
"Hemppppp!" Aura pembunuh yang terus menyebar juga tiba tiba meningkat karena Lasmana Pandya telah membunuh kembali.
"Pedang Bayangan Darah!"
Swuuuuuuush! Swuuuuush!
Lasmana Pandya kembali menggunakan jurus yang sama, karena ia tidak ingin terus terusan mengeluarkan kartu trufnya.
"Baj*ngan ini mengeluarkan jurus yang sama!" Teriak murka salah satunya yang kesal, karena gerakan Lasmana Pandya sangat cepat.
"Tebasannya juga selalu mengarah titik vital, saudara gabungkan gerakan pedang!"
"Gerakan sembilan pedang, naga melahap langit!" Teriak mereka bersamaan membuat lingkaran mengepung pergerakan Lasmana Pandya.
Swuuuuush!
Lasmana Pandya berubah menjadi sangat serius ketika mereka membuat pola serangan dan pertahanan.
"Pertahanan ini..." Ucap Lasmana Pandya terus memberikan serangan cepat yang selalu diblokir dengan dua pedang disetiap gerakannya.
Dhuuuuaar! Dhuuuuuaar!
Ledakan terus menggema disaat pedang Sangka Geni membentur dua pedang yang secara bersamaan. Melihat pertahanan mereka yang sangat kokoh, Lasmana Pandya tidak memiliki pilihan lain selain mengeluarkan kartu truf lainnya.
"Diagram Jiwa! Cincin Seribu Roh!" Teriak Lasmana Pandya membuat segel dari pedangnya.
Kesembilan prajurit terlatih itu menaikan kedua alisnya. Mereka menduga Lasmana Pandya ingin kabur, namun sesaat akan mengejar. Ribuan sosok Lasmana Pandya muncul dari balik cermin yang mirip segel teleportasi itu.
"A-apa a-apaan..." Ucap mereka tercekat.
Terkejut, kagum, ngeri menjadi satu saat merasakan sosok yang sama itu berada ditingkat Kultivasinya dibawah Lasmana Pandya sendiri.
"Saudara mundur!" Peringatan rekannya saat sosok yang telah keluar dari cermin itu menerjang dan mengeroyok mereka satu persatu.
Disisi lain, tahanan yang berhasil membunuh sisa prajurit lawan mereka terbengong, melongo dan terkejut melihat jurus yang digunakan oleh Lasmana Pandya.
"Pemuda ini sangat mengerikan," ucap yang disetujui lainnya.
"Benar saudara, aku tidak menyangka bocah yang tak dikenal ini memiliki kartu truf yang tidak bisa ditebak," timpal lainnya.
Ribuan sosok yang mengepung sembilan prajurit kini benar benar kewalahan. Meskipun mereka dapat membunuh, tapi sayangnya yang dibunuh mereka tidak memiliki nyawa. Jadi mereka terus membuang energi mereka.
Disisi lain, Lasmana Pandya yang berada diatas langit lebih tinggi lagi duduk dengan tenang sambil memantau pertempuran yang berat sebelah.
"Arrrghh! Tunjukan wajah aslimu jika kau memang lelaki!" Teriak salah satu prajurit yang terlempar akibat pukulan bayangan Lasmana Pandya.
Dari sisi Utara.
"Jendral Cheng, siapa yang berani berani menyerang tempat ini," ucap prajurit yang heran karena getaran terus terjadi.
"Entahlah, yang pasti ini ulah tahanan yang sepertinya berhasil lolos dari segel jiwa," Jendral Cheng menjawab.
"Lebih baik siapkan pasukan, dan bantu rekan kita," ucap Jendral Cheng.
__ADS_1
****
Swuuuuuush!
Sosok Lasmana Pandya yang asli melesat kearah tahanan yang ia selamatkan dengan tenang. Hingga kehadirannya membuat semua orang terkejut.
"Tu-tuan muda..." Sapa mereka.
Lasmana Pandya hanya mengangguk, dan tidak membalas sapaan mereka. Namun tiba tiba sosok tetua yang berada disamping Lasmana Pandya terkejut akan sesuatu.
"Ohh tidak!" Ucapnya teringat sesuatu.
"Senior apa ada yang salah?" Tanya Lasmana Pandya.
"Jendral Cheng berada di dunia ini, jika ada dia aku takut kita semua akan musnah tidak tersisa," ucap tetua tersebut.
Lasmana Pandya menaikan kedua alisnya karena heran dengan rasa takut yang dialami sosok tetua yang berada ditingkat Sainst Glory empat itu.
"Tetua ranah Kultivasi anda juga sama denganku kenapa anda terlalu risau?" Tanya Lasmana Pandya heran
"Tuan muda dia berada ditingkat Puncak," jawab tetua itu serius yang membuat semua tahanan tersadar akan keberadaan Jendral Cheng.
"Gawat! Kalian cepat pergi dari sini, aku akan menahannya untuk tempat kalian melarikan diri."
"Ta-tapi..." Ucap mereka ragu.
"Tetua bagaimanapun jika kita tertangkap bukankah akan mati juga," ucap serius Lasmana Pandya.
Swuuuuuush! Swuuuuush!
Baru sepuluh meter terbang akan meninggalkan tempat itu. Tiba tiba aura kesadaran pedang menyebar menekan semua pergerakan kecuali Lasmana Pandya yang terlindungi dari aura pembunuhnya.
"Aura kesadaran pedang...." Ucap mereka langsung jatuh pada permukaan tanah.
"Aura ini sangat kuat..." Gumam Lasmana Pandya.
Swuuuuuung!
Udara bergetar dibarengi dengan munculnya ratusan pasukan yang dipimpin oleh Jendral Cheng menatap ribuan sosok yang sama membunuh prajuritnya.
"Arrghhhh! Ulah siapa ini!" Ucapnya menggema mengguncang dunia kecil tersebut.
"Jendral..." Ucap mereka yang telah terluka parah.
Jendral Cheng yang marah mengangkat telapak tangannya. Petir hitam keemasan muncul menyambar ribuan sosok tiruan Lasmana Pandya menjadi asap yang bertebaran.
Dhuuuuuaar! Dhuuuaar! Dhuuuaar!
Ledakan beruntun terjadi, Lasmana Pandya yang dapat bergerak menguatkan tekadnya untuk memberikan jalan pada tahanan untuk kabur dari tempat tersebut.
"Jika ada celah kalian semua kaburlah," ucap Lasmana Pandya.
Swuuuuuuung!
__ADS_1
Tubuh Lasmana Pandya bergetar, melihat adanya aura kuat yang dirasakan oleh Cheng ia menatap kearah Lasmana Pandya dengan tatapan tajam.
"Ternyata bocah ini yang membuat kekacauan! Pergi dan bunuh dia unttuku!" Teriak Jendral Cheng memerintah.
"Baik!"
Swuuuuuush! Swuuuuuush!
Ratusan sosok menerjang kearah Laasmana Pandya menggunakan pedang mereka masing masing.
"Diagram Jiwa! Cincin Seribu Roh!" Teriak Lasmana Pandya membuat segel menggunakan pedangnya.
Setelah memasuki segelnya, ribuan sosok tiruan Lasmana Pandya melesat menyerang para prajurit yang melesat kearahnya.
Sedangkan sosok aslinya bersama seratusan sosok tiruan berada disamping para tahanan.
"Senior, ini celah cepat pergi!" Telepati Lasmana Pandya memberikan kode melesat keberbagai arah.
Swuuuush! Swuuuush!
Tanpa komando, ratusan tahanan itu melesat keberbagai arah yang membuat Jendral Cheng benar benar murka.
"Sampah!" Teriaknya menggema.
Fenomena alam terjadi dengan munculnya petir petir dalam dunia kecil itu.
Dhuuuaaar! Dhuuuaar!
Jendral Cheng melesat sambil menunjukan kekuatan puncaknya meledakan tahanan yang kabur menggunakan petir yang terus menyambar diatas langit.
"Jika tidak ingin mati tetap ditempat!" Peringatan menggema Jendral Cheng.
"Aku tak menyangka bahwa banyak sosok kuat dibalik Kaisar Yang Lin," ucap Lasmana Pandya kemudian menghentakan kakinya terbang didepan Jendral Cheng membuyarkan fokusnya untuk meledakan tubuh para tahanan.
"Karena kau ingin mati terima ini!"
Jendral Cheng melihat kecepatan Lasmana Pandya dan memberikan tinju petirnya kearah Lasmana Pandya.
Dhuuuuuuaar!
Hantaman keras itu mampu membuat seluruh tubuh Lasmana Pandya kebas dibarengi dengannya yang terpental sejauh dua ratus meter kebawah hingga menabrak permukaan tanah dan membuat kawah sebesar dua meter.
"Sangat kuat..." Ucap Lasmana Pandya mencoba menyeimbangkan tubuhnya untuk berdiri.
"Ooo kau masih dapat bertahan?" Tanya sinis Jendral Cheng.
"Tahanan laknat tak punya otak! Jika kalian tetap di tempat tidak akan ada yang mati!" Peringatan lagi Jendral Cheng yang melihat salah satu tetua akan pergi.
Setelah melihat tidak adanya yang akan kabur, Jendral Cheng mengangkat tangannya. Daya hisap yang sangat kuat menyerap tubuh Lasmana Pandya pada genggamannya.
Plaaaaaaaak!
Setelah Lasmana Pandya berada digenggamannya, Jendral Cheng menampar Lasmana Pandya tanpa menggunakan elemen petirnya hingga menabrak permukaan tanah dan kembali membuat kawah sebesar dua meter.
__ADS_1