
"Ta-tapi bukankah aku berhasil mengembalikan taruhannya? Dan mereka ..."
"Gege kau..." Yang Lie hanya bisa menunjuk wajah Lasmana Pandya dengan tangannya.
Lasmana Pandya kembali meminta maaf, dan Yang Lie mulai meredakan amarahnya, setelah itu keduanya kembali melesat kearah selatan yang nantinya mereka akan bertemu kota Larangan. Satu jam melewati hutan, dan selama perjalanan mereka tak menemukan sedikitpun masalah, akhirnya keduanya tiba di kota Larangan. Beberapa warga, dan Kultivator tanah Jawa terlihat keluar masuk kota Larangan.
"Gege kota ini sungguh indah, meskipun kota kenapa didalamnya terlihat seperti hutan yang lebat?" Yang Lie bertanya kepada Lasmana Panya dengan wajah penasarannya.
Lasmana Pandya yang baru kali ini keluar dari kerajaan Sangsakerta, dan belum memahami konsep kota Larangan hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Tuan mohon identitasnya," ucapan seorang penjaga gerbang menghentikan langkah Lasmana Pandya, dan Yang Lie. Namun tatapan mereka tidak menunjukan keramahan mereka sama sekali.
"Maaf tuan, kami belum memiliki identitas, karena kami berdua dari desa terpencil di sudut Jawa ini," balas Lasmana Pandya sopan.
"Baik jika begitu bayar kepada kami sepuluh kristal jiwa untuk satu orang sebagai syarat memasuki kota ini." Menggunakan tatapan acuh tak acuhnya penjaga itu mengulurkan tangannya.
Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia mengeluarkan dua puluh kristal jiwa dari cincin ruangnya.
Setelah memasuki kota, mereka berdua berjalan beriringan dengan wajah santai. Suasana hutan didalam kota membuat ketenangan hati keduanya menjadi lebih nyaman. Bahkan melihat banyaknya rumah yang berada diatas pohon membuat mereka berdua terkagum kagum.
"Jika di dalam kediamanku terdapat rumah pohon seperti ini mungkin aku sangat nyaman," gumam lirih Yang Lie.
"Yang Lie, apa yang kau pikirkan?" Lasmana Pandya bertanya karena sedikit mendengar gumaman Yang Lie.
"Tidak Gege, aku hanya mengagumi konsep kota ini," ucap Yang Lie.
Lasmana Pandya mengangguk, mereka berjalan terus sambil mengagumi konsep yang dibuat oleh kota Larangan, namun wajah penasaran Lasmana Pandya diperlihatkan.
"Kenapa banyak sekali Kultivator berkulit putih," gumaman Lasmana Pandya yang merasa janggal.
Karena pada dasarnya kota Larangan merupakan salah satu kota yang masih berada di wilayah kerajaan Sangsakerta. Karena ia penasaran ia segera mencari kedai restoran bersama Yang Lie.
Sesampainya.
__ADS_1
"Perlu diselidiki," gumam Lasmana Pandya yang benar benar tidak melihat satupun Kultivator tanah Jawa, yang memiliki keistimewaan kulit coklat maupun sawo matang.
"Tuan, aku memesan satu guci arak dan dua makanan istimewa dikedai ini," ucap Lasmana Pandya pada salah satu pelayan.
Pelayan itu dengan cepat mengangguk dan kembali ketempatnya berada. Kini bola mata Lasmana Pandya bergerak kesana kemari menatap para pelanggan dengan tatapan tajam. Sedangkan para pelanggan lainnya hanya bersikap biasa saja, seperti tidak menganggap Lasmana Pandya sebagai ancaman mereka sama sekali.
Makanan pun tiba, dan keduanya, serta tentunya Yang Lie juga heran kejanggalan yang ada dikota Larangan mencoba bersikap tenang, tidak mempertanyakan kejanggalan itu, namun ia tahu pemuda bertopeng yang selama ini ia ikuti mencoba menyelidikinya.
"Yang Lie makanlah," ucap Lasmana Pandya kemudian bersikap santai sebagai mana layaknya seorang pendatang kota.
Saat akan membayar semua makananya, Lasmana Pandya memiliki sebuah rencana pada pikirannya.
"Tuan muda, harga pesanan anda seratus kristal jiwa."
"Seratus kristal jiwa? Bukankah ini sebuah harga fantastis untuk tiga porsi ayam hutan panggang beserta satu guci arak?" Lasmana Pandya bertanya dengan tenang.
"Jika tak sanggup membayarnya kenapa anda memasuki restoran ini." Tatapan tajam sang pelayan kearah Lasmana Pandya.
"Setauku di Pulau Jawa tidak ada harga makanan se-fantastis itu, apakah anda baru membuka kedai ini," ucapan Lasmana Pandya membuat sang Pelayan tiba tiba mengeluarkan aura Kultivasinya ditingkat Emas tingkat lima.
"Kenapa anda semua menunjukan ketidak senangan kalian? Bukankah memang harga makanan dan minuman yang aku pesan setidaknya seharga tiga puluh keping kristal jiwa?" Sikap santai Lasmana Pandya merasakan semua yang ada didalam resto mengedarkan kekuatan mereka.
Yang Lie yang memiliki pikiran sama dengan Lasmana Pandya akhirnya ikut mendebat harga fantastis itu, meskipun baginya ratusan kristal jiwa tidaklah mahal, bahkan jutaan kristal jiwa baginya.
"Hahaha prajurit tangkap dan masukan pemuda serta pemudi ini kedalam penjara kota!" Tanpa basa basi pelayan itu menyuruh para pelanggannya untuk menangkap keduanya.
Lasmana Pandya tak menyangka provokasinya berhasil berjalan dengan mulus, bahkan menurutnya provokasi itu tak sebesar kentut yang biasa mereka bunyikan.
Swuuuuush! Swuuuush!
Puluhan para pelanggan melesat kearah Lasmana Pandya dan Yang Lie, Lasmana Pandya mendorong lembut Yang Lie agar tidak terkena dampak pertarungan mereka.
Serangan puluhan tinju yang disarangkan kearah tubuh Lasmana Pandya segera ia hindari dengan cepat.
__ADS_1
Braaaaak! Kraaaack!
Suara kerusakan barang didalam kedai mulai terdengar, Lasmana Pandya yang berpura pura membela diri terus menghindari serangan puluhan pelanggan itu.
Dhuuuaar!
Sebuah hantaman telak tiba dipunggung Lasmana Pandya oleh pelayan yang tadi berdebat, Lasmana Pandya yang berakting pun membiarkan punggungnya sebagai sasaran, serta berpura pura terluka sambil terpental.
Melihat ketidak berdayaan pemuda itu, para pelanggan dan pelayan kedai tersenyum penuh kemenangan.
"Cepat segera masukan kedalam penjara kota, anak muda siapa suruh anda mencoba memprovokasi kami...," Pelayan itu berucap dingin dengan tatapan tajamnya.
Lasmana Pandya yang berakting untuk mencari kejanggalan yang terjadi hanya membiarkan dirinya terikat oleh sebuah tali kuat. Yang Lie pun sama membiarkan tubuhnya terikat oleh tali, meskipun ia tahu betul tak mungkin Lasmana Pandya menyerah begitu saja, sehingga ia tak menunjukan rasa takut diwajahnya.
Sesampainya dipenjara kota.
"I-ini..." Lasmana Pandya membelalakan matanya.
"Kenapa berhenti cepat ikuti kami!" teriak salah satu pelanggan yang mendorong Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya akhirnya mengembalikan sikapnya, dan menstap Yang Lie dengan tatapan tenangnya.
Setelah dimasukan kedalam penjara. Dan pelanggan yang memasuki kota
"Yang Lie, maafkan aku yang membiarkanmu masuk kedalam penjara, saat ini aku ingin mengetahui apa yang terjadi didalam kota ini," penjelasan Lasmana Pandya.
Yang Lie hanya mengangguk, setelah itu Lasmana Pandya memberikan rencananya pada Yang Lie. Setelah membuat boneka jerami dan memakaikan pakaian yang sama digunakan oleh Lasmana Pandya, Lasmana Pandya menatap para tahanan penjara dengan tatapan muram.
Klaaaaang!
Pengunci penjara meleleh saat Geni Danyang merusaknya, setelah itu Lasmana Pandya memasuki penjara lainnya dan bertanya pada tahanan yang semuanya adalah penduduk kota Larangan. Setiap informasi demi informasi ia dapatkan.
Matanya yang tajam menatap kearah pintu penjara dengan tatapan membunuh, dengan jelas kini ia dapat mengetahui alasan penduduk kota ditahan dipenjara.
__ADS_1
"Jadi mereka datang hanya ingin mengambil kitab terlarang yang dimiliki leluhur ini?"