
Swuuuush! Swuuuuush!
Ribuan para tetua, murid padepokan, dan beberapa Jendral Kerajaan yang telah mengalami kepaitan mengenai kebrutalannya Jendral Tapak Dewa kini mengepung Lasmana Pandya dengan amarah yang tidak bisa digambarkan.
"Pendekar bertopeng! Serahkan dirimu, atau kau ingin melihat jutaan rakyat tak bersalah mati akibatmu!" Teriak Jendral Kerajaan Bumi Suci murka.
Kerajaan tersebut merupakan kerajaan yang masih berdiri dan belum tersentuh ataupun terserang oleh pihak Jendral Tapak Dewa. Kehadirannya hanya mengantisipasi hal buruk yang menimpa kerajaan atau sekte yang ada ditanah Jawa.
"Benar! Serahkan dirimu!"
"Demi satu nyawa akibat ulahmu, jutaan nyawa telah sirna dari tanah Jawa ini! Kami tidak bisa membiarkanmu tetap hidup!" Teriak lainnya.
Kegaduhan yang Lasmana Pandya mengerti permasalahannya membuatnya ingin membela diri, namun suara gaduh membuat suaranya tidak sama sekali terdengar oleh mereka.
Swoooooosh!
Aura Dewa Pembunuh merembes dari tubuhnya membuat semua orang jatuh berlutut ditempatnya. Tak ada satupun yang mampu berdiri tegak merasakan aura yang sangat mengerikan tersebut.
"Tuan tuan, maafkan kesalahanku, namun aku berjanji aku akan membalaskan kematian saudara kalian dengan membunuh Jendral Tapak Dewa dan membersihkan seluruh Kultivator negeri asing cepat atau lambat. Karena itu beri aku waktu!" Ucap Lasmana Pandya menggema.
Tidak ada yang berani membantah, namun terlihat jelas di raut wajah mereka tidak ada yang percaya apa yang dikatakan oleh Lasmana Pandya.
Karena itu, Lasmana Pandya yan melihat reaksi mereka segera memberikan mereka waktu untuk bertanya tentang apapun.
"Jika ada yang ingin bertanya, katakanlah! Acungkan tanganmu, maka aku akan menghilangkan aura pembunuh ini," ucap Lasmana Pandya tenang.
Beberapa menit, semua orang saling pandang, namun belum ada yang berani mengangkat tangannya sama sekali. Mata Lasmana Pandya bergerak kesana kemari melihat sekitarnya.
"Iya kamu Senior, silahkan maju," ucap Lasmana Pandya menjuk kearah tetua yang berani mengangkat tangannya, aura pembunuh pun menghilang dari tubuh tetua tersebut, sehingga hanya ia dan Lasmana Pandya yang bisa bergerak.
"Apa kata katamu bisa dipegang? Dan apa kamu pikir kamu dapat mengalahkan Jendral Tapak Dewa itu?" Tanya tetua tersebut.
__ADS_1
Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia menatap tetua tersebut dengan ramah dibalik topengnya.
"Aku tidak bisa memastikannya, namun aku pastikan akan membunuhnya."
Setelah menjawab pertanyaan tetua tersebut, banyak dari mereka yang berani mengajukan pertanyaan. Dan semua pertanyaan mereka dijawab mudah oleh Lasmana Pandya. Bahkan Lasmana Pandya juga menjelaskan bahwa ia akan bertempur melawan Jendral Tapak Dewa ditanah kelahirannya.
Hal yang paling mengejutkan adalah, sosok pendekar bertopeng sangatlah muda. Kini wajah tampannya diperlihatkan oleh Lasmana Pandya. Tak hanya itu saja, Lasmana Pandya menjelaskan bahwa ia adalah anak dari Prabu Panca Driya. Semu orang terperangah, meskipun mereka tau Lasmana Pandya bukanlah Kultivator sembarangan yang dapat membunuh kedua anak Jendral Tapak Dewa, namun berbeda jika Lasmana Pandya harus bertempur dengan ayahnya. Yang pastinya telah melewati banyaknya pertempuran dan pengalaman.
Siingkatnya, mereka semua akhirnya memutuskan untuk kembali menginap di bekas Kerajaan Sangsakerta berdiri untuk melihat pertempuran hidup dan mati keduanya. Lasmana Pandya pun tidak melarang mereka, dengan senang hati ia membiarkan mereka menonton pertempurannya nanti.
Yang pasti, saat ini ia memulihkan energi Qinya dengan cara duduk bersila sambil menenangkan pikirannya. Akankah Jendral Tapak Dewa membawa kedua Kultivator Puncak, ataupun sendiri. Hanya itu saja yang saat ini ia pikirkan.
Satu hari berlalu, hari yang ditunggu akhirnya tiba. Namun sosok Jendral Tapak Dewa belum tiba di Kerajaan Sangsakerta. Saat Lasmana Pandya ingin mengunjungi makam ayahnya, tiba tiba satu aura kuat dari arah barat menyebar kesegala penjuru. Dan hal itu membuat Lasmana Pandya mengurungkan niatnya menunggu sosok tersebut.
Swuuuuuush!
Sosok Jendral Tapak Dewa muncul dengan mata yang dipenuhi kebencian yang dalam menatap sosok pemuda yang kini dibelakangnya terdapat ribuan orang dari Padepokan, maupun Kerajaan.
Lasmana Pandya dengan santai mengangkat tangannya, setelah itu tatapan Jendral Tapak Dewa mengejek kearah Lasmana Pandya.
"Itu kamu? Hahahaha aku tidak percaya! Bagaimanapun saat itu ranah Kultivasinya ditingkat Surgawi tiga," ucap tak perduli Jendral Tapak Dewa.
Lasmana Pandya tersenyum, kemudian ia memakai topengnya. Dan hal itu membuat mata Jendral Tapak Dewa terbelalak dan energi besar keluar dari tubuhnya .
"Ba-bagaimana bisa kekuatanmu meningkat sepesat ini dalam waktu beberapa bulan saja!" Ucap terkejut, namun masih terlihat acuh tak acuh mengenai kekuatan Lasmana Pandya yang meningkat.
"Itu rahasia, dan karena kau sudah tiba itu bearti kamu telah menyetujui tantanganku bukan?" Tanya Lasmana Pandya tidak memakai topengnya dan terbang dihadapan Jendral Tapak Dewa.
"Heemm. Meskipun kau jenius yang baru pertama kali ini aku lihat, namun sayangnya kekuatanmu masih belum cukup mengimbangi ku, panggil tujuh bawahan hewan jelekmu itu atau kau mati dengan penyesalan yang tinggi!" Ejek Jendral Tapak Dewa.
"Ingatlah kesombongan dapat menjadi malapetaka, sekarang tunggu apa lagi, mari kita bertempur!" Balas sengit Lasmana Pandya menyerang kearah Jendral Tapam Dewa.
__ADS_1
Dhuuuuuuaar!
Dua tapak tangan bertemu, menimbulkan daya kejut yang menghasilkan luapan energi besar kesegala penjuru. Hal itu membuat para penonton mundur dari tempat mereka.
Setelah pertukaran awal serangan, Lasmana Pandya terhuyung sepuluh meter kebelakang sambil merasakan seluruh tubuhnya yang mati rasa. Dan reaksi Jendral Tapak Dewa menjadi keheranan karena itu.
"Ba-bagaimana bisa!" Ucapnya.
"Tentu bisa, lagian aku hanya menggunakan kekuatan fisikku saja," ucap santai Lasmana Pandya.
"..." Jendral Tapak Dewa kini mulai sadar, entah kualitas tulang, dan darah Lasmana Pandya sudah berada ditingkat tertinggi.
Karena itu, kini ia tak segan melepaskan aura Kultivasinya dibarengi dengan serangan tapak tangan dari kehampaan yang memborbardir kearah Lasmana Pandya.
Swuuuuush!
Lasmana Pandya mengerahkan seluruh kekuatannya juga, pedang Sangka Geni, dan armor Geni Danyang aktif. Setelah itu, Lasmana Pandya menyabetkan pedangnya kearah puluhan tapak tangan yang kini melesat kearahnya.
Dhuuuuuaar! Dhuuuuuaar! Dhuuuuaar!
Bagaikan sebuah kembang api yang meledak diatas langit. Ledakan suara yang dihasilkan bagaikan sebuah petir besar yang sedang mengamuk diatas langit.
Kini Lasmana Pandya terhuyung lima langkah kebelakang akibat luapan energi besar yang saling bertabrakan itu. Keduanya saling pandang dengan tatapan tajam, bagaikan dua elang yang sedang memperebutkan wilayah mereka masing masing.
Swuuuush! Swuuuuush!
Keduanya melesat, setelah itu mereka mulai bertukar serangan. Lasmana Pandya menggunakan pedangnya, sedangkan Jendral Tapak Dewa menggunakan tangan kosongnya.
Keduanya bertukar serangan dengan setiap tenaga yang dikeluarkan sangat besar. Sehingga suara ledakan dan daya kejut terus terjadi diatas langit kerajaan Sangsakerta. Dendam keduanya masing masing membuat pertempuran menjadi sangat kacau.
####
__ADS_1