Dewa Pembunuh

Dewa Pembunuh
Bumi Arta membuat kekacauan 2


__ADS_3

Lasmana Pandya terdiam dan menatap Kaman Danu dengan tatapan acuh tak acuh.


"Baik aku akan membayarnya, namun aku akan mematahkan lengan kirimu...," Ucap dingin Lasmana Pandya sambil mengubah tatapannya menjadi tajam.


"Jangan bergerak!" Ucap para penjaga yang tidak ingin terjadi pertempuran lagi, meskipun mereka was was dengan sosok tua disamping pemuda bertopeng, mereka harus tetap menjaga image keamanan Bunga Persik mereka.


Dengan santainya, Lasmana Pandya mengibaskan tangannya kearah langit.


Swuuuuush!


Bagaikan hujan, jutaan kristal jiwa muncul dari kehampaan membuat para pelanggan menatap kristal jiwa yang terus berjatuhan dengan keserakahan tinggi. Bahkan Ling Yun sempat terkejut melihat hal itu, karena bagaimana pun jutaan kristal jiwa hanya para tuan muda Dinasty, maupun Kekaisaran di Negerinya yang memilikinya.


Berbeda dengan Kaman Danu yang tanpa memperdulikan rasa sakitnya dan kemudian berlari kearah tumpukan kristal jiwa yang mulai menggunung. Senyum kecil diperlihatkan Lasmana Pandya saat itu juga.


Swuuuuush! Plaaaaak! Baaaaaams!


Gerakan yang sangat cepat muncul tepat dihadapan Kaman Danu, setelah itu Lasmana Pandya menampar, dan menghantam bagian perutnya hingga Kaman Danu terpental keluar penginapan dengan luka yang cukup parah.


"Tuan!" Bentak penjaga penginapan yang langsung menodongkan senjata mereka.


"Jangan bergerak! Atau kalian semua akan mati," ucap Bumi Arta mengancam.


Namun sesaat setelahnya, Bumi Arta yang masih menahan kekesalannya melepaskan aura Kultivasi Surgawi tingkat tiganya. Sontak, tindasan aura Kultivasi yang sangat tinggi itu membuat para pelanggan pingsan ditempat. Namun tidak dengan para penjaga, dan Ling Yun yang kini merubah mereka menjadi pucat pasi.


"Su-Surgawi tingkat tiga!" Ucap mereka terkejut, tubuh mereka mulai bergetar.


Lasmana Pandya yang tadinya sempat hampir tak sadarkan diri dengan cepat mengeluarkan aura pembunuh untuk menetralkan aura Kultivasi Bumi Arta.


"Tuan muda, aku sebagai hewan iblis benar benar tidak bisa membiarkan mereka seenaknya merampok anda! Kini aku ingin membuat mereka berlutut dihadapan tuan muda!" Ucap keras Bumi Arta menunjuk para penjaga.


Lasmana Pandya hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia kini kembali menepuk bahu Bumi Arta.


"Tenanglah, kendalikan emosimu," ucap Lasmana Pandya sambil menatap Ling Yun yang masih pucat pasi.


"Ta-tapi tuan muda..."

__ADS_1


"Kita minum arak bukan untuk menunjukan kekuatan kita, tapi untuk menenangkan semua pikiran, jadi buanglah amarah itu," ucap Lasmana Pandya.


Semua penjaga, serta Ling Yun yang melihat seorang pria tua ranah Surgawi tingkat Tiga sangat menghormati pemuda bertopeng, diam diam bulu kuduk mereka berdiri dengan sendirinya. Seketika aura Kultivasi yang menekan mereka semua pun hilang, dengan kepergiannya Kaman Danu yang merasa bahwa ia tidak dihargai sama sekali.


"Tuan muda dia," ucap Bumi Arta menunjuk kepergian Kaman Danu.


"Biarkan saja," ucap Lasmana Pandya kemudian menatap santai sosok Ling Yun yang mulai membasahi dirinya.


"Nona, maaf kelancangan rekan saya, jika boleh tau berapa harga kerugian yang harus saya bayar untuk membayar meja ini?" Tanya Lasmana Pandya sambil menunjuk meja yang dihancurkan oleh Bumi Arta.


"Tu-tuan anda tidak perlu membayarnya," ucap Ling Yun yang ragu memberikan harganya.


"Nona anda tidak perlu sungkan, katakanlah."


"Tiga ratus kristal jiwa," ucap Ling Yun memberanikan diri.


Lasmana Pandya mengangguk, dan kemudian ia memberikan kristal jiwa sesuai permintaan Ling Yun, setelah sesaat itu. Lasmana Pandya dan Bumi Arta menaiki tangga untuk beristirahat dikamar pesanan mereka.


"Nona maafkan kelancangan kami," ucap sopan Lasmana Pandya saat berada disamping Ling Yun.


Setelah itu, ia memilih untuk berkultivasi menunggu hari telah pagi dan melanjutkan perjalanannya, namun tiba tiba setelah satu jam berlalu ia merasakan beberapa aura mendekat kearahnya.


"Tuan muda, apakah anda sudah beristirahat?" Tanya Ling Yun.


Lasmana Pandya mengakhiri Kultivasinya dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar.


"Nona apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Lasmana Pandya.


"Tu-tuan Walikota Banyu Biru mencari anda," ucap Ling Yun serius.


Lasmana Pandya hanya mengangguk, dan keluar dari kamarnya. Setelah tiba dilantai bawah bersama Ling Yun, para prajurit kota Banyu Biru segera menodongkan senjata kearah Lasmana Pandya.


"Ayah dia yang memukulku, dan mematahkan lenganku," ucap Kaman Danu menunjuk Lasmana Pandya.


"Prajurit tangkap!" Ucap Walikota Banyu Biru.

__ADS_1


"Baik!"


Namun saat akan mendekat, aura Naga yang dibarengi dengan ranah Kultivasi Surgawi tingkat tiga menyebar menekan semua pergerakan, bahkan para prajurit yang menodongkan senjata seketika dibuat tak sadarkan diri karena tindasan yang sangat kuat itu.


"Siapa yang berani mengganggu istirahat tuan mudaku!" Suara menggelegar keseluruh kota terdengar sangat keras. Bahkan membuat guncangan hebat di penginapan Bunga Persik.


Swuuuuung!


Perisai kebiruan muncul menutupi, atau melindungi penginapan Bunga Persik agar tidak hancur muncul sesaat.


Beberapa detik kemudian, sosok kakek tua yang tak lain Bumi Arta muncul disamping Lasmana Pandya menatap Kaman Danu, dan Walikota Banyu Biru dengan tatapan membunuh.


"Gawat! Pengawal tuan muda bertopeng sudah marah besar, penjagaku sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi," ucap dalam hati Ling Yun, wajahnya berubah menjadi gelisah.


"Tu-tuan anda siapa?" Tanya Walikota Banyu Biru tubuhnya bergetar, meskipun ia tidak merasakan tindasan aura, karena Bumi Arta hanya menindas para prajurit yang menodong senjata kearah Lasmana Pandya.


Namun ia sangat tahu, bahwa kakek yang tiba tiba muncul itu bukanlah Kultivator sembarang, suaranya yang menggelegar keseluruh kota, dan tiba tiba muncul itu sudah membuat pikirannya telah terbuka seluas lapangan.


"Tidak perlu menanyakan siapa aku, yang jelas apa tujuan kalian datang lalu menodongkan senjata kearah Tuan Mudaku," ucap Bumi Arta.


Walikota Banyu Biru terdiam sejenak, pikirannya yang kacau membuat hatinya merasa sangat gelisah, bahkan ia yang dianggap sebagai Kultivator terkuat di kota Banyu Biru kini tidak bisa berbuat lebih jauh.


"A-aku ingin menangkap pe-pemuda..."


Plaaaaaaakkk! Dhuuuuaar!


Sebelum melanjutkan ucapannya, Bumi Arta menghilang lalu muncul didepan Walikota Banyu Biru dan menamparnya, hingga Walikota Banyu Biru terpental dan menabrak dinding penginapan hingga hancur.


Darah merah keluar dari bibirnya saat itu juga, dengan memaksaakan dirinya. Walikota Banyu Biru berlari tertatih tatih, juga telah kehilangan nyali segera berlutut didepan Lasmana Pandya.


"Tu-tuan se-sebenarnya apa yang dilakukan oleh anaku."


###


Kemarin tidak apdet author minta maaf, author kepalanya pusing, masuk angin jadi gabisa nulis. Ini sudah mendingan, dan baru bangun jadi tak sempetin kasih 2 eps, makasih yang masih baca dan stayy.

__ADS_1


__ADS_2