebasan pedang kembali melesat kearah Lasmana Pandya, namun Lasmana Pandya tiba tiba memejamkan matanya, dan mengaktifkan armor Geni Danyang, dan pedang Sangka Geni miliknya.
Swuuuush! Dhuuuuuar!
Ledakan yang lebih mengerikan terdengar, debu bertebangan disekitar ledakan itu, sehingga tubuh Lasmana Pandya tak terlihat dari luar.
Ao Tian, dan Hu Shao yang masih merasakan aura pemuda bertopeng menyipitkan mata mereka. Bahkan alis keduanya berkedut karena merasakan aura pembunuh yang kental tiba tiba menindas mereka.
Di sekian detiknya setelah debu menghilang, mata Hu Shao serta Ao Tian melotot melihat pemuda bertopeng yang berdiri menggenggam pedang emas transparan, serta terdapat armor emas yang memiliki lambang api melindungi tubuhnya.
Hu Shao yang tak percaya kemudian menggosok matanya, seakan akan serangannya hanya sebuah gelitikan pada pemuda bertopeng yang berdiri menatapnya dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
Swuuuush!
Sekali hentakan, Lasmana Pandya melesat sambil melepaskan serangan pedangnya kearah Hu Shao, Hu Shao yang masih terkejut pun mematung dan baru sadar bahwa beberapa meter lagi sebuah pedsng transparan menebas lehernya.
"Hu Shao bodoh!" Ao Tian berteriak melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, dan memblokir pedang emas yang akan menebas leher Hu Shao menggunakan pedang tingkat Dewa pemberian Jendral Tapak Dewa.
Tiiing! Dhuuuuuuaaar!
Ledakan yang sangat dahsyat terjadi saat dua senjata Dewa berbenturan. Lasmana Pandya tak luput terhuyung kebelakang sejauh sepuluh meter, begitu juga dengan Ao Tian yang terhuyung kebelakang sejauh lima meter, dan Hu Shao sama dengan Lasmana Pandya, terhuyung kebelakang sejauh sepuluh meter. Terlihat jelas hanya Ao Tian yang lebih unggul, sedangkan Hu Shao masih seimbang disegi kekuatannya.
"Hebat juga," ucap Lasmana Pandya berdiri tegak menatap keduanya.
Ao Tian tersenyum kearah Lasmana Pandya.
"Aku rasa dua artefak Dewa itu yang membuatmu mampu mengimbangi seranganku," balas Ao Tian.
Hu Shao yang melakukan kesalahan berdiri disampig Ao Tian.
"Untung kau tiba tepat waktu," ucap Hu Shao.
"Dasar bodoh," gerutu Ao Tian kearah Hu Shao.
"Bocah ini tak sederhana yang kita lihat, berhati hatilah," ucap lagi Ao Tian sambil memperingati.
Hu Shao mengangguk sambil menatap tajam Lasmana Pandya yang mengeluarkan rembesan aura Dewa Pembunub dari tubuhnya. Meskipun hanya tiga puluh persen aura pembunuh yang keluar, tapi nyatanya aura tersebut cukup untuk menindas kedua komandan tersebut.
"Sepertinya kamu adalah Ao Tian," ucap Lasmana Pandya menunjuk Ao Tian.
"Memang kenapa jika aku Ao Tian, apakah kamu takut mendengar namaku?" Ao Tian bertanya sambil menunjukan senyumnya.
"Baguslah jika begitu, maka mulai dari sekarang aku tidak bersusah payah mencarimu," ucap Lasmana Pandya melesat kearah Ao Tian.
Ao Tian dan Hu Shao saling berpandangan, tak lama mereka kemudian menyerang Lasmana Pandya bersama. Keduanya yang diangkat langsung oleh Jendral Tapak Dewa menjadi komandannya tak bisa di sepelekan kekuatan keduanya. Ao Tian yang menginjak ranah Langit tingkat tiga, sedangkan Hu Shao berada ditingkat Langit dua, membuat Lasmana Pandya harus fokus terhadap pertarungan, meskipun dua pusaka legendaris ada ditubuhnya dan tentunya ia tidak boleh hanya mengandalkan kedua pusaka itu.
Dhuuuuaar! Dhuuuaar!
Tidak ada lagi suara dentingan senjata, namun sebuah ledakan dari benturan ketiga senjata Dewa yang ada. Rumah pohon disekitar mereka hancur akibat pertempuran ketiganya.
__ADS_1
"Pedang Langit!" Teriak Hu Shao melepaskan jurusnya.
Dhuuuaaar!