Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Naga Bumi menyerah


__ADS_3

Ledakan yang cukup menggetarkan seluruh area hutan kembali mereka rasakan, namun terlihat jelas sebuah lubang dalam terbentuk tubuh Naga Bumi yang kini Naga Bumi sendiri berada didalam kawah tersebut.


Seketika pandangan Sena terarah pada tubuh Yang Lie yang masih tak sadarkan diri, melihat keretakan besar pada perisai buatan Lasmana Pandya, dengan segera ia mengibaskan tangannya, dan setelah itu pelindung besar menutup tubuh Yang Lie.


Grooooooaarh!


Tak lama setelah itu, sang Naga Bumi kembali bangkit, dan melayang diatas langit lebih tinggi, Sena yang ingin mengakhiri pertempuran segera menghentakan kakinya, dan melesat keatas langit didepan kepala Naga Bumi dengan tatapan mengejek.


"Naga Bumi, meskipun tubuhmu bagaikan sebuah puluhan gunung padat yang menjadi satu, tapi kamu bukanlah tandingan ku, sekarang menyerah dan tunduk atau mati."


Naga Bumi terdiam.


"Jika aku mengikutimu apa manfaat yang akan aku dapatkan?" Tanya Naga Bumi dengan suara beratnya.


"Hahahaa tentu kamu akan mengetahui luasnya Dunia ini, dan mungkin dengan kamu mengikutiku kamu akan dapat naik tingkat lebih tinggi lagi."


"...."


Naga Bumi kembali terdiam sejenak, namun ia tersadar naik tingkat lebih tinggi saja ia harus membutuhkan waktu ribuan tahun, dan kini pemuda itu mengatakan bahwa ia dapat naik tingkat dengan mudahnya, itu sungguh membuat merasa geli dihatinya sendiri.


"Hahahaha... Aku memang tidak mengetahui ranah Kultivasimu, tapi ini aku, dan aku tahu diriku sendiri," ucap Naga Bumi masih bersikukuh pada pendiriannya.


Bibir dibalik topeng hitam melengkung sejenak.


"Kamu memang ingin merasakan siksaanku," ucap Sena kemudian menjentikkan jarinya lalu menghilang, dan kembali muncul dibelakang ekor Naga Bumi.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Sena menggenggam erat ekor Naga Bumi dan langsung membantingnya dengan kuat kearah permukaaan tanah.


Swuuuuuush! Baaaaamss! Dhuuuuaar!


Tubuh Naga Bumi kembali terbenam didalam tanah, namun saat akan terbang keatas langit. Tiba tiba tubuhnya tersedot oleh energi yang sangat kuat berasal dari telapak tangan Lasmana Pandya.


Swooooosh! Baaaaams! Dhuuuaar!


Sena kembali membanting tubuh Naga Bumi kepermukaan tanah hingga beberapa kali. Jika itu Naga air, ataupun lainnya mungkin akan mengalami luka yang cukup parah, namun kali ini Naga Bumi, yang memiliki ketshanan tubuhnya bagaikan senjata, ataupun artefak tingkat Dewa. Sehingga Sena tak segan untuk membanting tubuhnya berkali kali.

__ADS_1


"Baj*ngan kepar*t! Kau tak membiarkanku menyerang terlebih dahulu!" Ungkap marah sang Naga yang tubuhnya terbenam dibawah tanah.


"Naga tak tahu diri!"


Swoooooosh!


Sebuah tapak tangan kecil mungil muncul dari kehampaan, setelah itu telapak tangan tersebut memancarkan kobaran api merah kebiruan, yang melesat kearah atas kepala Naga Bumi.


Dhuuuuuuaaar!


Ledakan dahsyat seketika saat telapak tangan kecil dari kehampaan yang memiliki kobaran api menabrak kepala Naga Bumi, bahkan ledakan tersebut mampu membuat keretakan pada perisai buatan Naga Bumi yang untuk melindungi ledakan, serta suara pertempuran didalam hutan.


Sosok Naga Bumi kini berubah menjadi manusia tua biasa, bajunya terlihat koyak, tak nampak seperti pakaian pada umumnya.


Swuuuuush!


Tubuh manusia Naga Bumi melesat kearah cengkeraman Lasmana Pandya.


"Menyerah atau mati," ucap Lasmana Pandya.


"Pada hitungan ketiga kamu tidak menjawabnya, maka hasilnya hanya kematian saja," ucap lagi Lasmana Pandya.


"Satu."


"Dua!"


"Ti..."


"Tu-tuan aku menyerah!" Ucap cepat Naga Bumi.


Lasmana Pandya melepas cengkeramannya, dengan cepat ia membuat segel jiwa diatas langit, lalu memasukannya kedalam tubuh Naga Bumi.


"Kamu tahu kan arti segel jiwa ini...," Ucap dingin Lasmana Pandya sambil memberikan senyum mengerikannya.


"Me-mengerti tuan!" Ucap Naga Bumi memberikan hormatnya, meskipun ia terluka parah bekas serangan tapak tangan yang bahkan kini masih membekas di keningnya.

__ADS_1


****


Lasmana Pandya yang melihat pertempuran Sena dialam mimpi, dan ditemani oleh Ying Lian terus berdecak kagum dengan cara tarung Sena. Bahkan ia tak berhenti berteriak untuk menyemangati Sena untuk memberi pelajaran pada Naga Bumi.


****


Setelah itu, Sena turun dari atas langit, dan mulai mengubah fungsi Cincin waktu milik Lasmana Pandya. Ia yang memiliki kekuatan dipuncak ranah Kultivasi tentunya mengetahui hukum ruang dan waktu, karena itu dalam pengubahan cincin waktu pemberian Yang Lie, ia meluaskan dunia kecil tersebut hingga sebesar dunia miliknya didalam dunia Pembunuh.


"Sekarang kau akan tinggal didalam cincin waktu ini, didalam cincin ini tidak ada tempat untukmu membunuh sesama Hewan Suci, atau Hewan Iblis yang juga akan mendiami didalam cincin waktu, jika kamu melakukannya aku tak segan untuk menghancurkan seluruh tubuhmu itu...," Ucap dingin Lasmana Pandya.


Tubuh Naga Bumi sedikit bergetar, seetelah itu ia mengangguk mengerti dan segera memasuki cincin waktu dunia kecil milik Lasmana Pandya.


Setelah sesaat itu, Sena mengibaskan tangannya kearah pelindung hutan, dan Yang Lie sehingga pelindung tersebut hilang, yang hanya menyisakan kekacauan dari sisa pertempuran.


Swoooosh!


Sena kembali kedalam alam mimpi, sedangkan Lasmana Pandya kini telah mendapatkan kembali kesadarannya. Namun, perasaan sama yang pernah ia alami kembali ia rasakan. Rasa sakit diseluruh tulang tulangnya.


"Ahhh harga mahal ini ternyata masih berlaku," ucap Lasmana Pandya kemudian menaburkan ratusan kristal jiwa, dan mengeluarkan pill Yulong untuk menyembuhkan rasa sakitnya.


Sejam kemudian, tubuh Lasmana Pandya tidak merasakan rasa sakit sama sekali, dibarengi dengan Yang Lie yang terbangun dari pingsannya. Wajah keterkejutan terlihat jelas diwajahnya melihat sisa pertempuran yang sangat mengerikan, bahkan kawah besar yang panjang seperti Naga dapat ia lihat dengan jelas.


"Ge-gege ka-kau yang melakukan pertempuran ini?" Tanya keterkejutan Yang Lie.


Lasmana Pandya hanya mengangguk, dan menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Seakan akan tidak mempercayai pengakuan Lasmana Pandya, Yang Lie merasakan kesadarannya kembali akan hilang.


"Hehehe, sebenarnya bukan aku yang melakukannya, tapi seorang pria tua yang membantuku," ucap Lasmana Pandya berbohong.


Yang Lie merasa lega mendengar hal tersebut, setelah sesaatnya, tiba tiba suara Ying Lian terdengar didalam pikiran Lasmana Pandya.


"Tuan muda, sepertinya diatas langit terdapat pedang tingkat Dewa yang tersimpan, karena aku dapat merasakan auranya samar samar."


Senyum kecil terkembang dibibirnya, meskipun hal itu sangat baik baginya, namun jelas ia tahu para hewan iblis yang melarikan diri semuanya kearah puncak gunung. Dan pastinya ia harus melakukan pertempuran lagi.


"Tuan muda, Naga Bumi telah ditaklukan, tentu mereka akan tunduk pada tuan muda. Karena dalam kehidupan para hewan buas, mereka yang kuat, dan bisa membunuh pemimpin mereka, maka mereka akan menjadi penguasa sepenuhnya diwilayah itu, hal itu hingga anda dikalahkan oleh hewan, atau manusia lainnya dimasa depan."

__ADS_1


__ADS_2