
"Pusaran pedang angin!" Sebagai pengendali angin, pemuda bernama Raden Kusuma membuat Lasmana Pandya, dan Jendral Tapak Dewa yang saling menatap mengalihkan perhatian.
"Hehehe! Hanya segitu saja kemampuanmu? Biar kuberi tahu seluruh Kultivator tanah Jawa, Negeri Chinalah yang paling berkuasa!" Tidak membalas jurus andalannya, pemuda yang bernama Bao Ling Fei malah mengejek serangan mematikan milik Raden Kusuma.
Swuuuush!
Seuliet badai angin menyebar didalam arena pertempuran. Bao Ling Fei yang pada dasarnya ranah Kultivasinya lebih tinggi dari Raden Kusuma melebarkan tangannya. Buih buih petir menari nari diatas tangannya.
Tak lama, petir petir itu mulai membesar dan akhirnya Bao Ling Fei melepaskan serangannya.
Dhuuuaar! Dhuuuaar!
Ledakan mengerikan terjadi didalam arena, para penonton yang terpukau segera bersorak, tentunya mereka yang ada dipihak Bai Shi. Berbeda dengan penonton Kultivator Jawa, mereka terdiam menelan rasa kekecewaan yang dalam melihat kini Raden Kusuma terbaring tanpa daya.
Goooong! Goooong!
"Pemenangnya adalah Ling Fei! Jika para pemuda dari pihak Jawa tidak ada yang berani menantangnya, maka juara ini diambil oleh adik Bao Yun, yang tak lain Bao Ling Fei!" Teriak panitia.
Sedangkan Bao Yun yang melihat kemenangan adiknya hanya diam saja, ia sejak awal pertandingan dimulai hanya mencari pemuda bertopeng yang juga dicari ayahnya, yaitu Lasmana Pandya. Meskipun ia tergolong jenius, namun dihadapan Lasmana Pandya sebenarnya ia adalah semut yang ingin melawan harimau.
Sedangkan Lasmana Pandya sedang berkomunikasi dengan gurunya dan lainnya. Ia mengatakan agar kerusuhan yang mereka buat harus segera diurungkan.
Swuuuuush!
Tiba tiba dari kehampaan, muncul Kamandaka yang menanyakan alasan Lasmana Pandya.
"Muridku, sepertinya kau ragu apakah kamu lupa dengan keberadaan ku?" Tanya Kamandaka sambil menaikan sebelah alisnya.
"Guru lihatlah sekitarnya," ucap Lasmana Pandya yang tak ingin menjelaskan.
Sedangkan Kamandaka merasakan hal yang sama, namun saat merasakan kedua sosok yang dikenal bersembunyi didalam ilusi, wajahnya memerah.
***
"Jika tidak ada yang ingin melawan, maka hitungan ke tiga Bao Ling Fei akan menempati posisi pertama!" Ucap lagi suara bergemuruh panitia.
"Satu!"
***
Sedangkan Lasmana Pandya dan Kamandaka yang mengurungkan niat untuk membuat kerusuhan akhirnya memiliki ide yang tentunya juga dapat menjadi bumerang mereka semua.
"Bagaimana? Apakah kau setuju?" Tanya Kamandaka.
"Baik guru," jawab Lasmana Pandya.
****
__ADS_1
"Dua!"
"Tii...."
"Tunggu!" Suara Jendral Tapak Dewa menggelegar membuat para penonton menatap kearahnya.
"Raja apa ada masalah?" Tanya panitia pertandingan.
Jendral Tapak Dewa mengangguk, namun dengan cepat ia menatap Lasmana Pandya yang menggunakan topengnya.
"Pendekar muda dan kuat kenapa kau sejak tadi tidak berani membela tanah airmu? Apakah kamu hanya sosok kucing yang berpura pura menjadi harimau?" Ucap Jendral Tapak Dewa menatap kearah Lasmana Pandya.
Tentunya para penonton, dan terutama Bao Yun segera memperhatikan arah yang diucapkan oleh Jendral Tapak Dewa.
"Heeemmmp!" Hanya dengusan dingin yang keluar dari mulut Lasmana Pandya. Namun dengan cepat Kamandaka mengangguk.
"Berhati hatilah," ucapnya meskipun ia tahu yang bisa melukai Lasmana Pandya hanya Jendral Tapak Dewa dan dua sosok didalam ilusi.
Swuuuuush!
Sekali hentakan, Lasmana Pandya tiba diatas panggung dihadapan Bao Ling Fei. Bao Ling Fei yang belum mengenal Lasmana Pandya menaikan kedua alisnya.
"Apakah kau ingin menantangku?" Tanya Bao Ling Fei memberikan seringai dinginnya.
"Tentu," jawab singkat Lasmana Pandya.
Disisi penonton.
"Lihatlah! Bukankah dia pendekar bertopeng yang namanya sudah terkenal!"
"Mungkin dia hanya peniru pendekar yang hebat itu! Tak mungkin usianya semuda dia!"
Para penonton memberikan komentar mereka, namun banyak dari mereka yang berargumen pendekar bertopeng itu palsu. Meskipun masih muda, namun jelas kulitnya yang kencang membuatnya terlihat sangat muda meskipun wajahnya mengenakan topeng.
"Hahaha! Ternyata ada penantang lainnya, mari kita mulai pertandingan kembali!" Panita bersokar kegirangan.
Swuuuuung!
Muncul perisai menutupi area pertandingan. Setelah sesaatnya, Lasmana Pandya menatap Bao Ling Fei dengan tatapan datarnya.
"Buang wajah datarmu itu, atau kamu akan menyesal!" Ucap Bao Ling Fei.
"Jika begitu mohon bimbingannya...," Balas dingin Lasmana Pandya.
Goooong!
Suara tanda pertempuran dimulai terdengar. Saat akan menyerang Bao Ling Fei dan berharap Bao Ling Fei kalah dengan satu serangannya. Tiba tiba suara Kamandaka berada dipikirannya.
__ADS_1
"Bunuh saja, guru sudah menyiapkan rencana dengan ke tujuh bawahanmu," Suara Kamandaka dipikirannya.
Senyum terukir dibibirnya, meskipun ia tidak tahu rencana apa, namun yang pasti ia sangat mempercayai ucapan gurunya.
"Kamu kenapa diam saja? Apakah hanya mengaku kalah? Namun sayangnya kekalahanmu harus membawa luka!"
Swuuuuush!
Bao Ling Fei melesat sambil memberikan tinju yang dibaluti petirnya. Melihat serangan kecil yang akan tiba diwajahnya. Lasmana Pandya mengangkat tangannya keatas, setelah itu tubuhnya ia geser sedikit dengan tangan kanan yang telah diatas turun hingga mengenai kepala tengkorak Bao Ling Fei.
Dhuuuuuaar!
Satu kali serangan, Bao Ling Fei tewas dengan mayat yang tidak utuh, karena saat ini tubuhnya menjadi bubur daging. Para penonton tercengang dibuatnya, sedangkan wajah Jendral Tapak Dewa terlihat kaku melihat anaknya tewas. Tidak dengan Bao Yun yang melesat dan muncul didepan Lasamana Pandya dengan amarah yang cukup besar berkobar dihatinya.
"Kau membunuh adikku!"
Hiyyaaaaaat! Dhuuuuuaar!
Suara lolongan Bao Yun sambil mengerahkan seluruh kekuatannya. Namun kekuatan Lasmana Pandya yang sudah dikatakan Kultivator tingkat tinggi sekali lagi dengan santai menepis serangan penuh Bao Yun, sehingga daya kejut terjadi didalam arena pertempuran.
Seketika para penonton kembali kearah pertandingan dengan wajah yang sulit digambarkan, mereka terlihat bingung, karena didalam aturan pertandingan tidak boleh saling membunuh. Namun pemuda bertopeng ini membunuh dengan seenaknya, bahkan hanya satu serangan kecilnya.
"Kauuu membunuh adikku!" Ucap Bao Yun melepaskan seluruh tingkat Kultivasinya.
"Sampah tetaplah sampah!" Balas Lasmana Pandya sambil mengeluarkan Geni Danyang dari genggaman tangannya.
Dhuuuuuuaar!
Bao Yun yang telah berhasil melepaskan tinju dari genggaman tangan Lasmana Pandya segera menguatkan tekadnya untuk membalas tinju api Lasmana Pandya. Namun wajahnya terkejut saat benturan tinju, lengannya terasa mati rasa, hingga mati rasa tersebut menjalar ke seluruh tubuhnya hingga ia mati tanpa wujud.
Sekali lagi para penonton wajahnya menegang, namun dengan segera aura mengerikan menyebar dari tubuh Jendral Tapak Dewa. Wajahnya memerah, sambil menatap tajam Lasmana Pandya ia kini akan melupakan aturan yang telah ia buat sedemikian rupa, dan bahkan banyak rencana yang terselubung ia lupakan begitu saja.
"Kau membunuh kedua anakku? Baguus! Baguuus! Hahahahaha!" Bukannya menangis, Jendral Tapak Dewa tertawa seperti kesetanan.
Para tamu yang tak lain ketua Padepokan ditanah Jawa hanya mematung dan terdiam. Sedangkan Lasmana Pandya masih menatap Jendral Tapak Dewa dengan kebencian yang dalam.
Swuuuuuush!
Namun Jendral Tapak Dewa setelah tertawa tiba tiba menghilang, lalu muncul didepan Lasmana Pandya.
"Hari ini tidak ada yang bisa menyelamatkan kematianmu! Bahkan sosok Kultivator terataspun jika berada disini!"
"Mati!" Teriak Jendral Tapak Dewa tiba tiba menghilang muncul diatas langit.
Swuuuuush!
Muncul tapak tangan raksaksa diatas langit melesat kearah tubuh Lasmana Pandya dengan derasnya. Sedangkan Kamandaka yang melihat muridnya dalam bahaya kumisnya segera melengkung.
__ADS_1
"Tidak semudah itu membunuh muriidku!" Ucap Kamandaka memenuhi udara.