
Setelah pesanan Lasmana Pandya tiba dihidangkan, kedua alis Bumi Arta menyatu karena mencium aroma menyengat dari dua guci arak yang ada didepannya.
"Tu-tu..."
"Panggil saja namaku Pandya jika berada ditempat umum seperti ini," ucap potong Lasmana Pandya.
Bumi Arta terdiam, namun karena ia penasaran segera menanyakan minuman apa yang kini sedang dituangkan oleh Lasmana Pandya.
"Pandya, ini minuman apa?" Bumi Arta bertanya karena rasa penasarannya.
Kini giliran kedua alis Lasmana Pandya yang menyatu mendengar pertanyaan Bumi Arta.
"Senior ini arak, minuman ini mengandung alkohol, jika dikonsumsi berlebihan maka kita bisa mabuk."
Penjelasan Lasmana Pandya membuat Bumi Arta kebingungan.
"Minuman manusia memang aneh aneh," ucap dalam hati Bumi Arta kemudian mencoba minuman tersebut.
"Akkhhh! Panaaas! Tak..." Ucap terhenti Bumi Arta karena seketika semua pelanggan heran melihatnya.
Begitu juga Lasmana Pandya, kini ia menghela napas panjang.
"Senior sepertinya anda belum mengetahui arak...," Ucap lirih Lasmana Pandya.
Bumi Arta hanya menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, karena apa yang diucapkan oleh Lasmana Pandya memang kebenarannya.
"Ciiih! Baru tau kali ini melihat seorang lelaki tua yang tidak tahu arak!" Meja sebelah seorang pemuda berpakaian bangsawan meludah melihat kebodohan kakek tua yang tak lain Bumi Arta.
Lasmana Pandya hanya diam, dan melanjutkan menyesap araknya.
"Senior, jika anda tidak menyukainya maka kedua daging jadi milik anda," ucap Lasmana Pandya terus melanjutkan minumnya.
Bumi Arta mengangguk, namun setelah lima belas menit menghabiskan makanannya, ia kembali penasaran saat melihat semua pelanggan menikmati arak dengan tenang serta santai. Bahkan diantara mereka seperti tidak terpengaruh oleh rasa panas yang ada di tenggorokan, serta perut mereka.
"Tu... Pandya, apakah aku boleh merasakan kembali arak? "
Tanpa membalas, Lasmana Pandya menuangkan sedikit arak kedalam gelas milik Bumi Arta. Lagi dan lagi, Bumi Arta masih belum bisa menikmati pait, serta panasnya arak didalam tubuhnya, sehingga pelanggan yang melihatnya banyak yang mengolok olok Bumi Arta.
Namun Lasmana Pandya masih bersikap tenang, hingga satu jam kemudian, Bumi Arta yang mabuk mulai meracau tidak jelas. Sehingga pemuda yang tak lain Kaman Danu, yang awal mengejek Bumi Arta mulai menunjukan kesombongannya.
"Saudara sekalian! Sepertinya kakek tua ini benaar benar belum pernah mabuk, hingga hanya beberapa gelas meneguk arak kakek tua bau tanah ini mulai meracau seperti orang gila."
__ADS_1
Ucapan Kaman Danu membuat gelak tawa didalam penginapan sekaligus kedai tersebut menjadi pecah. Namun Lasmana Pandya masih bersikap tenang, berbeda dengan Bumi Arta yang wajahnya sudah memerah.
"Hei bocah cilik! Aku masih kuat minum beberapa gelas lagi!" Bumi Arta menggertak sambil menuangkan arak yang tersisa kedalam gelasnya.
*****
Seorang wanita cantik bernama Ling Yun pemilik penginapan Bunga Persik kemudian terlihat menaikan alisnya.
"Apa ada pendekar muda dipulau ini yang sudah naik tingkat Langit Dua?" Tanya keterkejutan Ling Yun.
"Tuan putri ini benar, dia juga bersama seorang kakek tua yang memiliki rembesan aura Naga didepannya, namun kami tidak bisa mengukur ranah Kultivasinya." Ucap seorang pengawas penginapan.
"Lalu apa masalahnya?" Tanya Ling Yun.
Pengawas tersebut mulai menceritakan bahwa kelompok Kaman Danu yang kini mulai mengejek sosok tersebut. Dan parahnya Kaman Danu hingga kini tak berhenti mengolok keduanya.
"Tetap awasi, jika hanya pemuda itu saja mungkin tidak terlalu bermasalah untuk menyingkirkannya, namun kakek tua itu sepertinya bukan manusia, melainkan Hewan Iblis, atau Suci yang telah berevolusi." Ling Yun memberikan perintah sekaligus peringatan kepada bawahannya.
"Baik Tuan Putri!"
Melihat kepergian anak buahnya, Ling Yun menghela napas panjang.
***
"Kakek bau tanah! Minumlah lagi! Dasar pengecut!" Kaman Danu terus memprovokasi Bumi Arta.
Mendengar kata kata pengecut, tadinya Bumi Arta yang tidak menganggap serius semua olokan Kaman Danu menggebrak mejanya.
Dhuuuuaar!
"..." Lasmana Pandya menepuk bahu Bumi Arta untuk tetap tenang.
"Apakah kamu tidak memiliki sopan santun sama sekali?" Tanya Lasmana Pandya santai.
"Hahahaha!" Seluruh pelanggan tertawa keras mendengar hal tersebut.
"Tuan muda, dia benar benar menganggap keberadaan mereka tinggi, sehingga mereka berdua tidak mengenal anda," ucap rekan Kaman Danu.
Kaman Danu pun menunjuk wajah Lasmana Pandya.
"Hei pemuda bertopeng, apakah wajahku terlihat peduli?"
__ADS_1
"Peduli atau tidaknya itu hakmu, namun yang perlu diluruskan adalah sikapmu yang seharusnya menghormati orang yang lebih tua."
"Hahahaha aku seorang anak Walikota Banyu Biru menghormati kalian? Apakah pantas? Seharusnya kamu tahu perbedaan antara terhormat dan terhina...," Ucap dingin Kaman Danu.
"Oooh bagus sekali, ternyata walikota Banyu Biru tidak pernah mengajari anaknya sopan santun, kini aku yang akan mengajarimu sopan santun agar kamu tahu menghormati orang lain itu perlu, meskipun mereka orang hina sekalipun."
Swuuush! Kraaaack!
Begitu ucapan Lasmana Pandya terhenti, Bumi Arta yang telah mabuk tinggi, segera melesat dan mematahkan pergelangan lengan Kaman Danu. Kecepatannya yang sangat cepat membuat semua orang bisa bergidik ngeri setelah melihat tangan Kaman Danu yang tidak bisa digerakkan.
"Ta-tanganku!" Teriak Kaman Danu.
Swuuuush! Swuuuush!
Puluhan sosok pria berbaju pelayan penginapan Bunga Persik muncul didepan Kaman Danu yang membuat Bumi Arta mundur kesamping Lasmana Pandya dengan sempoyongan.
"Berhenti jangan membuat kekacauan ditempat kami!" Ucap salah satu penjaga penginapan.
Lasmana Pandya masih bersikap tenang saat melihat puluhan sosok pria paruh baya yang tidak bisa ia ukur ranah Kultivasinya berdiri didepan Kaman Danu, seperti melindunginya.
"Kalian penjaga penginapan Bunga Persik?" Tanya Lasmana Pandya.
"Benar! Karena kalian telah membuat kesalahan melakukan tindakan terlarang dipenginapan ini, maka kalian harus membayar denda!" Ucap penjaga itu menunjuk Lasmana Pandya dan Bumi Arta.
"Apa hanya denda! Apakah usaaha kalian ingin dihancurkan oleh ayahku! Lihatlah tanganku yang patah ini!" Maki Kaman Danu yang merasa tak adil.
"..." Penjaga yang berbicara itu hanya terdiam, namun ia masih ingat ucapan Ling Yun untuk tetap berhati hati.
"Tuan bagaimanapun rekan anda telah merusak meja penginapan kami, dan anda berani melukai pelanggan setia kami, jadi lebih baik anda membayar denda atau..." Ucap seorang wanita yang tak lain Ling Yun turun dari anak tangga, namun seketika langkahnya terhenti setelah merasakan aura Naga yang sangat pekat keluar dari kakek tua disamping Lasmana Pandya yang berdiri dengan sempoyongan.
"Tuan muda, biarkan aku yang mengurus mereka dan memakan mereka hidup hidup, mereka sungguh membela orang yang salah!" Ucap Bumi Arta menunjuk para penjaga dan menatap tajam Kaman Danu.
Lasmana Pandya hanya menepuk bahu Bumi Arta untuk tetap tenang.
"Baik aku akan mengalah berapa denda yang harus aku bayar?" Tanya Lasmana Pandya.
Merasakan tidak ada tindakan aura Naga dari kakek tua, Ling Yun menjadi kebingungan, karena jika ia mematok harga murah bisa bisa ia yang harus mengganti kerugian pada Kaman Danu.
"Satu juta kristal jiwa!" Timpal Kaman Danu sambil menahan rasa sakit dilengannya.
#####
__ADS_1