Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Keberhasilan menggabungkan iblis jiwa.


__ADS_3

"Aahh benarkah seperti yang kau bicarakan?" Tanya Lasmana Pandya menghilang lalu muncul tepat dibelakang iblis hati melepaskan serangannya.


Dhuuuuuaar!


Iblis hati terpental, Lasmana Pandya kemudian membuat segel kematian.


"Segel Kematian!"


Swuuuuung!


Tidak hanya satu segel saja yang mengekang iblis hati, melainkan sepuluh segel kematian yang sekaligus mengekang tubuh iblis hati.


"Arrrgghh! Kau berbuat curang!" Bantah iblis hati yang tidak bisa bergerak.


Lasmana Pandya hanya menyunggingkan senyumnya setelah itu ia kembali merapal mantra yang membuat jeruji besi api kembali muncul menutup segel kematian miliknya.


Ribuan sajak atau tulisan kuno muncul, dibarengi terbakarnya jeruji besi. Hal itu membuat Lasmana Pandya tersenyum kemenangan. Karena saat ini kekuatan apinya sedang melahap menyatukan kekuatan iblis hati dengan kekuatan alam yang dimiliki oleh tubuhnya.


"Sudah saatnya memulai penyatuan," gumam Lasmana Pandya kemudian duduk bersila.


Swuuuuuuung!


Tidak disangka, tadinya hanya ada satu lingkaran dibelakang tubuhnya kini bertambah satu lingkaran lagi, namun yang membedakan lingkaran yang baru muncul itu terlihat tulisan aksara atau sajak kuno ditengah tengah lingkaran.


Swuuuuuuung!

__ADS_1


"Akkkkkkhhh!" Pekik iblis hati didalam segel disaat penyatuan dimulai.


Perlahan, asap kehitaman yang tak lain berasal dari tubuh iblis hati menyebar dari dalam jeruji ke segala arah yang dibarengi dengan teriakan sang iblis hati.


"Kau benar benar bocah tak tahu diri!"


Lasmana Pandya hanya terus memfokuskan untuk penyatuan kekuatan iblis hatinya, hingga dua jam proses penyatuan. Tiba tiba suara teriakan iblis hati menghilang dibarengi dengan lenyapnya seluruh segel. Namun yang membuat bibirnya kini tersenyum adalah tiba tiba tubuhnya merasakan akan menerobos ketingkat Saints Glory dua.


Swuuuuuush!


Dengan cepat Lasmana Pandya kembali mengendalikan tubuhnya dan mengedarkan teknik kultivasi Dewa Pembunuhnya.


Tiga hari kemudian, entah kekuatan apa yang membuat Dantiannya terasa penuh akhirnya melepaskan sebuah penghalang yang membatasi tingkat kultivasi.


Baaaaaaams! Swuuuuuush!


"Sinar apa itu!" Ucap mereka bergidik ngeri dibuatnya.


Lasmana Pandya belum menyadari apa yang telah terjadi, karena saat ini ia segera menaburkan jutaan kristal jiwa untuk memperkuat tubuhnya.


Di Utara desa terpencil tanah Jawa.


Prabu Rojo Boyo juga melihat sinar merah kehitaman menembus langit malam yang membuat fenomena aneh terjadi.


"Tidak mungkin bukan sinar itu dimiliki oleh bocah yang telah kujadikan murid," gumamnya.

__ADS_1


Swuuuuush! Swuuuuush!


Dibarengi dengan gumaman Prabu Rojo Boyo, tiba tiba Dwi Nyi Wulandari muncul dengan wajah khawatir.


"Kakak siapa yang telah melatih aliran silat milik guru?" Tanya Dwi Nyi Wulandari sedikit panik.


"Adik seperguruan, dia murid yang baru aku angkat beberapa hari lalu. Tapi ini melebihi ekspektasi ku," ucap serius Prabu Rojo Boyo.


"Maksud kakak?"


Prabu Rojo Boyo kemudian menjelaskan tentang pertemuannya yang sedang mengasingkan diri.


"Tapi bukankah setelah kematian guru kita berjanji untuk tidak ikut serta dalam urusan apapun di dunia ini?" Tanya Dwi Nyi Wulandari.


"Aku tadinya hendak menolak permintaannya, tapi tekad dan keteguhan ambisinya sangat kuat, bahkan serangan darah Pamungkas ku mampu dia tahan selama lima puluh menit," ucap Prabu Rojo Boyo membuat Dwi Nyi Wulandari terkejut setengah mati.


"Bahkan jika itu aku, pasti sudah mati setelah menahan lima menit serangan kakak," jawab Dewi Nyi Wulandari serius.


Yang menjadi masalah bukan hal itu, sinar merah kehitaman merupakan auranya yang telah bergabung dengan dua kitab pemberian Prabu Rojo Boyo. Dan hal itu yang bisa melakukan penggabungan dua kitab hanya gurunya saja, sedangkan asal usul sekte mereka yang berbeda akibat mereka hanya bisa mempelajari salah satu kitab.


Prabu Rojo Boyo menjelaskan semua sifat Lasmana Pandya yang ia ketahui selama ujian yang ia berikan. Dan ia juga mengatakan, setelah mempelajari beberapa jurus darah lainnya Lasmana Pandya cepat atau lambat dapat menemukan mereka. Karena itu ia dan Nyi Wulandari merundingkan untuk menjadikan Lasmana Pandya menjadi ketua sekte serta menggabungkan kedua sekte menjadi satu seperti dahulu kala. Tentu hal itu disetujui oleh Dewi Nyi Wulandari, namun karena mereka belum mengenal sifat asli sosok Lasmana Pandya, mereka akan kembali menguji Lasmana Pandya.


Tujuh hari berlalu, jutaan kristal jiwa telah melebur menjadi debu dibarengi dengan hilangnya sinar merah kehitaman yang merobek celah dimensi.


"Sudah saatnya mempelajari jurus yang ada," gumam Lasmana Pandya kemudian kembali membaca kitab pemberian kakek misterius dipikirannya sendiri.

__ADS_1


Satu jam mempelajari jurus itu, ia akhirnya dapat memahaminya dengan cepat.


"Heeem ternyata tiga jurus ini pengendali darah," ucap Lasmana Pandya tersenyum dan setelah itu ia menebak sosok kakek misterius yang telah memberinya kitab tersebut.


__ADS_2