Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Keputusan Sena dan Ying Lian.


__ADS_3

Yue Xong terdiam.


"Gu-guru dia saudaraku," ucap Lasmana Pandya menyeka air matanya dan kembali menatap kedua orang yang paling ia cintai dengan tatapan yang sulit diartikan.


Benci melihat keduanya telah tewas, dan tentunya dendam tersirat jelas dilubuk hatinya. Kamandaka mengangguk, kemudian ia berjalan mendekat kearah Lasmana Pandya sambil menepuk pelan bahunya.


"Muridku ini cobaan yang sulit kau terima, namun apa boleh buat karena semua ini telah terjadi."


Kamandaka sambil menjelaskan hal yang membuatnya pergi ke Kerajaan Sangsakerta. Hal itu membuat Lasmana Pandya memejamkan matanya sejenak.


"Seandainya guru tiba tepat waktu, mungkin hal ini tidak terjadi...," Ucap lirih Lasmana Pandya.


"Muridku maaf," balas Kamandaka kini terus menyemangati Lasmana Pandya agar bangkit.


Namun Lasmana Pandya hanya diam dan terus menahan air matanya yang ingin terus terusan menetes. Namun ia yang kini mulai membulatkan tekadnya akhirnya mengubur mayat kedua orang yang ia cintai. Setelah satu hari berlalu ia telah menguburkan semua mayat warga kerajaan, Lasmana Pandya, Yue Xong, dan Kamandaka memberi penghormatan terakhir.


"Yue Xong."


"Iya tuan muda?" Jawab cepat Yue Xong.


"Kenapa mereka belum tiba di Kerajaan ini," ucap Lasmana Pandya yang merasa heran terhadap Yue Xhie, Bumi Arta dan lainnya.


"Tuan aku juga belum mendapat pesan dari mereka," ucap Yue Xong jujur.


Namun sesaat setelahnya, suara Sena dan Ying Lian terdengar ditelinganya.


"Tuan Muda, mungkin ini pengalihan dan mereka sebenarnya telah merencanakan hal ini terhadap anda."


Kedua alis Lasmana Pandya terangkat mendengar hal itu, sedangkan Kamandaka yang mengerti reaksi Lasmana Pandya kemudian mengangguk mengerti.


Swuuuuuush! Swuuuuush!


Tepat setelah itu, dua anak panah dari arah barat melesat dan menancap tepat didepan pijakannya.


"Sampah kecil," ucap Kamandaka yang seketika bereaksi dan menghilang dari kehampaan.


Swuuuush! Swuuuuush!


Hal itu membuat Lasmana Pandya dan Yue Xong berjaga jaga, karena saat ini mereka mengira ada serangan susulan kembali. Beberapa menit kemudian, Kamandaka muncul dengan membawa dua pria paruh baya berjubah hitam dengan kedua tangan yang telah terlilit energi Qinya.


"Guru siapa mereka?" Tanya Lasmana Pandya sambil mengambil kertas yang tertancap di ujung dua panah yang tadi.

__ADS_1


"Mereka yang menyerang kita secara diam diam," ucap Kamandaka kemudian menunjuk wajah keduanya.


Sambil mendengarkan ucapan gurunya, ia membaca surat yang telah ia ambil.


Swoooooosh!


Wajahnya memerah, dan saat itu juga kertas surat yang ditangannya terbakar oleh Geni Danyang. Tanpa menanyakan apapun, Lasmana Pandya melangkahkan kakinya kearah dua tawanann yang ditangkap oleh Kamandaka.


Plaaaaak!


Tamparan keras merontokan gigi salah satu pria tawanan tersebut. Setelah menamparnya, Lasmana Pandya mengangkat wajah pria tersebut agar menatap wajahnya dengan jelas.


"Setelah Jendral Tapak Dewa membunuh kedua orang yang aku cintai, serta seluruh penduduk kerajaan ini, dia juga berani menangkap saudaraku yang lain? Hahahahahaha! Aku akan membalaskan dendam mereka dengan nyawa kalian dahulu, setelah itu baru seluruh Kerajaan Bai Shi, bahkan Negeri China akan aku acak acak cepat atau lambat!" Ucap Lasmana Pandya seperti kesetanan.


Mereka berdua hanya diam, setelah sesaatnya, Geni Danyang yang berwarna merah kebiruan muncul ditelapak tangannya.


Swoooooosh!


Tanpa banyak kata lagi, Lasmana Pandya membakar hidup hidup keduanya. Dan hal itu membuat Yue Xong serta Kamandaka bergidik ngeri dibuatnya.


"Akkkh! Ka-kami hanya melakukan perintah Jendral Tapak Dewa saja!" Bantah salah satunya mencoba bernegosiasi.


"Mati tetap mati...," Ucap dingin Lasmana Pandya.


"Tuan muda," ucap keduanya penuh hormat.


"Katakanlah," ucap singkat Lasmana Pandya yang masih belum bisa mengendalikan emosinya.


Sejenak bertatapan, keduanya mengangguk.


"Kami berdua telah sepakat untuk menjelaskan rahasia besar ditubuh anda, namun sebelum hal itu kami lakukan, apakah tuan muda mau mendengarkan permintaan terakhir kita?" Tanya Sena dengan jelas.


Kerutan wajah diperlihatkan Lasmana Pandya, namun saat itu juga ia mencoba menenangkan dirinya untuk berdiskusi dengan mereka.


"Katakanlah," ucap Lasmana Pandya.


"Jika tuan muda menjadi pendekar hebat, apa yang tuan muda akan lakukan?" Tanya Sena.


"Balas dendam dan menghapus seluruh kehidupan Kultivator asing yang telah membunuh seluruh kerajaan Sangsakerta," ucap Lasmana Pandya.


Sena dan Ying Lian menggelengkan kepalanya, sedangkan Kamandaka bergidik ngeri mendengarnya.

__ADS_1


"Tuan muda, jika anda melakukan hal itu sama saja anda seperti Dewa Iblis, membunuh tanpa ampun, dan menentang peraturan kehidupan yang dimiliki orang lain." Sena menjelaskan.


"Ta-tapi."


"Tuan muda, dengan memiliki kekuatan yang besar mungkin anda dapat membalas dendam kematian mereka semua, namun apakah pantas jika anda membunuh mereka semua yang tak bersalah? Jika anda melakukan hal itu, mungkin Kultivator seratus teratas yang tidak berpihak pada Dewa Iblis akan menghakimi anda," ucap serius Sena masih menggunakan wujud Geni Danyangnya.


"Tuan muda, jika anda hanya membunuh akarnya maka kami tidak akan mempermasalahkannya," timpal Ying Lian.


Kamandaka dan Yue Xong yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka mulut dan menyutujui ucapan Ying Lian. Dengan helaan nafasnya, Lasmana Pandya akhirnya terdiam dan membuang egonya sendiri.


"Baiklah, saatnya kamu mengetahuinya," ucap Sena.


"Kamu memiliki satu tipe tubuh unik yang tidak dimiliki oleh orang lain di Dunia ini, meskipun dahulu tipe tubuh ini adalah mitos, namun kebenarannya sudah ada didepan mata." Sena dan Ying Lian berubah kewujud asli mereka.


Swuuuuuung!


Segel tangan yang sangat cepat diperagakan Sena dan Ying Lian, sesaat setelah itu segel tersebut melesat kearah tubuh Lasmana Pandya dengan kecepatan ekstreem. Satu menit kemudian segel tersebut membuat tubuh Lasmana Pandya bercahaya keemasan yang langsung membungkus tubuhnya.


"Arrgghhhhh!" Pekikan keras melolong diseluruh makam Kerajaan.


Sesaat setelahnya, sebuah segel kuno muncul dibalik tubuh Lasmana Pandya.


"Tu-tubuh keabadian!" Ucap terkejut Kamandaka dan Yue Xong.


Sedangkan Ying Lian dan Sena yang telah sepakat untuk menjadi sumber daya untuk Lasmana Pandya kembali membuat segel tangan yang diperhatikan oleh Kamandaka, dan ia pun tahu maksud dari keduanya.


"Sena, Ying Lian tunggu!" Ucap Kamandaka menghentikan mereka.


Sedangkan Lasmana Pandya yang tak sadarkan diri karena kekuatan luar biasa yang menekan kesadarannya kini melayang dengan sendirinya.


"Kamandaka! Jika ranah Kultivasinya rendah dan saat ini kami mengaktifkan tubuh abadinya, hal itu akan membuatnya kehilangan nyawa!" Ucap Sena kemudian melanjutkan pembuatan segelnya.


Sedangkan Yue Xong, dan Kamandaka kini hanya bisa diam melihat mereka berdua yang kini lepas dari wujud Geni Danyang, dan menyatu menjadi bola berwarna merah dan biru mengambang. Layaknya Geni Danyang, dan Pedang Sangka Geni adalah pusaka tingkat Dewa, namun karena kekalahan jutaan tahun lalu, mereka berdua memutuskan untuk bersemayam kedalam tubuh kedua senjata mereka.


Swoooooosh! Swooooosh!


Wujud Sena dan Ying Lian yang telah menyatu menjadi bola Dewa sumber daya membuat kekuatan Saints Glory puncak mereka menyebar dan merobohkan pepohonan serta bangunan didekat makam.


Sedangkan pusaka Geni Danyang, dan Pedang Sangka Geni kembali melesat memasuki tubuh Lasmana Pandya.


Dengan sendirinya, kedua pusaka tersebut mengembalikan kesadaran Lasmana Pandya yang telah hilang. Dan disaat itu juga, mata Lasmana Pandya terbuka menatap bingung kearah Kamandaka, dan Yue Xong yang hanya bisa mematung.

__ADS_1


####


Tunggu Febuari saya mulai daili man temannn...


__ADS_2