Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Shu Yin kembali Ke Klan.


__ADS_3

Seketika, mereka semua heran dengan raut wajah keterkejutan Hong Xiao.


"Jendral Xiao, apa ada yang salah?" Tanya Hong Fai.


"Yang Mulia aku hanya tidak menyangka bahwa aku masih bisa menghirup udara segar setelah melewati banyak rintangan untuk kembali," ucap Hong Xiao berpura pura.


"Baiklah lebih baik kau beristirahat, dan untuk masalah anak, serta masalahmu dengan She Pian, dan sosok aneh itu aku akan segera menyeledikinya," ucap Hong Fai.


"Yang Mulia aku sungguh berterimakasih," ucap lemas Lasmana Pandya.


Hong Fai tersenyum, dan kemudian ia menyuruh seluruh orang untuk keluar dari kamar Hong Xiao. Setelah melihat kepergian mereka, Lasmana Pandya mencoba duduk dan memikirkan apa yang harus ia rencanakan terhadap Shu Yin.


"Aku saja belum menikah, bagaimana ini..." Ucap risau Lasmana Pandya.


Tak berselang lama, Lasmana Pandya yang memikirkan rencana terhadap Shu Yin di kejutkan oleh suara gelas pecah didalam ruangan lain.


Swuuuush!


Lasmana Pandya tanpa permisi memasuki ruangan itu, dan terlihat Shu Yin akan meminum sebuah pill perusak organ dalam.


"Jangan!" Ucap panik Lasmana Pandya kemudian menghentikan tindakan Shu Yin.


"Sa-sayang untuk apa aku hidup jika anakku telah mati! Dan untukmu sebagai seorang ayah bagaimana caramu bertanggung jawab atas kematian anakku!" Ucapnya sambil menangis.


Lasmana Pandya yang sedang menyamar terdiam, meskipun sosok anak Hong Xiao termasuk anak yang sembrono, dan memiliki sifat yang kurang baik. Bagaimanapun sosok ibu atau lebih tepatnya orang tua yang melahirkan tentu sangat menyayanginya lebih dari siapapun.


"Sa-sayang maafkan aku..." Ucap Lasmana Pandya. Namun disetiap kata katanya terdengar kaku.


Shu Yin yang sudah terlarut dalam kesedihannya segera merangkul tubuh Lasmana Pandya. Sontak Lasmana Pandya sangat terkejut, wajahnya menegang. Apalagi saat merasakan dua benjolan menyentuh dadanya terasa sangat jelas.


Dimasanya kini yang telah menginjak kedewasaan membuat sebuah senjata pamungkasnya berdiri.


"Astaga apa apaan ini!" Ucap Lasmana Pandya panik.


Tidak lama, setelah itu Lasmana Pandya diam diam mencoba menenangkan pikirannya dengan cara menghela napas dalam dalam.


"Lasmana Pandya jangan karena hal kecil seperti ini kau gagal melakukan penyamaran..." Ucap dalam hati Lasmana Pandya kemudian mencoba membalas pelukan Shu Yin.


Shu Yin yang sedang terlarut dalam kesedihannya sedikit heran dengan tingkat Hong Xiao yang kaku, namun saat ini ia merasakan perasaan asing disaat memeluk Lasmana Pandya.


Setelah beberapa menit berpelukan.


Lasmana Pandya melepaskan pelukannya dan menatap wajah Shu Yin dengan lembut.

__ADS_1


"Shu Yin, tenang saja aku telah membunuh pembunuh anak kita. Karena itu, mungkin anak kita telah tenang dialam sana," ucap Hong Xiao meyakinkan istri Hong Xiao.


Shu Yin mengangguk, setelah itu ia menatap jendela kamar dengan perasaan yang sulit digambarkan.


"Sayang dimana mayat anak kita," ucap Shu Yin.


Lasmana Pandya merubah wajahnya menjadi sedih.


"Sayang kau tentu tahu bahwasanya di Dunia ini mati dengan mayat yang utuh adalah hal yang langka, tentu kau tau itu bukan." Ucap Lasmana Pandya dengan wajah sedih.


Shu Yin mengangguk, air matanya yang masih menetes ia bersihkan menggunakan jari lembutnya. Matanya memerah dengan kebencian yang dalam.


"Sayang apakah kamu tau siapa dalang dibalik pembunuh anak kita...," Ucap Shu Yin dingin.


Swuuung!


Kediaman Hong Xiao seketika bergetar dan aura ranah Glory tiga menyebar.


"Hemmm, ternyata istri Xiao cukup kuat juga," ucap dalam hati Lasmana Pandya.


"Sayang apa ada yang ingin kau sembunyikan dariku...," Ucap Shu Yin dengan tatapan tajam.


Lasmana Pandya menatap tatapan tajam Shu Yin seketika merinding dibuatnya. Bahkan tanpa sadar ia mundur dari tempatnya.


"Wanita bisa selembut kapas, namun jika membuatnya marah ternyata seperti harimau yang sedang kelaparan," ucap dalam hati Lasmana Pandya.


"...."


Lasmana Pandya terdiam, sebuah rencana kembali hadir di pikirannya.


"Sayang sepertinya pembunuh anak kita berasal dari Kekaisaran Yang..." Ucap Lasmana Pandya terpotong.


"Kekaisaran Yang... Sepertinya mereka benar benar ingin mengibarkan tanda peperangan...," Ucap Shu Yin.


"Sayang, malam nanti aku akan kembali ke Kekaisaran Yang untuk pergi ke Klan Shu menyampaikan berita ini pada ayah, aku pastikan dendam ini akan terbalas cepat atau lambat..." Ucap Shu Yin dengan mata berapi api.


Lasmana Pandya terdiam, dari ingatan Hong Xiao, ayah Shu Yin adalah patriak keluarga Shu yang memiliki kekuatan puncak. Karena itu harapannya membuat kekacauan di Negeri Tirai Bambu benar benar akan pecah.


"Sayang ta-tapi..."


"...." Shu Yin hanya diam dan segera menyiapkan pakaiannya.


Melihat kemarahan terus melanda dihati istri Hong Xiao. Lasmana Pandya kemudian kembali kekamarnya untuk melakukan pelatihan tertutup.

__ADS_1


Sesampainya.


Swuuuuush!


Lasmana Pandya memasuki cincin waktunya dan segera terkejut meliha hamparan lapangan luas tanpa ujung.


"I-ini..." Ucap terkejut Lasmana Pandya.


Swuuuuush! Swuuuush!


Satu ekor naga air muncul bersama elang berbulu emas yang masih berukuran satu meter.


"Siapa kamu...," Ucap dingin Yue Yang.


Lasmana Pandya yang masih terkejut segera merubah wajahnya kembali. Dan seketika Yue Xong terkejut.


"Tu-tuan muda maafkan kelancangan kami," ucap Yue Xong hormat berubah menjadi manusia.


Sedangkan elang berbulu emas yang diberi nama Langit Swarga hanya menundukan kepalanya sebagai tanda hormat.


"Langit Swarga," ucap ramah Lasmana Pandya menghampiri elang berbulu emas tersebut.


Setelah berada didepannya, Lasmana Pandya membelai lembut bulu Langit Swarga yang terlihat salah tingkah.


"Tenanglah Langit, aku tidak akan menyakitimu..." Ucap Lasmana Pandya tersenyum terus membelai bulu emas Langit Swarga.


Seketika ia teringat dengan telur yang diberikan pada Yang Lie. Apakah elangnya sudah menetas dan telah menjadi elang seperti didepannya ini.


Lasmana Pandya yang terhanyut dalam pikirannya segera menatap kearah Yue Yang.


"Tuan," ucap Yue Yang hormat.


"Yue Yang, didalam ini ada banyak sumber daya yang dapat kau gunakan untuk berkultivasi, gunakan dengan baik. Dan jika bisa kamu membangun satu istana besar didalam dunia cincin waktu ini," ucap Lasmana Pandya.


"Baik tuan, tapi untuk istana sepertinya kita membutuhkan banyak pekerja dan banyak bahan yang harus dibeli," ucap Yue Yang hormat.


"Itu urusanku, yang terpenting saat ini kau rawat Langit Swarga dengan baik.


"Baik tuan," ucap Yue Yang.


Swuuuuush!


Lasmana Pandya menghilang kembali kedunia nyata. Dan setelah itu ia termenung sejenak, karena tugasnya ke Negeri ini bukan hanya sekedar mengacaukan, melainkan membunuh Dewa Racun dan mengambil penawar untuk gurunya.

__ADS_1


"Aku harus mencari informasi tempat kuno yang menyimpan harta berharga yang dapat meningkatkan kekuatanku, dengan kekuatanku saat ini tentunya aku masih menjadi semut dihadapan Dewa Racun," gumam Lasmana Pandya.


"Hahahahaha! Kau bodoh apakah kamu melupakanku! Sudah kukatakan waktu lalu, jika kau butuh bantuanku panggil saja aku, setelah itu lawanmu bisa mati dengan tubuh yang tidak utuh!" Ucapnya bangga.t


__ADS_2