Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Kota Purwosari


__ADS_3

Satu hari telah berlalu, Lasmana Pandya masih berusaha naik tingkat menggunakan sumber daya mutiara jiwa milik siluman harimau ditingkat Emas Satu.


Dimalam harinya, tiba tiba ia merasakan dantian penampung seluruh energi sumber daya yang ia serap merasakan gejolak yang cukup hebat. Tanda tanda tersebut membuat Lasmana Pandya semakin mempercepat penyerapannya.


Baaaams! Pada akhirnya, Lasmana Pandya berhasil naik tingkat menjadi tingkat Emas Dua. Tak ingin menyia nyiakan waktu, Lasmana Pandya langsung menaburkan puluhan kristal jiwa untuk memperkokoh pondasi jiwanya.


Pagi harinya.


"Akhirnya aku berhasil naik tingkat," ucap Lasmana Pandya kemudian melihat seluruh tubuhnya yang terasa sangat ringan.


Karena tidak dapat melakukan apapun, Lasmana Pandya memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanannya ke Kota terdekat, menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Dua jam perjalanan, Lasmana Pandya akhirnya tiba didepan gerbang Kota Purwosari.


"Tuan mohon tunjukan identitas anda," ucap sang penjaga gerbang kota menghentikan langkah Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya mengangguk, serta mengeluarkan plat emas Kerajaan Sangsakerta yang membuat sang penjaga gerbang seketika berlutut dihadapan Tuan mudanya.


"Tu-tuan muda ampuni hamba yang tidak mengetahui identitas Tuan muda," ucap penjaga gerbang masih berlutut.


Lasmana Pandya terdiam kemudian menatap pria penjaga gerbang kota Purwosari dengan tenang.


"Penjaga itu sudah kewajiban mu, tapi bisakah anda bersikap biasa saja? Lihatlah para warga menatapku dengan tatapan penasaran."


Sang Penjaga yang mengetahui didepannya adalah anak dari Prabu Panca Driya masih berlutut.


"Penjaga!" Gusar Lasmana Pandya yang risih ditatap banyak orang.


"Tu-tuan...," ucap sang penjaga kemudian berdiri, namun tidak berani menatap wajah Lasmana Pandya sama sekali.


"Baik aku akan memasuki kota ini, tapi ingatlah jangan pernah beritahu identitasku kepada orang lain, terutama Walikota Purwosari."


"Ba-baik tuan," jawab cepat sang Penjaga.


Lasmana Pandya kemudian mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju kota Purwosari dengan tenang. Namun wajahnya yang menunjukan ketenangann rupanya tidaklah sama dengan pikirannya yang gelisah.


"Jika aku menggunakan plat Kerajaan, maka perjalananku tidaklah muda," gumam Lasmana Pandya terus menghindari keramaian, karena ia takut beberapa diantara warga mengenali dirinya.


Tepat didepan toko pakaian, tiba tiba Lasmana Pandya menghentikan langkahnya.


"Tuan muda, apakah anda ingin mencari sesuatu ditoko kami?" tanya salah satu wanita cantik.


Lasmana Pandya mengangguk, ia akhirnya memasuki toko pakaian sambil mempercepat langkahnya.


"Nona, apakah aku dapat mencari topeng atau penutup wajah?" tanya Lasmana Pandya.


Pelayan itu terlihat ragu melihat raut wajah tampan Lasmana Pandya yang ingin menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Ta-tapi tuan...," ucap sang pelayan lirih.


"Haiiish ... Antarkan saja, karena aku membutuhkannya."


"Baik tuan," ucap sang pelayan sambil menundukan wajahnya.


Sang pelayan akhirnya membawa Lasmana Pandya ke lantai dua, sesampainya.


"Tuan, dilantai dua ini terdapat banyak sekali penutup wajah, dan beberapa senjata tingkat rendah dan sedang."


"Baik terimakasih penjelasannya," jawab Lasmana Pandya kemudian mencari topeng yang pantas ia kenakan.


Tiba didepan topeng hitam polos, Lasmana Pandya menghentikan langkahnya.


"Sepertinya cocok digunakan olehku...," ucap lirih Lasmana Pandya kemudian mencoba memakainya.


Lasmana Pandya melepas kembali topeng tersebut dan bergegas mencari pedang untuk di gunakan saat berpetualang nantinya. Tepat didepan pedang hitam polos, Lasmana Pandya kembali menghentikan langkahnya.


"Tuan muda pedang ini pedang tingkat sedang, apakah anda menginginkannya?" tanya seorang wanita mengejutkan Lasmana Pandya.


"Tingkat sedang, pasti harganya mahal," gumam Lasmana Pandya.


"Nona berapa harga pedang hitam ini?" tanya Lasmana Pandya.


"Dua ratus tiga puluh ribu tuan," jawab Pemilik toko.


"Jika membeli Pedang ini, maka aku tidak akan memiliki uang lagi," gumam Lasmana Pandya sambil menghela napas panjang.


Melihat pemuda tampan yang seperti menginginkan pedang hitam itu, namun seperti tidak memiliki uang membuat sang pemilik tersenyum ramah dan memberi penawaran pada Lasmana Pandya.


"Tuan, karena baru minggu ini kami menjual pedang, dan karena hanya anda yang ingin membeli pedang bagaimana jika aku berikan potongan harga dua ratus ribu kristal jiwa?"


Lasmana terdiam.


"Setidaknya aku masih memiliki tiga puluh kristal jiwa," gumam Lasmana Pandya kemudian mengangguk.


"Emm bagaimana dengan harga seratus sembilan puluh ribu kristal jiwa?" tanya Lasmana Pandya.


Sang Pemilik yang mengira Lasmana Pandya setuju dengan harga kedua yang diberikan tiba tiba tersenyum kecut.


"Tuan muda..."


"Maaf jika anda tidak menyetujuinya, maka aku hanya akan membeli topeng hitam ini saja," ucap memotong Lasmana Pandya.


Wanita pemilik toko hanya bisa menghela napas panjang.

__ADS_1


"Baiklah aku sepakat dengan harga yang kamu minta itu," ucap Pemilik toko sambil tersenyum kecut.


Senyum dibibir Lasmana Pandya terkembang, sontak senyumannya yang disertai wajah tampan membuat wajah pemilik toko memerah.


"Tu-tuan mari kita segera ketempat pembayaran," ucap sang pemilik toko yang tiba tiba salah tingkah.


Sedikit heran dengan reaksi wanita itu, akhirnya Lasmana Pandya hanya mengikuti perkataannya saja dan menuju ketempat pembayaran.


Setelah semuanya selesai, Lasmana Pandya keluar dari toko itu dengan menggunakan penutup wajah yang tak lain topeng, disertai pedang hitam yang ada dibalik punggungnya.


"Sepertinya aku harus menggunakan identitas orang lain," gumam lagi Lasmana Pandya yang tak ingin orang orang mengetahui identitasnya.


Sebelum melanjutkan perjalanannya mencari sumber daya yang ia butuhkan, Lasmana Pandya memutuskan mencari resto terdekat. Sesampainya.


"Tuan siapkan sup hangat dan beberapa minuman."


"Baik."


Sambil menunggu pesanannya, tiba tiba Lasmana Pandya merasakan beberapa orang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kenapa mereka menatapku dengan tatapan seperti itu," gumam Lasmana Pandya.


Hingga akhirnya pesanan tiba dan Lasmana Pandya yang tak ingin membuat masalah segera menghabiskan seluruh pesanannya. Setelah membayar semuanya, Lasmana Pandya bergegas keluar dari resto dan melanjutkan perjalanannya.


"Gawat mereka mengikutiku, sebenarnya apa yang membuat mereka mengikutiku," gumam Lasmana Pandya mempercepat langkahnya keluar dari kota Purwosari.


Setelah diluar kota, Lasmana Pandya melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya kearah hutan dekat kota Purwosari dengan menggunakan kecepatan puncaknya.


Swuuuush! Swuuuush!


"Gawat pemuda itu mengetahuinya, cepat segera kejar," perintah salah satunya.


Swuuuush! Swuuuush! Lima orang berkulit putih yang ada di resto melesat mengejar Lasmana Pandya menuju kedalaman hutan.


"Mereka terus mengikutiku, sebenarnya apa alasannya," gumam Lasmana Pandya kemudian bersembunyi di sebuah rerumputan yang lebat.


Swuuuuush! Swuuuuush! Lima pria paruh baya yang mengikuti Lasmana Pandya menghentikan lesatan mereka.


"Ahhh sial!" gerutu salah satu diantaranya.


"Saudara apakah benar pemuda itu anak dari raja Prabu Panca Driya?" tanya yang lain heran.


"Tentu benar, dan kenapa aku bisa mengetahuinya, karena disaat digerbang kota aku melihatnya memasuki toko pakaian, dan setelah itu pemuda tersebut keluar menggunakan topeng serta pedang hitam dibalik punggungnya," salah satunya terus menjelaskan.


"Lihatlah gambar ini..." seorang pria yang memberikan gambar wajah Lasmana Pandya.

__ADS_1


Sedangkan Lasmana Pandya yang bersembunyi dibalik rerumputan matanya melotot melihat wajahnya ada dikertas yang diperlihatkan oleh rombongan tersebut.


"Kenapa mereka memiliki gambar wajahku," gumam Lasmana Pandya.


__ADS_2