Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Pembantaian


__ADS_3

"Benar tuan muda, energi Qi itu seperti tenaga dalam, namun bedanya terdapat dari daya hancurnya, dan kita juga perlu mengumpulkan energi Qi sebanyak ataupun semampu yang bisa kita kumpulkan."


Pembentukan Qi, serta pengumpulan Qi milik Lasmana Pandya akhirnya berhasil dipelajari dalam waktu singkat. Namun kini ia harus mengumpulkan energi Qi sebanyak banyaknya untuk berlatih.


Hingga Lasmana Pandya benar benar telah berhasil mengendalikan energi Qi dengan baik, ia kemudian mempelajari jurus keempat dan kelima dari kitab usang milik Sena.


Setelah berlatih dan menguasai seluruh kitab selama satu bulan. Tak hanya itu saja aura Dewa Pembunuh yang sangat kentalpun dapat disembunyikan dengan baik oleh Lasmana Pandya. Armor Geni Danyang, serta pedang Sangka Geni juga sudah bisa digunakan olehnya, meskipun masih terlihat samar samar.


"Ratu Mulan terimakasih telah mempercayakan ku untuk berlatih kitab Dewa Pembunuh," ucap Lasmana Pandya.


"Pandya, ini sudah garis takdirmu mewarisi kitab Dewa Pembunuh, dan soal...," ucap pelan Ratu Mulan.


Lasmana Pandya mengangguk mengetahui arah pembicaraan Ratu Mulan.


"Ratu, leluhur Sena memperbolehkan kalian keluar dari dunia kecil ini, tapi ada beberapa syarat yang harus kalian ketahui."


Lasmana Pandya menjelaskan semua syaratnya, Syarat yang diajukan menurut Ratu Mulan sangatlah mudah, membuatnya kegirangan dan berterimakasih pada Lasmana Pandya.


"Ratu sekali lagi aku ucapkan terimakasih, karena aku ingin membantu ayah dan pamanku mengusir Kultivator asing, aku ingin segera keluar dari dunia ini, apakah Ratu mengetahui cara keluar dari dunia ini?" tanya Lasmana Pandya sambil menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal.


Ratu Mulan mengangguk dan mengerti, setelah itu ia membawa Lasmana Pandya disebuah altar kuno yang menghubungkan kepohon besar hutan terakhir kali Lasmana Pandya bersembunyi.


"Pandya berhati hatilah, ini giok pemanggil, jika kamu membutuhkan pertolongan anda bisa memecahkan giok ini," ucap Ratu Mulan.


Lasmana Pandya ingin menolak, namun lagi dan lagi Geni Danyang menasehati Lasmana Pandya agar menerima pemberian Ratu Mulan. Tak bisa dipungkiri di dunianya nanti kekuatan besar bisa saja menghambat tujuannya.


"Baik aku terima Ratu, terimakasih."


Ratu Mulan mengangguk, para penghuni Dunia Pembunuh pun melihat kepergian Lasmana Pandya hingga tubuh pemuda itu benar benar telah keluar dari Dunia Pembunuh.


Dihutan.


Lasmana Pandya memakai topeng hitam, dan menatap tajam kearah sekitarnya. Ranah Kultivasinya yang tergolong tinggi pada seusianya kini membuat rasa percaya dirinya bertambah besar. Bahkan ia melupakan rasa takutnya.


"Ternyata kalian masih ada disini...," ucap dingin Lasmana Pandya.


"Hahahahaha!" balas menggema tawa seorang pria paruh baya.

__ADS_1


Swuuuush! Swuuuush! Ratusan pria paruh baya muncul mengepung Lasmana Pandya.


"Menyerahlah anak muda, karena Jendral Tapak Dewa membutuhkanmu untuk membuat Kerajaan Sangsakerta menyerah ditangan kami," ucap pemimpin kelompok sambil mengedarkan ranah Kultivasinya ditingkat Grand Master tingkat empat.


Tatapan tajam Lasmana Pandya bagaikan elang menatap sosok pria yang berbicara padanya.


"Pergilah sebelum aku bertindak kejam...," ucap dingin Lasmana Pandya.


Semua pria paruh baya saling berpandangan.


"Hahahahaha." Seluruh pria paruh baya tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Lasmana Pandya yang mereka kira bodoh.


"Tunggu apa lagi! Tangkap!" ucap Pimpinan pria tersebut.


Swuuuuush! Swuuuush! Puluhan pria melesat kearah Lasmana Pandya, sosoknya yang terbilang masih polos kemudian menghindari serangan bertubi tubi menyerang kearah tubuhnya. Namun puluhan pria tersebut bukanlah tandingan Lasmana Pandya, sehingga mereka berhasil dilumpuhkan tanpa harus membunuh.


Tiap tebasan mengarah ketubuhnya selalu dapat dihindari dengan mudah oleh Lasmana Pandya, mereka yang jatuh kembali bangkit mencoba menyerang Lasmana Pandya kembali. Hingga tiba tiba sebuah serangan energi Qi melesat dan menabrak tubuh Lasmana Pandya.


Dhuuaaar! Ledakan yang disertai daya kejut dirasakan mereka, Lasmana Pandya yang mulai gusar menatap mereka dengan tajam, matanya mulai memerah, aura pembunuh mulai merembes dari tubuhnya.


"Mati!"


Slaaaash! Slaaaash! Gerakan bagaikan kilat membuat puluhan pria hanya bisa menerima kematian mereka dengan luka yang berbeda. Cara membunuh cepat yang dilancarkan oleh Lasmana Pandya membuat pria lainnya segera menjauh dari amukan Lasmana Pandya.


Melihat banyaknya yang ingin kabur dari pertempuran, Lasmana Pandya menyunggingkan senyum mengerikannya, bahkan senyumannya bagaikan pedang yang siap menebas leher mereka yang melihatnya.


"Segel Kematian!" teriak Lasmana Pandya kemudian membuat segel dari pedang hitamnya.


Swuuuuung! Satu kilometer dari area pertempurannya tiba tiba tertutup oleh perisai merah yang mengeluarkan aura pembunuh lebih pekat.


"Jika telah datang, kenapa harus pergi secara terburu buru?" tanya Lasmana Pandya melesat kesana kemari menebas leher lawannya.


Pembantaian terus terjadi, setiap ayunan pedang memakan beberapa korban pria paruh baya yang berasal dari Kultivator negeri sebrang itu.


"Arrrrghh ... Kau membunuh bawahanku!" teriak pemimpin pasukan marah besar kemudian melesat kearah Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya yang telah menghentikan lesatannya dari dahan satu kedahan pohon lainnya kemudian kembali menyunggingkan senyum mengerikannya.

__ADS_1


Tiiiing! Benturan pedang hitam dengan pedang panjang milik komandan pasukan terdengar, angin berhembus kesegala arah sekitar pertempuran mereka berdua. Sedangkan sisa pasukan yang masih hidup berusaha keluar dari segel Kematian milik Lasmana Pandya.


"Ku bunuh kau bajingan!" teriak lagi Komandan pasukan mengayunkan pedangnya kearah Lasmana Pandya.


"Brisik...," ucap dingin Lasmana Pandya kemudian menghindari tebasan pedang komandan itu, dan memberikan serangan tapak tangan kirinya kearah dada kanan komandan tersebut.


Baaaaams! Dhuuuaaar! Sosok komandan pasukan terpental dan memuntahkan seteguk darah merah dari bibirnya.


"Ka-kau...," ucap terkejut komandan tersebut yang tersadar ranah Kultivasinya dibawah pemuda yang tak lain Lasmana Pandya.


"Sudah terlambat menyadarinya bodoh!" provokasi Lasmana Pandya kemudian mengaliri pedangnya dengan energi Qi.


Swuuuush! Jleeeeb! Pedang hitam melesat kearah jantung komandan pasukan, hingga membuatnya meregang nyawa ditangan Lasmana Pandya.


Wajahnya yang datar, serta matanya yang tajam menatap sisa puluhan pria paruh baya yang berusaha kabur dari segel Kematian yang menutup area pertempuran mereka.


"Percuma saja kalian berusaha kabur dari tempat ini," ucap Lasmana Pandya menggunakan energi Qinya.


****


Diatas langit, Banyu yang menggunakan jubah putih, dan memakai topeng mengurungkan niatnya membantu Lasmana Pandya, tentunya apa yang ia lihat kini membuatnya terkejut setengah mati, melihat perubahan Lasmana Pandya saat bertarung. Samar samar ia pun merasakan aura yang mengerikan keluar dari tubuh Lasmana Pandya.


"Apakah benar dia Pandya," ucap Banyu kebingungan.


"Kenapa ia menjadi sekejam ini?"


"Dari mana ia mendapatkan kekuatan ini?"


"Siapa gurunya?" tanya Banyu dibenaknya sendiri.


Ia tak bisa berpikir bagaimana Lasmana Pandya dapat naik tingkat hingga Grand Master tingkat lima dalam waktu dua bulan. Dan yang membuatnya lebih heran adalah sifat Lasmana Pandya yang sangat kejam, dan tanpa ampun membunuh lawannya.


"Lebih baik aku melihat dulu," gumam Banyu terus memantau dari atas langit.


***


Lasmana Pandya yang kini mulai melesat dan kembali membunuh pasukan yang tersisa, tiba tiba mengurungkan niatnya setelah melihat sebuah palu besar menghantam segel kematiannya.

__ADS_1


Dhuuuuuaaar! Dhuuuaaar! Palu besar yang dikendalikan pria paruh baya menggunakan jubah perang kerajaan terus mencoba menghancurkan segel Kematian milik Lasmana Pandya.


__ADS_2