Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Monster cilik


__ADS_3

Lasmana Pandya mengangguk, setelah beberapa waktu menjelaskan mengenai kebutuhan ataupun syarat untuk menjadi alkhemis, akhirnya mereka memulai praktek secara langsung.


Kamandaka memperlihatkan cara memurnikan tiga bahan pembuatan pill Yulong, Pill ini merupakan Pill penyembuh, dan sekaligus bisa menambah energi Qi secara spontan.


Meskipun hanya tiga bahan, nyatanya ketiga bahan tersebut masing masing harus minimal berumur tiga puluh ribu tahun. Akar gingseng, daun dewa yang menyerap energi langit, serta akar bumi, ketiga bahan tersebut sangatlah sulit dicari, sehingga Kamandaka mengajari Lasmana Pandya secara pelan pelan, tak lain agar Lasmana Pandya dapat memahami cara memurnikannya.


Dua puluh menit memperhatikan, akhirnya Lasmana Pandya telah memahami caranya. Namun disaat percobaan pertama ia mengalami kegagalan akibat tingkat kepanasan Geni Danyangnya berubah ubah, sehingga tiga bahan tersebut banyak yang menjadi abu.


"Muridku, awal kegagalan bukan bearti kamu tak mampu, ataupun tidak berbakat. Semuanya perlu waktu, dan tentunya usaha keras."


Lasmana Pandya mengangguk, rasa semangatnya naik seketika dan kembali mencoba memurnikan tiga bahan yang disiapkan lagi oleh Kamandaka. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, Lasmana Pandya telah berhasil membuat lima puluh Pill Yulong tingkat tinggi, peningkatan pesat dalam pembuatan Pill membuat Kamandaka wajahnya berseri seri.


"Muridku, mungkin hanya kamu saja yang memerlukan waktu satu hari dalam awal pembelajaran pembuatan Pill, karena kamu sudah mengetahui caranya maka kini giliran guru membantumu menaikan tingkat darah, serta tulangmu itu, sehingga dipertarungan nanti ketika kamu menghadapi tiga tingkat diatasmu kamu tidak akan mengalami kesulitan."


Wajah Lasmana Pandya seketika bersinar mendengar penjelasan Kamandaka. Dengan penuh kegembiraannya Lasmana Pandya duduk didepan Kamandaka yang membuat segel aneh.


Swuuuuush!


Tiba tiba dari kehampaan muncul kolam darah, namun anehnya bukan aroma amis yang Lasmana Pandya hirup, melainkan aroma wangi yang membuat wajahnya terlihat terheran heran.


"Muridku ini adalah darah Naga Azure yang hidup di negri jauh sana, setelah aku membunuhnya, aku telah menyimpannya selama jutaan tahun lalu. Karena kini kamu muridku, maka aku akan memberikannya dengan senang hati kepadamu."


Lasmana Pandya benar benar terkejut mendengar penuturan dari Kamandaka, bagaimana pun darah pasti berbau amis, tapi kini didepannya bau yang sangat harum tercium seperti bunga mawar yang baru saja mekar.


"Hahahaha aku suka wajah keherananmu itu, apakah kamu tahu darahku saja baunya lebih wangi loo," goda Kamandaka kemudian menggigit jarinya.


Swuuuuush!


Dan benar saja, seketika didalam goa tercium aroma wangi yang lebih pekat keluar dari tetesan darah Kamandaka.


"Daka tak tahu diri, sudah tua masih saja bersikap kekanak kanakan," Sena menggerutu dipikiran Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya yang terkejut segera menghilangkan rasa keterkejutannya.

__ADS_1


"Jadi darah Naga Azure ini...?"


"Benar dia sama kuatnya denganku, namun karena aku pintar aku dapat membunuhnya." Kamandaka membalas dengan senyuman kemenangannya.


"Tapi aku akan memberikan darah ini padamu jika kamu mau mengikuti syaratku," ucap Kamandaka lagi sambil menampilkan senyum lebarnya.


"Apa itu guru," jawab Lasmana Pandya cepat.


"Aku ingin kamu menunjukan bakatmu dalam penyerapan eksetensi kekuatan darah Naga Azure dengan waktu kurang dari sebulan, apakah kamu sanggup?" Kamandaka tersenyum penuh kemenangan.


"Tentu guru! Tapi sebelum itu darah ini ada ditingkat apa?" Tanya Lasmana Pandya.


Seketika wajah Kamandaka menjadi suram mendengar pertanyaan Lasmana Pandya.


"Tentu saja tertinggi! Ini adalah darah tingkat Dewa! Dan hanya seratus kultivator terkuat saja yang memilikinya, dan jika kini kamu berhasil menyerapnya, maka kamu adalah orang keseratus satu."


Lasmana Pandya mengangguk, setelah itu Kamandaka membiarkan Lasmana Pandya memasuki kolam darah Naga Azure.


Swooooosh!


"Akkkhhh!"


Lasmana Pandya memekik ketika pori pori kulitnya perlahan melebar, dan tiba tiba menyerap darah naga Azure dengan kecepatan ekstrem. Sehingga perasaan asing kini ia rasakan dengan rasa sakit yang tiada taranya.


Tangannya mengepal erat, matanya memerah, dan tubuhnya sedikit membesar akibat darah dari kolam Azure terus memaksa masuk kedalam tubuhnya.


Roooooaarh!


Tiba tiba auman Dewa Naga memekik, auman tersebut sebenarnya adalah teknik suara milik Sena, dan tanpa sengaja Lasmana Pandya dapat menggunakannya. Sehingga goa itu bergetar, namun anehnya Kamandaka masih bermeditasi seakan akan tidak terganggu auman Dewa Pembunuh itu.


Lasmana Pandya yang terus berusaha melawan rasa sakitnya kini mulai menggigit bibir bawahnya hingga menimbulkan luka. Satu jam telah berlalu, hanya ada auman Dewa Pembunuh, dan juga pekikan Lasmana Pandya yang terdengar didalam goa. Hal itu terus berlangsung hingga satu minggu. Kini Lasmana Pandya sudah terbiasa dengan rasa sakit yang terjadi didalam tubuhnya.


Proses pergantian darah, atau cuci darah itu berlangsung cukup lama, hingga Lasmana Pandya merasakan perbedaan didalam tubuhnya. Entah apa yang ia rasakan, ia sendiri belum mengetahuinya. Yang pasti kekuatan Jiwanya ikut diperkuat seiring darah Naga Azure terus merasuki seluruh tubuhnya.

__ADS_1


Dua minggu telah berlalu, Lasmana Pandya kini tidak sama sekali merasakan rasa sakit, yang ada hanya perasaan nyaman dan tenang.


Rooooooaaarh!


Hingga pada akhirnya, Lasmana Pandya merasakan terobosan secara tiba tiba, dibarengi dengan darah Naga Azure yang tidak tersisa sedikitpun.


Armor Geni Danyang aktif, namun kali ini lebih terlihat dari sebelumnya. Tak hanya itu saja kini Kultivasinya ditingkat Langit satu, yang diartikan mampu membunuh dengan mudah 3 tingkat ranah diatasnya. Namun jika empat tingkat diatasnya, Lasmana Pandya hanya bisa mengimbanginya saja, dan sulit untuk membunuhnya.


Perlahan matanya terbuka, senyum kecil ia perlihatkan setelah menerobos ketingkat Langit satu.


"Hehehe guru," panggil Lasmana Pandya kearah Kamandaka yang masih bermeditasi.


Kamandaka membuka matanya, bukan ucapan selamat namun pertanyaan yang tidak pernah dipikirkan oleh Lasmana Pandya dipertanyakaan.


"Muridku, kini sudah lewat beberapa bulan?" Tanya Kamandaka.


"Ehhh..."


Lasmana Pandya berpikir keras mengingat waktu yang telah berlalu, namun ia tidak mengingatnya sama sekali.


"Tuan muda, tepat hari ini dua Minggu yang lalu," Sena menimpal.


"Guru sepertinya sudah lewat dua minggu." Jawab Lasmana Pandya.


Kamandaka mengangguk, dan seketika wajahnya berubah menjadi terkejut setengah mati.


"Apa dua minggu! Apakah kamu mencoba membohongiku muridku!" Kamandaka berteriak keras kearah Lasmana Pandya.


Lasmana Pandya hanya diam, dan mencoba menghubungi kepada Sena, namun Sena mengatakan kini waktu telah benar berlalu selama dua minggu lamanya.


"Itu benar guru, kini telah dua minggu berlalu."


"Ka-kau monster cilik!" Kamandaka terbata bata, meskipun ia tahu kini telah dua Minggu berlalu, ia hanya ingin memastikannya saja. Dan hal itu sungguh mustahil, namun kenyataannya muridnya dapat melakukannya.

__ADS_1


Dan ia memperkirakan bahwa Lasmana Pandya dapat menyerap darah Naga Azure selama satu bulan membuatnya benar benar tak bisa menghilangkan wajah keterkejutannya.


__ADS_2