
"Bocah apa kau mengindahkan kataa kataku ini!" Tetua tersebut sangat geram.
"Huh! Aku akan menghormati mereka yang mau menghormatiku, tapi tidak dengan seseorang yang memiliki arogansi tinggi karena keberadaan latar belakangnya...," Nada ucap Lasmana Pandya bertambah dingin.
"Plesetan dengan omonganmu! Mati!" Teriak salah satu tetua yang memiliki ranah Kultivasi Langit tingkat tiga mengerahkan tinjunya kearah Lasmana Pandya menggunakan seperempat kekuatannya.
Senyum kecil diperlihatkan Lasmana Pandya, sesaat melihat tinju akan mengenai wajahnya, ia segera bergerak kekiri lalu menangkap kepalan tangan tetua itu, dan segera memutar pergelangannya secara paksa.
Kraaaack!
Suara tulang patah terdengar, hal itu membuat Joko dan kedua tetua lainnya membelalakan mata mereka.
"Akkkhh! Tanganku!" Teriak tetua tersebut kemudian mundur.
"Sepertinya pemuda ini benar benar pendekar bertopeng yang sedang naik daun," ucap telepati Joko kearah ketiga rekannya.
Karena bagaimanapun seorang Kultivator ranah Emas tingkat lima tidak mungkin dapat mengikuti kecepatan Langit Tiga.
"Hahahaha! Pendekar bertopeng, akhirnya kau menunjukan jati dirimu, kenalkan kami empat ..." Ucapan Joko terpotong.
"Sudah tidak perlu pengenalan lagi, cepat katakan tujuan kalian...," Ucap datar Lasmana Pandya.
Sedikit geram dengan ucapan Lasmana Pandya, tapi mereka yang memiliki tujuan atau misi pemberian ketua padepokan tak ingin membawa masalah lebih panjang lagi.
"Baik jika pendekar muda menginginkannya, aku Joko akan memberi tahu..."
"Sudah kukatakan katakan saja topik utamanya," tanpa sopan santun Lasmana Pandya kembali memotong ucapan Joko.
Mereka berempat seketika menjadi merah wajahnya, namun pesan akan Ketua Padepokan membuat mereka hanya bisa memendam kekesalan mereka.
"Ketua padepokan ingin kamu mengikuti turnamen Kultivator Negeri sebrang di Kerajaan Bai Shi, bukankah ini hal yang baik? " Tanya Joko mencoba ramah.
Kedua alis Lasmana Pandya terangkat mendengarnya. Sedangkan keempat tetua tersebut merubah wajah mereka dengan penuh harapan besar.
"Oooh jadi kalian ingin aku mengikuti turnamen itu, dan tentunya ikut sertaanku ini atas nama padepokan Gajah Mada?" Tanya Lasmana Pandya santai.
"Benar, apakah kau setuju," Tanya Joko masih memasang wajah penuh harapnya.
__ADS_1
"Ti ... Dak."
Deeeeggh!
Tak menyangka mereka mendengar penolakan pendekar bertopeng secara langsung, dan hal itu membuat mereka kehilangan wajah karena penolakan Lasmana Pandya.
"Pendekar tolong pikirkan lagi, dengan itu kamu akan menjadi murid ketua sekte kami secara resmi, dan tentunya semua sumber daya sekte dapat kamu gunakan sesuka hatimu," ucap Joko mencoba menahan amarahnya.
"Jika aku bisa mencarinya sendiri, kenapa harus mengemis?" Tanya Lasmana Pandya sambil menaikan salah satu alisnya.
Sontak ke empatnya tak bisa menahan emosi mereka, mereka yang telah mencoba ramah kini merubah ekspresi mereka menjadi amarah yang tinggi.
"Pemuda bertopeng! Meskipun kau kini sedang naik daun, namun sayangnya kamu kini harus berhadapan dengan kami. Dan jangan lupa kamu juga telah melukai murid kami, dengan mengikuti kami apalagi kamu menjadi murid ketua padepokan, hal ini pasti dapat dimaafkan! Jadi ..."
"Jadi tetap saja aku tidak ingin menyetujui keputusan ketua Padepokan kalian," ucap santai Lasmana Pandya.
"Baj*ngan! Kau benar benar tidak bisa diajak kompromi!" Salah satu tetua melepas ranah kultivasinya ditingkat Langit tiga.
Swuuuuush!
Baaaaams!
Kejadian yang sangat cepat tersebut membuat tetua yang terkena tinju telak Lasmana Pandya seketika membelalakan matanya. Seolah olah adegan yang kini terjadi hanyalah mimpi belaka. Begitu juga dengan Joko, dan kedua rekannya, mereka sungguh tak menyangka pendekar bertopeng memiliki kekuatan yang sama dengan mereka.
"Pendeka bertopeng ini tidak sesederhana yang kita pikirkan, lebih baik cepat lumpuhkan dan bawa ke padepokan!" Perintah Joko.
"Baik!"
Swuuuush! Swuuush!
Ketiga tetua padepokan Gajah Mada mengepung pergerakan Lasmana Pandya, sedangkan Lasmana Pandya dengan santai menunjuk Joko tanpa sopan santunnya .
"Lebih baik kamu ikut menyerangku, agar aku dapat memanaskan peregangan ototku," ucap Lasmana Pandya sambil menggerakan tubuhnya kesamping hingga bunyi tulang terdengar.
"Bocah jangan sombong kamu! Dengan keberadaan kami saja sudah cukup!"
Swuuuuush!
__ADS_1
Lasmana Pandya yang merasa sebuah serangan melesat kearahnya segera menghindarinya dengan cepat. Tiga lawan satupun terjadi, setiap serangan yang mengarah tubuhnya sangat mudah untuk dihindari. Joko yang melihat pertempuran itu menaikan kedua alisnya.
Baaaaamss! Baaaaams! Baaaaams!
Hanya sepuluh gerakan, Lasmana Pandya segera menyerang dengan tinju kearah tiga tetua secara bergantian, sehingga tiga tetua tersebut terpental kearah belakang.
Saat tiga tetua akan kembali menyerang, Lasmana Pandya kemudian mengangkat tangannya.
"Senior pergilah, dengan kepergian kalian aku bena benar tidak akan memperpanjang masalah," ucap santai Lasmana Pandya.
"Kau kira siapa hah!" Ketiga tetua itu malah membalas ucapan Lasmana Pandya dengan keras seperti kesetanan.
Dengan segera ketiganya kembali melesat, namun kini mereka telah menggenggam pedang tingkat tinggi mereka. Senyum simpul diperlihatkan Lasmana Pandya saat ketiga pedang hampir mengenai tubuhnya, dengan cara bersalto kesamping ia seketika telah mencabut pedang hitam dipuggungnya.
"Aku harap senior tidak mengindahkan kata kataku tadi, sehingga kalian pulang ke Padepokan membawa luka,"
Swuuuush! Tiiiing! Tiiiing!
Suara benturan baja terdengar di tengah hutan pada pagi hari itu. Ke tiga tetua Padepokan Gajah Mada yang berusaha keras memberikan sebuah luka pada Lasmana Pandya terus mengeratkan rahang mereka. Berbeda dengan Lasmana Pandya yang menganggap pertempuran berbahaya itu sebagai pelatihan pertempurannya kelak jika ia menghadapi Kultivator negeri asing.
Karena ia sendiri sudah tau maksud utama mereka, menggunakannya untuk memenangkan turnamen dua bulan lagi, ia kini tidak berniat untuk membunuh mereka, melainkan hanya ingin memberi pelajaran. Jika ia membunuh mereka tentu kekuatan pendekar Jawa akan turun, dan hal itu dapat dimanfaatkan oleh Kerajaan Bai Shi.
"Kep*rat jangan cuma bisa menghindar!" Teriak murka salah satunya.
"Aiiish! Teknik berpedang senior terlalu kaku, jadi serangan senior tidak maksimal," bagaikan seorang guru, Lasmana Pandya malah memberikan komentarnya.
"Bocah aneh, seharusnya kamu yang harus lebih berhati hati lagi," gumam Joki yang terus memperhatikan pertempuran keempatnya.
"Senior, gunakan mata pedang untuk mengecoh lawan, berikan gerakan tipuan!" Ucap Lasmana Pandya memberikan arahan.
Ketiga wajah tetua tersebut berubah menjadi memerah, menurut mereka pemuda yang mereka hadapi ini tidak pantas menjadi guru mereka,dan seharusnya sebaliknya.
"Senior pinggulmu ada celah!" Ucap Lasmana Pandya mengarahkan pedangnya kearah pinggul salah satu tetua.
Dan tentunya tetua tersebut segera panik, lalu berusaha memblokir serangan pedang hitam yang kearahnya. Namun hal tak terduga terjadi, disaat pedang hitam merubah arahnya lalu menyerang kearah tetua lainnya.
"Bocah ini benar benar seperti guru, tapi karena ia telah mempermalukan rekanku maka aku akan membunuhnya...," Ucap dingin Joko yang wajahnya juga memerah melihat seorang bocah mempermainkan ketiga rekannya.
__ADS_1