
"Ta-tapi..."
"Ratu jika aku menggunakan identitas leluhur Sena maka kalian akan terus menghormatiku, sedangkan kalian tidak mengetahui sedikitpun sifatku, karena itu aku tidak ingin kalian menyamakan kedudukan leluhur Sena dan Ratu Ying Lian kepadaku, dan alasan lainnya aku sungguh tidak menyukai perbedaan diantara kita."
Penjelasan Lasmana Pandya sontak membuat seluruh kaum penghuni Dunia Pembunuh terkagum kagum.
"Masih muda tapi pemikirannya tak bisa ditebak," perlahan Ratu Mulan mengerti ucapan yang dijelaskan oleh leluhurnya.
"Tu..."
"Panggil namaku saja, Pandya..." Potong Lasmana Pandya.
"Ba-baik Pandya, karena leluhur Sena memintaku untuk memberikan mutiara pembunuh milik leluhur, jadi aku akan mengantarkan anda ketempat suci dunia ini," ucap Ratu Mulan.
Lasmana Pandya sebenarnya ingin menolak, namun suara leluhur Sena dipikirannya membuatnya segera mengikuti perintah leluhur Sena.
"Baik Ratu," ucap Lasmana Pandya.
Ratu Mulan mengangguk, kemudian ia membubarkan semua orang untuk beraktivitas seperti biasa. Setelah itu ia segera membuat segel teleportasi ketempat suci Dunia Pembunuh.
Sesampainya.
Aura yang sangat mengerikan menerpa tubuh Lasmana Pandya serta Ratu Mulan, namun aura mengerikan itu hanya beberapa detik saja menerpa tubuh mereka berdua.
"Aura ini bahkan lebih pekat dari Ratu Mulan," ucap dalam hati Lasmana Pandya.
Ratu Mulan menunjukan jalan menuju tempat penyimpanan mutiara pembunuh milik leluhur Sena, didalam perjalanannya Lasmana Pandya terus mengamati lingkungan tempat suci itu dengan teliti.
"Pandya, kita sudah sampai."
Pandya mengangguk dan kemudian menatap kearah bola berwarna merah darah dengan lekat. Sebuah segel formasi yang sangat kuat terpasang melindungi bola merah darah itu.
"Ratu, apakah itu mutiara jiwa milik leluhur Sena?" tanya Lasmana Pandya.
"Benar Pandya, tapi sebelum kamu menyerapnya, anda harus mempelajari aura pembunuh dan juga jurus rahasia yang dimiliki oleh leluhur Sena," penjelasan Ratu Mulan.
Lasmana Pandya menganggukan kepalanya, didalam pikirannya ia tak menyangka keberuntungan ada disetiap langkahnya, namun yang membuatnya heran kenapa selama ini ia tidak mengetahui tentang keberadaannya dunia yang ia singgahi saat ini. Bahkan ia yang menyukai membaca buku sejarah diperpustakaan kerajaannya tak menemukan sama sekali dunia yang ia singgahi saat ini.
"Pandya...," ucap Ratu Mulan.
__ADS_1
"Ratu katakan saja," ucap Lasmana Pandya.
Ratu Mulan mengangguk, kemudian ia menatap mutiara pembunuh milik leluhur Sena, dan wajah Lasmana Pandya secara bergantian.
"Mutiara pembunuh ini adalah setengah jiwa milik leluhur Sena, jika kamu menyerapnya maka posisi pemimpin Dunia Pembunuh sepenuhnya dimiliki olehmu, a-aku..."
"Ratu mana mungkin aku akan merebut tahta anda," balas cepat Lasmana Pandya.
Ratu Mulan menggelengkan kepalanya.
"Maksud Ratu?"
"Kami Dunia Pembunuh merasa bosan hidup didalam dunia kecil ini selama ratusan tahun, karena itu kami menginginkan anda merubah aturan dunia ini," penjelasan Ratu Mulan.
"Ratu jika itu aku sungguh tidak berani," balas Lasmana Pandya.
Ratu Mulan mengangguk pelan mengerti apa yang dipikirkan Lasmana Pandya.
"Tapi jika leluhur Sena mengijinkannya, aku pasti akan merubahnya."
Ucapan Lasmana Pandya bagaikan harapan cahaya terang membuat matanya berbinar. Setelah membicarakan hal itu, Ratu Mulan kemudian meminta Lasmana Pandya mempelajari kitab Dewa Pembunuh yang terdapat lima jurus mematikan didalamnya.
"Pandya kitab ini hanya dapat dipelajari oleh seorang pilihan leluhur, jadi sebelum anda menyerap mutiara pembunuh, anda harus mempelajari kitab ini."
"Ratu terimakasih," ucap Lasmana Pandya.
"Pandya tempat suci ini akan menjadi tempat pelatihan mu, jadi jika terjadi masalah dan ketidak pahaman mengenai isi didalam kitab, anda dapat memanggilku," ucap Ratu Mulan.
Lasmana Pandya kembali mengangguk, kemudian Ratu Mulan menghilsng dari kehampaan. Kepergian Ratu Mulan, Lasmana Pandya kemudian membuka kitab Dewa Pembunuh. Tiap kata serta kalimat yang ada didalam kitab Dewa Pembunuh mulai ia pahami.
"Pengolahan Kultivasi Dewa Pembunuh."
"Pikiran yang tenang, ambisi yang kuat, penyerapan tanpa batas." Dua kalimat yang membuat kepala Lasmana Pandya mulai merasa pusing.
"Bukankah ini sama saja dengan tata cara kultivasi seperti biasanya?" Tanya dibenaknya sendiri.
"Tunggu ... Ambisi yang kuat, dan penyerapan tanpa batas, kata kata ini...," ucap pelan Lasmana Pandya kepada dirinya sendiri.
Puluhan kristal jiwa ia taburkan kearah sekelilingnya, setelah itu ia mencoba menerapkan kultivasi Dewa Pembunuh dengan cara yang telah ia pahami.
__ADS_1
Swuuuush! Satu menit berlalu, puluhan kristal jiwa hancur setelah tidak menyimpan sedikitpun energi yang terkandung. Akhirnya hanya beberapa menit Lasmana Pandya mampu memahami Kultivasi Dewa Pembunuh.
"I-ini sangat mengerikan," kagum Lasmana Pandya.
Ia kemudian kembali membuka kitab Dewa Pembunuh dengan hati yang berdebar debar melihat apa saja isi kitab itu.
"*Membunuh mahluk hidup lainnya untuk memperkuat aura pembunuh, aura pembunuh dapat meningkat dengan sendirinya jika hati anda memiliki dendam yang besar."
"Penguasaan dan pengendalian terhadap aura pembunuh."
"Jiwa yang kosong penuh dengan ambisi. Namun ambisi dapat menjadi bumerang bagimu."
"Menjadi Dewa Pembunuh bukan bearti harus menjadi kejam dan tak memiliki rasa kemanusiaan, tapi menjadi pembunuh yang bermoral baik*."
Lasmana Pandya yang mengira kitab itu berisi jurus mematikan hanya bisa tersenyum kecut setelah melihat seluruh isi kitab itu.
"Bukankah ini sama saja memahami tentang pelajaran hidup?" tanya dibenaknya sendiri heran.
Namun ia yang penasaran segera kembali membaca secara teliti isi seluruh isi kitab tersebut, tak terasa selama satu hari ia berhasil mempelajari seluruh isi kitab yang diberikan Ratu Mulan. Meskipun pengendalian aura pembunuhnya kurang mahir, tapi dengan kecepatan pemahamannya saat ini, hanya Lasmana Pandya saja yang bisa melakukannya.
****
Dialam mimpinya.
Geni Danyang dan Pedang Sangka Geni tidak menyangka dasar menjadi seorang Dewa Pembunuh dapat dipahami dengan waktu satu hari.
****
Swuuuush! Tiba tiba Ratu Mulan muncul tepat dihadapan Lasmana Pandya yang membuat Lasmana Pandya dan Ratu Mulan sama sama terkejut. Lasmana Pandya yang terkejut dengan tiba tiba munculnya Ratu Mulan, sedangkan Ratu Mulan sendiri sangat terkejut karena samar samar ia dapat merasakan aura pembunuh didalam tubuh Lasmana Pandya.
"Ra-ratu anda mengagetkanku saja...," ucap pelan Lasmana Pandya sambil mengelus dadanya.
Sedangkan Ratu Mulan masih mematung menatap wajah Lasmana Pandya.
"Ratu?" panggil Lasmana Pandya.
"Ehh ... Bukankah kamu baru mempelajari kitab dasar Dewa Pembunuh selama satu hari, ba-bagaimana bisa...," ucap pelan Ratu Mulan kebingungan.
"Ratu ... Mungkin ini hanya kebetulan saja aku dapat memahami semuanya dengan cepat, tapi bukankah Ratu mengatakan bahwa Ratu memberikan sebuah jurus mematikan?" tanya Lasmana Pandya heran.
__ADS_1
Ratu Mulan mencoba menghilangkan rasa keterkejutan yang berlebihan, setelah itu ia mengeluarkan sebuah kitab usang yang tidak ada sama sekali namanya.
"Pandya kitab yang kamu baca kemarin adalah dasar menjadi Dewa Pembunuh, meskipun pemahaman, tapi seluruh makna yang ada di kitab itu sangat berguna bagi kamu yang akan menjadi penerus leluhur Sena."