Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Empat tetua Padepokan Gajah Mada


__ADS_3

"Benar sepertinya memang dia, tapi ini semakin menarik saja... Hahahaha! Aku tunggu kedatanganmu pendekar bertopeng," ucapan Bao Yun yang sepertinya memiliki rencana.


Tadinya Bao Yun yang wajahnya pucat pasi berubah menjadi datar, rasa semangat untuk membuat pelajaran Lasmana Pandya berkobar dihatinya, meskipun ia sangat marah namun semua orang tidak tahu bahwa Bao Yun haus akan kemenangan dalam bertarung, selama ia kalah meghadapi orang lain, pasti ia akan berusaha untuk mengalahkannya, meskipun dengan cara kotor ia akan tetap melakukannya.


***


Setelah berada di kamarnya sendiri, Lasmana Pandya bertanya pada Sena mengenai keanehan Yang Lie yang sering ia lihat.


"Sepertinya wanita ini bukan sesederhana yang kita pikirkan, Tuan muda aku harap anda lebih berhati hati lagi." Sena memperingati Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia memikirkan sosok Bao Yun.


"Menurutmu, bagaimana dengan pemuda yang aku beri pelajaran sore tadi?"


"Maksud tuan muda?" Tanya Sena keheranan.


"Sifat temperamentalnya yang buruk, dan sepertinya pemuda itu memiliki semangat bela diri yang tinggi," ucap Lasmana Pandya lagi.


"Benar tuan muda, meskipun anda mampu mengimbangi empat tingkat diatas anda. Lebih baik tuan muda tidak menyepelekan kelebihannya. Karena bagaimanapun ada beberapa orang yang memiliki tipe tubuh unik."


"Tubuh unik?" Tanya Lamsana Pandya yang baru mengetahui.


Saat akan menjawab pertanyaan majikannya, tiba tiba Lasmana Pandya telah mengetahui apa saja tipe tubuh unik dari pengetahuan yang diberikan Kamandaka.


"Oooh apakah aku memiliki salah satu tipe tubuh unik itu?" Pertanyaan Lasmana Pandya membuat Sena terdiam.


"Sena?"


"Tuan muda, anda tidak memilikinya," ucap Sena jujur.


"Tapi tenanglah, karena dengan keberadaan kami ditubuh Tuan muda itu lebih dari cukup untuk mengimbangi mereka yang memiliki tipe tubuh unik," ucap lagi Sena.


Akhirnya Lasmana Pandya memilih untuk berkultivasi menggunakan Pill pemberian Kamandaka waktu lalu.


Pagi harinya.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan pintu terdengar dibarengi dengan berakhirnya kultivasi Lasmana Pandya.


"Tiga aura Langit tiga dan empat...," Ucap lirih Lasmana Pandya.


Saat membuka pintu kamarnya, empat sosok tetua menggunakan jubah padepokan Gajah Mada menatap seluruh tubuh Lasmana Pandya dengan heran.

__ADS_1


"Apakah ini pendekar bertopeng yang diinginkan Ketua?" Telepati salah satu seorang tetua kearah rekannya.


"Mungkin saja, karena menurut murid yang terluka seperti dia ini ciri cirinya."


Lasmana Pandya menaikan kedua alisnya melihat ke empat pria didepannya hanya diam dan terus menatap kearah seluruh tubuhnya.


"Senior?" Tanya singkat Lasmana Pandya mengejutkan mereka.


"Ehh," mereka sadar dari perbincangan mereka.


"Pendekar bertopeng, bisakah kita berbicara di tempat tertutup?" Tanya salah satunya yang memiliki aura Langit tingkat empat.


Lasmana Pandya mengangguk.


"Jika begitu mari masuk," meskipun curiga, Lasmana Pandya membiarkan mereka memasuki kamarnya.


Setelah berada didalam, keempat tetua tersebut saling pandang.


"Senior silahkan," ucap Lasmana Pandya membuka topik.


Salah satunya mengangguk, kemudian menatap Lasmana Pandya dengan serius.


"Pendekar, apakah benar kamu pendekar bertopeng yang sedang naik daun itu?"


Mereka membenarkan ucapan Lasmana Pandya, seketika wajah mereka merah menahan malu karena salah orang.


"Tuan pendekar maaf kelancangan kami, karena anda bukan orang yang kami cari, maka kami segera undur diri," ucap salah satu diantara mereka segera berbalik badan.


"Senior tunggu!" Balas Lasmana Pandya menghentikan langkah mereka.


"Senior, jika boleh tau kenapa Senior mencari keberadaan pendekar bertopeng?" Tanya langsung Lasmana Pandya yang heran.


"Bocah, itu bukan hakmu untuk mengetahuinya, lebih baik kamu lupakan pertemuan ini," ucap salah satu tetua menatap tajam Lasmana Pandya.


Senyum kecilnya ia perlihatkan sejenak, disaat ke empat tetua itu akan kembali pergi, Lasmana Pandya yang ingin mengetahui rencana mereka segera memancingnya.


"Tetua, jika aku orang yang kamu cari apakah kalian akan percaya?" Tanya Lasmana Pandya menghentikan langkah mereka.


Mereka semua berbalik badan, tetua yang tadinya ramah kini berubah menjadi dingin menatap Lasmana Pandya.


"Bocah jangan bercanda atau kamu akan tau akibatnya, lebih baik kamu diam dikamar dan jangan mengganggu perjalanan kami lagi...," Ucap dingin salah satu tetua mengedarkan ranah Langit tingkat tiganya.


"Hahaha baiklah tetua, maafkan aku yang telah menghambat perjalananmu," ucap santai Lasmana Pandya yang tak terpengaruh sama sekali aura mereka.

__ADS_1


Mereka mengangguk, setelah itu keempatnya keluar dan segera menutup pintu. Melihat kepergian empat tetua itu, Lasmana Pandya hanya bisa menggelengkan kepalanya.


***


Setelah keluar restoran, empat tetua itu tiba tiba menghentikan langkah mereka, dan segera sadar akan kesalahan mereka.


"Tu-tunggu!" Ucap salah satunya.


"Apakah kalian sadar disaat aku mengeluarkan aura ranah Kultivasiku? Bukankah pemuda bertopeng itu terlihat santai dan baik baik saja?" Tanya salah satu dari mereka.


Ke tiga tetua lainnya mengangguk, saat salah satu diantara mereka akan kembali memasuki toko. Tetua Joko menghentikan langkahnya.


"Kita tidak bisa bertindak gegabah, lebih baik kita mengawasinya terlebih dahulu," ucap Joko yang merupakan tetua tingkat tinggi di Padepokan Gajah Mada.


Dari jendela kamar, Lasmana Pandya menampilkan senyumnya, ia yang sangat penasaran memiliki sebuah rencana. Dengan santainya, ia keluar dari restoran berjalan keluar dari kota Sumbang.


Setelah keluar dari kota, ia merasakan empat tetua padepokan Gajah Mada mengikutinya. Senyum kecil dibalik topeng kembali ia perlihatkan kembali.


"Hehehe! Kucing hutan yang terperangkap harimau," sambil menampilkan senyumnya ia terus berjalan menuju kedalam hutan.


Swuuuush!


Lasmana Pandya segera melesat lebih dalam kearah hutan, begitu juga dengan empat tetua yang mengikutinya. Sesampai ditengah hutan yang sepi, Lasmana Pandya menghentikan ilmu meringankan tubuhnya.


"Tetua, sejauh ini anda telah mengikutiku, apa yang sebenarnya kalian inginkan?" Tanya Lasmana Pandya tanpa membalikan tubuhnya.


keempat tetua yang masih bersembunyi di belakang pohon besar sangat terkejut.


"Ba-bagaimana bisa bocah ini mengetahui keberadaan kita," ucap Joko tak bisa menyembunyikan wajah keterkejutanya.


Tentu mereka terkejut, karena mereka telah menyembunyikan aura mereka dengan baik. Dan kini dihadapan mereka bocah ranah Emas tingkat Lima dapat mengetahui keberadaan mereka.


Swuuuush! Swuuuush!


Ke empat tetua muncul dibelakang punggung Lasmana Pandya dengan wajah keheranan.


"Bocah bagaimana kamu tahu keberadaan kami?" Tanya Joko yang masih penasaran.


"Senior bukan itu jawaban yang aku mau, kenapa kalian mengikutiku?" Tanya sekali lagi Lasmana Pandya sambil membalikan tubuhnya menatap ke empat tetua padepokan Gajah Mada.


Wajah Joko terlihat muram mendengar pemuda bertopeng yang tidak menganggap keberadaan mereka dari gaya bicaranya.


"Bocah lebih baik kamu menggunakan bahasa yang lebih halus kepada kami, karena bagaimanapun padepokan kami adalah padepokan besar yang dapat membunuh seluruh kotamu dengan mudah!" Ucap salah satu tetua yang sudah marah.

__ADS_1


"Oooh kalian menggunakan nama padepokanmu untuk menakutiku? Huhh naiif sekali...," Ucap dingin Lasmana Pandya.


__ADS_2