Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Kegigihan Lasmana Pandya.


__ADS_3

Lasmana Pandya menundukan kepalanya, lalu ia diam diam mencoba mengukur kekuatan kakek tua yang menatapnya dengan tajam.


"Darah asli tanah Jawa, siapa kamu nak? Dan bagaimana pada jaman ini kau memiliki kekuatan puncak di seusia mudamu?" Tanya kakek tersebut membuat Lasmana Pandya terkejut.


"Apakah aku harus berkata jujur atau sebaliknya," ucapnya dalam hati merenung.


Swuuuuush!


Sebelum menjawab, tiba tiba sang kakek tua muncul tepat dihadapan Lasmana Pandya dan segera menyerap ingatannya.


"Menarik, ternyata kau penerus asli darah tanah jawa," ucapnya kemudian mengibaskan tangannya lalu muncul singgasana mewah dan sedetik kemudian ia duduk santai menatap Lasmana Pandya.


Melihat kekuatan yang ditunjukan, Lasmana Pandya mencoba bersikap tenang dan memberikan sikap ramahnya.


"Senior siapa anda?" Tanya Lasmana Pandya.


"Itu rahasia, belum saatnya kau mengetahuinya dan untuk apa kau datang kemari?"


Lasmana Pandya kemudian menjawab pertanyaan kakek tua itu dengan baik, hingga tiba tiba diakhir cerita. Darahnya tiba tiba berjalan terbalik membuatnya jatuh berlutut menahan rasa sakit yang tak terbayang.


"Kek kau..." Ucap Lasmana Pandya tercekat sambil menahan rasa sakit yang kini semakin menyebar keseluruh tubuhnya.


"Bocah alasanmu tidak bisa kuterima," ucap kakek tua itu menatap tajam Lasmana Pandya.


"Kek tapi ini kebenarannya, saat ini tanah Jawa sedang membutuhkan pertolonganku!" Ucap Lasmana Pandya bersikeras.


"Uuughhh!"


Di saat itu juga, Lasmana Pandya menyemburkan darah emas yang sangat wangi keluar dari mulutnya. Kakek tua itu terdiam sejenak memikirkan cerita yang disampaikan oleh Lasmana Pandya.

__ADS_1


"Baik aku akan mempercayai ceritamu, namun ada satu syarat jika kau ingin aku membantumu," ucap kakek tua kemudian menjentikan jarinya membuat keduanya keluar dari istana.


Kakek tua itu melayang dihadapan Lasmana Pandya yang kebingungan.


"Kek apa syarat yang kau berikan?"


"Bertarung denganku!"


Kakek itu duduk diatas awan menatap santai Lasmana Pandya yang terlihat kebingungan.


"Tapi kek..." Ucap Lasmana Pandya yang masih menghormati kakek tersebut.


"Bocah kau tak perlu sungkan untuk menyerangku, atau kau ingin cara lain?" Tanya kakek itu yang langsung disetujui oleh Lasmana Pandya.


"Kau menerima ajianku dan jika kau dapat menahan satu jam seranganku maka aku akan membantumu," ucap kakek tua itu santai.


Lasmana Pandya mengeratkan rahangnya, karena ia sendiri tidak tahu serangan apa yang akan diberikan oleh tetua itu.


"Siap kek!" Jawab tegas Lasmana Pandya membuat kakek itu melebarkan senyumnya.


Kleeeeeek!


Suara jentikan jari terdengar, sesaat setelah itu tiba tiba Lasmana Pandya mengerang kesakitan saat seluruh tubuhnya merasakan rasa sakit yang baru pernah ia rasakan. Peredaran darahnya terasa terbolak balik hingga wajahnya menegang tidak tahu harus berteriak ataupun apa.


Bahkan disela sela rasa sakit, tiba tiba ingatan pahit yang telah ia jalani ikut memasuki pikirannya menambah suasana didalam tubuhnya kacau membuatnya lebih baik memilih mati dari pada menerima penyiksaan yang secara bersamaan tersebut.


"Akkkkkkh!"


Lasmana Pandya terus berteriak menggema dan jatuh berlutut mencoba menguatkan keteguhan hatinya untuk meminta pertolongan sosok kakek tua untuk menunjukan dua lokasi sekte legenda yang telah lama hilang di tanah Jawa.

__ADS_1


"Bocah ingatlah taruhan kita, jika kau tidak kuasa menahan seranganku ini, maka nyawamu yang menjadi taruhannya," ucap kakek tua menikmati penyiksaan yang dialami oleh Lasmana Pandya.


Sedangkan iblis hati didalam tubuh Lasmana Pandya yang sejak awal tidak dapat berkomunikasi saat memasuki portal dimensi dibuat kocar kacir saat tubuhnya merasakan hal yang sama dirasakan oleh Lasmana Pandya.


"Akkkhh! Si-siapa yang telah membuat iblis hatinya begitu patuh dan bisa menyatu," ucapnya kesal.


Lima menit menjalani siksaan yang teramat pedih, Lasmana Pandya tidak bisa berbuat apapun kecuali berguling guling ditanah. Ingatan yang terus mengacaukan tekadnya itu sungguh membuat rasa sakit semakin menjadi jadi.


"Pandya kau harus tenang!" Suara Yang Lie meengejutkannya ditengah tengah rasa sakit dan kekacauan dipikirannya.


Lima belas menit berlalu, Lasmana Pandya masih bisa mempertahankan kesadarannya meskipun pandangannya mulai kabur. Tidak hanya itu saja, tubuhnya terasa sangat lemas tidak bertenaga. Seketika mencoba mengerahkan kekuatan puncaknya, hal itupun sangat percuma karena saat ini ia benar benar tidak bisa menggunakan kekuatannya.


"A-aku harus membalaskan dendam, aku tidak akan menyerah sampai disini!" Ucap Lasmana Pandya sambil menggigit bibirnya hingga darah emas keluar secara perlahan.


Kakek tua yang duduk diatas awan itu berkali kali menganggukan kepalanya melihat keteguhan, dan tekad yang ditunjukan oleh Lasmana Pandya.


"Mungkin ini jaman untuk membangkitkan kekuatan yang sebenarnya dimiliki oleh tanah Jawa yang telah hilang," gumamnya pelan.


Tiba tiba, ia teringat akan perkataan istrinya yang telah lama mati akibat perang melawan Yang Lin sebelum masa Sena dan Ying Lian menjadi Kultivator puncak.


"Apakah aku harus ikut campur kembali? Ta-tapi..." Ucapnya ragu.


Lima puluh menit kemudian, Lasmana Pandya benar benar tidak bisa melihat apapun didepannya. Pandangannya telah kabur, bahkan kesadarannya perlahan menurun sejalannya waktu yang terus berjalan.


"Bocah ini..." Ucapnya tercekat karena melihat Lasmana Pandya yang masih memiliki kesadaran.


Melihat kegigihan Lasmana Pandya yang tidak menyerah, akhirnya sebelum satu jam berakhir. Kakek tua itu segera menyudahi tantangannya yang mungkin ia sendiri tidak bisa menahannya.


Kleeeeeek!

__ADS_1


Tiba tiba, peredaran darahnya kembali normal, dibarengi dengan tubuh Lasmana Pandya yang mulai pulih. Masih merasakan sedikit rasa sakit, Lasmana Pandya bukannya senang malah kembali menantang kakek tua itu yang membuat kakek tua melototkan matanya dan menggelengkan kepalanya sendiri.


"Aku tahu ini belum satu jam! Kek marilah lakukan lagi aku masih bisa mempertahankan kesadaran ku!" Tantang Lasmana Pandya.


__ADS_2