
Lasmana Pandya melirik Yang Lie, dan Langit secara bergantian.
"Senior, Yang Lie, jaga diri kalian baik baik," ucap Lasmana Pandya yang dijawab hanya anggukan kepala saja.
Swuuuush!
Lasmana Pandya segera memasuki portal, sekedipan mata, tubuhnya menghilang dibarengi dengan pudarnya portal dimensi. Langit serta Yang Lie akhirnya pergi dari tempat terlarang itu.
***
Sedangkan Lasmana Pandya tiba disebuah tempat kuno yang memiliki energi yang sangat padat.
"Energi disini lebih kuat dibandingkan dengan energi di Dunia nyata," ucap kagum Lasmana Pandya.
"Tuan muda, lebih baik anda memulihkan energi Qi yang telah terkuras habis selama pertarungan malam tadi."
Tanpa membantah, Lasmana Pandya segera duduk bersila dan memadatkan energi langit itu menjadi energi Qi sebagai kekuatan utamanya. Selang beberapa jam telah memulihkan energi Qinya, Lasmana Pandya membuka matanya dan bertanya pada Sena.
"Sena, bagaimana caranya aku mengetahui keberadaan kitab terlarang itu jika dunia yang kupijaki sebesar ini...," ucap lirih Lasmana Pandya.
"Tuan muda tenanglah, meskipun dunia ini lebih besar dari Dunia Pembunuh milliku, setidaknya dunia kecil ini menyimpan banyak jutaan sumber daya yang berharga. Tak hanya itu saja, mungkin beberapa pusaka tingkat Dewa tersimpan di dalam dunia ini," Sena menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
Lasmana Pandya yang ingin menjadi kuat dari yang terkuat pun membulatkan tekadnya. Bahkan jika apa yang dikatakan Sena adalah kebenaran, ia takan menyerah mencari sumber daya disegala titik sudut dunia yang ia pijaki saat ini.
Saat akan melanjutkan pencariannya, tiba tiba Lasmana Pandya sadar akan sesuatu.
"Sena dari semua perjalanan, sepertinya kamu telah mengetahui banyak hal, sebenarnya kamu ini apa?" Lasmana Pandya melesat sambil bertanya pada Sena dipikirannya sendiri.
"Tuan muda, aku sama halnya dengan anda, dan tentunya anda sudah mengetahui latar belakangku, serta kejadian pahit yang menimpaku di Dunia Pembunuh waktu lalu," ucap Sena menjelaskan.
"Benar memang aku mengetahui cerita itu, namun dari sudut pengetahuanmu tentang racun yang dimiliki Ao Tian, serta kamu menyebutkan bahwa dunia ini milik Kamandaka itu benar benar membuatku berpikir bahwa kamu sebenarnya bukan roh biasa yang hanya bergentayangan disekitar pusaka yang kamu diami," ucap Lasmana Pandya sambil sedikit bercanda.
"Hahaha tuan muda, bawahan ini tidak ingin sombong, dahulu sejak aku hidup ratusan ribu tahun ... Ehh tidak tidak, melainkan jutaan tahun yang lalu, dimana para Kultivator pada jaman itu sangatlah kuat, hanya saja mereka haus akan kekuasaan, menghapus Klan, Kekaisaran, Kerajaan dan bahkan kami tidak bisa hidup dengan tenang karena tiap Kultivator hebat selalu menunjukan gigi mereka. Namun seiring berjalannya waktu, Kultivator dipuncak ranah telah tiada karena pertempuran itu, hingga menyisakan ratusan orang saja hingga saat ini, dan kami tidak termasuk ratusan orang tersebut. Dan mengenai diagram kuno, aku mengenalinya karena dia teman lamaku." Sena menjelaskan panjang lebar.
Lasmana Pandya tiba tiba berkeringat dingin mendengar cerita tersebut. Ilmu meringankan tubuhnya pun ia hentikan sambil memikirkan jutaan tahun lalu yang menyeramkan itu, tak mungkin peristiwa pembantaian tidak akan terjadi pada masa itu.
"Apa! Jika kau mengatakan ini kebenarannya, maka sama saja kau menyuruhku mencuri dikandang harimau yang sedang tertidur bukan!" Lasmana Pandya membentak didalam pikirannya sendiri.
Sena yang mengetahui reaksi Lasmana Pandya hanya menahan tawanya.
"Tenanglah tuan muda, bukankah dia temanku?" Sena mencoba meyakinkan Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya sedikit lega kembali mendengar penjelasan itu, namun tetap saja ia tak bisa habis pikir bagaimana seorang dapat hidup jutaan tahun lalu, hingga saat ini Sena mengatakan Kamandaka masih hidup didunia kecil ini.
__ADS_1
Swuuuush!
Pada akhirnya Lasmana Pandya melanjutkan perjalanannya kearah Utara dunia kecil milik Kamandaka itu, didalam perjalanan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Sena juga mulai memberikan pengetahuan tentang dirinya yang dianggap sebagai Dewa Pembunuh, dan lawan bebuyutannya yang juga bisa dikatakan saat ini masih hidup, memiliki julukan Dewa Iblis.
Didalam cerita itu, Sena menjelaskan secara terperinci hingga ia dan Ying Lian memutuskan menjadi sebuah roh pusaka karena kekalahan mereka melawan musuh bebuyutan. Sena pun menjelaskan di pulau Jawa dinyatakan ilmu alkhemist telah menghilang, dan hanya beberapa pendekar tua saja yang mengetahui Pill, karena itu Kultivator di pulau Jawa kalah dari segi kekuatan.
Ia juga menjelaskan hal lain kenapa ia mau menjadi roh pusaka, tak lain ia ingin memastikan Dewa Iblis tidak membuat onar di Pulau Jawa. Singkatnya ia yang telah berwujud pusaka dibawa oleh pendekar yang lumayan hebat, dan meminta pada pendekar itu agar pusaka yang ia diami diberikan pada salah satu pendekar asli tanah Jawa yang tak lain Joko Dwi Permana. Dan yang ketrakhir diwariskan pada Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya akhirnya merasa bosan dalam pencarian sumber daya yang dimiliki Kamandaka, namun Sena dan Ying Lian meminta Lasmana Pandya untuk tidak menyerah dalam pencarian sumber daya yang mungkin dapat digunakan Lasmana Pandya kelak.
Saat ini hanyalah sebuah hutan lebat yang ia terus jalani, tidak menemukan apapun selain pohon, dan rerumputan.
"Sena aku sungguh bosan, lihatlah disepanjang jalanan ini aku bahkan tidak menemukan satu hewanpun."
"Tuan muda bersabarlah," balas Sena.
****
Disuatu tempat didalam dunia itu, sosok kakek tua berbaju lusuh yang telah melakukan meditasi selama jutaan tahun membuka matanya.
"Seorang bocah dapat memasuki duniaku?"
__ADS_1
####