
Raja She Pian yang telah terlanjur marah dibuat oleh Jendral Hong Xiao mengeratkan rahangnya. Perasaan ragu kembali hadir dibenaknya.
Suiiiiiiit!
Siulan menggema disaat ia memilih untuk pergi. Seketika pasukan iblis lenyap dari kehampaan. Jendral Ao yang telah berada di prajurit kanan pun menghela napas panjang. Begitu juga dengan Lei dan lainnya.
"Jendral lebih baik kita pergi, aku takut mereka akan datang kembali," ucap Lei menghampiri Lasmana Pandya.
Lasmana Pandya yang berpura pura terluka pun menggelengkan kepalanya dan duduk dengan sikap meditasi.
"Lebih baik sembuhkan diri sendiri, karena kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan," ucap Lasmana Pandya kemudian menelan Pill penyembuh.
Pada akhirnya, Ao, Lei, Bai meminta prajurit yang tersisa memulihkan dirinya. Mereka pun sama. Namun Yue Xong yang menyamar sebagai Bai lebih memilih untuk berjaga.
"Apakah tuan muda sudah naik tingkat," ucap dalam hati penasaran Bai. Karena ia sendiri tidak mungkin percaya Lasmana Pandya mampu menghadapi Saints Glory tiga.
Lasmana Pandya yang berpura pura menyembuhkan lukanya membuka matanya secara perlahan. Melihat Bai berada disisinya, Lasmana Pandya kemudian memberikan pesan telepati.
"Tenanglah aku baik baik saja. Setelah ini kita akan melanjutkan perjalanan," ucap Lasmana Pandya.
"Baik!" Balas telepati Bai.
Dua puluh menit berlalu, akhirnya semua telah memulihkan dirinya. Lasmana Pandya yang menyamar sebagai Hong Xiao kini kembali membawa pasukan menuju Kekaisaran Hong.
Tiga jam menggunakan terbangnya diikuti oleh lainnya. Lasmana Pandya berhenti didepan kota Ying.
"Jendral Xiao!" Ucap penjaga gerbang kota dengan hormat mengenali sosok yang membawa rombongan prajurit Kekaisaran.
Hong Xiao hanya mengangguk, dan setelah itu Lasmana Pandya memimpin pasukannya kedalam kota untuk mengisi perut mereka.
Disisi lain.
"Arrrrrrghh!" She Pian yang merasa malu kalah dengan Glory Lima mengamuk di ruangannya.
Swuuuuung!
Tak lama, cermin yang ada dihadapannya bergetar hebat. Dan memunculkan satu sosok iblis dengan lima tanduk dikeningnya menatap heran She Pian yang merasa kesal.
"Adik ketujuh kau kenapa?" Tanya heran sosok tersebut.
She Pian mengeratkan rahangnya dan menceritakan kejadian yang membuatnya merasa malu dihadapan kakak pertama yang tak lain She Wang.
"Apa! Bocah cilik itu bisa membuatmu terluka?" Tanya heran She Wang.
__ADS_1
"Benar kakak," ucap She Pian.
"Heeem sepertinya Kekaisaran Hong ingin hancur ditanganku," gumam She Wang. Namun wajahnya sedikit risau jika ia melakukan hal tersebut.
"Kakak bukankah kekuatanmu di puncak, kenapa kakak tidak berani meratakan Kekaisaran Hong?" Tanya She Pian.
"Bocah bodoh! Apakah kau melupakan aturan yang diberikan oleh Yang Mulia Lin!" Ucap kesal She Wang.
She Pian merasa sedih karena teringat aturan tersebut. Namun tiba tiba She Wang memiliki akal untuk membunuh Hong Xiao.
"Adik ketujuh, tenanglah aku akan mengutus She Long untuk membunuhnya," ucap She Wang.
Seketika wajah She Pian cerah mendengarnya, karena bagai manapun kakak ke empat yang bernama She Long lebih kuat darinya.
"Baik kakak! Jika bisa lebih cepat lebih baik! Dan aku harap aku dapat melihatnya meminta pengampunan dibawah kakiku ini!" Ucap She Pian senang.
***
Lasmana Pandya yang membawa rombongannya ke sebuah restoran mewah kemudian memesan banyak makanan untuk komandan, dan prajuritnya. Tadinya suasananya yang ramai, kini terlihat sunyi karena tidak ada yang berani membuka suara didepan Jendral yang ditakuti di Kekaisaran Hong itu.
"Jendral Xiao anda sungguh sangat hebat mampu mengimbangi kekuatan She Pian!" Ucap kagum Ao.
"Itu hanya keberuntunganku saja," ucap santai Lasmana Pandya mengikuti tingkah Hong Xiao seperti biasanya.
Lasmana Pandya mengerutkan alisnya, karena ia masih belum menyerap semua pikiran milik Hong Xiao tentang Kekaisaran.
"Hehehe tentu," ucap Lasmana Pandya sedikit kaku.
Setelah itu makanan tiba, Lasmana Pandya yang merasa lapar segera menyantap pesanannya. Begitu juga dengan lainnya, suasana restoran mewah benar benar sunyi, hanya ada suara sendok dan piring yang terdengar ditelinga.
Lima belas menit setelah makan, Lasmana Pandya segera melanjutkan perjalanannya. Karena kali ini ia tidak ingin membuang waktu demi meningkatkan kekuatannya serta menjalankan rencananya. Karena itu, harapannya ia selalu menemukan keberuntungan dan rencananya selalu berjalan lancar seperti biasanya.
Setelah keluar dari restoran, ia teringat dari ingatan Hong Xiao, bahwa setiap kota memiliki gerbang teleportasi yang menghubungkan antar kota ataupun kerajaan dan lainnya, karena itu ia lebih memilih jalan pintas tersebut.
"Jendral bukankah kita..."
"Tidak, kita akan menggunakan gerbang teleportasi," potong ucapan santai Hong Xiao.
"Ta-tapi saat ini gerbang teleportasi sedang mengalami gangguan," ucap serius Ao.
Lasmana Pandya menghela napas sejenak. Kemudian ia menjelaskan alasannya ingin segera kembali ke Kekaisaran.
"Luka yang aku derita ini sungguh sangat parah, setelah pertempuran dan selama perjalanan, kekuatan jiwaku merasa kacau karena sejak pertempuran melawan She Pian. Apakah kalian aku ingin mati didalam perjalanan?" Tanya Lasmana Pandya menatap tajam Komandan Ao yang membuatnya mengerti alasannya.
__ADS_1
"Ba-baiklah Jendral..."
Lima belas menit menuju tempat gerbang teleportasi, akhirnya mereka tiba di tempat yang mereka cari. Enam tetua penjaga gerbang tiba tiba menghentikan mereka.
"Jendral Xiao, gerbang teleportasi sedang mengalami gangguan sejak satu bulan yang lalu, harap Jendral tidak menggunakannya," ucap ramah tetua penjaga gerbang.
"Tetua aku sedang terburu buru," ucap serius Lasmana Pandya.
Mereka saling berpandangan sejenak. Mereka ingin kembali menolak permintaan Hong Xiao, namun mereka sendiri berada dibawah posisi penting yang dimiliki Jendral Xiao.
"Baiklah Jendral, namun jika terjadi sesuatu maka jangan salahkan pihak kota," ucap tetua itu dengan hormat.
Swuuuuuung!
Setelah keenam tetua membuat segel tangan yang sama rumitnya. Tiba tiba gerbang.yang seperti pintu biasa mengeluarkan asap kebiruan yang berputar seperti angin tornado.
"Jendral tujuan?"
"Kekaisaran," ucap Lasmana Pandya.
Mereka kembali saling pandang, karena tujuan yang diminta Jendral Hong Xiao sangat beresiko tinggi, mungkin jika sedang tidak mengalami masalah, mereka tidak terlalu ragu, tapi kini berbeda situasinya.
"Jendral ini..." Ucap mereka kebingungan.
"Lakukanlah," balas Lasmana Pandya tenang.
Mereka akhirnya mengangguk, dan kemudian kembali membuat segel tangan dengan gambar yang mengidentifikasikan tempat Kekaisaran Hong berada.
Swuuuuung!
Gerbang teleportasi mengeluarkan cahayanya, setelah itu tetua tersebut membiarkan rombongan Jendral Xiao memasuki gerbang teleportasi.
Swuuuuush!
Tubuh mereka semua lenyap disaat memasuki pusaran asap kebiruan tersebut. Setelah berada didalam gerbang teleportasi, Lasmana Pandya berdecak kagum mengenai ruang hampa didepannya.
"Jendral, mari dan kuharap tidak ada masalah yang terjadi," ucap Ao yang disetujui lainnya.
Lasmana Pandya hanya mengangguk, dan kemudian mereka berjalan menuju titik cahaya keemasan yang sangat jauh didepan mereka. Wajah pucat diperlihatkan oleh prajurit yang mengetahui permasalahan yang terdapat disetiap gerbang teleportasi disetiap kota.
Lasmana Pandya hanya tersenyum kecut melihat mereka ketakutan melewati gerbang teleportasi ini, karena dari ingatan Hong Xiao, gerbang teleportasi ini sering membuat pemakainya menuju ketempat yang sangat jauh, dan parahnya lagi kekuatan tanpa batas yang ada diluar pembatas teleportasi yang mereka lalui mampu membunuh mereka yang berada ditingkat Glory tingkat empat kebawah. Namun hal yang paling mengejutkannya dari ingatan Hong Xiao, pembuat gerbang teleportasi ini adalah Yang Lin.
"Sebenarnya Yang Lin sekuat apa dia," ucapnya mengagumi musuhnya sendiri.
__ADS_1