
Matanya terbuka, hal yang pertama ia lihat adalah kolam petir surgawinya yang sudah tidak bereaksi sama sekali terhadap tubuhnya yang masih terendam. Tujuh hari selama peningkatan ia seperti merasakan penyiksaan, namun hal itu membuat kualitas tulangnya semakin menjadi kuat.
"Akhirnya, saatnya aku mencari sumber daya untuk meningkatkan Kultivasiku," gumam Lasmana Pandya.
Swuuuush!
Sosok Ye Lang muncul saat itu juga dengan menampilkan wajah penuh kegembiraannya. Terharu dengan peningkatan drastis Lasmana Pandya.
"Bocah, apakah kau ingin melanjutkan rencana yang telah kau buat?" Tanya Ye Lang.
Lasmana Pandya mengangguk, kemudian ia mengganti jubahnya. Dan setelah itu, Lasmana Pandya meminta Ye Lang mengantarkannya ketempat Kamandaka berada.
Sesampainya.
"Guru," ucap Lasmana Pandya melihat gurunya sedang bermeditasi untuk mengurangi dampak racun yang ada didalam tubuhnya.
Mata Kamandaka terbuka, setelah itu ia menatap Lasmana Pandya dengan tatapan haru. Entah melihat peningkatan luar biasa pada Lasmana Pandya ataupun tekad menjadi kuat demi mendapatkan penawar untuknya. Dan kini ia sangat bersyukur mendapat seorang murid yang rela melakukan apapun untuknya.
"Guru bagaimana kondisimu," ucap Lasmana Pandya.
"Sangat baik muridku, melihatmu saja aku sudah melupakan rasa sakitku," ucap Kamandaka sambil tersenyum.
Lasmana Pandya kemudian mengungkapkan tujuannya. Kamandaka yang sebenarnya tidak menginginkan hal itu akhirnya mengizinkan. Karena Lasmana Pandya terus memaksa Kamandaka untuk mengizinkannya mencari penawar racun yang ada ditubuhnya.
"Guru, Lasmana Pandya pamit, Senior jaga guruku untukku," ucap Lasmana Pandya memberikan hormatnya.
"Baiklah nak, hati hati," ucap Ye Lang.
"Jika tidak bisa, tidak perlu memaksa," timpal Kamandaka.
Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu mereka berdua mengantar Lasmana Pandya tiba didepan gerbang lembah obat. Sesampainya.
Swuuuush!
Lasmana Pandya terbang menggunakan energi Qinya. Untuk pertama kalinya ia terbang, terlihat kecepatan yang tidak teratur. Sehingga Kamandaka dan Ye Lang yang melihat dari kejauhan sedikit tertawa.
__ADS_1
"Aku rasa muridmu akan menjadi lawan sesungguhnya Kaisar Yang Lin," ucap Ye Lang.
"Hahaha! Jika itu memang takdirnya aku bisa apa, tapi aku harap ia tidak bertindak gegabah pada setiap langkahnya."
****
Lasmana Pandya terus terbang membelah awan menuju keselatan, hal pertama yang ia dapatkan pertama kalinya terbang adalah keindahan hutan dari atas langit. Wajah kekaguman ia terus perlihatkan, hingga tak sadar menghadap kebawah terus. Tiba tiba wajahnya menegang melihat sebuah kota yang telah hancur. Bau amis, dan busuk menyengat membumbung diatas langit.
"I-ini apa yang terjadi," gumam Lasmana Pandya.
Setelah itu ia turun, dan melihat sekitarnya. Kekustan jiwanya kini tidak merasakan sama sekali kehidupan dikota ini. Namun saat melihat mayat mengenakan jubah prajurit Kerajaan Bai Shi yang ia lihat membuatnya berpikir.
"Apakah pihak kota berseteru dengan kerajaan Bai Shi?" Tanya dibenaknya sendiri.
Namun karena ia yang penasaran, ia mencoba mencari informasi dikota terdekat lainnya. Kini tepatnya ia berada diwilayah kerajaan Telaga Sunyi.
Swuuuuush!
Sehentakan kakinya, ia terbang diatas langit melesat membelah awan mencari keberadaan kita terdekat. Setengah jam berlalu, ia kembali melihat bekas pembantaian yang telah terjadi. Rasa penasarannya bertambah tinggi dengan masalah Kerajaan Bai Shi yang berseteru dengan kota kota diwilayah Telaga Sunyi.
Satu hari berlalu, ia terus melihat kota kota yang hancur. Tidak ada satupun manusia atau Kultivator yang terlihat. Bahkan melihat banyaknya kota yang telah terbantai membuatnya semakin marah. Harga diri sebagai Kultivator tanah Jawa terinjak oleh perilaku Jendral Tapak Dewa.
Namun saat ia akan pergi, dari arah selatan muncul rombongan prajurit yang mengenakan jubah kerajaan Bai Shi membawa beberapa komandan berjalan menuju kearah Kerajaan Bai Shi.
"Kebetulan sekali...," Ucap dingin Lasmana Pandya.
Kemudian ia melesat dan mendarat tepat dihadapan mereka. Hal pertama yang mereka lihat adalah Lasmana Pandya yang telah menggunakan topengnya turun dari atas langit. Yang diartikan, sosok tersebut sangatlah kuat.
"Bu-bukankah kamu pendekar bertopeng!" Ucap Komandan pasukan memberanikan diri.
"Benar."
Jawaban singkat dengan ekspresi dingin membuat wajah mereka menjadi pucat. Mungkin jika pihak mereka tidak melakukan pembantaian, mereka tidak akan setegang ini. Namun kini berbeda lagi situasinya.
"Ka-kamu mau apa," ucap penuh terbata bata Komandan tersebut.
__ADS_1
"Membunuhmu...," Balas dingin Lasmana Pandya.
"Ji-jika kamu membunuh kami maka Jen..."
Swuuuuuush!
Seuliet cahaya muncul dari ujung jari Lasmana Pandya menembus dahi sosok komandan tersebut. Bahkan dua Komandan lainnya mulai membasahi dirinya. Tanpa ingin melawan, mereka langsung berlutut dihadapan Lasmana Pandya.
"Ampun tuan! Kami menyerah! Kami hanya menjalankan tugas saja!" Jawab mereka masih berlutut.
"Ampun? Tugas? Jika begitu aku membunuh kalian juga tugas!" Ucap Lasmana Pandya kemudian memgeluarkan pedang tingkat tinggi dari dalam cincin ruangnya.
Swuuuuush!
Dengan kekuatannya saat ini, ia sangat mudah mendengendalikan pedang biasa menggunakan kekuatan jiwanya. Sehingga pedang tersebut melesat dan langsung menembus para prajurit.
"Akkkhh!"
Kematian dan tangisan menyedihkan melanda hati mereka. Tanpa perlawanan mereka mati ditangan Lasmana Pandya. Namun saat pedang akan menebas tubuh komandan terakhir yang masih hidup. Pedang tersebut terhenti tepat dihadapan komandan itu.
"Pergilah, sampaikan pesanku pada Jendralmu yang bodoh itu, aku menantangnya bertarung di tanah Kerajaan Sangsakerta yang telah ia hancurkan."
"Ba-baik tuan," ucap Komandan tersebut merasa lega, karena ia tidak mati seperti rekannya.
Tanpa hal lain yang ingin ditanyakan, komandan tersebut melesat menggunakan ilmu meringankan tubuhnya kearah kerajaan Bai Shi. Sedangkan Lasmana Pandya mengangkat tangannya, setelah itu puluhan cincin ruang milik mereka yang mati terhisap kearah tangannya.
Setelah itu, ia kemudian melesat kearah Kerajaannya yang telah hancur menunggu kehadiran sosok Jendral Tapak Dewa. Meskipun ia sedikit gelisah mengenai sosok Dewa Racun, dan Dewa Siluman. Namun ia percaya bahwa Jendral Tapak Dewa akan tiba menghadiri tantangannya sendiri tanpa membawa keduanya.
Swuuuuuush!
Satu hari telah berlalu, selama perjalanan ia selalu melihat pembantaian yang dilakukan oleh Jendral Tapak Dewa. Karena rasa penasarannya yang tinggi, ia segera mencari tahu dari sisa bekas pertempuran mereka. Dan yang ia lihat, ada beberapa potong kertas mengenai wajahnya yang mengenakan topeng ditulis sebagai buronan kerajaan.
Dengan sedikit kepintarannya, ia menyimpulkan awal mula kebrutalan Jendral Tapak Dewa adalah kematian kedua anaknya ditangannya. Namun sampai saat ini ia tidak menemukan Lasmana Pandya, sehingga Jendral Tapak Dewa melakukan pembantaian agar ia keluar dari persembunyiannya.
"Menarik," gumam Lasmana Pandya kemudian memikirkan membunuh semua anggota kerajaan Bai Shi atau membiarkannya dan hanya membunuh Jendral Tapak Dewa.
__ADS_1
Sunggingkan kecil ia tampilkan disaat ia terbang melanjutkan perjalananya. Hampir tiba di Kerajaan Bai Shi, tiba tiba ia merasakan adanya ratusan aura bersembunyi dibalik bangunan hancur dikerajaannya. Dari aura yang ia rasakan, ia mengerti mereka yang bersembunyi adalah Kultivator tanah Jawa.
"Jika sudah menunggu, kenapa tidak keluar disaat aku telah tiba," ucap Lasmana Pandya kemudian mendarat ditengah tengah kerajaan.