
"Bukankah itu terlalu berlebihan?" Tanya Lasmana Pandya santai.
Sedangkan Bumi Arta merubah wujudnya menjadi manusia, hal tersebut membuat kelimanya menggigil ketakutan.
"He-hewan iblis yang berevolusi!" Ucap penuh keterkejutan mereka.
"Terlambat menyadarinya," balas Bumi Arta membuat penutup sejauh lima puluh kilometer berbentuk kubus.
Saat Bumi Arta ingin menyerangnya, Lasmana Pandya kemudian menghentikannya.
"Bumi Arta, apakah kamu lupa bahwa kamu telah berolah raga tadi malam? Kini mereka berlima adalah lawanku," ucap Lasmana Pandya.
"Ta-tapi tuan muda," ucap Bumi Arta terbata bata karena ranah Kultivasi Lasmana Pandya jauh dibawahnya.
"Tenang saja," ucap Lasmana Pandya.
Sedangkan kelimanya terdiam mematung sambil memikirkan caranya untuk pergi dari tempat itu, mereka kini hanya bisa merutuki nasib mereka.
Swuuuuush!
Sebelum salah satu memberikan penyesalannya, Lasmana Pandya telah melesat dan melancarkan tinju kearah perutnya.
Baaaaaamss! Dhuuuuaar!
Ledakan menggema saat itu juga yang dibarengi oleh terpentalnya pria paruh baya tersebut.
"Ingin kabur? Bukankah kalian yang ingin menangkap naga milikku? Jika begitu mari kita bermain," ucap Lasmana Pandya.
Seketika sesaatnya, mereka bagaikan kehilangan arah melesat kearah Lasmana Pandya sambil melancarkan serangan kuat mereka.
Baaaaamss! Dhuuuaar! Dhuuaar!
Ledakan mengguncang, serta membuat gelombang luapan energi menyebar didalam perisai buatan Bumi Arta.
Lasmana Pandya yang terpental sejauh lima meter dari pijakannya setelah memblokir empat jurus yang bersama kearahnya. Namun hal itu membuat kelima pria tersebut terkejut setengah mati.
"Ka-kau bagaimana bisa!"
"Haiiish! Sejak aku menginjakan kaki di dunia persilatan, kata kata ini sungguh membosankan ditelingaku,"
__ADS_1
Swuuuush!
Lasmana Pandya melesat sambil melepaskan serangan cepatnya. Kini mereka berlima mulai menunjukan kekompakan bertarung mereka, sehingga pertarungan terlihat sengit, namun tidak ada yang terlihat terdesak sama sekali. Jangankan untuk menyentuh, bahkan semua gerakan mereka dapat dibaca dengan mudah oleh Lasmana Pandya.
"Tunggu apa lagi! Meskipun kita berlima berhasil mengalahkannya kitapun akan mati oleh Naga yang telah berovolusi itu!" Teriak salah satunya melepaskan ranah Langit tingkat Lima mengedar dari tubuhnya.
Baaaams! Baaaams!
Ledakan kecil juga teredam dari dalam tubuh keempat pria paruh baya yang menandakan mereka melepas seluruh kekuatan yang mereka miliki. Pedang yang sama mereka genggam, sesaat setelahnya mereka melesat kearah Lasmana Pandya yang masih bersikap tenang. Mundur lima langkah, Lasmana Pandya menampilkan senyum kecilnya dibalik topeng hitamnya.
Swuuuush!
Kilauan cahaya pedang, dan rembesan pedang Geni Danyang muncul ditangannya, sesaat setelah itu. Pedang keemasan yang kini sedikit memiliki cahaya kebiruan melesat kearah kelimanya.
Tiiiiing! Ctiiiiing! Klaaaaang! Dhuuuuaar!
Ledakan dahsyat membuat kelimanya terpental kebelakang, bahkan pedang tingkat tinggi mereka telah hancur saat berbenturan dengan pedang emas yang menghentikan ayunan pedang mereka.
"Pe-pedang tingkat Dewa!" Ucap keterkejutan mereka kembali diperlihatkan.
Namun sesaat setelahnya, mata mereka terlihat jelas keserakahannya disetiap bola mata mereka menatap pedang emas yang telah di genggam oleh Lasmana Pandya.
"Sepertinya kita bisa hidup, dan mengalahkan naga itu jika kita berhasil merebut pedang tingkat Dewa itu," ucap telepati salah satunya.
"Kalian menginginkan pedang ini?" Tanya Lasmana Pandya kemudian menancapkan pedang Sangka Geninya kearah tanah.
"Jika kalian berhasil mencabutnya, maka aku akan memberikannya pada kalian," ucap Lasmama Pandya santai dan mundur dari tempatnya.
Mereka saling pandang, salah satu diantara mereka menggelengkan kepalanya, karena ia merasakan firasat buruk akan menimpa mereka.
Namun tidak dengan pemimpin mereka yang melangkahkan kakinya dengan nafas terengah engah. Tiba didepan pedang emas yang seperti samar samar, tangannya menggenggam pedang tersebut, namun saat menariknya. Ia merasakan berat pedang tersebut seperti puluhan gunung yang bersatu.
"Lihatlah ketua juga tidak apa apa mari kita bantu, dan setelah berhasil mencabutnya naga itu bukan tandingan kita." Ucap salah satunya kemudian membantu.
Dan pada akhirnya ketiganya mengikuti ketua mereka, mereka berlima mulai menarik pedang emas yang menancap ditanah dengan kokohnya. Kekuatan mereka paksakan sedemikian rupa, namun hanya energi Qi mereka saja yang terkuras, sedangkan pedang emas sama sekali tidak terlepas dari tanah. Namun tiba tiba, wajah mereka menegang saat ingin melepas tangan mereka dari gagang pedang. Mata mereka menatap kearah Lasmana Pandya yang duduk disamping Bumi Arta menatap kebodohan mereka.
"Hehehe! Keserakahaan akan membuat petaka!" Ucap penuh tekanan Lasmana Pandya.
Swoooooosh!
__ADS_1
Api Merah kebiruan muncul dari bawah tanah berkobar kearah pegangan pedang. Hingga Geni Danyang berhasil menyentuh kulit mereka, kelimanya mulai berteriak untuk mohon ampun, namun tidak ada jawaban yang ada hanya api berkobar bertambah besar membungkus tubuh mereka. Teriakan, penyesalan bercampur menjadi satu saat perlahan siksaan yang mereka alami terus berjalan. Satu persatu organ tubuh mereka menjadi abu, dan disaat itu juga, mereka tersadar bahwa harapan yang mereka inginkan tidaklah ada, yang ada hanya kematian yang menunggu mereka.
"Arrrrrghhh!" Lima menit kemudian, suara penyesalan itu tidak terdengar lagi, dengan tubuh mereka yang menjadi abu dan pedang emas menghilang dari tanah.
Lima cincin ruang pun tergeletak, sehingga Lasamana Pandya memungutnya dan menyimpan kedalam cincin ruangnya. Sesaat setelahnya, akhirnya mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju kota Bai Shi.
Swuuuush!
Bumi Arta yang menggunakan wujud kecilnya terus melesat diatas langit menuju Kerajaan Bai Shi dengan kecepatan maksimalnya. Lasmana Pandya yang sudah terbiasa tidak merasakan sama sekali perasaan mulai seperti awal terbang, kini yang ada hanya perasaan kekaguman dan ingin segera menjadi kuat agar bisa terbang seperti Bumi Arta.
Saat tiba di sebuah danau yang luas, Lasmana Pandya bergumam.
"Danau Sunyi," gumaman Lasmana Pandya.
"Tuan, anda mengenal danau ini?" Tanya Bumi Arta menghentikan terbangnya.
"Hanya sedikit saja, namun mitos mengatakan danau ini terdapat seekor naga penguasa air hidup didalam danau, sehingga tidak ada siapapun yang berani melintas melewati danau ini," penjelasan Lasmana Pandya.
Meskipun wajah Bumi Arta kini adalah Naga Bumi yang mengerikan, namun disetiap urat gerakan wajahnya sepertinya ia sedikit ragu untuk melewati danau tersebut setelah mendengar penjelasan Lasmana Pandya.
"Arta? Apakah ada yang salah?" Tanya Lasmana Pandya.
"Tuan aku takut dia mengejekku karena tunduk pada manusia, " ucap jujur Bumi Arta.
"Hahaha! Apakah aku kini menganggapmu sebagai bawahanmu? Karena aku menganggapmu sebagai saudaraku, lagian ini mitos yang merupakan berita ataupun cerita yang belum pasti. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkannya," ucap Lasmana Pandya sambil menahan tawanya.
"Baik tuan," ucap Bumi Arta yang merasa tenang.
Swuuuuush!
Mereka berdua kembali melintas diatas danau Sunyi, seperti namanya tidak ada satupun Kultivator atau penduduk yang ada disekitar pinggiran Danau.
"Apakah mitos ini benar adanya? Mengapa para penduduk takut pada mitos yang belum pasti," gumam Lasmana Pandya.
Namun tiba tiba tubuhnya bergidik ngeri merasakan aura naga keluar dari dalam air ditengah Danau Sunyi tersebut.
Blukkk! Bluuuk!
Gelembung air keluar dari permukaan, setelah sesaatnya pusaran air muncul dibawah mereka. Dua menit kemudian setelah pusaran membesar, kepala besar Naga Air muncul dari dalam air.
__ADS_1
Grooooaarh!
Raungan Naga Air Hewan Suci menggelegar diseluruh Danau, bahkan air yang tadinya tenang disekitar Danau kini mulai bergejolak bagaikan tsunami kecil yang akan terjadi.