
Yue Xong yang menyamar sebagai Bai ingin berteriak melihat majikannya menerima serangan petir tanpa warna. Namun ia segera tersadar bahwa ia kini sedang menyamar dan tentunya ia tahu bahwa hubungannya saat ini harus seperti Bai dan Hong Xiao yang sebenarnya.
"Bai sepertinya kau sangat perduli terhadap Jendral Xiao," ucap Ao yang sebenarnya juga khawatir, namun wajah Bai yang terlihat lebih khawatir membuatnya sedikit curiga kepada Bai.
"Salah saudara apakah kau lupa, jika Jendral Xiao tewas, maka kita juga akan ikut tewas di tempat ini!" Bentak marah Bai.
Sontak ucapan Bai membuat semua orang menggigil karena ketakutan. Karena apa yang diucapkan Bai kebenarannya.
Disisi lain, Lasmana Pandya melesat dengan kecepatan penuhnya membelah ruang kehampaan didepannya tanpa memperdulikan sengatan petir tanpa warna yang terus menggila menuju kearahnya. Giginya ia eratkan karena terus menahan serangan bertubi tubi petir yang menyambar tubuhnya. Hingga tiba tiba, sosok yang terbuat dari kekuatan tak terbatas muncul didepannya dan memberikan serangan tinju yang dibaluti petir muncul dihadapan Lasmana Pandya.
Dhuuaaaar! Dhuuuaar!
Lasmana Pandya terpental karena tidak sigap dengan kemunculan sosok itu yang muncul dihadapannya secara tiba tiba. Lasmana Pandya juga kembali memuntahkan seteguk darah emasnya melalui mulut menetes kebibirnya.
"Darah emas, darah tertinggi! Kualitas tulangmu pun sungguh tak bisa kubayangkan...," Ucap dingin sosok tersebut tersenyum.
Karena ia memang membutuhkan tumbal untuk menambah kekuatan majikannya. Karena itu dengan menumbalkan Lasmana Pandya, jelas kekuatan majikannya akan semakin hebat dan meningkat secara drastis.
"Tidak ada cara lain jika ingin mengimbanginya aku harus menggunakan kekuatan penuh dan menggunakan jurusku, namun sayangnya aku membawa orang lain, dan ini akan membuat penyamaran ku akan gagal," ucap Lasmana Pandya sambil menyeka darah dibibirnya.
"Bocah kau tidak bisa kabur, lebih baik kau serahkan nyawamu itu, maka aku tidak akan membiarkanmu mati dalam rasa sakit yang berlebihan."
Traaaaak! Traaaaak!
Petir tanpa warna menari nari ditangan sosok tersebut. Sedangkan Lasmana Pandya sedang memutar otaknya untuk mengelabuhi sosok tersebut.
"Ingin merencanakan apa? Karena semua yang kau rencanakan itu mustahil, jadi kau tidak perlu melakukannya," ucap penuh sombong sosok tersebut.
Lasmana Pandya hanya menanggapinya dengan senyuman penuh artinya. Saat sosok itu akan mengangkat tangannya, Lasmana Pandya segera berusaha menghentikannya.
"Tunggu!" Ucap Lasmana Pandya.
Kedua alis sosok tersebut menyatu karena heran.
"Bocah apakah kau ingin menyerahkan nyawamu?" Ucapnya sambil menyunggingkan senyum misterius.
Lasmana Pandya menggelengkan kepalanya, setelah itu ia membuat segel tangan yang sangat rumit. Cahaya keemasan keluar dari segel formasi yang dibuat oleh Lasmana Pandya kali ini. Namun sosok tersebut segera bersikap waspada, ia takut bocah didepannya menggunakan trik kotor untuk mengelabuhinya. Namun setelah sesaat.
__ADS_1
Swuuuuung!
Sinar keemasan itu membungkus segel pelindung yang melindungi Ao, Bai, dan prajurit lainnya, sehingga dari dalam segel, mereka tidak dapat melihat apa yang terjadi. Setelah itu, Lasmana Pandya menyunggingkan senyumnya.
"Baiklah mari kita lakukan pertempuran hidup dan mati...," Ucap dingin Lasmana Pandya.
Sedangkan sosok itu tiba tiba tertawa terpingkal pingkal. Bahkan tawanya menyebabkan guncangan hebat didalam gerbang teleportasi itu.
"Hahahahahaha! Pertarungan hidup dan mati? Apakah aku salah dengar?"
"Tidak tidak, hanya ada kata ... Mati untukmu!" Ucapnya sengit.
Swuuuuung!
"Sepertinya kamu tidak ingin anak buahmu melihat kamu mati ditanganku, tapi tenang saja setelah membunuhmu maka aku akan membunuh mereka juga!" Ucapnya dengan bangga.
"Banyak omong!" Ucap Lasmana Pandya.
Swuuuuung!
Aura Dewa Pembunuh dititik maksimal mengedar dari dalam tubuhnya, setelah itu Lasmana Pandya segera mengeluarkan pedang Sangka Geni dan mengaktifkan armor Geni Danyangnya. Perubahan pada Lasmana Pandya membuat sosok tersebut menjadi waspada. Namun tetap saja, dia seolah olah tidak menganggap keseriusan bocah didepannya.
Traaaaak! Traaaaak!
Petir tanpa warna mengitari tubuhnya secara cepat. Petir itu seolah olah melihat target yang akan dihancurkan.
"Pedang Bayangan Darah!" Teriak Lasmana Pandya.
Swuuuuuush!
Sosok Lasmana Pandya menghilang lalu muncul dibelakang sosok kekuatan tak terbatas. Namun nyatanya, sosok itu mampu melihat pergerakan Lasmana Pandya yang sangat cepat itu.
Dhuuuuaar! Dhuuuuuaar!
Petir dari kehampaan muncul menyambut pedang Sangka Geni milik Lasmana Pandya. Hingga membuat ledakan yang cukup dahsyat dan menggetarkan seluruh gerbang teleportasi itu. Sosok tersebut menganga melihat pemuda didepannya masih berada di tempatnya, atau tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya.
Swuuuuush! Dhuuuaar! Dhuuuaar!
__ADS_1
Namun Lasmana Pandya kembali menghilang lalu muncul dibelakang sosok itu lagi dan menyerangnya dengan pedangnya. Lagi dan lagi, sosok itu mengibaskan tangannya hingga muncul petir dari kehampaan memblokir pedang Sangka Geni yang akan menebas tubuhnya. Raut wajah Lasmana Pandya seketika berubah saat itu juga.
"Segel Kematian!" Teriak Lasmana Pandya.
Swuuuuung!
Lasmana Pandya membuat segelnya dan setelah itu muncul segel berbentuk persegi berwarna keemasan menutupi sosok itu.
"Mati!" Ucap Lasmana Pandya.
Swuuush! Swuuuush
Tiba tiba dari tiap sudut segel persegi yang dibentuk oleh Lasmana Pandya memunculkan ribuan pedang emas yang tak lain Sangka Geni.
"Kau ingin bermain main di tempat kekuasaan ku?" Tanya sinis sosok tersebut lalu menghilang dari tempatnya yang membuat Lasmana Pandya melebarkan matanya.
"Benar benar sulit!" Ucapnya.
Dibarengi dengan hilangnya sosok itu didalam segel, Lasmana Pandya kembali memutar otaknya lagi. Hingga tiba tiba, sebuah serangan petir dahsyat menyambar tubuhnya.
Dhuuuuaar! Dhuuuaaar!
Lasmana Pandya terpental dan menabrak batas kehampaan kekuatan tak terbatas. Seteguk darah emas kembali ia keluarkan dari mulutnya, setelah menyeimbangkan tubuhnya, Lasmana Pandya kemudian menatap sosok yang kini berada didepannya dengan cara menyilangkan tangannya.
"Mungkin kau memang hebat...." Ucap sosok tersebut terhenti melihat Lasmana Pandya segera membuat segel tangan.
"Diagram Jiwa! Cincin Seribu Roh!"
Swuuuung!
Muncul lingkaran cermin yang cukup besar. Tadinya sosok itu yang mengira Lasmana Pandya ingin merobek dan menghancurkan pembatas segera akan menghentikan aksinya. Namun tiba tiba wajahnya berkedut melihat ribuan sosok Hong Xiao yang sama keluar dari dalam cermin. Dan semuanya membawa sosok prajurit sehingga ia berkali kali menggosok matanya untuk melihat sosok Lasmana Pandya yang asli.
"Kau jangan bermain petak umpet baj*ngan!" Teriaknya murka.
Traaaaaack! Dhuuuaar! Dhuuuaar!
Sosok itu yang mengamuk langsung meledaksn tubuh palsu Lasmana Pandya yang kini mulai berlari menjauh dari tempatnya menggunakan petir tanpa warna. Ribuan sosok yang asli itu berlari secara rapi menuju ketitik cahaya ujung gerbang. Dan membuat sosok itu semakin menggila dalam melancarkan serangan petirnya.
__ADS_1
Ledakan dahsyat terus bersyahut syahutan, dan rencana Lasmana Pandya nampaknya berjalan lancar sesuai dugaannya. Namun ia yang berada ditengah pasukan yang melesat terus bersikap seperti bayangannya, sehingga sosok kekuatan tanpa batas itu kebingungan dalam mencari sosok asli itu .