
Lalu bagaimana denganmu menjadi babu seorang yang kejam berani menindas mereka yang lebih lemah.
Swuuuuush!
Awan langit berkumpul dan menempel ditubuh Kamandaka, setelah itu awan awan tersebut berubah menjadi ribuan tangan sama seperti yang dilakukan Dewa Siluman. Setelah sesaatnya, keduanya melesat dan saling bertukar serangan menggunakan tangan kosong mereka.
Didalam perisai.
"Inikah pertempuran para Kultivator puncak!" Ucap penuh kekaguman Yue Xong.
Setiap pertemuan serangan tangan kosong mereka, terus menerus menciptakan gelombang luapan energi. Sehingga angin besar terus menyebar membuat pohon pohon dibawah mereka hancur.
Bahkan siluman Sambar Nyawa kini mulai menjauh lebih dari lima kilometer dari pertempuran. Tugas mereka saat ini hanya menunggu kemenangan Dewa Siluman.
Dhuuuuar! Dhuuuaar!
Langit menjadi gelap saat mereka terus menerus melakukan serangan hingga keduanya terpental kebelakang sejauh lima puluh meter.
"Bagaimana jika kita akhri pertempuran sampai disini saja," ucap Dewa Siluman membuat segel yang berbentuk persegi.
"Mari!" Balas sengit Kamandaka membuat diagram kuno khas miliknya.
Swuuuuung!
Persegi besar yang memunculkan duri duri besar dari setiap permukaan berhasil dibentuk oleh Dewa Siluman, sedangkan Kamandaka bersiap melepaskan segel penghancur diagram kuno miliknya.
"Mati!"
Swuuuuung!
Seketika udara membeku saat kedua serangan melesat berlawanan arah, sedetik kemudian ledakan yang sangat dahsyat hingga gunung besar ikut terkena efeknya memuntahkan lahar panas dari dalam perutnya.
Dhuuuuuaar! Dhuuuuaar!
Keduanya masih dipijakan mereka, namun semenit mereka bertatap tatapan, keduanya memuntahkan seteguk darah merah keemasan dari bibir mereka. Aroma wangi dari tingkatan darah tertinggi mereka pun menyebar hingga membuat Yue Xong yang mengerti kekuatan darah tersebut bergidik ngeri. Harum, namun mematikan itu adalah darah tingkat tertinggi.
"Kamandaka, mungkin jika diteruskan kamu yang akan menang, tapi apakah kamu melupakan mereka."
Swuuuush!
Enam siluman Sambar Nyawa melesat kearah Kamandaka. Kamandaka yang terluka parah, dan masih sedikit memiliki energi Qi kemudian melepaskan segel diagram kunonya. Diagram kuno tersebut berbentuk lingkaran sebesar kepala, namun saat hampir menyentuh enam siluman Sambar Nyawa diagram tersebut segera meledak.
__ADS_1
Dhuuuuar!
Ggrrrrr!
Suara desisan siluman Samber Nyawa yang terdengar dingin, mengerikan dan mampu membuat mereka yang mendengarnya ketakutan setengah mati.
"Siluman biadab!" Ucap Kamandaka menelan Pill penambah energi dari dalam cincin ruangnya.
Swuuuuush!
Sesaat setelahnya, energinya pulih hingga delapan puluh persen. Melihat itupun, Dewa Siluman merutuki dirinya sendiri.
"Bagaimana aku lupa, dia adalah Dewa Alkhemis!" Ucapnya kemudian ikut menelan Pill penambah energi, kali ini ia memikirkan rencana yang berbeda dari awal. Sehingga ia menunggu kedua belah pihak yang bertarung dan memanfaatkan kesempatan kecil.
"Teknik ruang dan waktu! Penggandaan tubuh!" Dengan cepat, Kamandaka yang mengetahui kelebihan enam siluman kuno itu membuat diagram yang seketika berubah menjadi dirinya.
"Serang!" Ucap Kamandaka menunjuk kearah enam siluman yang membuat bayangannya menyerang kearah enam siluman Sambar Nyawa. Sedangkan kini ia menatap tajam Dewa Siluman yang energinya sama dengannya.
"Kau kira aku bodoh?" Tanya Kamandaka kearah Dewa Siluman.
"Hahahaha! Sejak awal seharusnya aku menyadari, meskipun kau adalah alkhemis, teknik bertarungmu tidak lebih buruk dari saudaramu Sena yang dikalahkan oleh Dewa Iblis dan Dewa Racun," balas Dewa Siluman teringat kekalahan Sena.
"Sudah jutaan waktu lamanya," gumam Kamandaka yang juga mengingat.
Sedangkan sosok bayangan Kamandaka menghajar habis habisan siluman Sambar Nyawa, meskipun kekuatan bayangan tersebut hanya bisa menggunakan enam puluh persen kekuatan asli Kamandaka, hal itu sudah cukup untuk mengimbangi keenamnya.
"Kamandaka, bagaimana pertarungan kita hentikan dan dilanjutkan pada pertempuran sepuluh Kultivator teratas di dunia?" Tanya Dewa Siluman yang merasa bahwa rencananya gagal.
"Untuk apa menunggu puluhan tahun lagi jika saat ini aku bisa membunuhmu!"
Swuuuush!
Awan dilangit menyatu dan membuat pedang besar yang melesat kearah tubuh Dewa Siluman. Melihat serangan berbahaya kembali dlancarkan oleh Kamandaka, Dewa Siluman mengeluarkan asap hitam tebal dari dalam tubuhnya dan membentuk tangan raksaksa menepis pedang tersebut.
Swuuuuung!
Kedua jurus bertemu dan saling menahan. Hingga tiba tiba kedua jurus bergetar hebat dan membuat ledakan dahsyat kembali terjadi.
Dhuuuuar! Dhuuuuar!
Ledakan itu bagaikan petir besar yang sedang mengamuk ingin menghancurkan gunung besar didepannya.
__ADS_1
"Ini benar benar diluar rencanaku," gumam Dewa Siluman yang merasa kerepotan jika terus melawan Kamandaka.
Saat ingin membuka mulutnya, Kamandaka menghentikan niat negosiasi Dewa Siluman menggunakan ribuan diagram kuno yang melesat kearah Dewa Siluman.
"Keparat kauu!" Ucap marah Dewa Siluman segera menghilang dari kehampaan dan muncul diatas langit lebih tinggi.
Namun matanya terbelalak kaget, karena ribuan diagram tersebut masih mengikuti langkahnya.
"Hanya ada kata mati disaat diagramku mengejarmu!" Ucap Kamandaka menghilang dari pandangan lalu tiba dibelakang Dewa Siluman yang ingin kabur.
Baaaaaams! Dhuuuuuuaar!
Tanpa menyia nyiakan kelengahan Dewa Siluman, Kamandaka yang telah tiba dibelakang tubuh Dewa Siluman melepaskan tinju kerasnya. Sehingga Dewa Siluman harus terpental dan menabrak banyaknya diagram yang mengejarnya.
Ledakan terus menggema dengan luapan energi yang membuat hebusan angin bertambah kencang. Petir mulai menggelegar disaat ledakan tubuh Dewa Siluman yang terkena banyaknya diagram kuno buatan Kamandaka.
"Ternyata kau lebih pintar dariku," ucap Dewa Siluman yang melayang dan berlutut sambil memegangi dadanya sendiri.
Sedangkan bayangan Kamandaka telah menundukan enam sosok Siluman Samber Nyawa, sengaja Kamandaka tidak ingin membunuhnya, karena ia ingin siluman tersebut terus lestari, meskipun dapat membahayakan nyawa orang lain.
"Kalian berenam enyah dari sini, atau kamu mati bersamanya!" Ancam Kamandaka sambil menunjuk tubuh Dewa Siluman yang sedang memulihkan diri.
Keenam siluman Samber Nyawa itu akhirnya melesat pergi tanpa memperhatikan Dewa Siluman sama sekali. Kamandaka yang kini menatap tajam Dewa Siluman bersiap melepaskan segel diagram besar yang baru ia buat. Namun saat akan mengatakan mati tiba tiba.
"Mati!" Teriak Kamandaka melepaskan diagram kuno yang telah membesar.
Swuuuuush!
Namun tanpa diduga, sosok asap hitam yang tak lain pria paruh baya berwajah menyeramkan tiba dan menyelamatkan Dewa Siluman.
Dhuuuuuuaar!
Sehingga serangan Kamandaka hanya meleset dan diagram kuno yang besar itu hanya menabrak tanah dibawah bekas tempat Dewa Siluman.
"Dewa Racun!" Ucap terkejut Kamandaka melihat sosok yang menyelamatkan Dewa Siluman.
"Hahahaha! Benar ini aku, kedatanganku tidak sepertinya yang ingin membunuh bocah itu, jadi kau tenang saja." Dewa Racun kemudian menghilang dari pandangan membawa Dewa Siluman.
Sedangkan Kamandaka yang ingin mengejarnya segera mengurungkan niat setelah merasakan ancaman dari aura racun yang keluar dari tubuh Dewa Racun. Rahangnya kini mengerat dan sekilasnya ia menghela napas panjang.
"Jika bukan dia, mungkin aku telah mengejar Dewa Siluman kepar*t itu!" Ucap tanpa daya Kamandaka.
__ADS_1
###
Masih satu episode, yang sabar ya ges ya.