
"Hanya itu?" Ketua bandit Gunung itu seperti tidak menginginkannya.
Melihat raut wajah ketua bandit Gunung, membuat Lasmana Pandya tersenyum penuh ejekan sambil menunjukkan cincin ruang miliknya.
"Hahaha jika itu aku baru setuju, dan kamu ingin apa dariku jika aku kalah?" Bandit Gunung itu bertanya balik.
"Tenanglah itu hal sepele, karena kalian semua hanya perlu menukar nyawa kalian," ucap Lasmana Pandya.
Sontak ucapan Lasmana Pandya membuat amarah para bandit Gunung berevolusi, namun karena ketua bandit tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi dikarenakan ranah Kultivasinya ditingkat langit satu membuat ia menyetujui taruhan tersebut.
"Oiya satu lagi pak tua, disaat kami bertempur aku harap pak tua adil, tidak ada satupun anggota pak tua berani menyentuh Yang Lie, jika hal itu terjadi, maka kamu harus membunuh dirimu sendiri bersama anak buahmu!"
Bandit Gunung itu setuju dan akhirnya Lasmana Pandya meminta Yang Lie menjauh dari area pertempuran, meskipun Yang Lie masih marah pada Lasmana Pandya, tapi kini ia hanya bisa menuruti permintaan pemuda yang telah membuat hatinya sakit itu.
Setelah melihat Yang Lie menjauh, Lasmana Pandya bersiap siap melawan ketua bandit dengan tatapan tajamnya.
"Anak muda bertopeng, aku beri kamu kesempatan untuk menyerang, jadi cepatlah."
Lasmana Pandya kemudian mengedarkan ranah Kultivasinya ditingkat Grand Master Limanya. Merasakan ranah kultivasi yang berada dibawah tingkatnya, ketua bandit Gunung itu tersenyum mengejek.
Swuuuuush!
Lasmana Pandya melesat sambil mengeluarkan pedang dari sarungnya, setelah itu ia segera menebas kearah leher ketua bandit Gunung dengan kecepatan luar biasa.
Swuuuush!
Ketua bandit gunung kemudian menghindari serangan pedang Lasmana Pandya kesamping, tak berhenti disitu saja Lasmana Pandya juga mulai menyerang secara brutal kearah ketua bandit Gunung. Disela sela menghindari serangan Lasmana Pandya.
"Hanya ini saja? Lemah dan tentunya lambat!"
Baaaaaams!
Tapak tangan ketua bandit gunung berhasil melepaskan serangan tapak tangannya dengan cepat kearah dada kiri Lasmana Pandya, yang membuat pemuda itu terpental kebelakang sejauh dua puluh meter.
"Gege...," ucap lirih Yang Lie khawatir.
"Hahahaha lemah!"
Para anggota bandit yang melihat ketua mereka mampu membuat mundur pemuda bertopeng dengan satu serangan membuat mereka kegirangan, dan tentunya mereka bersorak atas pencapain ketua mereka itu.
"Kukira serangannya kuat, ternyata hanya serangan yang tidak menimbulkan cidera sama sekali," ucap provokasi Lasmana Pandya.
__ADS_1
"Apa!"
Swuuuush!
Ketua bandit gunung yang mendengar provokasi Lasmana Pandya membuatnya marah. Dengan segera ia melesat kearah Lasmana Pandya sambil melepaskan tinjunya.
Lasmana Pandya memang ingin melihat batasan dirinya melawan ranah satu tingkat diatasnya tanpa menggunakan dua pusaka legendaris. Karena itu ia segera mengepalkan tinjunya dan ikut melesat berlawanan arah kearah ketua bandit.
Baaaaams! Dhuuuuaar!
Dua tinju yang masing masing dialiri energi Qi meledak sangat mengerikan, debu disekitar pertempuran mereka bertebangan kemana mana. Lasmana Pandya yang terpental sejauh sepuluh meter dan memuntahkan seteguk darah merah kemudian menyunggingkan senyumnya.
"Lumayan," ucap Lasmana Pandya kearah ketua bandit.
Sedikit terkejut dengan ketahanan tubuh pemuda bertopeg, ketua bandit kembali melesat kearah Lasmana Pandya dengan rasa percaya dirinya.
Serangan cepat, dan tentunya Lasmana Pandya tidak bisa mengikuti kecepatannya, membuat Lasmana Pandya tak ingin menunggu serangan tiba didepannya, dengan segera ia mengaktifkan kedua pusaka legendarisnya.
Cahaya keemasan samar samar menutupi tubuh Lasmana Pandya, sekian detiknya saat tinju tepat didepan Lasmana Pandya, sebuah ledakan yang sangat dahsyat menggema kesegala penjuru hutan.
"Mati!"
Baaaaams! Dhuuaar!
Sedangkan para anggota bandit mengira ketua mereka berhasil membunuh Lasmana Pandya dengan satu serangan fatal. Yang Ling yang melihat itu seketika berkeringat dingin, dan sangat khawatir mengenai kondisi Lasmana Pandya.
Namun saat debu bertebangan telah menghilang, mereka semua dikejutkan dengan Lasmana Pandya yang tubuhnya terbalut armor emas, serta tangannya yang menggenggam pedang emas, yang terlihat samar samar. Apalagi Lasmana Pandya tak bergeming sedikitpun dari tempatnya, padahal sebelumnya pemuda bertopeng itu membiarkan tubuhnya terhantam oleh ketua bandit.
"Ba-bagaimana bisa!"
Ucap semua orang terkejut setengah mati, bahkan ketua bandit yang setidaknya mengira pemuda bertopeng jika tidak mati akan terluka parah kini menggosok matanya berkali kali. Berharap apa yang ia lihat hanyalah ilusi.
"Sepertinya aku mengecewakan harapan kalian," ucap jelas Lasmana Pandya kini bagaikan seorang Jendral perang yang akan membasmi tikus didepannya.
Ketua bandit sadar dari rasa keterkejutannya, dengan cepat ia yang mengira tinjunya bermasalah kini mengeluarkan tombak dari dalam cincin ruangnya.
Swuuuuuuush!
Keduanya melesat berlawanan arah sambil menggenggam senjata mereka masing masing.
Klaaaaang!
__ADS_1
Tiba tiba suara baja terpotong, yang tak lain tombak milik ketua bandit terdengar, hal itu membuat ketua bandit semakin marah.
Swuuuuuush!
Seketika ketua bandit melepaskan aura Kultivasinya ditingkat satu, berharap Lasmana Pandya akan tertindas oleh aura Kultivasinya itu.
Namun tiba tiba matanya menjadi tajam melihat Lasmana Pandya yang hanya berdiri sambil memberikan senyum manis dibalik topeng kearahnya.
"Saatnya memberi pelajaran...," ucap dingin Lasmana Pandya kemudian melesat dengan kecepatan puncaknya kearah ketua bandit.
Slaaaaaash!
Ketua bandit yang masih belum percaya pedangnya patah oleh pedang emas samar samar ditangan Lasmana Pandya, membuatnya lengah dan lengan kirinya terlepas dari tubuhnya.
"Arrrrghh!"
Ketua bandit gunung mengerang kesakitan, meskipun ketua bandit gunung masih merasa kesakitan, ia menatap bawahannya agar segera menyandra Yang Lie. Melihat tatapan mencurigakan, Lasmana Pandya tersenyum mengerikan kearah ketua bandit.
"Segel Kematian!"
Teriak Lasmana Pandya yang tiba tiba memunculkan sebuah perisai emas menutup mereka semua, dan anak buah ketua bandit yang melesat kearah Yang Lie tiba tiba meledak menjadi kabut darah.
"Sekarang saatnya kalian bertemu dengan raja neraka!"
Swuuuush! Lasmana Pandya melesat menabrak batas segel kematian tanpa terluka, melihat itu para bandit berusaha menghancurkan segel yang mengekang mereka. Hingga tiba tiba Lasmana Pandya yang telah berada disamping Yang Lie menancapkan pedang emasnya kearah tanah.
"Mati!" Lasmana Pandya berteriak keras.
Swuuuuung!
Pembatas segel bergetar dengan munculnya ribuan pedang dari kehampaan melesat dan menembus tubuh para bandit didalam segel kematian.
Akhirnya teriakan penyesalan, dan rasa sakit, serta ketidak percayaan mereka mati ditangan pemuda bertopeng mereka lampiaskan dineraka kelak.
Armor Geni Danyang, serta Pedang Sangka Geni menghilang dari tubuhnya, Lasmana Pandya menatap Yang Lie dengan tatapan bersalah.
"Yang Lie a-aku..."
"Gege! Kenapa kau bertaruh menggunakanku sebagai taruhannya!"
"Apakah Gege menganggap ku sebuah barang?"
__ADS_1
Yang Lie yang sebenarnya sangat lega melihat Lasmana Pandya berhasil mengalahkan ketua bandit dan anak buahnya membuatnya merasa sangat senang, namun yang membuatnya kesal awal pertaruhan yang di lakukan oleh Lasmana Pandya.