
Yang Lin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wajahnya yang tenang tenntu membuat siapapun tidak mengetahui rencana yang dipikirkan oleh Yang Lin itu sendiri.
"Bocah aku turut meminta maaf atas kelancangan para bawahanku yang..."
"Huuuh! Tidak ada kata maaf sebelum aku bisa membunuhmu!"
Swuuuuush!
Lasmana Pandya menghilang, lalu muncul tepat didepan Yang Lin. Hal itu menyebabkan Yang Lin menghentikan penawarannya.
"Tidak tahu diri!"
Baaaaaaammmsss!
Yang Lin mengibaskan tangannya kekuatan angin yang sangat kencang membuat Lasmana Pandhya terpental sejauh seratus meter jauhnya.
"Sangat kuat," ucap Lasmana Pandya terkejut.
Disisi lain.
Prabu Rojo Boyo dan Dewi Nyi Wulandari yang telah datang membawa ribuan pasukan namun masih bersembunyi mengeratkan rahang mereka.
"Kakak dia...!" Ucapnya sedikit kesal.
__ADS_1
"Adik jangan gegabah, ingat keberadaan kita saat ini akan membuat suasana bertambah keruh, apalagi Yang Lin sangat ingin membunuh kita," ucap Prabu Rojo Boyo mengingatkan.
"Tapi... Bocah itu..."
"Adik dengan kejeniusannya, serta kelebihan yang dimiliki oleh bocah itu aku rasa Yang Lin tidak akan membunuhnya, melainkan mengajaknya membangun kekuatan bersama."
***
"Bocah dengan kekuatanmu saat ini aku rasa kau tidak memiliki peluang sedikitpun untukĀ memenangkan duel denganku," ucap Yang Lin dengan sikap tenangnya.
Lasmana Pandya tahu diri, tapi tentunya ia tidak punya pilihan lain selain bertempur dengan Yang Lin. Karena bagaimanapun jika ia menyerah sama saja ia mengingkari janjinya kepada ayah, guru, sahabat, orang yang telah mati.
"Bahkan jika aku mati aku tidak akan pernah mengkhianati negeri ini! Kau kira aku seperti mereka? Sosok anjin* yang hanya menjadi suruhan olehmu?"
"Diagram Jiwa! Cincin Seribu Roh!"
"Bahkan klone mu tak mampu mengalahkan klone milikku!"
Swussssh!
Satu sosok muncul disamping Yang Lin, dan sosok itu dipahami oleh Lasmana Pandya yang merupakan sosok kekuatan tak terbatas yang mendiami gerbang teleportasi di Negeri china yang sempat membuatnya terluka cukup parah.
"Matiiii!"
__ADS_1
Swuuuuuuuush!
Ribuan klone melesat lalu menyerang satu sosok yang mirip dengan Yang Lin. Dhuuuuuar! Dhuaaaar! Ledakan tubuh klone milik Lasmana Pandya terus meledak menjadi kabut asap setelah sosok klone milik Yang Lin menari nari melepaskan kekuatan petir tanpa warnanya.
"Bahkan klonenya lebih tinggi dari kekuatanku," gumam Lasmana Pandya sedikit gentar.
Yang Lie yang merasa suasana bertambah parah menatap Lasmana Pandya yang masih mematung dengan tatapan yang tidak percaya dengan Lasmana Pandya yang tetap mempertahankan pendiriannya.
"Gege apa kau tidak ingin kita hidup bersama...," Ucap dalam hati Yang Lie merasa sedih.
"Ayah bisakah kau melepaskan Pandya," ucap Yang Lie pada ayahnya.
Yang Lin hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dan hal itu membuat Yang Lie sedikit kesal.
"Ayah ta..."
"Jika dia menyerah maka aku baru melepaskannya," jawab tenang Yang Lin menatap ribuan klone terus meledak menjadi kabut asap.
Disisi lain, Lasmana Pandya hanya bisa diam melihat ribuan klonenya bagaikan semut dihadapan kekuatan tak terbatas. Namun ia sekilas menatap Yang Lin.
Swuuuuuuuush!
"Pedang Bayangan Darah!"
__ADS_1
Lasmana Pandya bergerak bagaikan asap merah kearah Yang Lin, namun sebelum tiba She Wang dan She Yu menghentikan pergerakan Lasmana Pandya yang ingin membunuh tuan mereka.
Tiiiiing! Dhuuuuuuuar!