
"Aiiish bocah ini, jika tau hal ini akan terjadi aku tidak akan melewati Kerajaan yang didirikan anak buah Yang Lin," gerutu Zhou Botong.
"Gu-guru bukankah kamu juga anak buah ayahku, sekali saja kau membantunya maka aku tidak akan pernah minggat dari sekte milik guru," ucap Yang Lie.
"Haiiish kau ini," hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepalanya karena sebenarnya ia tidak menyukai Kaisar Yang Lin.
"Diam disini ingatlah untuk merahasiakan hal ini pada ayahmu," ucap Zhou Botong membuat perisai menutup tubuh Yang Lie.
Seketika wajah Yang Lie menjadi ceria melihat gurunya ikut turun tangan membantu orang yang ia sayangi setelah ayah dan ibunya sendiri.
****
Lasmana Pandya, dan ketujuh bawahannya menggempur dari segala sisi dengan wajah keseriusannya. Sedangkan Dewa Siluman yang hanya mengerahkan tiga puluh persen kekuatannya mendengus kesal.
"Seandainya aku tidak terluka, pasti satu seranganku dapat membunuh kalian semua!"
Dengan memaksakan kenaikan kekuatannya, Dewa Siluman membuat Lasmana Pandya dan ketujuh bawahannya terpental kesegala arah.
Swooooosh! Dhuuuuaar!
"Gawat kekuatannya tambah besar!" Ucap Lasmana Pandya.
Sedangkan Dewa Siluman yang merasakan perasaan sulit digambarkan ketika memaksa kekuatannya wwjahnya memerah.
"Seharusnya aku bisa pulih dari luka parahku selama satu bulan, tapi kini aku terpaksa dan aku tidak memperdulikan waktu satu tahun aku harus berada dikandangku sendiri!"
Sambil menatap tajam kearah Lasmana Pandya, dan ketujuh bawahannya yang kini telah berkumpul menjadi satu. Melihat kedelapan lawannya telah berkumpul, senyum misterius ia sunggingkan.
"Ternyata kalian ingin mati bersama!" Ucapnya kemudian melepaskan serangan cakarnya bertubi tubi.
Swuuuush! Swuuuush!
"Perisai!" Teriak Lasmana Pandya.
Swuuuung!
Perisai menutup tubuh mereka semua. Dengan menyatukan kekuatan mereka, mereka berharap serangan Dewa Siluman dapat dinetralisir.
"Mati!" Melihat cakarnya akan menabrak perisai gabungan mereka, Dewa Siluman berteriak kesetanan.
"Heeeeempp! Senior yang tidak tahu malu!" Suara menggelegar memenuhi udara.
__ADS_1
****
Sedangkan Kamandaka yang panik melihat bahaya besar menghampiri muridnya akhirnya terkena serangan telak dari telapak tangan yang terbalut racun milik Dewa Racun.
Dhuuuuuaar!
Darah emas yang wangi menyebar diatas langit. Sedangkan Dewa Racun yang berhasil melukai Kamandaka kini semakin percaya diri.
"Hahahaa! Tenang saja kau akan mati bersama mereka saat ini!" Ucapnya sambil melepaskan serangan terkuatnya.
Namun ia segera mengurungkan niatnya setelah mendengar suara yang ia kenali memenuhi udara didalam dunia kecil tersebut.
****
Suara Zhou Botong yang memenuhi udara tak berselang lama sosoknya muncul didepan perisai Lasmana Pandya dengan memutar pergelangan tangannya sambil menyerap serangan cakar Dewa Siluman yang bertubi tubi.
Sleeeeep! Sleeeeep!
Tidak ada bunyi ledakan, hanya ada suara yang tidak pernah terbayangkan oleh mereka.
"Zhou Botong! Apa yang kau lakukan!" Ucap marah Dewa Siluman.
"Haisssh! Sudah tua tak tahu diri! Lebih baik kau lepaskan dia, kini aku menghargaimu dan tidak ingin menambah luka dalam yang kau miliki, jadi pergilah!" Cibir Zhou Botong.
"Senior terimakasih!" Ucap Lasmana Pandya.
"Heeemp!" Hanya dengusan saja yang terdengar sebagai jawabannya.
"Kalian juga segera pergi dari tempat ini, cepat atau aku tidak akan membantu kalian," ucap Zhou Botong yang tidak ingin melanjutkan pertarungan.
Mendengar itu, wajah Lasmana Pandya berubah menjadi kecewa, namun ia mencoba berkomunikasi dengan baik dengan Zhou Botong.
"Senior jika kau ingin aku pergi, maka kau juga harus menyelamatkan guruku," ucap Lasmana Pandya.
Zhou Botong yang pada dasarnya cerewet dan suka menggerutu sendiri akhirnya mengeluarkan sifat aslinya.
"Bocah gemblung! Bocah bodoh! Nyawamu saja dalam bahaya tapi kau masih bisa memikirkan orang lain!"
"Ingatlah nyawamu hanya ada satu, dan kau bukan seorang kucing yang memiliki sembilan nyawa!" Ucap Zhou Botong dengan nada marah dan menunjuk Lasmana Pandya dengan seenak jidatnya.
Sedangkan Dewa Siluman yang dalam kondisi kurang baik hanya diam, karena melawan adalah hal yang sangat bodoh baginya.
__ADS_1
"Jika begitu, maka aku tidak akan pergi!" Ucap tegas Lasmana Pandya yang disetujui ketujuh bawahannya.
Hal itu membuat Zhou Botong yang ingin memaki Lasmana Pandya hanya bisa mengangguk.
"Jika begini hidupku terkena masalah besar!" Ucap marah didalam hatinya.
"Baiklah baiklah! Sekarang kalian pergi dan tunggu aku membawa pergi gurumu juga," ucap Zhou Botong.
Wajah Dewa Siluman melihat hal itu menjadi marah tak terkendali, karena bagaimanapun mangsa utamanya telah ada ditangannya dan kini Zhou Botong yang sebenarnya ada dipihak mereka malah membantu Lasmana Pandya yang telah membuat kekacauan.
"Zhou Botong! Kau pengkhianat maka aku akan meladeni pertempuran hidup dan mati bersamamu!"
Swuuuuush!
Lasmana Pandya dan ketujuh bawahannya segera keluar dari dunia kecil itu. Lasmana Pandya tentu percaya pada Zhou Botong karena mimik wajahnya yang hanya mengekspresikan kemarahan, namun berbeda dengan isi hatinya yang baik. Itu yang ada dipikirannya karena itu ia segera keluar dari dunia kecil tersebut.
Disisi lain, Kamandaka menghela napas melihat muridnya telah keluar dari dunia kecil tersebut. Kini ia tak segan segan untuk melakukan peledakan diri, namun tentunya hal itu tak semudah yang ia inginkan. Nyatanya Dewa Racun telah mengetahui niatnya dan terus menggempurnya dengan serangan jarak dekat.
Swuuuush! Swuuuush!
Dewa Siluman yang masih menggunakan transformasinya melesat kearah Zhou Botong sambil melepaskan kekuatan yang ia naikan serta paksakan.
Dhuuuuaar! Dhuuuaar!
Dengan keseriusannya Zhou Botong hanya mengandalkan delapan puluh persen kekuatannya, karena melihat Dewa Siluman yang terluka.
Tapak tangan mereka beradu membuat Dewa Siluman terpental. Tanpa ia sedari ia kembali naik darah melihat Jendral Tapak Dewa yang masih asik menyembukan dirinya sendiri.
"Pion tak tahu diri! Lihatlah mangsa kita kabur! Cepat kejar, jika kau tidak berhasil membawanya kembali maka kepalamu akan menjadi jaminan!" Ucap menggelegar Dewa Siluman membuat Jendral Tapak Dewa bangkit dan melesat keluar dari dunia kecil itu.
Swuuuush!
Sosoknya berkelebat hebat membelah angin dsn keluar dari dunia kecil.
Disisi lain, Lasmana Pandya yang telah krluar dari dunia kecil menghela napas panjang. Namun wajahnya masih terukir kekhawatiran yang sangat jelas terhadap gurunya.
"Tuan kita sudah aman," ucap Bumi Arta.
"Baik pulihkan diri kalian," ucap Lasmana Pandya juga memulihkan dirinya dengan menaburkan ribuan kristal jiwa disekitar mereka.
Lima menit berlalu, Lasmana Pandya yang baru menyembuhkan kembali membuka matanya dengan wajah kemarahan dan tersirat dendam yang sangat jelas.
__ADS_1
"Jika sudah tiba, kenapa tidak muncul!" Ucap Lasmana Pandya berdiri dari tempatnya.
"Hahahahaha! Bocah hebat bocah hebat, tadinya aku ingin memberimu ruang untuk menyembuhkan diri, namun sepertinya sekarang kau tidak ingin hal itu, " ucap sosok Jendral Tapak Dewa muncul diatas langit.