
"Argghhg!" Sosok itu mengamuk mengeluarkan petir tanpa warna akibat kegagalannya. Dan tentunya bukan hal itu yang ia takutkan, melainkan rencana majikannya tentu akan terbongkar.
Di Kekaisaran Hong. Lasmana Pandya yang telah terluka parah akhirnya tiba ditempat gerbang teleportasi.
"A-aku..." Swuuuuush!
Segel yang menutupi Ao, dan lainnya menghilang, setelah itu Lasmana Pandya terjatuh pingsan akibat luka parahnya.
"Jendral Xiao!" Ucap mereka panik, sekaligus terkejut telah berada di Kekaisaran Hong.
Bai yang sudah tidak peduli mengenai penyamarannya segera mengalirkan sejumlah Qi yang cukup besar dan membantu memulihkan keadaan Lasmana Pandya. Namun sayangnya lukanya terlalu parah, hingga ia sendiri harus mempertaruhkan aura kehidupannya.
Swuuuuuush! Swuuuuush!
Muncul tiga Jendral Kekaisaran Hong dengan tatapan tajam menatap rombongan mereka.
"Je-jendeal Xiao!" Ucap Jendral Ziyang Jia terkejut mengenali semuanya.
"Hormat pada para Jendral!" Ucap semua orang kecuali Bei yang masih mengalirkan aura kehidupan pada Lasmana Pandya.
"Bei jangan bodoh! Apakah kau akan mati!" Timpal Jendral Xie Shi muncul disamping Bei dan menghentikan tindakan Bei.
Bei seketika marah dan menatap Xie Shi dengan tatapan membunuh.
"Jendral Xie Shi! Apakah kau ingin Jendral Xiao mati!" Ucapnya meninggi.
Ucapan Bei dibenarkan oleh Ao, dan Lei serta prajurit yang mengerti kondisi Lasmana Pandya.
"..." Xiao terdiam.
Kemudian Jendral Ziyang Jia segera memeriksa kondisi Xiao, wajahnya menegang merasakan luka yang sangat parah didalam tubuh Xiao.
"Jendral Xiao...!"
"Bei, kau segera bawa Jendral Xiao ke kediamannya, dan untuk Ao segera panggil tabib terhebat di Kekaisaran ini!" Ucap Ziyang Jia juga panik, namun ia segera memerintahkan perintah.
"Baik!"
Swuuuuush!
Bei yang sangat khawatir membawa Hong Xiao ketempat kediamannya. Meskipun ia menyamar, tentunya ia sangat paham letak kediaman Hong Xiao karena ia menyerap pikiran dan ingatan Bei. Ziyang Jia menatap sisanya dengan tatapan ramah.
"Sekarang kalian laporkan pekerjaan kalian pada Kaisar," ucap Ziyang Jia kemudian menatap Xie Shi yang wajahnya penuh bersalah.
__ADS_1
"Xie Shi tenanglah itu murni kesalah pahaman, karena kita tidak tahu akar permasalahannya," ucap Ziyang Jia yang mengerti perasaan Xie Shi.
Satu jam kemudian, Lasmana Pandya diperiksa oleh tabib terkenal di Kekaisaran. Wajah tabib itu berubah ubah saat kekuatannya ditolak mentah mentah oleh tubuh Lasmana Pandya.
"Tabib bagaimana?" Tanya Bei cepat karena tak sabar.
Tabib itu menatap Bei dengan serius. Setelah itu ia menghela napas panjang.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuh Jendral Xiao, tapi yang jelas lukanya sangat parah, dan disaat aku membantu memulihkannya, kekuatanku ditolak mentah mentah oleh energi asing yang tidak kukenal didalam tubuhnya," ucap tabib itu.
Wajah Bei sedikit menegang mendengarnya, namun dengan cepat ia segera mengalirkan aura kehidupannya hingga wajahnya sedikit memucat.
"Komandan Bai apa yang kau lakukan!" Ucap panik tabib tersebut.
"..." Bei hanya diam dan terus melanjutkan aktivitasnya.
Tak berselang lama, dibalik pintu sepuluh aura termasuk tiga Jendral utama Kekaisaran Hong dan Kaisar Hong Fai serta anak dan permaisuri datang tergesa gesa.
"Tabib bagaimana keadaan paman Xiao!" Ucap putri Hong Shi panik.
"...." Tabib itu hanya diam, karena ia sendiri bingung mengatakannya.
Karena itu Kaisar Hong Fai segera menghampiri Bei dan juga mencoba membantu mentransferkan aura kehidupannya.
"Ka-kaisar!" Ucap panik mereka.
"Gege Fai," permaisuri Ziyang Lie ikut membantu suaminya.
Mereka yang ada di ruangan tersebut sangat terkejut dengan apa yang dilakukan dua orang yang sangat disegani tersebut.
****
Dialam bawah sadar Lasmana Pandya.
"Apakah aku telah mati," ucapnya sambil menatap kegelapan disekitarnya.
Tiba tiba, muncul secercah dua cahaya bola keemasan mengambang didepannya. Cahaya itu perlahan membesar dan pada akhirnya memunculkan dua sosok yang membuatnya sangat terkejut.
"Pandya..." Ucap keduanya lembut.
"...." Lasmana Pandya terdiam, tiba tiba air matanya menetes dengan derasnya.
"A-ayah ... I-ibu..."
__ADS_1
Keduanya hanya tersenyum melihat anaknya menangis. Setelah Lasmana Pandya sudah memastikan didepannya benar benar kedua orang tuanya ia menghamburkan diri dan langsung memeluk mereka dengan hangat.
"Pandya, apakah kamu tahu kedatangan kami?" Tanya Prabu Panca Driya.
Lasmana Pandya melepas pelukan keduanya dan menatap kedua orang tuanya dengan hangat.
"..." Hanya gelengan kepala sebagai jawabannya.
Ayah dan ibunya kembali tersenyum.
"Lihatlah sekitarmu, apakah gelap?" Tanya ayahnya.
Lasmana Pandya mengangguk.
"Ini adalah jiwamu, penuh dengan kegelapan karena ambisimu. Kedatangan kami hanya ingin memberi tahumu, hitam bukan bearti jahat, putih juga tidak bearti suci. Semuanya tergantung perilaku masing masing. Kekuatan besar juga didasari oleh keinginan pemilik kekuatan. Mereka yang ingin melindungi keluarga, tanah air, dan orang yang disayangi. Ada juga yang hanya ingin menjadi penguasa seluruh alam. Jadi sampai sini apakah Pandya sudah tau apa yang ayah bicarakan..."
Lasmana Pandya diam sejenak. Setelah itu tiba tiba ia tersadar saat ia masih berada di Kerajaan Sangsakerta saat kehilangan kesadaran. Bahwasannya alam sadarnya tidak segelap ini. Dan karena itu ia sadar alasan alam sadarnya telah menjadi segelap ini.
"Ayah Pandya paham... Tapi Pandya tidak akan membiarkan mereka bermain seenaknya ditanah Jawa kelahiran Pandya. Karena itu Pandya melakukan semua ini..."
Prabu Panca Driya mengangguk.
"Hitam bukan bearti jahat, kau harus pelajari makna itu. Semua itu didasari oleh perilakumu masing masing. Jika kekuatanmu didasari oleh kegelapan, maka kontrolah dan berbuat apa yang menurutmu baik."
"Pandya jaga dirimu baik baik, doa Ayah dan Ibu menyertai keberadaan dimanapun kamu berada..."
Swuuuuush!
Perlahan dua sosok yang ia sayangi menjadi asap keemasan yang menghilang secara perlahan. Lasmana Pandya terdiam, kini ia sadar sepenuhnya disaat ia hampir kehilangan kendali.
"Jadi aku harus mengontrol emosi, dan jiwaku..." Gumam Lasmana Pandya melihat sekitarnya.
Swuuuuung!
Tak berselang lama, tiba tiba udara di alam bawah sadarnya bergetar hebat. Muncul asap kemerahan yang perlahan membentuk manusia. Hal itu membuat mata Lasmana Pandya melotot, karena yang didepannya wajahnya sangat mirip dengannya, namun terdapat satu tanduk dikeningnya.
"Kau siapa?" Tanya tenang Lasmana Pandya.
Namun tatapan serta kewaspadaannya menjadi tajam dan tinggi.
"Hahahahaha! Kau mengatakan aku siapa? Kamu siapa!"
"Pandya kita itu sama! Jangan dengarkan ucapan ayahmu yang telah mati itu! Dan bukankah kau menikmati disaat kau membunuh dengan brutal?" Tanya sinis sosok itu.
__ADS_1
Lasmana Pandya terdiam, ia sendiri juga pernah merasakan hal yang disebutkan pada sosok tersebut saat membantai lawan ditanah Jawa.
"Meskipun dia ayahku yang telah mati, tapi ucapannya adalah tuntunan masa depan yang mampu membuatku tahu apa artinya kehidupan... Tidak sepertimu yang selalu haus akan darah...," Ucap dingin Lasmana Pandya.