
"Bocah aku pasti membantumu," ucap Zhou Botong.
Setelah melihat ketulusan Zhou Botong, Lasmana Pandya menganggukan kepalanya. Dan setelah itu, ia memberikan rencana yang mungkin beresiko tapi hal itu sangat berguna jika serangan benar benar terjadi.
"Rencana ini sangat bagus, tapi kita harus bergerak secara diam diam untuk menculik para prajurit, sedangkan segel pengendali aku bisa menggunakannya," timpal Zhou Huan.
Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia merasakan aura kehadiran Zhi Tao mendekat kearahnya.
Swuuuush!
Segel didalam ruangan menghilang, dibarengi dengan masuknya Zhi Tao kedalam ruangan.
"Senior," sapa Lasmana Pandya tenang.
Lima belas menit berbincang bincang, akhirnya mereka membubarkan diri dan Zhou Huan memberikan tiga kamar untuk ketiga tamunya.
Sesaat setelahnya berada dikamar milik Lasmana Pandya.
Swuuuush!
"Bocah kenapa kau memanggilku?" Tanya Pertiwi heran.
"Senior aku ingin tahu apa yang tadi dilakukan oleh Zhi Tao," ucap Lasmana Pandya membuat Pertiwi termenung.
Swuuuuuuush!
Lasmana Pandya dan Pertiwi akhirnya menghilang dari pandangan. Setibanya mereka di lapangan sekte milik Zhou Huan dengan pandangan yang tajam.
"Bocah kau ingin cari apa?" Tanya Pertiwi heran.
"Senior aku rasa Zhi Tao keluar dari ruangan memiliki maksud tertentu," ucap Lasmana Pandya mengedarkan kekuatan jiwanya mencari sesuatu.
Satu menit kemudian, Lasmana Pandya menyunggingkan senyumnya.
"Bocah apa kau menemukan sesuatu?" Tanya Pertiwi.
Lasmana Pandya hanya mengangguk, setelah itu ia berjalan santai kearah rimbunan rerumputan disekitarnya. Setibanya, Lasmana Pandya membuka rerumputan yang cukup rimbun dengan berhati hati. Pertiwi yang belum mengerti apa yang dipikirkan oleh Lasmana Pandya hanya ikut mencari sesuatu dibalik rerumputan.
"Ketemu," ucap Lasmana Pandya menemukan pecahan giok pemanggil bantuan.
"I-ini..." Ucap tercekat Pertiwi.
"Lebih baik kita segera mencari senior Zhou Huan untuk membahas hal ini," ucap Lasmana Pandya yang disetujui oleh Pertiwi.
Swuuuuush!
Pertiwi dan Lasmana Pandya menghilang kearah bangunan utama milik Zhou Huan. Setibanya ditempat itu, murid Zhou Huan menghentikan Lasmana Pandya dan Pertiwi.
"Tuan, nyonya, saat ini senior Zhou Huan telah pergi meninggalkan tempat ini," ucap hormat murid tersebut.
__ADS_1
"Kemana senior Huan pergi?" Tanya Lasmana Pandya.
"Dia hanya mengatakan untuk membeli beberapa guci arak," ucap murid tersebut.
Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu ia meminta pada murid tersebut agar memberitahunya bahwa ia dan Pertiwi mencari Zhou Huan agar segera ke tempat peristirahatannya.
Setibanya dikamar milik Lasmana Pandya.
"Bocah apa rencana kita?" Tanya Pertiwi.
"Membiarkan rencana mereka berjalan mulus, tetapi kita akan tetap menghadapinya," ucap Lasmana Pandya membuat Pertiwi khawatir.
"Ta-tapi..."
"Senior, tenanglah saat ini fokus kita untuk melakukan penyergapan," ucap Lasmana Pandya.
Lima belas menit membicarakan rencana yang dimiliki Lasmana Pandya, tiba tiba Zhou Huan memasuki ruangan dengan wajah heran.
"Senior," sapa Lasmana Pandya.
"Bocah apa ada hal yang ingin kau bicarakan?" Tanya Zhou Huan.
Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia mengeluarkan pecahan giok pemanggil bantuan.
"I-ini..." Ucap Zhou Huan wajahnya memerah.
"Bocah apa kau tahu siapa mata mata yang memecahkan giok milik Kekaisaran Yang ini?" Tanya Zhou Huan.
Zhi Tao yang mendengar itu ingin segera membunuh Zhi Tao, tapi Lasmana Pandya dan Pertiwi menghentikan tindakan Zhi Tao.
"Tunggu apa lagi...," Ucap dingin Zhou Huan.
"Kita tidak bisa membunuhnya saat ini, karena jika kita melakukannya pasti Kaisar Yang Lin akan memerintahkan beberapa kekuatan puncak untuk menyergap kita. Yang saat ini kita harus lakukan adalah menyusun rencana dan mengevakuasi para murid anda serta tahanan yang aku bawa," ucap serius Lasmana Pandya.
"Lalu rencanamu apa bocah? Sepertinya kau telah memikirkannya," ucap Zhou Huan akhirnya mengikuti usulan dari Lasmana Pandya.
"Membuat perangkap dan membiarkan mereka memasuki tempat ini dengan mudah. Setelah mereka memastikan kita lengah, mereka juga pasti akan menurunkan kewaspadaannya, karena itu baru kita akan melakukan penyergapan di satu tempat," ucap Lasmana Pandya.
"Ini ide yang sangat brilian bocah," puji Zhou Huan.
"Senior jangan senang dulu, kita juga tidak tahu siapa yang akan tiba kemari, karena itu kita akan segera membuat rencana yang matang," ucap Lasmana Pandya.
Swuuuuuush!
Ketiga menghilang lalu muncul ditengah gunung. Zhou Huan kemudian mengirim pesan sinyal pada adiknya agar Zhi Tao tidak keluar dari tempatnya.
Setelah itu, Zhou Huan menatap Lasmana Pandya menunggu rencana yang akan mereka buat untuk melakukan penyergapan.
"Senior bantu aku membuat segel ilusi dan segel pelindung untuk mengurung pasukan yang mereka bawa, sedangkan senior Pertiwi pelajari kitab penyamar ini," ucap Lasmana Pandya memberikan kitab penyamarannya.
__ADS_1
Setelah itu, mereka melakukan tugas mereka masing masing. Bagi Zhou Huan membuat segel ilusi dan yang mengenai segel formasi bukan perkara sulit baginya. Karena dia sendiri ahli dari segel formasi.
Lasmana Pandya kemudian mengeluarkan pedang tingkat rendah hingga tingkat Dewa yang tersisa dari dalam cincin ruangnya. Setelah memasang dan memberi segel pengendali, Lasmana Pandya dan Zhou Huan yang telah melakukan tugasnya kembali ke kediaman Lasmana Pandya.
Setibanya.
"Senior kita tinggal menunggu saja, sekarang anda harus mengevakuasi para murid agar tidak terluka dari pertempuran yang akan datang."
Kepergian Zhou Huan membuat Lasmana Pandya mendekati Pertiwi yang saat ini terus mencoba memahami kitab pemberian Lasmana Pandya.
"Senior dengan mempelajari dan memahami kitab ini, anda dapat menyamar sebagai siapapun namun itu membutuhkan darah pemilik tubuh, namun jika ingin merubah tampilan anda bisa menggunakannya tanpa darah," ucap Lasmana Pandya kemudian mengumpulkan energi Qinya untuk persiapan pertempuran.
Malam harinya.
Udara ditengah gunung bergetar dengan munculnya portal dimensi yang sangat besar.
"Hahahahahaha!"
Tawa menggelegar di gunung itu dengan kemunculannya empat Kultivator puncak bersama ribuan prajurit yang mereka bawa. Lasmana Pandya membuka matanya dibarengi dengan munculnya Zhou Botong, Zhi Tao, Zhou Huan dengan wajah yang serius.
"Musuh telah tiba, maka aku tidak akan melepaskannya," ucap Zhou Huan.
Zhi Tao menaikan kedua alisnya heran mendengar pernyataan Zhou Huan yang bodoh menurutnya. Namun ia yang sebagai mata mata hanya mengangguk.
Mata Lasmana Pandya tertuju pada Zhi Tao yang terlihat heran.
"Senior Tao, sepertinya kami membutuhkanmu," ucap tenang Lasmana Pandya.
"Bocah tenang saja, aku akan membantu kalian," ucapnya tenang.
Swuuuuush!
Mereka menghilang lalu muncul diatas langit menatap ribuan pasukan yang sedang melihat satu wanita cantik berlari terlihat ketakutan.
"Hahahaha! Ada wanita cantik, sepertinya Zhi Tao benar benar memberikan informasi yang bagus, tangkap wanita biasa itu dan berikan padaku!" Ucap Dewa Racun yang juga hadir ditempat itu.
"Dewa Racun!" Ucap senang Lasmana Pandya. Namun wajahnya terlihat tidak baik baik saja.
Pertiwi yang menyamar menjadi wanita biasa berlari kearah sekte sesuai rencana Lasmana Pandya.
Swuuuush! Swuuuush!
Puluhan prajurit mengejar Pertiwi, namun tiba tiba mereka tersadar akan sesuatu.
"Saudara apakah kau sadar bahwa kecepatannya bertambah ketika kita hampir menggapainya," ucap heran salah satunya disela sela melesat mengejar Pertiwi.
"Kalian semua kepung gunung ini! Jangan sisakan satupun Kultivator!" Teriak lagi Dewa Racun.
Ribuan pasukan melesat kearah tengah gunung yang telah diberi jebakan oleh Zhou Huan dan Lasmana Pandya. Melihat rencananya berhasil, Lasmana Pandya menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
Swuuuuush!
Mereka muncul dibelakang jebakan sambil menatap santai ribuan pasukan yang bersiap menyerang kearah mereka.