Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Pertarungan sengit 1.


__ADS_3

"Tidak ada yang lepas dari genggamanku!"


Swuuuuush! Dhuuuuuuaar!


Geni Danyang keluar dari tubuhnya membakar apapun disetiap jarak dua puluh meter disekitarnya. Api yang berkobar ditubuh Lasmana Pandya terus menyebar hingga membuat mereka yang tadinya terpental menjadi abu tak bersisa.


"A-api ilahi!" Ucap salah satunya panik.


Swuuuuush!


Dhuuuuaar! Dhuuuaar!


Lasmana Pandya menghilang lalu muncul melepaskan tinjunya. Hanya hitungan detik, puluhan nyawa telah melayang tanpa perlawanan. Tersisa sekitar seratus lima puluh orang yang kini menjauh dari keberadaan Lasmana Pandya. Karena ia juga mengetahui bahwa Pertiwi kewalahan melawan Jendral Cheng, Lasmana Pandya memerintahkan para tahanan untuk cepat membantunya menghabisi sisa pasukan prajurit.


Swuuuuuush!


Pedang Sangka Geni melesat kearah para prajurit tanpa Lasmana Pandya yang menggenggam pedangnya. Hingga setelah kekacauan kembali terjadi, ledakan maha dahsyat terjadi diatas langit yang menyebabkan Pertiwi terpental kearah belakang sejauh tiga puluh meter. Namun Jendral Cheng yang ternyata kini mempunyai kartu truf baru, ia kembali melesat sambil mengayunkan pedangnya kearah Pertiwi.


Melihat Pertiwi dalam bahaya, Lasmana Pandya menjentikan jarinya lalu muncul tepat ditengah tengah pertempuran sambil melepaskan Geni Danyang yang membuat ledakan maha dahsyat kembali terjadi.


Dhuuuuuuuuaar!


"Ka-kamu!" Ucap tercekat Jendral Chen yang melihat Lasmana Pandya menghentikan serangannya.


Lasmana Pandya menyunggingkan senyumnya kearah Jendral Cheng.


"Senior, kau bantu para tahanan melenyapkan sisa prajurit, urusan Jendral bodoh ini aku yang akan melenyapkannya sendiri!" Ucap Lasmana Pandya.


"Hahahaha! Baru membuatku terpental saja kau sudah belagu bocah! Rasakan ini!"


Swuuuuuush!

__ADS_1


Jendral Cheng kembali melesat lalu melepaskan pedangnya. Pedang milik Jendral Cheng melesat bergerak tanpa tuan mendekati Lasmana Pandya. Jendral Cheng tidak hanya diam lagi, jari jari jarinya mengeluarkan petir petir yang menari nari.


"Mati!"


Swuuuuuush!


Pedang Sangka Geni kembali terbang kearah genggaman Lasmana Pandya. Setelah memblokir beberapa serangan pedang tanpa tuan milik Jendral Cheng. Lasmana Pandya kembali mengorbarkan Geni Danyangnya. Sedangkan petir petir yang menari nari ditangan Jendral Cheng kembali membentuk teratai petir lalu melesat kearah Lasmana Pandya.


Dhuuuuuuuuuaaar!


Ledakan maha dahsyat kembali terjadi diatas langit, tidak ada asap, dan debu yang ada hanya kobaran api yang sangat panas berkobar lebih besar dari sebelumnya. Jendral Cheng melototkan matanya ditengah kobaran api Ilahi yang terus membesar itu terlihat Lasmana Pandya tersenyum kearahnya.


"Kau kira dengan serangan yang sama mampu membuatku terluka kembali? Aku malahan berterimakasih padamu, akibat serangan petirmu membuatku mampu naik tingkat yang tidak pernah aku bayangkan seperti ini!"


Swuuuuuush!


"Pedang Bayangan Darah!"


Api yang berkobar memberikan rasa panas yang luar biasa itu terlihat melesat kearah Jendral Cheng yang kini mulai menggunakan kesadaran pedangnya.


Jendral Cheng berkeringat dingin saat berbenturan pedang dengan Lasmana Pandya, perlahan pedang kebanggaannya itu terlihat retak saat pedang emas milik Lasmana Pandya bebenturan dengan pedangnya.


"Pedang Abadi! Petir Pedang Surgawi!" Teriak Jendral Cheng mengalirkan elemen petirnya kearah pedangnya agar daya tahannya sama.


Ledakan diatas langit membuat celah kehampaan batas dimensi dunia robek dan kembali pulih. Hal itu terjadi setiap kedua serangan bertemu. Sehingga pertempuran mereka sangat mengerikan. Gempuran yang cepat membuat Jendral Cheng benar benar harus mengeluarkan seluruh kartu trufnya.


Disisi lain, dengan adanya Pertiwi tidak ada korban dipihak tahanan. Kini Pertiwi menatap pertempuran puncak diatas langit dengan wajah yang sangat mengerikan.


"Bocah ini berada di Sainst Glory satu, tapi sudah ada lingkaran kekuatan alam dibelakang tubuhnya. Jika ia naik ke ranah asli mungkin..." Ucapnya tercekat.


Namun perasaaannya sangat senang, kini tinggal menunggu waktu untuk membalaskan dendam kepada Kaisar Yang Lin.

__ADS_1


***


Swuuuuush! Swuuuuuush!


Zhou Botong dan rekannya yang tidak sengaja lewat merobek celah dimensi. Mereka berdua terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"Bocah ini tumbuh sangat mengerikan," ucap Zhou Botong.


"Bocah tua nakal, mungkin benar apa yang kau ucapkan beberapa waktu lalu, dan sepertinya Negeri ini akan kembali mengalami perubahan setelah dendamnya terbalaskan," timpal rekannya..


***


"Pedang Pembunuh!" Teriak Lasmana Pandya kemudian mengeluarkan lagi jurusnya.


Pedang emas kini mengorbarkan api yang sangat panas, sama seperti tubuhnya yang mengorbarkan api. Lasmana Pandya mulai menggempur kearah bagian perut hingga leher secara bergantian. Jendral Cheng merasa kewalahan menerima serangan itu, bukan dia tidak mampu. Tapi setiap pedangnya berbenturan, pedangnya terus menunjukan keretakan yang bisa bisa menghancurkan pedangnya. Oleh karena itu, ia sebisa mungkin menghindar tanpa memblokir serangan Lasmana Pandya yang membabi buta kearahnya.


"Surgawi! Petir abadi!" Teriak murka Jendral Cheng mundur dari tempatnya.


Swuuuuuuush! Swuuuuuush!


Dua petir dari atas langit menggelegar dan kemudian melesat kearah Lasmana Pandya. Petir itu seperti sedang murka, menjerit sangat keras meluapkan rasa amarah Jendral Cheng.


"Pemusnah Nirwana!"


Lasmana Pandya mundur dari tempatnya berpijak, setelah mendapat luang gerak, Lasmana Pandya memutarkan tubuhnya sambil menebaskan pedangnya.


Swuuuuuush!


Seuliet energi pedang yang berbentuk api Ilahi itu melesat kearah dua petir yang menjerit. Saat kedua benturan energi elemen akan terjadi, tiba tiba sebuah perisai menutupi seluruh area.


Swuuuuung!

__ADS_1


###


Author minta maaf belum bisa update lebih dari 1000 K kata, karena saat ini author memiliki kesibukan. Mohon maklumi kesusahan authornya ya ges ya.


__ADS_2