Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Memulai Rencana


__ADS_3

"Benar tuan, tapi kami pun tidak mengetahui dimana keberadaan kitab terlarang itu, dan jika boleh tau siapakah tuan ini?" Walikota yang berasal dari kota Larangan sangat penasaran dengan pemuda didepannya.


"Senior nama saya Pandya," ucap Lasmana Pandya sambil menangkupkan tinjunya.


"Seperti pernah mendengar nama itu," gumam walikota Larangan.


Kemudian Lasmana Pandya menjelaskan semua rencananya, dan tak segan untuk membantu mengembalikan hak penduduk kota Larangan. Hingga tiba tiba, suara langkah kaki menuju penjara terdengar.


Swuuuush!


Dengan cepat, Lasmana Pandya memasang pintu penjara dengan cepat, setelah itu ia melesat kearah ruangannya sendiri. Tak berselang lama, lima pemuda berkulit putih berjalan mendekati ruangan Lasmana Pandya dikurung.


"Oooh jadi ini yang dikatakan wanita cantik bercadar yang diinginkan oleh komandan Ao Tian."


Yang Lie menatap Lasmana Pandya sejenak, melihat wajah ketenangan Lasmana Pandya, Yang Lie hanya diam saja menatap kelima pemuda tersebut dengan tatapan acuhnya.


"Cepat keluarkan dari penjara, setelah itu bawa wanita itu kehadapan Komandan Ao Tian." Pemuda itu memerintahkan keempat pemuda lainnya.


Namun disaat akan membuka pintu ruangan penjara, keempat pemuda itu saling bertatapan karena melihat lelehan besi kunci ruangan.


"Kalian ingin kabur?" Sambil tersenyum mengerikan kearah Lasmana Pandya dan Yang Lie.


Tanpa berbasa basi, Lasmana Pandya melesat keluar dari ruangan dan muncul tepat didepan pemuda itu sambil mencengkeram lehernya.


"Tu-tuan muda!" Keempat pemuda lainnya panik, dan hendak menyerang Lasmana Pandya, namun aksinya segera dihentikan oleh pemuda yang tercekik saat merasakan cengkeraman Lasmana Pandya bertambah erat.


Posisi yang tidak menguntungkan bagi keempat pemuda lainnya membuat mereka hanya bisa diam mematung.


"Si-siapa kamu," ucap pemuda yang lehernya dicengkeram oleh Lasmana Pandya sambil menunjukan wajah ketakutan.


Kedua alis Lasmana Pandya terangkat sambil menyunggingkan senyumnya.


"Menurutmu?"


Kraaaackk!


Disaat akan membalas ucapan pemuda bertopeng, suara tulang yang patah terdengar, yang menyebabkan pemuda itu tewas seketika. Keempat pemuda lainnya menelan ludah mereka secara bersamaan.


"Tuan anda...," ucap lirih salah satu pemuda lainnya menatap mayat tuan muda Ao Ci.

__ADS_1


"Tenang saja, tidak ada kematian yang menyakitkan untuk kalian."


Swuuuush! Slaaaash! Slaaaash!


Lasmana Pandya mengeluarkan pedang hitamnya, setelah itu ia memutarkan tubuhnya sambil mengayunkan pedangnya kearah empat leher pemuda itu dengan cepat.


Setelah membunuh kelima pemuda itu, Lasmana Pandya menatap kearah Yang Lie, dan para tahanan lainnya secara bergantian.


"Ingatlah keluar dari penjara ini disaat mendengar suara ledakan dari luar penjara." Lasmana Pandya mengingatkan rencananya terhadap para tahanan yang kini mulai menunjukan wajah kegembiraan mereka.


Setelah itu, Lasmana Pandya mengganti pakaiannya dengan menggunakan pakaian milik Ao Cu, setelah memakainya Lasmana Pandya keluar dari penjara kota Larangan dengan ketenangan wajah yang ia perlihatkan saat berpapasan dengan para penjaga penjara.


Karena para penjaga adalah prajurit komandan Ao Tian, dan Ao Tian adalah ayah dari Ao Cu, maka para penjaga itu mengira yang melewati mereka adalah Ao Cu, sehingga mereka terus menundukan kepala mereka.


Lasmana Pandya terus mempercepat langkahnya hingga benar benar telah keluar dari penjara kota Larangan, setelah itu ia memasang senyum mengerikan dibalik topengnya.


"Sekarang saatnya," ucap lirih Lasmana Pandya.


Swuuuush!


Pada malam itu, Lasmana Pandya berkelebat dan bersembunyi diatas rumah pohon yang ada. Matanya yang tajam mencari kedai minuman.


Swuuuush!


Kraaack!


Setelah berhasil memasuki kedai menggunakan celah yang ia gunakan, Lasmana Pandya tiba tiba terkejut.


"Pemuda bertopeng, apa yang kamu lakukan didapur ini? Apalagi kamu berani merusak kedai miliku." Seorang pemuda berkulit putih menatap tajam Lasmana Pandya.


Tanpa banyak basa basi, aksinya yang tak ingin terbongkar segera melesat, dan menebas leher pemuda itu dengan mudahnya.


Langkahnya yang ringan serta tidak memiliki suara, serta tebasan pedangnya juga tak menimbulkan suara membuat Lasmana Pandya segera menyeret mayat pemuda itu kearah kamar kecil yang ada didapur itu.


Setelah memindahkan mayat, Lasmana Pandya segera menaburkan racun kearah guci arak yang ada disetiap guci yang berisi arak kedai tersebut. Setelah semuanya selesai, Lasmana Pandya mengintip kearah ruang utama para pelanggan untuk menikmati minuman dan makanan kedai secara diam diam.


Melihat beberapa pelayan kedai sedang melayani para pelanggan.


"Pelayan! Apakah kalian bisa menggantikan ku sebentar. Aku sangat mengantuk, jadi aku akan tidur dikamar kecil ini." Lasmana Pandya yang ingin melakukan aksinya ke kedai lainnya segera memiliki rencana lain.

__ADS_1


"Baiklah tuan, tunggu setelah melayani tamu yang satu ini," balas seorang wanita dari luar.


Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu ia membersihkan bercak darah yang dimiliki oleh pria yang telah ia bunuh dengan cepat.


Setelah itu, Lasmana Pandya keluar dari kedai melewati celah yang ia buat dengan memasang kembali celah tersebut seperti semula. Setelah memasangnya, raut wajah Lasmana Pandya berubah menjadi tajam.


"Hei maling kecil," ucap seorang pria paruh baya menggunakan jubah kerajaan Bai menatap Lasmana Pandya dengan tatapan penuh selidik.


"Jika bertarung dengannya, pastinya rencanaku akan gagal." ucap dalam hati Lasmana Pandya mengukur ranah kultivasi pria tersebut diranah kultivasi yang sama dengannya.


Swuuuush!


Tanpa ingin mendebat, Lasmana Pandya melesat dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya di kecepatan puncaknya.


Swuuuush!


Tak tinggal diam, pria yang tak lain komandan prajurit dari kerajaan Bai itu juga menggunakan ilmu meringankan tubuhnya mengejar Lasmana Pandya.


Swuuush! Swuuush!


Kondisi malam hari yang sepi, dan hanya ramai di tempat tertentu, membuat aksi kejar kejaran keduanya tidak dilihat oleh pasukan lainnya. Sambil mengedarkan kekuatan jiwanya, Lasmana Pandya yang telah berada di tempat yang sangat sepi, dan tidak merasakan aura milik Kultivator lain diareanya, membuatnya segera menghentikan ilmu meringankan tubuhnya.


"Huh pemuda nakal, cepat serahkan dirimu."


Lasmana Pandya membalikan tubuhnya menatap komandan kerajaan itu dengan tatapan mengejek dibalik topengnya.


"Serahkan diri? Memang aku melakukan kesalahan apa?" Lasmana Pandya membuat komandan tersebut salah tingkah.


"Ka-kamu,"


Namun disaat tidak bisa membalas ucapan Lasmana Pandya, komandan kerajaan Bai itu tersenyum, karena tersadar bahwa pemuda bertopeng didepannya memiliki kulit yang berbeda dengannya.


"Hehehe ternyata hanya tikus kecil yang ingin mengantarkan nyawanya sendiri."


Swuuuuush!


Komandan Kerajaan Bai itu melesat kearah Lasmana Pandya tanpa ingin berdebat kembali, dengan mengeluarkan pedangnya, serta rasa percaya dirinya yang tinggi kini komandan kerajaan Bai mulai mengayunkan pedangnya kearah Lasmana Pandya.


Tiiiiiiing!

__ADS_1


###


Masih satu episode perhari, karena kontrak belum dapet ya.


__ADS_2